
Usai bertugas melayani orang lain dengan keahliannya dibidang medis, kini Jihan melakukan kewajibannya untuk melayani sang suami. Jihan mulai memasukkan pakaian dan perlengkapan sehari-harinya selama bermalam di ruangan ini.
Jihan duduk di tepi ranjang yang diduduki Keanu. Namun wanita itu memunggunginya untuk berbenah.
Keanu pun tidak meninggalkan kesempatan untuk menempel pada sang istri, mengingat seharian ini ia memang belum bermanja-manja pada dokter cantik itu karena prakteknya hari ini yang begitu padat.
“Kita pulang sore ini ya, Sayang?” tanyanya sembari tangan kirinya memeluk Jihan dan dagunya ditempelkan pada bahu kiri sang istri.
Sementara tangan kanannya itu masih terbalut gips. Kelemahan Keanu yang kini ia jadikan alasan untuk selalu meminta disuapi sang istri saat makan.
“Iya, Sayang. Alhamdulillah kamu boleh pulang,” jawab Jihan lembut sembari mgusap wajah suaminyadari depan.
“Terus cuti kamu di acc?” tanya Keanu berharap. “Dua minggu kan?”
Jihan pun menoleh ke arah suaminya dan menggeleng. “Serius? Terus aku sama siapa? Jangan bilang aku diurus perawat!”
Jihan tersenyum melihat suaminya merajuk. “Ish, jelek banget kalau marah. Gantengnya ilang tau.”
“Abis kamu tega banget,” sahut Keanu dengan wajah cemberut.
Biasanya, Jihan yang selalu diledek dan dibuat cemberut olehnya, tapi kini Jihan melihat Keanu merajuk.
“Ga mungkin aku bisa tega sama kamu, Sayang. Marah ke kamu aja, aku ga bisa.”
Keanu langsung mencibir sambil tersenyum. Walau pernyataan Jihan itu memang benar. Jihan memang tidak pernah bisa marah pada Keanu.
“Senin besok, aku malah dapet tugas buat ngurusin pasien di alamat ini.” Jihan memberikan amplop putih kecil dengan logo rumah sakit tempatnya bekerja sekaligus perawatan Keanu yang berada di samping kanan atas.
Keanu pun mau tidak mau menerima mengambil amplop putih itu untuk melihat isinya. Sebenarnya ia malas mendapati kenyataan bahwa sang istri harus tetap bertugas di tengah keadaannya yang seperti ini. Kemudian perlahan Keanu membaca kertas yang ada di dalam amplop itu. Seketika, bibirnya tersenyum.
“Nyebelin.” Keanu menarik ujung hidung Jihan sembari tersenyum kesal.
Jihan pun tertawa.
Isi kertas itu menyatakan bahwa Jihan ditugsakan untuk merawat pasien yang bernama Keanu Putra Adhitama dengan alamat rumah tinggal mereka atas perintah Kenan, melalui Kevn yang sudah membayar penuh biaya pengobatan adiknya hingga sembuh di bawah pengawasan dokter Jihan.
“Kakakmu luar biasa,” ucap Jihan tersenyum.
“Ya, dia memang selalu bisa diandalkan,” jawab Keanu mengingat kebaikan sang kakak yang selalu mendukungnya.
Walau Kevin terlihat datar saat dimintai tanggapan ketika Keanu bercerita atau berkeluh kesah. Namun, pria itu selalu menanggapi cepat saat Keanu butuhkan.
“Kamu juga selalu bisa diandalkan,” jawab Jihan pada suaminya.
“Benarkah?” tanya Keanu sembari memandang istrinya dengan penuh senyum.
Jihan mengangguk. “Buatku, iya.”
Keanu pun memeluk istrinya. “Dan kamu selalu bisa membuat suasana hatiku senang.”
Jihan pun ikut tertawa dan mengeratkan pelukan itu hingga tangan kanan Keanu terjepit.
“Aww …”
“Ah, maaf.” jihan terkejut karena ringisan Keanu dan segera menjauhkan tubuhnya.
“Tapi bohong,” ucap Keanu tertawa, karena ternyata ia tidak kesakitan walau tangannya sedikit terjepit tadi.
__ADS_1
Plak
Jihan memukul pelan salah satu paha Keanu sebagai bentuk protes atas kejahilan sang suami. Dan, Keanu pun tertawa.
Jihan menunggu jadwal kepulangan sang suami sembari merapikan perlengkapannya yang ada di sana untuk kembali dibawa pulang.
Tepat pukul lima sore, Jihan bisa membawa Keanu pulang dari rumah sakit. Mereka hanya pulang berdua, tidak ada orang tua atau keluarga yang menjemput.
“Mama, Papa, sama Oma ga jadi ke sini, Yank?” tanya Keanu pada istrinya.
Keanu pun cemberut. Ia tak habis pikir oleh kedua orang tuanya yang hingga saat ini belum melihat keadaan dirinya sama sekali di sini. Padahal kedua orang tua Jihan yang tinggal jauh di kota lain saja sudah menjenguknya kemarin.
Jihan menjawab dengan gelengan kepala. Ia dan ibu mertuanya bekerjasama untuk membuat kejutan pada Keanu. Hanin, Kenan, dan Rasti sengaja tidak langsung ke rumah sakit. Sesampainya mereka di sini, mereka langsung menuju rumah Keanu. Di rumah itu semua orang sudah berkumpul untuk menyambut kepulangan Keanu dari rumah sakit, termasuk Lastri dan Wiliam.
Kevin pun ikut menyusul bersama istri dan anak kembarnya. Ia sengaja meluangkan waktunya hari ini dan tiga hari ke depan untuk menjenguk lagi adiknya. Namun kali ini bersama keluarganya untuk sekalian berlibur.
Di perjalanan, Keanu masih tampak cemberut. Ia mengira keluarganya tidak ada yang peduli padanya.
“Apa mereka tidak menyayangiku?” tanya Keanu sembari melirik ke arah sang istri yang sedang menyetir.
“Siapa?” Jihan balik bertanya.
“Mama dan Papa. Mengapa sampai sekarang mereka masih belum melihat keadaanku. Aku memang bukan anak yang baik. aku sering menentang Papa, juga tidak terlalu berprestasi seperti Kevin saat sekolah, tapi aku juga kan anak mereka.”
Jihan tersenyum saat mendengar keluh kesah suaminya. “Mereka sangat menyayngimu, Sayang. Apalagi Oma. Kamu tuh cucu kesayangannya.”
“Masa? Aku rasa ngga. Oma itu lebih sayang Kevin dari pada aku. Karena memang Kevin lebih layak untuk disayang ketimbang aku yang semaunya sendiri.”
“Ih, ngaku,” ledek Jihan.
“Sayang,” panggil Keanu dengan nada merengek. “Hari ini kamu benar-benar menyebalkan.”
Tak lama kemudian, kemdaraan yang Jihan kendarai sampai di depan rumahnya. Ia pun memarkirkan mobil itu dengan sempurna. Terlihat dari luar, rumah itu serasa sepi. Padahal di dalamnya sudah banyak orang di sana untuk menyambut kepulangan Keanu.
Dengan telaten, Jihan membantu suaminya keluar dari mobil.
“Aku bisa, Sayang,” ucap Keanu yang tidak mau dibantu memapah oleh Jihan.
“Aku bantuin, Kean.”
“Tidak usah. Aku bisa. Hanya tangan kananku saja yang terluka, yang lain tidak. Bahkan aku masih bisa menggendongmu dengan satu tangan.”
“Aaa …” Jihan langsung berteriak karena Keanu membenarkan ucapannya dengan mengangkat tubuh itu memakai tangan kirinya saat mereka sudah keluar dari mobil dan berdiri berhadapan.
“Kean, ih!” Jihan langsung memukul pelan lengan Keanu.
Pria itu pun tertawa. “Aku kuat kan? Bagian yang lain juga masih kuat.”
Keanu melirik ke arah bawah tubuhnya, membuat arah mata Jihan mengikuti itu.
“Kean.” Jihan kembali berteriak dan memukul lengan suaminya, pasalnya ia melihat rudal yang masih tertidur itu tercetak dengan jelas dari balik jeans yang dikenakan Keanu.
“Pokoknya, nanti malam. Tiga hari di rumah sakit, aku tidak bisa melakukannya.”
“Kean, mesum!” cibir Jihan dan memutuskan untuk berjalan lebih dulu.
Keanu pun tersenyum menatap istrinya dari belakang. Tubuh Jihan terlihat semakin montok dan berisi. Namun, yang memiliki tubuh itu sendiri tidak merasakannya.
__ADS_1
Lalu, Keanu mengikuti langkah Jihan setelah lama menikmati b*k*ng bulat yang bergerak seiring gerakan langkah Jihan menuju pintu rumah.
“Surprise …” teriak Hanin, Lastri, Ayesha, Rastri, Kenan, Kevin, dan Wiliam.
Keanu tercengang. Ia terdiam sesaat sembari mengulas senyum. Ia tak menyangkan orang-orang yang ia sayangi ternyata hadir di sini untuk menanti kepulangannya.
“Sayang, Mama merindukanmu.” Hanin langsung memeluk putranya.
Keanu pun senang dan membalas pelukan itu. “Kean juga rindu Mama.”
Setelah lama berpelukan pada sang ibu, Keanu beralih kepada sang ayah. Kenan memeluk putra bungsunya dengan erat.
“Kau baik-baik saja?” tanya Kenan.
“Baik, Pa. Kean punya dokter pribadi, jadi tidak perlu khawatir.” Keanu melirik ke arah istrinya dan Kenan pun mengangguk sambil tersenyum.
“Kean, kamu tidak merindukan Oma?” tanya Rasti kesal karena sedari tadi Keanu sibuk memeluk yang lain dan mengabaikan wanita tua itu.
“Oma … tidak mungkin Kean tidak rindu Oma.” Keanu langsung menghampiri Rasti dan memeluknya. “Oma itu satu-satunya Oma kesayangan, Kean.”
“Ya, karena memang kamu tidak memiliki Oma yang lain selain Oma,” cibir Rasti, membuat yang lain tertawa.
“Akhirnya, kita bisa kumpul keluarga, setelah sekian lama tidak seperti ini,” celetuk Kevin sembari memeluk istrinya dari samping. Ayesha pun ikut tersenyum.
Kenan mengangguk, membenarkan ucapan sang putra. Setelah putra-putranya memiliki keluarga sendiri, kediaman Kenan memang sepi. Mereka hampir tak pernah berkumpul karena kesibukan masing-masing.
“Kami mungkin akan lama di sini, Kean. Papa ingin sekalian liburan bersama Mama,” ucap Kenan yang langsung disoraki anak dan menantunya.
“Ciye … honeymoon lagi, Pa,” ledek Keanu.
“Tentu,” jawab Kenan dengan tak ada rasa malu sembari melirik genit ke arah istrinya. Sedangkan Hanin hanya memonyongkan bibir menanggapi kegenitan Kenan.
“Kak Kevin juga mau honeymoon?” tanya Jihan pada kakak iparnya dengan posisi yang sama seperti Kevin dan Ayesha. Keanu juga memeluknya dari samping.
“Iya dong. Mumpung lagi di sini, ga boleh dilewatin,” jawab Kevin yang kemudian kembali berkata, “titip kembar ya, Ji.”
Mata Keanu langsung membulat. “Wah, ngerepotin lu.”
Jihan langsung memberi kode pada Keanu untuk tidak mempermasalahkan itu karena ia akan dengan senang hati merawat keponakannya. Lagipula ia tidak akan terlalu repot karena si kembar memiliki baby sitter sendiri.
“Oma di sini saja. Oma ga mau tidur di hotel,” sambung Rasti membuat Kening Keanu berkerut. “Oma juga sepertinya betah tinggal di sini, udara di sini enak. Oma tidak mau pulang cepat. Kalau kalian pulang, Oma mau tetap di sini saja dengan Keanu.”
“What?” tanya Keanu terkejut.
“Kenapa? Kamu tidak suka Oma tinggal di sini?” Rasti balik bertanya dengan menaikkan alisnya.
Keanu pun nyengir. “Suka, Oma. Suka. Oma kan Oma kesayangan Kean, jadi Keanu pasti senang Oma tinggal di sini” katanya bohong.
Padahal Keanu meringis dalam hati, karena kemungkinan ia tidak bisa leluasa bermesraan dengan istrinya. Ia juga tidak bisa mengerjai Jihan untuk tidak berpakaian lagi, kalau ada Rasti di sini.
“Ah, si*l.” Keanu menepuk jidatnya pelan dan Jihan pun tertawa melihat ekspresi itu.
“Seneng ya?” tanya Keanu pelan pada istrinya.
“Seneng aja liat kamu pusing dan uring-uringan,” ledek Jihan tepat ditelinga sang suami.
“Awas ya!”
__ADS_1
Jihan pun kembali tergelak sembari menutup mulutnya agar tidak terdengar yang lain.