Gairah Cinta Sang Pembalap

Gairah Cinta Sang Pembalap
Papaku lebih menakutkan dari mafia


__ADS_3

“Ibu ngapain?” tanya Jihan pada Lastri.


“Buatin jahe hangat untuk Pak Wiliam.”


“Ciye …” ledek Jihan pada ibunya.


Jihan tersenyum untuk meledek ibunya. Lastri pun tersipu malu.


“Kasihan dari tadi dia di ruang kerja dan ga keluar-keluar. Minuman ini lumayan untuk daya tahan tubuh.”


“Hm … perhatian sekali.”


“Apaan sih? Kamu ini, meledek ibumu terus.” Lastri menekan ujung hidung putrinya. “Urusi dirimu, suamimu mana? Belum pulang?”


Jihan menggeleng. “Belum.”


Hari sudah semakin sore. Langit pun sepertinya akan berganti warna, tapi Keanu dan Gio belum juga pulang.


“Bu, besok aku dan Keanu akan menemui Oma dan Papa Kenan.”


“Apa?” tanya Lastri terkejut.


Jihan mengangguk. “Keanu meminta seperti itu.”


“Apa kamu yakin?” tanya Lastri sembari mendekati putrinya.


“Jihan tidak yakin. Tapi Keanu yakin. Ji benar-benar bingung, Bu.”


Lastri menarik nafasnya kasar. “Den Keanu memang nekat. Makanya Ibu berhenti bekerja di rumah itu, karena tahu dia pasti akan membawamu pada Nyonya Oma.”


“Ji, pasti tidak diterima mereka, Bu. Gimana dong? Ji takut, Bu. Ji, takut sama Oma dan sungkan pada Papa Kenan.”


Lastri menyentuh kedua bahu putrinya. “Ikutilah suamimu, ke mana pun dia pergi. Dan, ikutilah semua keputusannya. Ibu yakin dia akan melakukan yang terbaik untukmu.”


“Ibu tidak apa-apa di sini?” tanya Jihan.


“Kalau perlu, nanti ibu cari kontrakan saja, agar tidak satu rumah dengan Pak Wiliam.”


“Apa? Siapa yang mau mencari rumah kontrakan?” tanya seorang pria tiba-tiba.


Jihan dan Lastri pun menoleh. Terlihat Wiliam berdiri sembari memasukkan tangan kananya ke dalam saku.


Lastri melirik ke Jihan dan Wiliam. “Aku.”


“Kenapa?” tanya Wiliam dengan melangkahkan kakinya untuk mendekati putri dan wanita yang tak mau ia nikahi itu.


“Hm … Besok, Jihan akan ke Jakarta. Dia akan menyelesaikan urusannya. Dan, aku tidak bisa tinggal di rumahmu. Aku bukan siapa-siapa, jadi …”


“Stop!” Wiliam menempelkan jari telunjuknya di bibir Lastri sembari menggeleng. “Kau tidak akan kemana-mana.”


“Tapi …”


“Ngga ada tapi tapi. Kau akan tetap di sini hingga Jihan kembali,” ucap Wiliam.


Lalu, Wiliam menoleh ke arah sang putri. “Besok kau dan Keanu tidak lama kan? Kalian langsung pulang lagi ke sini?”


Jihan menggeleng. “Tidak tahu, Pa. Tapi waktu kami masih ada satu minggu untuk berangkat ke Lombok. Sebelum itu, Keanu ingin menyelesaikan urusannya satu persatu.”

__ADS_1


Wiliam mengangguk. “Good Boy. Anak itu memang bertanggung jawab. Papa suka dia.”


Jihan mengangguk, begitu pun dengan Lastri. Lalu, Wiliam menoleh ke sebuah gelas yang berisi jahe hangat


"Ini untuk siapa?" tanya mantan musuh Kenan itu.


"Untuk Papa, spesial dibuatkan Ibu," jawab Jihan yang langsung mendapat cubitan dipinggangnya dari Lastri.


"Aww ... sakit, Ibu," jerit Jihan manja.


"Lagian kamu apaan sih?"


Lastri membulatkan mata pada putrinya. Sementara Wiliam tersenyum lebar.


"Jadi ini buatku?" tanya Wiliam ssmbari mengangkat gelas itu. "Terima kasih, Lastri."


"Pa, Jangan terima kasih doang dong!" ucap Jihan meledek.


"Terus, Papa harus apa?" tanya Wiliam bingung sembari melirik ke arah Lastri dan Jihan bergantian.


Jihan mengangkat bahunya sambil tersenyum.


"Jangan didengar omongannya Jihan!" sahut Lastri kesal pada putrinya yabg sedari tadi meledeknya dengan Wiliam.


"Baiklah. Aku akan seperti Keanu."


Cup


Wiliam mengecup pipi Lastri, membuat wanita itu mematung. Wiliam mempraktekkan gaya Keanu yang sering menyosor pada putrinya.


"Ciye ... Bu Lastri."


Keanu langsung memeluk pinggang istrinya.


"Kamu ya, dateng-dateng meledek Ibu." Jihan memukul pelan lengan suaminya.


"Udah Pa, halalin segera," ucap Keanu pada Wiliam.


"Pengennya gitu, tapi Lastri menolak terus," jawab Wiliam.


"Tidak perlu meminta persetujuan, Pa. Langsung saja," ujar Gio yang memang pemaksa.


Wiliam tertawa. Sementara Lastri cemberut.


"Sepertinya saran Kak Gio boleh juga ya, Bu," sahut Jihan.


"Apa sih, Ji?" Lastri kembali malu, membuat Wiliam ikut menyungging senyum.


Mereka pun tertawa. Sejenak Keanu mendapat kehangatan dari keluarga Jihan dan menghilangkan sedikit penat dari sikap keluarganya sendiri.


****


Sebelum tidur, Keanu menelepon sang ayah untuk pertama kali setelah sekian lama ia menghilang dan tak memberi kabar.


Perlahan Keanu bangkit dari tempat tidur, setelah melihat sang istri terlelap oleh elusan lembutnya tadi.


Keanu mengambil ponselnya dan mendial nomor sang ayah sembari berjalan menuju balkon. Ia membuka pintu balkon itu perlahan agar tidak membangunkan Jihan.

__ADS_1


Tut ... Tut ... Tut ...


Cukup lama Keanu mendengar nada dering itu, tapi Kenan belum mengangkatnya hingga suara khas pria itu pun tetdengar lantang.


"Ke mana saja kau? Papa mencarimu," ujar Kenan.


"Maaf, Pa." Hanya kata itu yang mampu Keanu katakan.


"Jadi selama ini, kau ada di rumah Wiliam?" tanya Kenan.


"Ya," jawab Keanu.


"Selama ini Papa selalu menuruti mau mu. Mengapa kau tidak menuruti mau Papa."


"Maaf Pa," ucap Keanu lagi.


Keduanya hening sejenak, hingga Keanu kembali berkata, "Pa, besok Keanu akan pulang. Papa ada di rumah kan?"


"Datang ke rumah sore. Banyak hal yang Papa ingin bicarakan padamu," jawab Kenan.


"Ya, banyak hal yang ingin Keanu sampaikan juga ke Papa."


Keanu memang memiliki nyali yang tinggi. Itu terbukti karena pekerjaannya pun menuntut untuk itu setiap hari. Ia selalu melawan ketakutan dan kini ia pun berani menghadapi sang ayah. Ia siap menghadapi apa pun yang terjadi.


Kenan langsung menutup sambungan telepon itu. Keanu pun menarik nafasnya sembari menyangga kedua tangannya pada pagar balkon.


Grep


Jihan memeluk pinggang Keanu dari belakang. Keanu pun langsung menoleh.


"Loh, kok bangun?" tanya Keanu


"Aku ga bisa tidur kalau ga dipeluk kamu" jawab Jihan manja sembari menyandarkan kepalanya pada punggung itu.


Keanu pun membalikkan tubuhnya dan memeluk Jihan. "Di sini dingin. Ayo masuk!"


Keanu menggiring sang istri untuk kembali ke dalam dan menutup pintu balkon itu dengan sempurna.


"Kamu menelepon Papa?" tanya Jihan.


Keanu mengangguk. "Ya, besok kita kan akan bertemu Papa dan Oma. Jadi aku memastikan Papa ada di rumah."


Jihan terdiam. Keanu pun meminta istrinya untuk kembali naik ke ranjang. Lalu, ia membentangkan kedua tangannya agar Jihan masuk ke dalam dadanya.


Jihan tersenyum dan menurut.


"Kenapa?" tanya Keanu pada Jihan yang sedsri tadi diam.


"Entahlah." Jihan menggeleng. "Aku takut bertemu Oma dan Papa. Rasanya lebih takut daripada menghadapi Misi di Itali dulu."


Keanu tertawa. "Masa? Berarti Oma dan Papa ku lebih menakutkan dari pada Gio waktu itu?"


Jihan tertawa dan mengangguk.


"Jadi Papaku lebih menakutkan dari mafia?" tanya Keanu.


Jihan pun kembali tertawa dan menganggukkan kepalanya. Lalu, ia masuk ke dalam dada bidang Keanu.

__ADS_1


Keanu pun memeluk erat tubuh itu hingga mereka sama-sama terlelap dan menghadapi hari esok.


__ADS_2