Gairah Cinta Sang Pembalap

Gairah Cinta Sang Pembalap
Jihan, wanita hebat


__ADS_3

Di kantor pusat pemerintahan kota, Kenan mendapat tamu dari badan intelijen negara. Seorang teman lama yang saat ini tengah menjabat di tempat itu dengan menduduki posisi yang cukup tinggi.


“Hai, Ken,” sapa pria yang seusia dengan Kenan. Postur tubuhnya pun hampir mirip dengan sang gubernur itu.


“Hai.” Kenan langsung berdiri dari kursi yang tengah ia duduki.


Ia menghampiri teman lama yang kini mendapat jabatan penting di badan intelijen negara. Kenan pun sedikit tahu banyak dengan apa yang terjadi di negeri ini, melalui sedikit info yang temannya berikan. Walau sebenarnya info itu rahasia, tetapi ia kenal Kenan an segala reputasinya. Kenan adalah pria yang sangat bisa dipercaya.


Pria yang bernama Jayadipa ini juga menghampiri Kenan. Keduanya tampak berpelukan erat seolah mereka baru bertemu setelah sekian tahun. Ya, mereka memang baru bertemu lagi setelah sekian tahun. Kenan mengenal Jay, panggilan pria itu sejak SMA. Jay adalah pria yang ulet dan pekerja keras. Nama Jayadipa melambangkan ambisi yang membaja. Dan, sesuai namanya kini ia pun mendapatkan posisi yang ia cita-citakan setelah lulus dari militer dan bergabung dengan badan intelijen negara.


“Long time no see,” ucap Kenan sembari menepuk teman lamanya itu.


“Ya, long time no see. Kau terlihat makin keren di usiamu, Ken,” jawab Jay.


“Kau juga semakin gagah, Jay.”


Kenan melepas pelukan dan saling tersenyum. Lalu, ia mempersilahkan Jay untuk duduk. “Ayo, silahkan duduk!”


Tak lama kemudian, Kenan memerintahkan anak buahnya untuk membuatkan minuman pada Jay.


“Wah, sudah sukses di bisnis. Ternyata kau sukses juga di politik,” kata Jay lagi sembari melipat kakinya.


Kenan pun duduk dan melakukan hal yang sama. “Jika tidak mendapat dukungan dari keluargaku. Aku juga tidak akan berada di sini.”


Jay mengangguk. Ia memang mengenal Kenan sebagai pria yang menjunjung tinggi keluarga. Kenan juga terkenal pria yang patuh pada ibunya.


“Oh, ya. Ngomong-ngomong selamat untuk pernikahan putra bungsumu. Kau tidak mengundangku?” tanya Jay membuat Kenan terdiam.


Pertanyaan ini kerap Kenan dapatkan dari beberapa teman-temannya terutama teman sesama politik. Setelah Keanu mengumumkan pernikahannya di media, whatsapp Kenan dibanjiri oleh pertanyaan yang sama.


“Seperti kata putraku. Saat dia menikah, aku sedang sibuk. Dan, mereka ingin cepat-cepat menikah. Jadi kami belum sempat membuatkan pesta.”


Jay mengangguk. “Oh, begitu. Tapi aku suka gaya Keanu. Dia terlihat gagah dan manis sekali pada istrinya di TV.”


Kenan hanya tersenyum.


“Dia sepertimu dulu, waktu kau mengumumkan pernikahanmu dengan istrimu dan meninggalkan tunanganmu yang seorang model itu.”


“Ck.” Kenan menggelengkan kepalanya semabri tersenyum tipis. “Ah, kau masih ingat saja.”


“Tentu,” jawab Jay. “Itu skandal terbesar tahun itu. Dan, aku melihat kau menggandeng istrimu possesiv, persis seperti Keanu kemarin.”


Jay tertawa dan Kenan hanya tertawa tipis. Ia kembali mengingat masa itu. Ia baru menyadari kalau saat itu ia memang menentang semuanya. Bahkan ia mencampakkan wanita yang sudah menjadi tunangannya demi seorang Hanin, gadis biasa yang hanya bekerja sebagai karyawan biasa di perusahaan swasta.


“Kau terlalu berlebihan,” sanggah Kenan, membuat Jay kembal tertawa.


“Tapi, Keanu memang memiliki bakat memikat yang hebat. Aku tidak percaya dia bisa menaklukkan Jihan Prameswari.”


“Kau mengenalnya?” tanya Keanu.


“Tentu saja. Jihan pernah ditugaskan menjadi intel bersama dengan keponakanku. Dia hebat dan berani. Berkat dia, pengiriman sabu terbesar dari Itali yang jumlahnya berton-ton itu gagal,” jawab Jay.


“Itali?” tanya Kenan lagi.


“Ya.” Jay mengangguk.

__ADS_1


“Kapan itu?” Kenan semakin penasaran. Ia pun menebak bahwa Keanu dan Jihan bertemu di sana.


“Hmm … Enam bulan lalu.”


Kenan terdiam dan berpikir.


“Kau seharusnya bangga memiliki menantu seperti Jihan. Aku cukup mengenal anak itu. Dia sopan, pintar, cantik, dan berhati baik. Buktinya, dia rela menjadi relawan dokter adiksi di BNN. Ribuan pasien ketergantungan obat berhasil dia tangani hingga sembuh. Luar biasa bukan?”


Jay terus memuji Jihan, membuat Kenan terdiam dan menarik nafasnya kasar.


“Aku tahu, dia memang bukan pilihan menantu untukmu. Aku juga tahu kau dan Jusung terikat janji untuk menjodohkan anak kalian kan?”


Kenan tertawa tipis dan menggeleng. “Kau memang tahu segalanya.”


Jay mengangguk. “Ya. Aku memang tahu segalanya. Hanya kegiatan di ranjangmu saja yang tidak aku tahu.”


Kedua pria itu pun tertawa.


Lalu, Jay kembali berbicara. “Iman tak dapat diwarisi dari seorang ayah yang bertaqwa. Begitu pun sebaliknya, Ken. Tidak semua anak terlahir buruk dari ayah yang buruk.”


Kenan tersenyum dan mulai menyetujui perkataan itu. Kepalanya pun mengangguk, hingga akhirnya sebuah minuman datang dari orang yang sebelumnya Kenan perintahkan.


“Kita sudah banyak bicara. Ayo minum!” pinta Kenan untuk tamu istimewanya ini.


Setelah banyak bercerita tentang keluarga, anak, istri, dan masa-masa SMA, mereka pun kembali berbincang tentang politik dan perkembangan negara. Pembicaran mereka semakin berat dan sulit dimengerti bagi orang biasa.


Cukup lama, Kenan dan Jay berbincang hingga akhirnya Jay pun pamit.


“Senang bertemu denganmu, Jay,” ucap Kenan sembari memeluk, lalu menepuk bahu teman lamanya ini.


“Oh ya? Aku tidak merasa.” Kenan tertawa.


“Jujur, aku kagum denganmu. Kau pekerja keras, walau sebenarnya terlahir dari keluarga kaya.”


“Tapi saat itu, keluargaku hampir bangkrut. Banyak tanggung jawab yang aku pikul, makanya aku menjadi seperti orang ambisius.”


Jay mengangguk. “Tapi ada positifnya kan? Kau bisa menjadi seperti sekarang.”


Kenan mengangguk. “Ya, dan kau juga bisa seperti sekarang.”


Kedua kembali tertawa. Mereka mengingat pada zaman terperih dalam hidup mereka. saat mereka harus tertatih demi menggapai sebuah mimpi dan cita-cita.


“Baiklah, kalau begitu aku pamit,” ucap Jay yang berdiri dan berjalan ke arah pintu.


Kenan pun mengantar tamunya hingga sana. “Ya, hati-hati. Terima kasih telah mengunjungiku.”


Jay mengangguk. “Jika butuh sesuatu, jangan segan-segan meminta bantuanku! Aku akan siap menolongmu.”


Kenan tersenyum dan mengangguk. “Terima kasih.”


Jay pun ikut tersenyum dan mengangguk. Lalu pergi meninggalkan ruangan Kenan bersama dua ajudannya yang menunggu di luar.


Kenan menutup kembali pintu ruangan dan duduk di kursi kerjanya. Ia kembali mengingat kata-kata Jay. “Itali? Intel? Jadi Jihan yang menggagalkan aksi Gio dan menyadarkan Wiliam?”


Hal itu cukup menjadi bahan pertimbangan Kenan dalam menerima Jihan sebagai menantunya. Di tambah reputasi Jihan yang sempat menjadi dokter adiksi dan membantu ribuan pasien ketergantungan obat. Hal itu cukup membuat sedikit kebanggaan bagi Kenan.

__ADS_1


Kenan langsung meraih ponselnya dan menelepon sang istri.


“Halo,” jawab Hanin dengan nada biasa.


“Hanya halo? Mana salamnya?” tanya Kenan.


“Malas, karena kamu belum memenuhi janjimu,” jawab Hanin.


“Yang mana?” tanya Kenan pura-pura tak mengerti.


“Ken, apa kamu lupa? Kamu janji akan merestui Keanu dan Jihan.”


“Oke. Lalu aku harus bagaimana?” tanya Kenan lagi.


Pria gengsi ini pun memiliki gengsi yang tinggi, apalagi terhadap anaknya.


“Ya, paling tidak telepon Keanu, jika kamu sibuk dan kita tidak bisa menemui mereka. bilang padanya kalau saat itu kamu hanya sedang marah dan sekarang sudah tidak marah lagi. Kamu juga bilang kalau kamu merestui mereka. Aku rasa itu sudah cukup membahagiakan buat mereka.”


Kenan terdiam.


“Apa kamu tidak mau melakukannya?” tanya Hanin yang tak mendengar respon suaminya saat ia meminta demikian.


“Aku mau melakukannya. Demi kamu.”


Di seberang sana, Hanin tersenyum tipis. “Bohong.”


“Ya, tolong telepon Keanu nanti malam untukku.”


“Benarkah?” tanya Hanin.


“Ya, demi kamu. Kurang cinta apalagi aku padamu, wanita penggoda.”


Hanin pun tersenyum.


“Apa balasan untukku?” tanya Kenan.


“Apa?” Hanin balik bertanya.


“Ya, apa imbalan untukku karena sudah memenuhi keinginanmu?” tanya Kenan lagi.


“Hmm … Nanti malam aku akan menggunakan lingeri merah marun kesukaanmu,” jawab Hanin malu.


Jika dilihat pipi Hanin saat ini sedang merona.


“Apa pipimu merah?” tanya Kenan menggoda.


“Ngga.” Hanin menggeleng.


“Jangan bohong!” Kenan masih menggoda istrinya lewat sambungan telepon.


“Ngga,” jawab Hanin lagi.


“Ah, kau benar-benar penggoda. Aku jadi ingin cepat pulang.”


Hanin pun tertawa dan menutup telepon itu. Ia sengaja membuat Kenan tergoda dan segera pulang.

__ADS_1


__ADS_2