
Kenan tidak bisa untuk tidak berangkat ke kantor. Sebagai pejabat publik, ia dituntut untuk tetap bisa baik-baik saja walau keadaan di dalam rumahnya sedang tak baik-baik saja.
TIga hari berlalu, Hanin belum juga ditemukan. Wanita yang masih ingin bersembunyi di sebuah desa kecil di Lombok itu, justru sedang menikmati perannya sebagai guru di sekolah dasar. Sebenarnya Hanin tidak ingin melakukan ini. Ia juga tidak bisa berjauhan dari Kenan. Tapi kelakuan Kenan kemarin cukup membuat hati yang biasanya tidak mudah terluka, entah mengapa lebih sensitif. Apalagi mendengar ucapan Kenan yang cukup pedas saat menyalahkan dirinya dan berasumsi kalau ia tidak menyayangi Rasti.
“Ken, kau sudah pulang?” tanya Rasti yang langsung menghampiri putranya saat melihat Kenan tiba.
Kenan tampak berantakan. Badannya pun terlihat sedikit kurus. Lingkaran hitam di bawah mata itu pun sangat jelas terlihat.
Rasti menghela nafasnya. Pengaruh Hanin memang sangat besar untuk sang putra. Oleh karena itu, selama ini Rasti mencoba untuk tidak egois walau akhirnya keesgoisan itu tetap ada.
Kenan mengulurkan tangannya pada sang ibu dan mencium punggung tangan itu.
“Kakak kelihatan kusut sekali,” ucap Kiara yang juga mendekati sang kakak yang baru saja pulang dari kantor kepemerintahan.
Kiara baru aja mengantarkan ibunya kembali ke rumah ini.
“Hanin belum pulang?” tanya Rasti lagi.
Kenan menggeleng.
“Mas Gun juga sudah mencari, Kak. Tapi posisi Hanin belum ditemukan,” celetuk Kiara.
Kenan mengangguk. “Ya, Kevin dan Keanu juga masih mencari.”
“Gimana ceritanya sih, Hanin bisa pergi? Memang kakak dan Hanin bertengkar?” tanya Kiara tak percaya. Pasalnya ia tidak pernah melihat Kakak dan istrinya bertengkar.
Kenan merasa lemas dan menjawab, “Sudahlah, tidak usah di bahas.”
Pria itu hendak meninggalkan ibu dan adiknya. Ia ingin ke kamar dan beristirahat. Sudah tiga hari, ia juga tidak makan dengan benar. Hanya kerja dan kerja yang ia lakukan tanpa memperhatikan asupan gizi yang masuk, karena biasanya Hanin yang bawel akan hal itu.
“Apa ini karena Mami?” tanya Rasti saat Kenan hendak berbalik menuju kamar.
Rasti tahu bahwa pertengkaran itu dimulai saat dirinya sakit dan waktu itu Hanin meninggalkannya untuk urusan di Yayasan.
Kenan tidak menjawab. Ia kembali melangkah menuju kamarnya. Lalu, Rasti menoleh ke arah Kiara.
“Ra, apa ini salah Mami?”
Rasti menangis. Kiara pun bingung. Lalu, ia memeluk sang ibu dan menenangkan. Ia tahu walau sang ibu menerima Hanin sebagai menantu, tapi sikap Rasti terkadang memang ketus. Kiara memang tidak pernah merasakan memiliki mertua karena suaminya yatim piatu. Tapi perkataan ketus Rasti pada Hanin terkadang membuat ia angkat bciara dan membela kakak iparnya.
__ADS_1
“Terkadang Mami terlalu mencampuri rumah tangga Kakak. Seharusnya tidak begitu,” jawab Kiara.
“Tapi kakakmu itu terlalu bucin sama istrinya. kamu tahu kan?”
“Karena memang kakak sangat mencintai Hanin, Mam.”
“Apalagi sekarang, Kenan juga menyetujui pernikahan Keanu dan Jihan,” ucap Rasti lagi. “Dia dengan mudah memaafkan Wiliam. Orang yang sudah membuat Gunawan koma dan mencelakakan kamu.”
Rasti berkata dengan menggebu-gebu. “Itu yang tidak bisa Mami terima. Kenan itu lemah. Setiap kali Hanin meminta sesuatu, pasti dia luluh dan langsung mengabulkan permintaan itu. Mami tidak setuju Keanu menikah dengan anak Lastri.”
Kiara bingung. Ia menarik nafasnya kasar. Ia melihat kondisi ibunya yang masih belum pulih benar. Kiara pun mengajak sang ibu untuk beristirahat di kamar.
Di dalam kamar, Kenan merebahkan tubuhnya. “Han, kamu di mana? Kamu tidak merindukanku?”
Di Lombok, Hanin juga baru saja pulang mengajar. Ia merabahkan tubuhnya di dalam kamar. “By, aku kangen kamu. Sehat-sehat di sana ya,” gumamnya sembari tersenyum.
Hanin harus tetap berada di tempat ini, minimal hingga salah satu pengajar yang seharusnya mengajar itu sembuh dari sakitnya. Hanin sudah terlanjur menawarkan bantuan. Padahal baru tiga hari saja, ia juga sudah merasakan rindu rumah. Rindu Kenan, rindu menyiapkan kebutuhan suaminya. Begitulah wanita, sesakit apa pun dia, dia akan ingat tanggung jawabnya. Dan itu pula yang dirasakan Hanin.
****
Di rumah minimalis itu, Jihan tengah memasak untuk sarapan. Tubuhnya hanya berbalut kain celemek. Walau tengah dilanda masalah, Keanu tetap tidak melupakan hukuman untuk sang istri.
Selesai menerima telepon dari Kevin, Keanu menghampiri istrinya di dapur. Bibirnya tersenyum saat melihat b*k*ng sintal yang terpampang jelas. Kemudian, tangan Keanu menyentuh pinggang itu dan mengusapnya lembut, diiringi oleh sapuan lidah di bahu Jihan.
Jihan yang masih asyik memasak pun sedikit tersentak dan menikmati sentuhan bibir dan tangan itu. “Bagaimana Mama, Kean?”
Aktifitas Keanu pun terhenti dan erganti dengan memeluk tubuh itu dari belakang. Kepala Keanu menggeleng tepat di bahu Jihan.
“Belum ketemu.”
Jihan mematikan kompor dan membalikkan tubuhnya. “Kok bisa? Biasanya Kak Kevin dan Kamu paling cepat dapat informasi.”
“Tapi aku yakin, Mama baik-baik saja,” ucap Keanu yakin.
Pria itu duduk di samping sang istri yang masih berdiri dan berkutat dengan masakan yang sudah matang. Keanu memeluk pinggang Jihan.
“Kamu tidak akan meninggalkanku kan? Walau sedang kesal denganku?” tanyanya seperti anak kecil.
Jihan tersenyum. “Tergantung sebesar apa kesalahanmu.”
__ADS_1
“Apa setiap kesal, wanita selalu memilih jalan untuk pergi?” tanya Keanu lagi dengan menatap istrinya.
Jihan pun membalas tatapan itu dan mengusap wajah Keanu. “Tergantung. Jika memang sangat menyakitkan, pergi dan meninggalkan semua mungkin jalan terbaik menurut sebagian orang. Atau bertahan mungkin juga jalan yang terbaik. Tapi ketika sudah bertahan tapi yang dirasakan tetap sama, menurutku memang seharusnya pergi dan mencari suasana baru.”
Keanu terdiam sejenak. Ia mengingat lagi saat Hanin sedih bahkan menangis. Walau sang ayah selalu menghujani ibunya dengan cinta, tapi tetap saja sang ibu diam-diam masih tersakiti.
“Ya, banyak pengorbanan yang sudah Mama berikan. Tapi sikap Oma tetap tidak berubah.”
Jihan mengernyitkan dahinya. Ia tidak pernah tahu jika dahulu Kenan seperti Keanu sekaranag.
“Papa menikahi Mama dengan paksa. Dulu, Papa juga ditentang Oma, tapi dia nekat dan tetap menikahi Mama.”
Jihan tercengang mendengar fakta itu. “Jadi, apa yang kamu lakukan sekarang juga pernah dilakukan Papa Kenan?"
Keanu mengangguk dan tersenyum. “Aku anak Papaku kan?”
Jihan kembali tertawa. “Ya, Ya … ya.”
Keanu pun ikut tertawa. Tangannya kembali nakal dan menyentuh bagian-bagian tubuh yang hanya berbalu celemek.
Sontak Jihan menepis tangan itu. “Kean, tanganmu jangan nakal!”
“Biarin.”
“Udah ya, ini hukuman hari terakhir,” kata Jihan senang.
Keanu menggeleng. “Masih ada tujuh hari lagi. Jangan korupsi!.”
“Kean,” rengek Jihan yang langsung dipeluk oleh suaminya. “Jam berapa berangkat?”
“Hm. Agak siang sih,” jawab Jihan. “Hari ini aku lagi ga ada jadwal di rumah sakit. Tapi aku dapat tugas buat datang ke desa terpencil di desa xxx. Di sana ada kasus yang tiba-tiba lumpuh secara bersamaan satu keluarga.”
“Oh.” Keanu mengangguk. “Aku antar ke sana?”
Jihan menggeleng. “Tidak perlu. Aku ditemani beberapa tim dari rumah sakit kok.”
Keanu pun mengangguk.
Kebetulan, desa yang akan Jihan sambangi adalah desa yang sama dengan tempat Hanin berada. Akankah mereka bertemu?
__ADS_1