
“Han … Hanin …” teriak Rasti memanggil menantunya.
“Iya, Mam. Ada apa?” tanya Hanin menghampiri Rasti yang sedang duduk di depan televisi.
“Keanu, Han. Keanu.” Rasti menyebut nama putranya seraya menunjukkan jari telunjuknya ke arah layar televisi yang besar itu.
Hanin menganga, menutup mulutnya dan menjatuhkan benda yang sedang ia pegang. “Keanu …”
Kecelakaan yang dialami Keanu masuk ke dalm breaking news, karena kemungkinan akibat kecelakaan ini, Keanu tidak dapat mengikuti kejuaraan. Padahal negeri ini menanti performa dirinya di tempat kelahirannya sendiri.
“Pa, Mama mau menemui Kean,” ujar Hanin.
“Iya, Sayang. Papa juga mau tapi tidak sekarang. Besok pagi ya,” jawab Kenan membujuk istrinya yang tetap ingin menemui putranya yang jauh di sana dalam keadaan hari yang sudah malam.
“Mama ingin berangkat ke sana dari sore tadi, tapi Papa larang.” Hanin cemberut.
“Papa ga larang, tapi tunggu sama Papa. Kita akan berangkat sama-sama.” Kenan merangkul istrinya agar tenang. “Lagi pula kita sudah menanyakan kabar terbaru dari Jihan. Semua baik-baik saja.”
“Apanya yang baik-baik saja. Tangan Keanu patah, Pa.”
Kenan mengangguk. “Ya, Papa tahu. Tapi di sana dia tidak sendiri. Apalagi istrinya juga dokter kan?”
Hanin mulai tenang. Ia pun menarik nafasnya kasar. “Untung saja Keanu memiliki istri dokter.”
Kenan mengangguk. “Ya.”
Lalu, Hanin menoleh. “Dulu, siapa yang bersikeras menentang mereka?”
“Sudah jangan dibahas. Itu kan dulu,” sanggah Kenan membuat Hanin tersenyum dan meletakkan kepalanya di dada itu.
Di Lombok, Jihan terus menemani suaminya. Saat ini kondisi Keanu sudah stabil. Pria itu juga sudah menjalani rangkaian pemeriksaan dari kepala hingga ujung kaki. Beruntung pengamanan saat latihan tetap Keanu perhatikan sehingga saat terjadi kecelakaan, tidak terlalu fatal.
Pemeriksaan kepala, bagus. Tidak ada benturan di organ paling penting itu, karena Keanu menggunakan helm fullface yang berstandar tinggi. Tulang lutunya pun tidak mengalami cidera karena Keanu memakai lapisan untuk melindungi tempurung lututnya. Hanya saja tangan Keanu menjadi korban. Tangan kana itu patah karena saat kejadian, Keanu refleks menahan bobot tubuhnya agar tidak tertimpa kendaraan besar itu.
“Ah, sayang.” Keanu meringis memegang tangannya yang di gips karena Jihan tidak sengaja memukul lengan itu ketika bercanda.
“Ups, Sorry.” Jihan mengelus tangan yang sakit itu. “Sakit ya.”
Keanu mengangguk. Kemudian, Jihan kembali mengelus tangan itu.
“Lebih baik,” jawab Keanu.
Jihan memajukan wajahnya dan mencium lengan itu. “Kalau begini tambah lebih baik?”
“Sepertinya, besok akan sembuh.”
Sontak, Jihan mendorong dada suaminya dengan pelan. “Gombal. Masih sakit aja bisa-bisanya neggombal.”
“Bukan hany bisa gombal, Sayang. Anuan juga bisa.”
Jihan langsung mendleing. “Ya salam, Kean.”
Keanu tertawa. Sedangkan Jihan kesal, seharian ini memang ia dibuat kesal oleh suaminya. Perasaan Jihan hari ini campur aduk. Sejak pagi ia gelisah, ditambah kedatangan Keanu yang berlumur darah membuat jantungnya dag dig dug tak karuan. Jihan takut kehilangan. Namun, setelah semua rangkaian pengobatan selesai, pria ini masih bisa-bisa becanda dan menggombal.
Tangan kiri Keanu menarik kepala Jihan yang duduk persis di sampingnya. “Sayang aku ya?”
JIhan mengangguk. “Tentu saja.”
Keanu dapat melihat betapa paniknya Jihan saat mendapati dirinya yang baru saja tiba di rumah sakit ini dengan keadaan cukup memprihatinkan.
Jihan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Keanu. Kepalanya pun menempel di dada itu dan Keanu terus mengecup pucuk kepala sang istri.
“Tadi aku benar-benar takut, Kean. rasanya jantungku berhenti berdetak,” sambung JIhan yang kini menatap wajah suaminya dan tak lagi menyandarkan kepalanya di dada itu.
“Benarkah?” tanya Keanu sembari tangannya beralih mengelus rambut Jihan dan menyelipkan anak rambut itu di belakang telinganya.
__ADS_1
Jihan kembali menganggukkan kepala. “Aku tidak bisa hidup tanpamu, Kean.”
Keanu tersenyum. “Masa? Waktu itu kamu bisa meninggalkan aku.”
“Itu dulu. Karena kita belum ada ikatan seperti ini. Sekarang, tidak bisa. Cintaku semakin besar padamu.”
Keanu kembali melebarkan senyumnya. “Sekarang sudah bisa gombal juga ya.”
“Ish, kamu.” Jihan menusuk pinggang Keanu dengan ujung jari telunjuknya, membuat pria itu langsung bergerak kegelian.
Jihan pun kembali menusuk pinggang itu lagi.
“Sayang, Ah. Geli. Aku ga suka digelitiki,” kata Keanu dengan tubuh atas yang terus bergerak menghindar, sedangkan Jihan tertawa senang.
“Tau ngga? Kata orang kalau cowok geli saat digelitiki, itu tandanya sayang sama pasangan,” ucap Jihan.
“Ya, memang.” Keanu kembali menarik kepala Jihan. “Aku sayang kamu, cinta kamu, dan pengen cium kamu.”
Cup
Keanu mencium bibir merah itu dan Jihan pun menyambutnya.
Di depan pintu, Fabio dan Rachel berdiri. Fabio sengaja mengajak Rachel untuk meminta maaf atas insiden yang menimpa Keanu.
“Ayo, Rachel!” ajak Fabio pada wanita itu untuk masuk. Tangan Fabio sudah memegang handle pintu.
“Aku takut,” jawab Rachel ragu.
“Tapi kau tetap harus meminta maaf dan bertanggung jawab.”
“Tapi aku tidak akan di penjara kan?” tanya Rachel khawatir. Sejak berita kecelakaan Keanu sampai ditelinganya, hawa ketakutan itu semakin muncul.
“Tenanglah! Kita memohon pada Kean dan bicara baik-baik. Aku kenal Keanu. Dia akan berbesar hati dan memaafkanmu. Dia tidak akan menuntutmu. Ayo!”
Rachel kembali menahan handle pintu yang akan dibuka Fabio. “Tapi istrinya. bagaimana jika dia tidak terima?”
“Benarkah?”
Fabio mengangguk dan merangkul tubuh Rachel. “Percayalah, semua akan baik-baik saja. yang penting kamu menyadari kesalahanmu.”
Rachel mengangguk dan mengikuti saran Fabio.
Fabio membuka pintu itu dan mereka melihat kemesuman pria yang saat ini tangan kanannya sedang dibalut gips.
“Oh my God, Kean.”
Suara Fabio menghentikan aktifitas Keanu yang kini sedang mencumbui dada istrinya. Untung saja, tubuh Keanu menutup penuh tubuh yang sedikit terbuka dibagian atas itu.
Dengan cepat, Jihan pun menutupi asetnya dan kembali mengancingkan kemejanya.
“Fabio, kau datang disaat yang tidak tepat,” ucap Keanu santai.
“Sorry,” ledek Fabio berjalan ke arah Keanu. Ia meninggalkan Rachel yang masih mematung di depan pintu.
Lalu, Fabio menoleh ke arah kekasihnya. “Rachel, ayo sini!”
Dengan berat, Rachel pu melangkah menghampiri Keanu dan Jihan.
“Pasti kau tidak membaca pesanku, Kean?” tanya Fabio.
“Pesan?” Keanu balik bertanya.
“Ya, coba lihat ponselmu.”
Jihan langsung mengambil ponsel suaminya yang memang sejak pagi berada di tangannya karena hampir semua anggota keluarga Adhitama menelepon untuk menanyakan kabar salah satu putra mahkotanya.
__ADS_1
“Ya ampun.” Keanu menepuk keningnya saat membaca pesan terakhir dari Fabio yang belum sempat terbaca.
"Kean, aku minta maaf.” Rachel langsung bersuara.
Lalu, Fabio menceritakan malam saat ia melihat Rachel tengah berada di bawah motor Keanu dan Fabio juga menceritakan malam itu hingga akhirnya mereka bercinta di sana.
Keanu melirik ke arah Jihan yang juga melirik ke arahnya. Jihan setia berada di samping Keanu, mendengarkan semua yang diceritakan teman suaminya.
“Aku benar-benar minta maaf, Kean.” Tiba-tiba Rachel menangis. “Aku hanya …”
“Sudahlah. Tidak apa. Semua sudah terjadi. Aku yakin, akan ada hikmah dibalik kejadian ini,” sahut Keanu yang juga diangguki Jihan.
Walau sebelumnya, keadaan Keanu membuat jantung Jihan tak karuan dan takut kehilangan, tapi mengingat saat ini keadaan suaminya baik-baik saja, maka ia pun tidak memperpanjang masalah ini.
“Aku minta maaf, Kean. aku benar-benar minta maaf. kau tidak akan memasukkanku ke penjara kan?” tanya Rachel.
“Tergantung,” jawab Keanu mengambang.
“Kean, kau tidak akan melakukan itu kan?” Fabio juga bertanya.
“Tergantung, Fabio. Karena kesalahan Rachel fatal jadi aku juga harus memberinya efek jera.”
“Kean, Please. Maafkan Rachel. Aku mencintainya,” sahut Fabio yang memasang badan untuk sang kekasih.
Keanu tertawa. “Oh ya? Akhirnya seorang Fabio bisa mencintai wanita.”
“Kean,” panggil Fabio kesal.
Lalu Keanu beralih menatap Rachel. “Kau menerima cinta Fabio?”
Rachel langsung mengangguk cepat. “Ya.”
“Baiklah, kalau begitu. Itu hukumanmu, Rachel. Kau mendapat pria menyebalkan seperti Fabio.”
“Ah, ****.” Fabio mengumpat dan memeluk Keanu. “Kau juga menyebalkan.”
Keanu menerima pelukan itu dan tertawa. “Terima kasih telah menjadi teman baikku selama ini, Fabio.”
“You’re welcome. Terima kasih juga karena kau telah memaafkan wanitaku.”
Kedua pria itu tampak berpelukan. Lalu, Rachel menatap ke arah Jihan yang juga menatap ke arahnya. Rachel mendekati Jihan dan memeluk istri Keanu.
“Maafkan aku, Ji.”
Jihan tersenyum dan menerima pelukan itu. Ia menggangguk.
“Aku sungguh menyesal, sungguh.” Rachel terus mengulangi penyesalannya.
Dan, Jihan dapat melihat kejujuran di sana. “It’s oke.” Jihan menepuk bahu Rachel.
“Sorry, Kean. kau tidak bisa mengikuti pertandingan musim ini.” Fabio kembali berkata.
“Ya, memang di antara karir dan cinta, tidak akan pernah berjalan mulus bersamaan. Ada kalanya kita harus memilih,” ucap Keanu sembari menatap istrinya.
Ia memang sudah berfikir untuk berhenti menjadi pembalap, karena besar kemungkinan jika ia masih menggeluti profesi ini, ia akan berpindah-pindah dan kemungkinan Jihan pun akan berhenti menjadi dokter untuk menemaninya ke tempat-tempat yang dijadwalkan.
Menjadi dokter adalah keinginan Jihan sejak kecil. Dan, Keanu tahu betul itu. Ia tidak mau egois hanya karena keinginannya, lalu mnghentikan keinginan istrinya.
“Lalu, kau memilih apa?” tanya Fabio.
“Cinta,” jawab Keanu tegas sembari menatap Jihan yang tengah tersenyum. “Mungkin aku akan pensiun dini dan menjadi pebisnis seperti yang Papaku mau.”
“Oh ya?” tanya Fabio tak percaya.
Keanu mengangguk. “Ya, semua karena dia.”
__ADS_1
Keanu menunjuk ke arah Jihan, membuat Jihan tersipu malu karena Fabio dan Rachel juga menatapnya dengan senyum.