
Di tempat lain, Hanin terlihat masih meringkuk di atas tempat tidur. Ia tak menyentuh makanan yang datang sejak malam, lalu pagi tadi untuk sarapan. Kenan sengaja meminta pelayan untuk membawa makanan ke kamar. Sebelum berangkat ke kantor kedinasan, Kenan juga menghampiri sang istri dan mengecup kening itu sambil mengatakan agar Hanin memakan semua makanan yang ada di sana.
Tut … Tut … Tut …
Di kantor tempat Kenan bertugas untuk melayani masyarakat, ia menyempatkan diri menelepon putra sulungnya.
“Halo, Pa.” terdengar suara pria tegas itu.
“Kev, bisa Papa minta tolong?” tanya Kenan.
“Tentu saja,” jawab Kevin.
“Tolong suruh Ayesha datang ke rumah. Bujuk Mama mu supaya mau makan. Sejak semalam, dia belum menyentuh makanannya,” kata Kenan lirih.
“Apa ini karena kepergian Keanu?” tanya Kevin mempertegas.
Kenan terdiam dan tidak menjawab. “Mama mu mogok makan untuk mendapat simpati dari Papa dan mencabut keputusan Papa yang akan mencoret nama Keanu dari daftar keluarga juga hak waris.”
“Tapi Papa memang berlebihan. Tidak seharusnya seperti itu,” ucap Kevin.
“Jadi? Kamu juga memihak adikmu?” tanya Kenan yang mulai kesal berbicara dengan Kevin.
“Pa, Om Gun saja bisa menerima Aldi, keponakan dari pria yang dulu pernah membuatnya koma. Demi siapa? Demi kebahagiaan putrinya.” Kevin berusaha membuka paradigma sang ayah. “Ayolah, Pa! Papa adalah panutan kami. Jangan buat semuanya menjadi sulit.”
Kenan terdiam. Lalu kembali berkata, “pokoknya suruh Ayesha ke rumah dan bujuk Mama mu untuk makan.”
Kemudian, Kenan langsung menutup sambungan telepon itu. Kevin mendnegus kesal. Ya, istri kevin memang dekat dengan Hanin sedari kecil. Bahkan wanita itu seperti anak sendiri bagi Hanin sebagai pengganti dari anak perempuan Hanin yang tak sempat lahir ke dunia karena keguguran waktu itu.
Setelah sambungan telepon dengan sang ayah terputus, ia pun langsung menelepon sang istri. Walau Ayesha masih repot mengurus anak kembarnya, tetapi ia tetap menjalani perintah sang suami, karena ia juga mengkhawatrkan keadaan ibu mertua yang sudah ia anggap seperti ibunya sendiri. Hanin yang baik dan lembut, membuat semua wanita yang dicintai putranya pun ikut mencintainya. Jika Jihan tahu kondisi Hanin akan seperti ini paska sepeninggal Keanu, mungkin wanita itu akan memilih untuk pergi, dari pada melihat Hanin menderita karena jauh dari putranya. Tapi di sisi lain, Jihan juga ingin egois dan ingin selalu berada di dekat Keanu, pria yang selalu memperlakukannya dengan istimewa.
****
“Ma, ayo makan!” ucap Ayesha, istri Kevin.
Ayesha mendekatkan sendok itu ke mulut ibu mertuanya. Dan, Hanin menggeleng. “Mama ga lapar, Sayang.”
“Ma, jangan seperti ini! Nanti Mama sakit,” kata Ayesha lagi.
“Tidak apa Mama sakit. Lagi pula tidak ada yang peduli sama Mama. Papa juga tidak. Dia sudah asyik dengan dunianya sekarang.” Hanin tersenyum tipis pada menantu yang sudah ia anggap seperti putri sendiri karena Ayesha adalah anak bungsu dari sahabat Kenan sekaligus mantan asisten pribadinya dulu yang ikut membangun perusahaan Adhitama kembali berjaya.
“Siapa yang tidak peduli padamu?” tanya seorang pria yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar itu.
Hanin hanya memakan tiga sampai empat sendok makanan yang Ayesha suapkan. Suara pria yang tak lain adalah Kenan, menghampiri sang istri dan duduk tepat di sampingnya.
Ayesha langsung berdiri, membiarkan sang ayah mertua mendekati istrinya. Tak lama setelah Kenan duduk, Ayesha melihat suaminya berdiri di pintu. Ayesha pun mendekati Kevin dan mereka meninggalkan Kenan dan Hanin berdua di kamar itu. Setelah Ayesha keluar dari kamar, Kevin menutup pintu kamar itu sempurna untuk memberi akses pada kedua orang tuanya bicara empat mata.
__ADS_1
“Ayo makan! Sejak semalam perutmu belum ke isi,” ucap Kenan yang kemudian mengambil alih piring yang berada dekat di depannya.
Namun, Hanin masih enggan bicara dengan suaminya. ia pun memalingkan wajah.
“Aku tahu, kamu mogok makan untuk anak nakal itu kan? Agar keputusanku untuk mencoret namanya dalam daftar keluarga dibatalkan.”
Hanin menoleh ke wajah suaminya yang sedang menatapnya.
“Aku memang malas makan,” jawab Hanin.
“Nanti sakit dan malah merepotkanku,” ucap Kenan santai, tanpa menyadari bahwa perkataannya tadi justru membuat Hanin semakin kesal.
“Kalau begitu abaikan saja aku. Tidak perlu di urus jika aku sakit. Toh semua makhluk yang bernyawa pasti akan mati kan?”
Kenan langsung membulatkan matanya. “Kamu ngomong apa?”
“Ya, memang begitu. Kita ga akan selamanya bersama.”
“Stop! Jangan bicara seperti itu!” ucap Kenan yang kesal dengan perkataan sang istri.
“Seperti Keanu, anak tu bersamaku dari lahir hingga dia besar. Dan sekarang, dia pergi. Pasti ada perpisahan setelah pertemuan bukan?”
“Han, stop!” Kenan membungkam mulut istrinya. “Kalau kamu bicara lagi, akan aku buat bengkak bibirmu.”
“Kamu lebih mencintai anakmu dibanding aku?” tanya Kenan posesif. Pria itu memang selalu cemburu pada siapapun termasuk pada anaknya sendiri, sejak dulu.
Hanin kembali menyipitkan matanya. “Itu cinta yang berbeda, Bapak Kenan yang terhormat.” Lalu, ia duduk di atas tempat tidur sembari melipat kedua tangannya di dada dan bersandar pada dinding ranjang.
“Jadi kamu mau apa?” tanya Kenan lagi.
“Kembalikan Keanu. Cabut keputusanmu dan ajak mereka ke rumah ini! Itu saja. Terserah kamu masih dendam dengan Wiliam atau tidak bisa memaafkan pria itu. Tapi, jangan buat putraku pergi! Restui mereka dan jangan meminta mereka untuk berpisah lagi!”
“Permintaanmu terlalu banyak, Sayang.” Kenan menatap istrinya sembari tersenyum tipis. Kemudian, Kenan kembali meletakkan piring itu ke meja kecil yang ada di samping Hanin.
“Ken, kenapa kamu selalu menyebalkan?” Hanin memukul dada suaminya dengan brutal, hingga Kenan pun menahan kedua tangan itu.
Kenan memeluk tubuh istrinya. “Ayo makan! Nanti kamu sakit. Lalu, siapa yang akan melayaniku di sini?”
Kenan menepuk ranjang yang mereka duduki. Ranjang yang menjadi saksi setiap permainan panas yang mereka ciptakan dengan dipenuhi suara sensual satu sama lain.
“Aku memang hanya menjadi pelampiasan nafs*mu saja.” Hanin mendorong tubuh suaminya agar terlpeas dari pelukan itu.
“Hei, pola pikir darimana itu?” tanya Kenan yang semakin duduk mendekat dengan tubuh istrinya.
Hanin cemberut dan tidak ingin melihat sang suami, hingga tangan Kenan terangkat untuk menjepit dagu Hanin dan menggeser kepala itu untuk menatapnya.
__ADS_1
“Lihat aku! Apa aku hanya menjadikanmu pelampiasan nafs*? Pernyataan itu sangat kejam,” sanggah Kenan tak terima dengan perkataan Hanin tadi.
“Kalau begitu, kamu harus dengarkan aku. Jika kamu mencintaiku, maka kabulkan permintaanku tadi.”
“Permintaan yang mana?” tanya Kenan pura-pura lupa. “Aku harus bertelanj*ng dada saat tidur?” tanyanya tentang permintaan Hanin dulu sebelum masalah Keanu muncul.
Hanin memang meminta suami untuk bertelanj*ng dada saat tidur. Hanin lebih suka dipeluk dengan kulit yang saling bersentuhan langsung.
“Kenan. Bukan itu!” rengek Hanin, membuat Kenan tertawa.
“Lalu yang mana?” tanya Kenan yang masih pura-pura lupa.
“Keanu,” jawab Hanin kesal. “Restui mereka dan cabut keputusanmu untuk menghapus Keanu dari daftar keluarga.”
“Oh itu.” Kenan kembali mengambil piring untuk menyuapi istrinya.
“Ken,” panggil Hanin.
“Mengapa sekarang memanggil namaku saja, mana panggilan hubby untukku?” tanya Kenan.
Hanin menggeleng. “Restui dulu Keanu dan Jihan. Maka, aku akan memanggimu hubby lagi.”
Kenan menunduk dan mengaduk makanan itu serta memenuhkannya di sendok yang aan ia berikan pada Hanin. “Jadi, kamu mengancam?”
Hanin mengangguk. “Ya, aku juga mengancam akan pergi darimu kalau kamu masih seperti ini.”
Kenan menyipitkan matanya. “Mengancam?” tanyanya lagi.
Hanin benar-benar selalu dibuat kesal oleh Kenan.
“Ish.” Ia kembali mendorong dada suaminya.
Kenan membiarkan sang istri melakukan kekerasan pada tubuhnya, karena memang apa yang Hanin lakukan tidak terasa apa pun pada tubuh Kenan.
“Kalau begitu makan dulu!” ucap Kenan santai.
“Tapi, janji kamu akan merestui mereka.”
“Hm.” Kenan hanya menjawab dengan deheman.
“Janji tidak akan mencoret nama Keanu dari daftar keluarga,” ucap Hanin lagi.
“Hm.” Kenan masih berdehem dengan menyodorkan sendok itu ke hadapan Hanin. “Sudah bicaranya? Sekarang makan. Ayo! Aaa …”
Hanin pun terpaksa melebarkan mulutnya dan menerima suapan itu.
__ADS_1