Gairah Cinta Sang Pembalap

Gairah Cinta Sang Pembalap
Maafkan aku


__ADS_3

“Sh*t.” keanu memukul setir mobilnya.


Baru saja ia akan menyalakan mesin mobil itu dan menjalankannya, tapi ia teringat lagi keadaan Jihan di dalam sana yang ia tinggalkan dalam keadaan mengenaskan.


Keanu kembali membuka pintu mobil dan keluar. Ia kembali memesan kamar hotel itu dengan posisi jendela yang berhadapan dengan jendela kamar Jihan. Ia ingin tetap memastikan Jihan dalam keadaan baik-baik saja. tapi nyatanya, wanita itu tidak sedang baik-baik saja.


Di dalam kamar itu, Jihan terus menangis dan meringkuk. Ia meratapi nasib yang tidak pernah berpihak padanya. Padahal sejauh ini ia hanya menjalani hidup dengan baik. menjadi orang yang mengerti posisi dan tidak ingin melawan takdir. Tapi nyatanya, ia selalu tersakiti jika mengalah. Jika ia mau, ia ingin egois dan menikah dengan Keanu lalu mengambil pria itu dari keluarganya karena Jihan tahu bahwa Keanu akan lebih memilihnya di banding keluarganya jika keluarganya meminta dia untuk memilih. Namun, Jihan tidak egois, apalagi andil keluarga Adhitama sangat besar terhadapnya.


Jihan sadar, walau saat dipernikahannya, sang ayah dan ayah Keanu sudah akur, tapi ia yakin untuk menjadi menantu keluarga Adhitama tidak akan semudah itu. masih ada Oma yang menentang hubungan mereka, ditambah posisi Kenan yang sudah menjadi public figure, tidak akan serta merta menerima menantu yang lahir dengan menggunakan nasab ibu. Keluarga Adhitama pasti akan malu ketika akad nikah Keanu menyebut nama lengkap sang istri yang tidak menggunakan nama ayahnya dibelakang namanya. Sedangkan acara itu dihadiri ratusan orang. Jihan berpikir hingga sejauh itu.


Keanu berdiri di jendela besar. Jendela yang mengarah pada kamar yang baru saja ia gunakan untuk melecehkan seorang perempuan. Seorang perempuan yang ia cintai. Keanu menatap kamar itu. Ia menyesal melakukan hal itu pada Jihan. Sungguh ia tak kuasa menahan emosi tadi. Jihan sungguh membuatnya kesal dengan kata-kata yang tidak ingin ia dengar.


“Kau belum beranjak dari tempat tidurmu?” Keanu bergumam sembari melihat ke arah jendela yang dengan samar memperlihatkan tubuh seorang wanita yang berselimut di atas ranjang.


Hingga pagi menjelang, kamar itu masih tetap menyala. Tidaka ada yang berubah dari sejak Keanu meninggalkan kamar itu.


Keanu mulai khawatir. Ia pun keluar dari kamarnya menuju kamar Jihan.


Sepulang dari rumah Kenan, Jihan memang ingin menginap di hotel. ia tidak akan menginap di kamar ibunya karena ia sudah berjanji pada Rasti untuk tidak berlama-lama di rumah itu. rencannya, setelah menginap di hotel, Jihan akan segera ke badan narkotika nasional dan menyerahkan surat pengunduran diri karena ia akan bertugas di Lombok. Setelah urusannya selesai, ia akan langsung pulang ke Surabaya dan pulang bersama sang kakak ke Surabaya. Gio yang masih bolak balik Indonesia Itali untuk mengelola bisnis legalnya, saat ini tengah berada di jakarta dan rencanaya mereka akan pulang bersama dengan tiket yang sudah Jihan pesan di pukul tujuh malam nanti.


Tok … Tok … Tok …


Keanu berdiri di depan kamar Jihan dan mengetuk pintu itu. tidak ada sahutan dari dalam sana.


“Ji, buka pintunya,” panggil Keanu panik. Pasalnya sejak ditinggalkan, keadaan kamar dan posisi Jihan tidak berubah.


“Jihan, buka pintunya.” Keanu terus mengetuk sambil berteriak.


Pintu itu hanya bisa dibuka dari dalam dan ketika seseorang keluar dari kaamr lalu menutupnya sempurna, maka pintu itu akan terkunci otomatis.


“Jihan,” teriak lagi Keanu berkali-kali, tapi tetap tidak ada tanggapan dari dalam.


Keanu pun berinisiatif. Ia menuju lobby dan meminta bagian resepsionis untuk mengambil kunci cadangan lalu membuka pintu kamar Jihan. Petugas resepsionis itu pun setuju, setelah Keanu menjelaskan kekhawatirannya pada pengunjung di dalam sana yang tak kunjung keluar kamar walau sudah Keanu ketuk dan panggil namanya.

__ADS_1


Kini, Keanu kembali berdiri di depan pintu Jihan bersama petugas. Petugas wanita itu menempelkan kartu hingga berbunyi dan terbuka. Dengan cepat Keanu berlari ke dalam kamar dan mendekati Jihan.


“Jihan, Sayang.” Keanu memeluk tubuh yang berbalut selimut itu. Ia menyentuh kulit Jihan yang panas.


“Sayang, maafkan aku. Sayang. Maaf.” Keanu sangat merasa bersalah.


Ia melihat wajah Jihan yang pucat dan mata yang masih tertutup walau kini kepalanya sudah berada di pangkuan Keanu.


“Mbak, tolong panggilkan dokter,” ucap Keanu pada petugas tadi yang masih berdiri di pintu.


Petugas itu pun mengangguk dan segera pergi mencari bantuan.


“Sayang. Jangan seperti ini. Aku mohon. Semalam aku emosi, aku keterlaluan. Seharusnya aku tidak melakukan itu padamu.” Keanu terus memeluk tubuh Jihan. “Sayang, bangun! Bangun! Kamu bilang kamu inginpergi ke BNN. Aku antar. Ayo!”


Jihan tak bergeming. Matanya masih tertutup. Pipinya pun masih lembab oleh air mata yang terus jatuh semalaman. Keanu menguap pipi itu dan ikut menangis.


“Maafkan aku, Ji. Aku tidak bermaksud melecehkanmu. Sungguh. Aku hanya sedang emosi. Jihan, sayang."


Tangan Jihan bergerak. Keanu merasakan gerakan itu. Jihan juga ingin membuka matanya tapi berat. Hingga akhirnya suara itu terdengar.


“Aku akan menelepon suamimu,” jawab Keanu.


Keanu mengangkat pelan kepala Jihan dan kembali dibaringkan lembut di atas bantal. Lalu, Keanu mencari ponselnya.


“Oh, ****.”ia baru ingat bahwa ponselnya masih tertinggal di kamarnya sendiri.


Keanu pun bergegas lari menuju kamarnya yang berhadapan dengan kamar Jihan. Sebelum itu, ia sengaja menarik jendela kamar Jihan agar tak terhalang gorden walaupun hanya gorden lapisan yang tipis.


Dengan cepat, Keanu kembali lagi ke kamar Jihan yang ia ganjal dengan sepatu agar pintu itu tidak tertutup sempurna.


Lalu, Keanu menekan nomor Gio untuk menanyakan nomor telepon suami Jihan.


“Halo.” Gio langsung mengangkat telepon Keanu.

__ADS_1


“Gio, aku minta nomor ponsel suami Jihan,” ucap Keanu.


Gio mengernyitkan dahi dan tertawa. “Apa orang mati bisa mengangkat telepon?”


“Apa mati?” Keanu balik bertanya dan terkejut.


“Loh, memang kamu tidak tahu? Suami adikku meninggal tiga bulan lalu.”


“Apa?” Keanu semakin terkejut.


“Ah, kau ini. Tidak update sekali.”


“Oh my God.” Keanu semakin merasa bersalah. Ia terlalu banyak bicara yang tidak-tidak pada Jihan semalam.


“Kau kenapa? Apa adikku bersamamu?” tanya Gio.


“Ya, dia bersamaku. Semalam kami menginap di hotel xxx.”


“Si*l. kau apakan adikku?” Gio kembali bertanya, kini nandanya berbeda.


“Datanglah ke sini,” jawab Keanu dan langsung menutup sambungan telepon itu.


Gio semakin panik. Ia berpikir yang tidak-tidak pada Keanu. “Awas saja kau, Kean. Jika terjadi apa-apa pada adikku.”


Gio yang baru saja tiba di kantor milik sang ayah pun langsung kembali keluar dan bergegas menuju hotel yang disebutkan Keanu tadi.


Di hotel, Keanu kembali mengahmpiri JIhan dan memeluk tubuhnya. Ia menanggalkan kemejanya dan memeluk tubuh Jihan yang masih dalam keadaan polos dan hanya menggunakan celana d*l*m saja.


“Sayang, buka matamu. Maafkan aku,” ucap Keanu lirih sembari memberikan sentuhan skin to skin agar demam di tubuh Jihan sedikit mereda.


Jihan bisa mendengar suara Keanu, hanya saja kedua matanya berat untuk terbuka. Ia terlalu lelah dengan semua yang terjadi.


“Tubuhmu panas sekali,” kata Keanu lagi dengan terus mengeratkan pelukan itu. “Berikan suhu panasmu padaku, Jihan. Aku akan memelukmu erat.”

__ADS_1


Jihan semakin tak ingin untuk membuka mata. Ia membiarkan suhu tubuhnya menempel pada suhu tubuh Keanu yang normal.


__ADS_2