
Jihan benar-benar memegang janjinya pada Rasti. Ia tidak ingin memberi harapan pada Keanu. Walau sebenarnya ia ingin melakukan itu. Tapi balas budinya pada keluarga Adhitama membuat ia harus menekan egonya dan memupuskan keinginannya.
“Ji, bisa minta tolong kau bawakan makanan ini ke depan!” pinta salah seorang pelayan yang merupakan teman Lastri di rumah ini.
Jihan mengangguk. Ia pun menerima nampan yang berisi daging lada hitam untuk di masukkan ke meja prasmanan di depan karena stok di meja itu mulai menipis.
Jihan membawa makanan itu dan melirik ke arah Keanu yang sedang bercengkerama dengan Chintya. Keanu pun melirik ke arah Jihan yang sedang fokus menuangkan makanan. Lalu, arah mata pria itu kembali pada Chintya. Keanu sengaja melingkarkan tangannya di pinggang Chintya dan berbincang dengan wajah dekat.
Jihan kesal melihat itu. wajahnya ditekuk, mulutnya pun cemberut. Lalu, ia segera berjalan ke dapur dan melempar nampan kosong itu.
Prang
“Jihan, apa-apaan sih?” tanya Lastri yang melihat kelakuan sang putri.
“Bu, Jihan pulang sekarang ya,” kata sang putri yang sudah tidak betah berada di rumah ini.
“Loh, katanya nanti malam. Acaranya belum selesai loh.”
Jihan menggeleng. “Sekarang saja, Bu. Lagi pula Jihan sudah bertemu istrinya bang Kevin kok.”
Lastri berdiri dan mendekati putrinya. “Kamu kenapa?”
Jihan kembali menggeleng. “Ngga apa-apa, cuma capek aja. Lagi pula besok Jihan harus ke BNN pusat pagi-pagi.”
Di Jakarta, Jihan memang memiliki urusan lain, bukan sekedar mendatangi acara ini, tapi ia mengurus surat-surat bahwa ia tak lagi menjadi dokter adiksi dan memberi pendampingan pada pasien ketergantungan obat. Ia dan Wiliam akan pindah ke Lombok, karena Jihan menerima tugas di rumah sakit besar yang baru resmi dibuka di sana.
Lastri menarik nafasnya kasar. “Ya sudah kalau begitu.”
Di balik dinding, Keanu menguping. Dengan segera ia menarik Chintya dan memintanya untuk pulang.
“Kenapa sih, Kean? aku masih ingin bersama keluargamu,” rengek Chintya.
“Katamu tadi mau pulang. Kamu bilang kamu ga betah di sini karena Oma ku ketus. Mama juga biasa aja ke kamu.”
“Iya, sih. Tapi aku yakin pasti aku bisa dekat dengan Mamamu.”
“Ya sudah nanti saja, Mamaku lagi sensitif. Kamu pulang ya! Di antar supir Papa.” Keanu mengajak Chintya keluar dari rumah setelah di ajak berpamitan.
__ADS_1
Saat pamit, Hanin dan Kenan memang tampak biasa saja. Rasti pun begitu. Rasti dan Kenan masih menganggap bahwa Keanu main-main dan tidak serius dengan wanita.
“Orang tuamu tidak menyukaiku?” tanya Chintya ketika ia mengikuti langkah Keanu keluar.
“Hmm … mereka pernah melihat fotomu yang vulgar kemarin. Aku kan sudah bilang, fotomu itu terlalu terbuka. Tapi kamu malah marah saat aku beritahu.”
Chintya terdiam. Lalu, Keanu membuka pintu mobil itu untuk Chintya. Wanita itu pun masuk dan Keanu kembali menutup pintu itu.
“Kean,” panggil Chintya dengan membuka kaca jendela.
“Hmm …”
“Maafin aku,” ucap Chintya lagi.
Keanu hanya mengangguk.
Ya, sejauh ini Chintya memang banyak salah pada Keanu. Wanita itu kerap bertemu dengan pemilik jewelery yang beberapa hari lalu memberinya jam tangan mahal dan mengakibatkan pertengkaran hebat dengan Keanu. Selama Keanu di Bali tiga bulan, ia semakin dekat dengan pemilik jewelery itu. Keanu pun tahu, hanya saja ia menunggu waktu yang tepat untuk memergoki mereka berdua. Dan di saat itu, Keanu akan benar-benar mengakhiri hubungannya dengan Chintya.
Di salah satu kamar asisten rumah tangga, Jihan sudah bersiap untuk pulang. Ia meminta sang ibu untuk menemaninya pamit ke pemilik acara. Jihan dengan sopan menyalami keluarga Keanu. Bahkan sedikit bercengkerama karena Vinza dan Kinara berbincang seputar pekerjaan Jihan, terutama Kinara karena mereka satu profesi.
Keanu melihat itu. ia sengaja menunggu Jihan di luar.
“Lepas!”
Keanu menarik lengan Jihan dan mengajaknya masuk ke dalam mobil dengan paksa. Pria itu masih kesal dengan kata-kata Jihan di minimarket tadi. Ia masih tidak terima jika kebersamaan indah mereka di Itali hanya dinilai sebagai selingan.
“Kamu apa-apaan sih, Kean?” tanya Jihan kesal.
“Duduk!”
Jihan melihat kemarahan di mata pria itu. kemarahan yang belum pernah Jihan lihat sepanjang bersama dengan Keanu. Jihan sadar dengan kata-kata yang ia lontarkan saat di minimarket tadi. Kata-kata yang membuat Keanu terdiam dan pasti sakit hati.
“Kamu mau bawa aku kemana?” tanya Jihan.
Keanu masih diam. Ia hanya bergerak mendekati Jihan dan memakaikan seatbelt di tubuh wanita itu, lalu mengendarai mobil itu dengan cepat. Keanu akan membuktikan apa kebersamaan di Itali itu hanya sebuah selingan untuk Jihan?
Keanu membawa JIhan ke hotel.
__ADS_1
“Kean, kamu mau apa?” tanya Jihan yang terpaksa mengikuti langkah Keanu. Tangannya masih ditarik oleh pria itu.
Keanu tak menjawab. Ia berhenti di sebuah kamar dan membukanya dengan kartu yang ia pegang. Lalu, Keanu mendorong tubuh Jiahn untuk masuk.
“Kean, Eum ..”
Bibir Jihan tiba-tiba dibungkam oleh bibir Keanu, setelah menutup pintu kamar itu.
“Ke … Mmpphh …”
Jihan hanya diberi jeda sedikit untuk menghirup udara, kemudian kembali dibungkam. Keanu menghimpit tubuh Jihan ke dinding, lalu dengan rakus melahap bibir itu dan menekan tengkuk Jihan agar pagutan itu berdurasi lama. Kedua tangan Keanu pun menggerayangi seluruh tubuh Jihan yang masih berbalut kemeja putih dan jeans biru. Kedua tangan itu kini berada di dua bongkahan padat bawah tubuh Jihan. Keanu meremas bagian itu dan menarik kedua kaki Jihan untuk dililitkan pada pinggangnya.
Jihan tak kuasa menolak sentuhan itu. Ia membiarkan kedua kakinya melilit pinggang Keanu dan meremas rambut itu sembari menerima ciuman panas dari Keanu.
Lalu, Keanu membawa Jihan dan membaringkannya di atas tempat tidur. Ia melepaskan kemejanya dan dengan beringas ia juga membuka paksa kemeja Jihan hingga kancing itu berserakan dari tempatnya.
Keanu tidak seperti Keanu yang Jihan kenal. matanya berkabut penuh gairah dan amarah. Dan, jihan tidak bisa membendung amarah itu karena ia sadar bahawa amarah Keanu berasal dari dirinya.
“Ke .. an.” Lenguh Jihan saat bibir Keanu kini menelusuri bagian tubuhnya yang lain.
Keanu kembali beringas dengan melepaskan celana jeans Jihan. Ia kembali menciumi tubuh itu dan memberi tanda pada leher bahu serta dadanya, memainkan dua gunung kembar yang masih segar dan tetap seperti saat pertama kali ia menyentuhnya.
“Kean, sto ..p.” Jihan mulai resah karena kini kepala Keanu mulai turun ke bawah.
“Kean, jangan!” Jihan mulai memohon agar Keanu tidak melakukan lebih.
Jika yang melakukan padanya orang lain, mungkin Jihan akan menghajar orang itu, tapi yang sedang melecehkan tubuhnya adalah orang yang ia cintai. Dan, tubuh Jihan tak kuasa menolak.
Keanu menyeringai. Ia mengangkat kepalanya dan mensejajarkan lagi dengan wajah Jihan. “Apa ini selinga?”
Seketika Jihan terdiam.
“Tubuhmu menerima sentuhanku, Ji. Dan ini bukti bahwa yang kita lakukan di Itali bukanlah selingan, karena kamu menikmati sentuhanku. Bahkan kamu terus menyebut namaku. Apa kamu melupakan suamimu?”
Suara Keanu terkesan meremehkan Jihan, pria itu benar-benar sudah melecehkan wanita itu.
“Kau terlatih untuk menjadi pengkhianat. Kau juga mengkhianati cinta yang baru saja ingin aku perjuangkan. Dan sekarang kau mengkhianati suamimu,” ucap Keanu lagi dengan nada yang sama.
__ADS_1
Kemudian Keanu bangkit dari tempat tidur itu dan memungut kemejanya. Ia meninggalkan Jihan dalam keadaan setengah tak berbusana.
Sungguh, Jihan sangat terpukul dengan ucapan itu. Keanu yang sedang dibalut emosi tidak memikirkan apa yang terjadi nanti. Padahal jika ia tahu status Jihan saat ini, ia pasti akan merasa bersalah.