
“Kean, jangan lupa pesan tiket!” ucap Jihan saat baru saja memasuki kamar mandi. Perutnya terasa sakit.
“Ya.” Keanu melirik sekilas istrinya yang berlalu ke kamar mandi setelah bersuara. “Baru bicara, tapi udah ngilang,” kata Keanu lagi bergumam sembari menggelengkan kepala.
Keanu duduk di sofa yang berada di depan tempat tidur dan mengarah ke arah jendela. Kenan mengotak-ngatik ponselnya untuk memesan tiket pesawat menuju Lombok. Mereka memang harus tiba di Lombok besok, karena besok lusanya Jihan harus sudah mulai bertugas di sana. Masa liburan mereka pun selesai. Keanu juga akan memulai latihan satu minggu kemudian. Sejak hari ini, para tim mekanik dengan berbagai merk motor ternama sudah mendatangkan mesin-mesin mereka ke kota itu. Kota dimana untuk pertama kali akan diadakan sebuah kejuaran balap motor dunia. Dan ini adalah kali pertama yang akan dihadiri oleh pemimpin negeri ini.
Keanu harus tampil maksimal karena kali ini ia akan tampil di negerinya sendiri. Pasti akan banyak orang yang mengharapkan kemenangannya. Walau itu sulit, tapi ia akan berusaha untuk itu.
JIhan keluar dari kamar mandi dan langsung ikut duduk di samping Keanu. Melihat keberadaan sang istri di sampingnya, tubuh Keanu pun langsung merosot dan sengaja berbaring dengan membaringkan kepalanya di atas kedua paha Jihan. Kaki Keanu yang panjang pun melebihi panjangnya sofa itu membuat kedua kaki itu harus berada di atas penyangga tangan sofa.
Jihan tersenyum dan mengelus kepala Keanu yang masih mengotak-atik ponselnya untuk memesan tiket. “Sudah dapat? Berangkat jam berapa?”
Keanu memang senang dengan posisi ini. Ia senang tidur dipangkuan Jihan atau tengkurap dengan memeluk perut itu. Tubuh sang istri membuatnya candu, di tambah wangi tubuh yang menenangkan itu. Hal itu yang membuat Keanu tidak bisa berhubugan lebih intim dengan wanita mana pun, karena aroma tubuh itu selalu mengingatkannya dan dari sekian wanita yang ia kenal, hanya aroma tu yang mebuh Jihan yang membuatnya candu, hingga Rasti mengira bahwa Jihan memelet cucunya. Ah, ada-ada saja.
“Dapat yang jam dua,” jawab Keanu.
“Kok jam dua? Kenapa ga yang pagian supaya sampai di sana ngga malam.”
Keanu menarik ponsel yang menutupi wajahnya dari wajah sang istri. Ia menatap wajah cantik itu dengan senyum. “Kan, nanti malam aku akan diservice abis. Takutnya, nanti kita ga bisa bangun pagi. Jadi lebih baik berangkat agak siang.”
Jihan mengernyitkan dahi. “Service? Service apa?” tanyanya bingung.
“Semalam bukannya kamu mengajakku bercinta? Dan memperbolehkanku bercinta sebanyak yang aku mau?”
Jihan langsung membulatkan matanya dan menggelengkan kepala. “Itu hanya berlaku tadi malam. Hari ini sudah tidak berlaku karena sudah lewat dua belas jam.”
Keanu langsung bengun dari pangkuan itu dan protes. “Kok gitu?”
“Ya, dong.” Jihan melipat kedua tangannya di dada.
“Ngga dong. Itu tetap berlaku nanti malam,” sahut Keanu.
Jihan menggeleng. “Ngga. Kan aku sudah dikasih hukuman yang lain.”
“Kalau begitu aku tambahkan satu hukuman untuk nanti malam.”
“Ish, kok gitu?” tanya Jihan protes dan cemberut.
Jihan pun berdiri dan hendak meninggalkan Keanu. Namun, Keanu segera mencekal pergelangan tangan itu.
"Hei kita belum selesai. Kebiasaan, selalu pergi di saat masalah kita belum selesai,” ucap Keanu.
Jihan pun mencibir. “Hei, aku ga pernah lari dari masalah ya.”
“Ya, tapi kamu selalu lari dariku.” Keanu menarik lengan Jihan hingga tubuh wanita itu pun terduduk di pangkuan suaminya.
Keanu tersenyum menatap wanita yang tengah cemberut itu. “Kalau masih manyun, aku cium nih!”
__ADS_1
“Kean, kamu menyebalkan.” Jihan mendorong dada suaminya, membuat Keanu tertawa.
“Menyebalkan kenapa?”
“Suka menghukum orang seenaknya,” jawab Jihan.
“Hukuman itu bukan hanya enak untukku, Sayang. Tapi juga untukmu. Aku akan membuatmu terus melenguh dan menyebut namaku.”
“Kean.” Jihan malu ketika Keanu berbicara tentang ranjang dan aktifitas panas mereka. Pipinya pun merah dan menyelipkan di leher Keanu.
Keanu pun tertawa dan memeluk tubuh itu. “Kau malu?”
“Ya iyalah.”
“Tapi kamu hebat, Sayang. Bukan hanya hebat di luar, tapi kamu juga hebat di ranjang. Aku selalu puas.”
“Kean,” rengek Jihan sembari menatap manja pria itu.
Keanu pun semakin tertawa. Ia gemas dengan ekspresi sang istri. Lalu, Keanu menggendong Jihan dan membawa wanita itu ke atas tempat tidur. Keanu membaring tubuh itu dengan hati-hati dan menindihnya. Ia menahan agar tidak terlalu menekan tubuh Jihan dengan kedua tangannya.
“Sepertinya kelamaan kalau harus menunggu malam,” ucap Keanu karena saat ini memang masih sore.
“Mmpphh …”
Mulut Jihan langsung dibungkam oleh mulut Keanu. Pria yang mahir berciuman itu memagut mesra bibir candunya. Ia mulai menyesap bagian tipis yang ranum itu. Jihan pun tak mau kalah, karena ciuman Keanu memang selalu membangkitkan gairah.
Jihan membuka mulutnya dan membiarkan Keanu mengakses lebih dalam saja. Benar saja, Keanu pun tak melewatan kesempatan itu. Ia benar-benar menyesap habis bagian itu.
Keanu kembali menyangga dengan kedua tangannya yang berada di saping bahu kiri dan kanan Jihan untuk tidak terlalu menindih tubuh itu. Ia tersenyum sembari mengusap sisa saliva yang menempel di bibir yang menjadi candunya itu.
“Kau suka?” tanya Keanu sembari mengelus lembut bibir itu.
Jihan tersenyum dan mengangguk. “Suka. Aku suka sentuhanmu, Sayang.”
“Apa?” tanya Keanu lagi. Ia ingin mendengar lagi Jihan menyebut dirinya ‘sayang.’
“Aku suka dengan sentuhanmu,” kata Jihan mengulang.
“Bukan, bukan kalimat yang itu. tapi panggilanmu tadi untukku,” sahut Keanu.
“Sayang?”
Keanu tersenyum dan mengangguk. “Boleh kamu terus memanggilku seperti itu?”
Jihan tertawa. “Tapi kita bukan lagi anak SMA.”
“Memang harus anak SMA yang memanggil pasangannya dengan sebutan sayang?” tanya Keanu.
__ADS_1
Jihan mengangguk dan tersenyum. “Biasanya seperti itu.”
“Atau panggilan lain,” ucap Keanu lagi.
“Apa?" tanya Jihan.
“Hmm … babe mungkin.”
Jihan tertawa. “babeh gue?”
“Ck. Aku serius, Sayang.”
“Oke,” ucap Jihan yang masih membuka lebar senyumnya.
“Dan aku manggil kamu Angel,” kata Keanu lagi.
“Kean. Aku tuh namanya Jihan, bukan Angel,” sanggah Jihan sembari tertawa.
“Ah, kamu memang ga bisa diajak romantis,” sahut Keanu dengan wajah masam.
“Ck. Kamu sekarang mudah sekali merajuk sih. Dasar mesum!” Jihan menoel ujung hidung Keanu yang mancung, membuat pria itu tersenyum.
“Aku senang merajuk, karana kalau aku merajuk, rayuanmu maut. Ah, jadi ingin bercinta sebanyak yang aku mau,” ledek Keanu dengan terus mengulang kata-kata Jihan semalam.
Jihan pun merutuki kata-kata itu. Entah mengapa ia mampu berkata demikian. Pastilah si pria mesum itu akan menagihnya.
Keanu mengulang percumbuan itu. Ia kembali mengungkung Jihan dan mulai meloloskan kaos yang Jihan kenakan dari atas kepalanya.
Cetek
Keanu pun membuka kaitan penyangga dua gunung kembar itu sambil bibirnya memberi kismark di leher Jihan.
“Eum …”
Jihan menengadahkan kepalanya ke atas sembari melenguh menikmati sensasi itu. Ia sengaja memberi akses pada Keanu untuk memberi tanda di bagian itu hingga bibir Keanu pun turun di kedua gunung kembar yang sedari tadi terlepas dari kain penutupnya dan mulai ia nikmati kekenyalannya.
“Babe.” Jihan memanggil Keanu dengan sebutan yang pria itu inginkan.
Keannu pun tersenyum dengan tetap pada aksinya.
“Keanu,” panggil Jihan lirih.
Namun, pria itu tak menggubris panggilan sang istri hingga bibirnya terus menelusuri tubuh itu sampai ke bawah dan mendekati bagian yang paling ia sukai. Lalu, Keanu mulai memegang sesuatu yang berbeda dari balik kain yang menutupi bagian favoritnya itu. kain itu terasa agak sedikit tebal dan terhalang oleh benda halus lainnya.
“Kamu sedang datang bulan?” tanya Keanu yang kembai menaikkan kepalany mensejajarkan pada kepala Jihan.
Jihan nyengir dan mengangguk. “Sorry. Aku baru memakai pemb*lut saat ke kamar mandi tadi.”
__ADS_1
“Oh my God.” Keanu pun lemas dan menggulirkan tubuhnya ke samping Jihan.
Jihan tertawa. Sepertinya hukuman itu akan menjadi satu sama karena Jihan pun secara tidak sengaja telah menghukum suaminya selama satu minggu ke depan. Ia pun tertawa puas, sementara Keanu menekukkan wajahnya.