
Hanin langsung mematikan ponselnya. Di sana, Keanu pun tahu mengapa sang ibu melakukan itu. Ia khawatir jika sang ayah akan tahu, tapi nasi sudah menjadi bubur. Ia tidak peduli, jika Kenan mengetahui pernikahannya besok.
"Kamu bicara dengab siapa?" tanya Kenan lagi pada istrinya.
"Dengan Kevin," jawab Hanin bohong. "Kalila rewel dari tadi dan ga bisa tidur. Jadi Ayesha bertanya padaku tentang itu."
Kenan menatap ponsel yang dipegang sang istri. Ia tahu bahwa istrinya sedang berbohong.
"By, aku mau ke kamar mandi. Mulez," ucap Hanin yang tahu bahwa sang suami akan mengambil ponselnya.
Hanin pun segera berlari ke kamar mandi dan sengaja duduk di closet sambil menyalakan air agar terdengar bahwa ia sedang menggunakan kamar itu.
Hanin langsung menghapus panggilannya pada Keanu dan menelepon Kevin.
"Iya, Ma." Kevin langsung memgangkat panggilan telepon dari sang ibu.
"Kev, besok Keanu akan menikah. Apa kau tahu?" tanya Hanin dengan suara sangat pelan.
"Ya, Kevin tahu, Ma. Kevin juga sudah memesan tiket besok pagi pagi sekali ke kota itu."
"Oh, Sayang. Kau memang kakak yang baik. Kau memang selalu bisa diandalkan," ucap Hanin lega.
"Mama tenang saja. Semua akan baik-baik. Papa pasti akan merestui pernikahan mereka, apalagi jika mereka punya anak."
"Ya, semoga," jawab Hanin. "Sekarang Papamu dan Omamu sebelas dua belas."
Kevin tertawa. "Ya, kan Papa anakny Oma, Ma. Pasti ada sisi menyebalkannya."
Hanin tertawa. Apa yang dikatakan putra sulungnya itu memang benar.
Kevin pun ikut tertawa.
Selesai berbicara dengan Kevin, Hanin kembali menyalakan air di closet itu, lalu ia keluar. Di sana, Kenan masih menunggu sang istri. Kenan duduk di atas tempat tidur sambil menyandarkan tubuhnya di dinding ranjang.
"Loh, kamu belum tidur?" tanya Hanin yang mendekati ranjang dan kembali merebahkan tubuhnya di samping sang suami.
"Kamu lupa, kalau aku tidak bisa tidur tanpamu," ucap Kenan sembari memeluk sang istri yang sudah terlentang.
"Hm, so sweet. Aku kira lama usia pernikahan akan mengikis keromantisanmu, By."
"Tidak akan. Aku selalu mencintaimu, Haninku Sayang."
Hanin tersenyum dan mengeratkan pelukan sang suami yang leingkar di pinggangnya.
Kenan belum tertidur. Ia sengaja membiarkan Hanin terlelap lebih dulu. Lalu, ia mengambil ponsel itu. Kenan mengecek panggilan telepon dan pesan whats app. Tidak ada nama Keanu di sana, panggilan terakhir juga dengan nama Kevin. Kenan menoleh ke arah sang istri sembari meletakkan kembali ponsel itu pada tempatnya semula. Ia mempercayai Hanin. Kemudian, Kenan kembali memeluk sang istri dan ikut tertidur.
__ADS_1
Keesokan harinya, Kevin berangkat setelah adzan subuh berkumandang. Ia mengajak asistennya untuk ikut ke kota itu.
"Hati-hati ya, Mas. Sampaikan salamku untuk Keanu dan Jihan," ucap istri Kevin saat mengantarkan suaminya hingga depan pintu.
Kevin mengangguk dan mencium kening sang istri. "Setelah acara Keanu selesai aku langsung pulang."
Ayesha pun mengangguk.
****
"Saya terima nikah dan kawinnya Jihan binti Sulastri dengan mahat tersebut dibayar tunai." Dengan suara lantang dan satu tarikan nafas Keanu mengucapkan ikrar itu.
Sebelumnya, Keanu gugup. Buliran keringat berbentuk bulat bulat besar pun menghiasi keningnya. Walau ia sering berhubungan dengab wanita, tapi hari ini ia mengucapkan janji suci pada wanita yang ia cintai di depan ayah dan kakak wanita itu juga di depan wali hakim yang menikahkan mereka.
Penghulu itu pun memanjatkan doa. Pernikahan itu memang sederhana, hanya di hadii keluarga dan teman dekat Jihan yang bekerja di rumah sakit yang sama. Lalu, Keanu menoleh ke arah pintu, terlihat sang kakak dan asistennya baru sampai di rumah ini. Ia pun tersenyum.
Setelah doa dipanjatkan, para tamu memberi ucapan selamat. Orang pertama yang memberi ucapan itu adalah Wiliam.
"Jaga putriku! Jangan sekali kali kamu menyiakannya," ucap Wiliam pada sang menantu.
"Tentu saja, Papa." Keanu mengangguk dan tersenyum.
Di sampingnya, Jihan pun tak henti mengulas senyum. Wanita itu menangis saat sang ayah memeluknya.
"Berbahagialah, Sayang."
Lalu, Gio juga memberi ucapan. "Jaga adikku. Kalau sampai kau menyakitinya, kau akan habis ditanganku."
Keanu tersenyum dan mengangguk. "Ya, ya."
Kemudian Kevin dan Sean menghampiri kedua mempelai. Kevin memelui sang adik.
"Terima kasih, kau mau datang ke pernikahanku," ucap Keanu pada sang kakak.
"Aku kan sudah berjanji. Keluarga Adhitama pantang melanggat janji. Bukan begitu?"
Keanu tersenyum dan mengangguk. Kakak beradik itu kembali berpelukan. Setelah itu, Keanu menerima ucapan selamat dari Sean, asisten sang kakak.
"Kau memiliki kakak ipar yang menyeramkan," ucap Sean sembari melirik ke arah Gio yang berwajah sangat dan jarang tersenyum.
Keanu tertawa. "Tapj dia baik."
Sean pun bergidik ngeri saat tatapannya dilihat oleh Gio.
Pernikahan yang sederhana itu tetap terasa khidmat. Lastri terpaksa tidak menghadiri acara besar sang putri. Ia masih marah pada Jihan yang tak menuruti perintahnya untuk tidak menikahi tuan mudanya. Lastri bingung akan berkata apa jika Rasti menanyakan cucunya nanti.
__ADS_1
Acara sederhana itu selesai di sore hari. Para tamu yang tidak banyak itu meninggalkan rumah Wiliam satu persatu, termasuk Kevin.
"Kau tidak akan selamanya menyembunyikan pernikahan ini, Kean," ujar Kevin sebelum pamit pulang pada sang adik.
Keanu mengangguk. "Ya, memang. Papa dan Oma akan tahu hal ini. Dan semoga istriku sudah mengandung saat itu tiba."
"Semoga," jawab Kevin.
Tak lama kemudian, Keanu dan Jihan pamit pada Wiliam dan Gio. Mereka melangkah menuju kamar Jihan yang sudah di design ala pengantin.
Jihan terperangah saat membuka kamarnya yang sudah disulap oleh Keanu dan Gio. Wanita itu sungguh tidak mengetahui ini.
"Kamu yang melakukan ini?" tanya Jihan saat melihat mawar putih bertebaran di atas tempat tidurnya.
Keanu mengangguk. "Bagus bukan?"
Jihan ikut mengangguk. Ia pun tak kuasa meneteskan air mata.
"Hei, mengapa menagis? Apa kamu sedih menikah denganku?" tanya Kenau sembari meraih kepala Jihan untuk bersandar pada dadanya dengan posisi berdiri di depan pibtu kamar yang baru saja dibuka dan ditutup kembali.
Jihan menggeleng. "Ini bukan tangis sedih, Kean. tapi tangis bahagia."
"Benarkah?" tanya Keanu meledek sembari melihat ke wajah sang istri. "Kamu sungguh bahagia?"
Bugh
Jihan memukul dada itu. "Jangan tanyakan lagi!"
Keanu tertawa. "Baiklah."
Lalu, Jihan melepas pelukan itu. "Aku mandi duluan."
Keanu menahan lengan istrinya. "Mandi bersama."
Jihan tersenyum dan mengajak suaminya. "Ayo."
Dengan wajah mesum dan senyum menyeringai, Keanu pun tidak menolak kesempatan itu.
Jihan masuk ke dalam bath up lebih dulu. Ia menanggalkan pakaiannya sebelun itu dan Keanu melihat tubuh molek sang istri dibalik kaca besar di dalam kamar mandi itu.
Jihan memejamkan mata sambil menikmati aroma teraphy yang ia gunakan pada sabun di bath up itu. Matanya terpejam saat kedua tangan menangkup buah dadanya, hingga ia merasakan sesuatu yang seperti batu di b*k*ngnya.
"Hm ... Kean, kau tidak sabaran sekali."
Keanu tertawa.
__ADS_1
"Dia yang tidak sabar memasuki rumahnya," jawab Keanu tepat dibelakang telinga Jihan sembari menunjuk pada singkong premium session tiga.