
Di desa terpencil itu, Jihan bersama ketiga tim dari rumah sakit menyambangi rumah yang mengalami kasus lunglai. Kebetulan kasus ini juga sudah masuk berita dan menjadi sorotan. Jihan kembali iab ketika melihat anak kecil berusia sepuluh tahun tengah menemani keluarganya dan mengurus orang tuanya yang tidak bisa melakukan aktifitas.
“Bagaimana, Dok?” tanya salah satu perawat yang Jihan bawa untuk menemaninya.
JIhan menggeleng. “Syarafnya lemah.”
“Apa karena virus, Dok?” tanya salah satu anggota keluarga itu.
“Masih belum tahu, karena kami baru mengambil sample darah pasien. Semestinya bapak dan ibu mendapat perawatan langsung di rumah sakit. Saya akan mengajukan rujukan untuk itu, karena masih ada rangkaian pemerikasaan lainnya dan alat itu hanya ada di sana. Bagaimana? Apa bapak ibu bersedia?”
Kedua orang tua itu saling melirik ke arah keluarganya. Wanta paruh baya itu mengangguk.
“Lakukan yang terbaik, Dok,” ucap tetangga dekat yang menemani keluarga itu, juga yang menemani anak berusia sepuluh tahun tadi.
Jihan pun berdikusi dengan rekan medis yang lain. Tak lama saat pemeriksaan berlangsung, dahi Jihan mengernyit saat melihat seseorang di luar sana.
“Mama,” panggil Jihan lirih melihat sosok Hanin yang berada di luar rumah itu bersama seorang wanita.
Di sana, Hanin tampak berbincang dengan orang itu. Jihan pun langsung keluar rumah. Namun, Hanin terlihat berjalan meninggalkan rumah itu.
Hanin mengira pemeriksaan dari rumah sakit kota sudah selesai. Melihat dari luar bahwa rumah itu sedang kedatangan tamu dan terlihat penuh, Hanin dan Annisa pun kembali pergi dan akan datang lagi besok.
Jihan mengejar ibu mertuanya. “Mama.”
Langkah Hanin pun terhenti. Wanita itu menoleh ke belakang. Jihan langsung berlari menghampiri Hanin.
“Mama.” Jihan memeluk tubuh itu.
“Jihan.”
“Mama.”
Hanin tersenyum dan menerima pelukan itu.
“Mama ke mana aja? Semua mencari Mama,” ucap Jihan saat pelukan itu terlerai.
“Mama di sini. Mama sedang mengunjungi teman Mama.” Hanin melirik ke arah Annisa. “Dia asisten Mama di Yayasan dulu. Kamu pasti tidak tahu karena Annisa bekerja di Yayasan setelah kamu dan Keanu lulus.”
Jihan tersenyum pada Annisa dan mengulurkan tangan. Annisa pun demikian. Mereka berjabat tangan dan saling berkenalan.
“An, ini Jihan. Dia menantuku, istri Keanu.”
“Oh, jadi ini istri pembalap keren itu. Saya lihat di televisi. Ah, senang sekali akhirnya bisa melihat orangnya langsung. Ternyata aslinya jauh lebih cantik.”
Jihan tersipu malu. “Ah, bisa saja.”
Hanin ikut tersenyum. “Jadi, kamu yang memeriksa keluarga itu?”
Jihan mengangguk. “Iya, Ma.”
“Jadi selama ini Mama ada di sini?” kini Jihan yang bertanya.
Hanin mengangguk. “Ya, kebetulan Annisa punya sekolah dan pengajar di sana sedang sakit jadi Mama membantu menggantikan sementara. Anak yang di dalam tadi itu adalah salah satu siswa Annisa di sekolahnya.”
“Oh, anak kecil yang berusia sepuluh tahun itu?”
__ADS_1
Hanin mengangguk. “Dia sudah lama tidakmasuk sekolah karena mengurus keluarganya. Dan, Mama ingin melihat.”
Jihan mengangguk. Ia memang tidak meragukan kedermawanan Hanin, karena dahulu ia pun merasakan kedermawanan itu.
Setelah melakukan tugasnya, Jihan masih menemani Hanin berbincang dengan keluarga itu. Ia pun meminta timnya untuk pulang lebih dulu dan meninggalkan dirinya sendirian di sini. Ia melihat Hanin memberikan uang yang cukup banyak pada keluarga itu.
Sungguh, Jihan ingin seperti ibu mertuanya. Hanin mempunyai jiwa keibuan yang lembut dan tulus. Ia banyak belajar dari wanita itu.
“JI, kamu ga pulang?” tanya Hanin saat mereka sudah berada di rumah Annisa.
Jihan mengedarkan pandangan sembari melihat pemandangan indah yang terlihat dari jendela kamar Hanin.
“Jihan mau bawa Mama pulang.”
Hanin menggeleng. “Mama belum bisa pulang karena Mama masih emmbantu tante An.”
“Ma, semua orang mencari Mama. Keanu selalu memikirkan Mama, kak Kevin juga. Apalagi Papa.”
Mendengar Jihan menyebut Papa, Hanin pun menunduk. Ia juga merindukan suaminya, tapi ia juga suka di sini. Bersama anak-anak kecil dan mengajar membuat ia healing sejenak.
“Ma, ayolah! Ikut Jihan ke rumah.” Jihan masih merayu Hanin.
“Tapi bagaimana besok? Mama masih harus mengajar.”
“Tidak apa, Bu. Kebetulan Dian sudah lebih baik. besok sepertinya dia sudah bisa mengajar,” jawab Annisa yang datang dengan membawa minuman untuk tamunya. Ia menyebut salah satu pengajar yang sebelumnya terkena demam berdarah dan saat ini sudah pulih.
Jihan langsung tersenyum mendengar jawaban itu dan tak lama kemudian ponselnya pun berdering.
“Halo.”
“Sayang kamu di mana? Aku ke rumah sakit, kamu ga ada. Kata teman kamu, kamu masih ada di desa itu. Ngapain? Aku nungguin kamu. Kamu ga kabur kan?” tanya Keanu dengan memberondong banyak pertanyaan.
“Ck. Kamu di mana? Aku panik,” kata Keanu lagi.
“Ya, aku akan pulang. Hanya ada urusan sebentar di sini.”
“Sayang …” Keanu memanggil istrinya.
“Kean …” Jihan juga sama.
Keduanya saling memanggil. Namun, sinyal di sana tidak enyambung sambungan telepon itu dengan baik.
“Sayang, kamu di mana? Sharelock!”
“Apa ga kedengeran. Iya, aku pulang,” jawab Jihan.
“Sayang, ga kedengeran.”
Tut … Tut … Tut …
“Ah si*l.” kesal kenan karena sambungan itu terputus tiba-tiba, padahal ia belum mendapat lokasi keberadaan sang istri. “Kamu di mana, Sayang?”
Hanin menghampiri menantunya. “Keanu sangat mencintaimu ya.”
Jihan tersenyum. “Sama seperti Papa. Papa juga sangat mencintai Mama.”
__ADS_1
Hanin terdiam. Ya, ia akui bahwa itu adalah benar. Hanya saja terkadang Kenan menjengkelkan.
“Tapi Keanu sering membuatmu kesal?” tanya Hanin yang langsung diangguki Jihan.
“Anak Mama sangat mesum,” jawab Jihan malu.
Hanin pun tertawa. “Kalau tidak mesum, bukan keluarga Adhitama namanya.”
Jihan pun ikut tertawa.
Tak lama kemudian, Jihan pulang. Akhirnya, ia bisa membujuk Hanin untuk ikut ke rumahnya. Ralat, rumah yang di sewa suaminya.
Annisa pun membantu dengan mencarikan orang untuk mengantar kedua wanita itu.
“Ma, ayo!” Jihan mengajak ibu mertuanya untuk masuk.
“Keanu ada di dalam?” tanya Hanin.
JIhan mengangguk. Apalagi ia melihat motor itu sudah ada di pekarangan. Hari hampir gelap, matahari mulai tertutup dan sebentar lagi adzan maghrib pun akan berkumandang.
Ceklek
Jihan membuka pintu rumahnya. Keanu yang duduk di sofa, langsung menoleh dan berlari ke arah itu. Ia memeluk Jihan.
“Kamu ke mana aja sih? Bikin orang panik. Bikin orang nunggu-nunggu!” katanya di dalam pelukan itu.
“Segitu paniknya? Memang kamu takut kalau aku pergi?” tanya Jihan meledek.
“Awas aja kalau kamu pergi. Aku ga akan izinin kamu kerja dan aku kurung terus di rumah.”
“Ih, serem banget sih,” jawab Jihan manja.
“Lagian, seneng banget bikin orang panik.”
Jihan pun tersenyum nyengir. “Oh ya, aku bawa seseorang.”
Wajah Jihan berubah sumringah. Ia lupa meninggalkan Hanin di luar.
“Bawa siapa?” tanya Keanu melongok ke luar dan melihat sosok ibunya di sana. “Mama …”
Senyum pria itu mengembang penuh dan berlari ke arah sana.
“Mama.” Keanu memeluk erat tubuh itu. Hanin pun menerima pelukan itu. Rindu yang menyeruak tersalur dalam sebuah pelukan ibu dan anak.
Di kediaman Adhitama, Kenan baru saa pulang. Seperti biasa, Kenan langsung memasuki kamar dan hendak membersihkan diri, lalu beristirahat.
“Neng, panggil Tuan untuk makan bersama,” ucap Rasti pada pembantunya.
Neneng mengangguk. ia langsung menaiki anak tangga untuk menghampiri Tuannya yang berada di kamar.
Tok … Tok … Tok
Neneng mengetuk pintu itu, tapi tak ada jawaban.
“Tuan, makan malam Tuan. Nyonya Oma menunggu di meja makan,” kata Neneng dengan suara yang agak dikeraskan.
__ADS_1
Namun, tetap tidak ada jawaban dari dalam sana. hingga Neneng berinisitif untuk memegang handel pintu yang ternyata tidak di kunci.
“Tuan …” panggil Neneng histeris saat melihat Kenan tergeletak di lantai.