Gairah Cinta Sang Pembalap

Gairah Cinta Sang Pembalap
Pengganggu


__ADS_3

“Iya Han, Mami sudah mencoba menghalangi keinginan Lastri, tapi dia tidak mendengarkan,” ujar Rasti pada menantunya saat Lastri berdiri di depan Hanin dan Kenan.


“Kau mau ke mana, Bi?” tanya Kenan.


“Saya ingin menemani Jihan di Lombok, Tuan,” jawab Lastri bohong, padahal bukan itu alasan utamanya.


"Lalu, Bibi tidak bekerja lagi pada kami?” tanya Hanin.


Lastri pun menggeleng dengan wajah tertunduk. “Maaf, Bu Hanin. Tuan, Nyonya Oma. Saya sangat berterima kasih karena selama ini saya selalu dibantu, tapi saya tidak tega membiarkan Jihan sendirian di sana.”


“Bukankah dia bersama ayah biologisnya?” tanya Kenan.


“Pak Wiliam tidak ikut. Dia punya bisnis yang tidak bisa ditinggalkan di Surabya.”


Kenan mengangguk dan membulatkan bibirnya. “Oh.”


“Baiklah, kalau begitu saya juga tidak bisa menghalangimu, Bi. Anak adalah teman kita di hari tua.” Hanin melirik suaminya. “Pergilah!”


“Terima kasih, Bu Hanni. Nyonya Oma,terima kasih.” Lastri menghampiri Rasti yang sedang duduk di sofa. Ia pun bersimpuh pada wanita tua itu. “Maafkan saya, jika selama saya bekerja sering membuat jengkel, nyonya Oma.”


Rasti terdiam dan tidak berkata. Sejujurnya ia enggan melepas Lastri yang sudah sekian lama menjadi asisten rumah tangga di keluarga ini. Lastri tidak pernah berperilaku buruk. Ia juga sangat jujur, hal itu yang Rasti sukai sejak dulu.


“Apa kau akan ke Surabaya dulu?” tanya Kenan pada Lastri.


Lastri pun mengangguk.


“Aku akan mengantarmu, Bi,” ucap Hanin yang sekalian ingin bertemu putranya.


Sore tadi, Hanin mendapat banyak foto pernikahan Keanu dan Jihan dari Kevin. Terlihat senyum bahagia dari sang putra yang tercetak di sana. Senyum yang tidak pernah lagi Hanin lihat setelah sang putra kuliah di united kingdom.


Kenan menatap istrinya. “Kalau begitu, aku juga akan mengantarmu, Bi.”


Hanin ikut menatap sang suami. “Tidak perlu, kamu sibuk Sayang.”


Kenan menggeleng. “Tidak, aku akan atur jadwalnya.”


“Tidak perlu, Sayang.” Hanin tersenyum memaksa. “Setelah mengantar Bi Lastri, aku akan segera pulang.”


“Sayangnya, aku tidak percaya,” ucap Kenan berbisik di telinga sang istri.


“Huft.” Hanin menarik nafasnya kesal. Ah, rencana untuk bertemu Keanu di sana sepertinya akan pupus karena keikutsertaan Kenan.


Di tempat berbeda, dua manusia berlawanan jenis masih menikmati kebersamaan mereka yang tengah mandi bersama. Keanu dengan senang hati menyabuni punggung sang istri saat wanita itu memintanya.


"Eum … Kean. Sabuninnya yang benar.” Jihan memukul tangan Keanu yang memijat lembut dua gunung kembarnya yang kenyal.


Keanu tertawa. Ia tidak mendengar perkataan sang istri. Tangannya masih merayap menelusuri lekuk indah itu.

__ADS_1


“Yang ini disabuni juga?” tanya Keanu dengan tangan yang sudah berada di pusat inti itu.


“Kean,” rengek Jihan sembari memindahkan tangan Keanu dari area itu.


“Pelit banget sih,” kata Keanu tersenyum saat mendapat tatapan tajam dari sang istri.


“Ish, kamu tuh mesum banget, sumpah!” Jihan memukul dada suaminya dan berdiri sembari menutup asetnya yang berharga saat beraliih menuju shower untuk membersihkan sabun yang melekat ditubuhnya.


“Hei, kok pergi? Kita belum selesai,” ucap Keanu.


“Udah. Udah selesai,” jawab Jihan dengan senyum kemenangan. Ia ingin mempermainkan suami playboynya itu.


Dengan cepat, Jihan membersihkan tubuhnya dan memakai bath robe.


“Sayang, aku belum selesai,” ucap Keanu lagi yang masih duduk di dalam bath up.


“Ya udah, selesaikan aja sendiri.” Jihan tersenyum dan meninggalkan sang suami.


“JIhan. Awas ya! Aku ga akan lepasin kamu nanti.”


Jihan menongolkan wajahnya di balik pintu kamar mandi itu “Oh ya? Siapa kentut. Eh siapa takut?” ujarnya tertawa genit sembari menutup bibirnya yang mungil.


Keanu pun tersenyum melihat gaya istrinya yang genit dan lucu. “Si*l, awas kau, Ji. Kau sudah membangunkan macan tidur.”


Jihan berdiri di depan lemari berwarna pink. Ternyata ia dan Keanu sudah menghabiskan waktu yang cukup lama di dalam kamar mandi. Jihan tersenyum mengingat tadi saat ia meledek suaminya yang tengah bergairah. Ia tahu Keanu sangat menginginkan dirinya, tapi boleh kan ia bermain sedikit dengan pria playboy itu, mengingat Keanu juga beberapa kali bertindak semaunya kemarin.


Plak


“Ah.” Jihan meringis dan menoleh ke arah orang yang memukul b*k*ng sintalnya.


Salahkan Jihan yang berdiri di depan lemari hanya menggunakan bra dan celana d*l*m saja.


“Kean, rese banget. Main pukul-pukul aja. Sakit tahu.” Jihan memonyongkan bibirnya.


Keanu tertawa dan memeluk sang istri. “Maaf.” Pria itu menciumi bahu Jihan yang terbuka. “Lagian siapa suruh pose-nya nantangin gini.”


“Kamu aja yang mesum.”


Keanu kembali tertawa. “Gimana ga mesum kalau disuguhkan dengan ke-sexy-an hakiki.”


Jihan menjulurkan lidahnya dan menahan tawa. “Gombal.”


Lalu, Keanu menggendong tubuh Jihan dan membawanya ke tepi ranjang. Ia mendudukkan sang istri di pangkuannya. Jihan pun mengalungkan kedua tangannya pada leher Keanu.


“So, kapan kita mulai?” tanya Keanu.


Jihan pura-pura berpikir. Gaya sang istri membuat Keanu gemas.

__ADS_1


“Hmm … setelah makan malam, mungkin,” jawab Jihan.


“Bagaimana kalau aku memakanmu dulu. Supaya makan malamku tambah banyak. Bukankah bercinta menghabiskan banyak kalori dan setelah itu makan terasa lebih nikmat?”


Jihan tertawa. “Modus.”


Keanu ikut tertawa, melihat tawa wanitanya yang sangat cantik. Keanu menatap lekat wajah itu, sehingga Jihan pun menghentikan tawanya.


“Kenapa?” tanya Jihan saat melihat Keanu menatapnya.


Keanu tersenyum dan menggeleng. “Aku senang bisa melihat tawa ini lagi.” Keanu mengelus waja Jihan dan menyelipkan anak rambut itu ke belakang telinganya. “Dan yang lebih membuatku senang karena aku bisa melihat tawa ini setiap hari.”


Seketika hati Jihan pun meleleh. “Kamu tahu apa yang aku rindukan darimu?” tanyanya.


“Apa?”


“Gombalanmu. Dan …” Jihan menggantungkan perkataannya, lalu menyentuh bibir Keanu. “Ciumanmu.”


Keanu tersenyum menyeringai. “Dasar liar!”


Keanu memajukan bibirnya dan mencium bibir itu. Ia memagut lembut bibir kenyal milik sang istri dan dengan senang hati Jihan menerima pagutan lembut sang suami. Tanpa mereka sadari pagutan lembut itu pun berubah menjadi liar. Jihan mulai membuka mulutnya lebar, begitu pun Keanu. Keduanya saling ingin memakan bibir pasangannya masing-masing. Jihan seperti sudah terlatih dan masih belum kehabisan oksigen padahal pagutan itu sudah berlangsung cukup lama.


“Kau sungguh liar, Sayang,” kata Keanu tersenyum saat keduanya melepas pagutan itu.


Keanu pun memindahkan tubuh sang istri ke ranjang dan menindihnya. Aksi keanu kembali berlanjut. Kini, ia menyesap leher dan memberi tanda di sana.


“Eum … “ lenguh Jihan saat merasakan gigitan itu. Ia sengaja menengadahkan kepalanya, memberi akses keleluasaan pada Keanu untuk menjamah sesuka hati pria itu.


“Kean …” lenguh Jihan semakin terdengar merdu saat Keanu mulai bermain di dua gung kembar itu.


Keanu mulai menyesap bagian itu bergantian, memberi sensasi luar biasa pada Jihan walau ini bukan kali pertama Keanu melakukan itu padanya.


“Kamu siap?" tanya Keanu yang sudah sangat siap untuk bertandang ke rumahnya.


Jihan menatap mata Keanu yang sudah berkabut gairah. Ia tak kuasa untuk berkata tidak, padahal saat ini ia masih merasa belum siap menerima benda baru di dalam tubuhnya.


Tok … Tok … Tok …


“Jihan, makan malam sudah siap,” teriak Gio dari luar kamar.


Keanu pun lemas mendengar ketukan dan suara itu.


“Jihan, apa kau tidak mendengarku? Ayo cepat keluar! Aku dan Papa menunggu kalian,” kata Gio lagi.


Jihan tertawa melihat ekspresi Keanu yang kesal. Pasalnya gelora itu sudah di ujung tanduk.


“Kakakmu selalu menjadi penganggu,” ucap Keanu, membuat Jihan terus tertawa sembari mengelus dada sang suami untuk menyemangatinya agar bersabar.

__ADS_1


__ADS_2