Gairah Cinta Sang Pembalap

Gairah Cinta Sang Pembalap
Bertemu Mark dan Fabio


__ADS_3

Pagi ini, Jihan memulai harinya di rumah sakit baru. Keanu pun bersiap untuk mengantar.


“Hei, sudah rapi?” tanya Jihan ketika Keanu memeluknya dari belakang.


Keanu mengecup leher dan bahu istrinya. “Iya dong. Aku kan mau antar istri.”


Jihan tersenyum. “Sebenarnya ga perlu di antar juga ga apa-apa. Tempatnya juga deket kok.”


“Tapi aku mau antar,” jawab Keanu.


“Sekalian cuci mata ya,” ledek Jihan dengan membalikkan tubuhnya dan memberikan secangkir kopi susu hangat kepada Keanu.


Keanu menerima cangkir itu dan tersenyum. Lalu, ia mengangguk. “Ya dong, siapa tahu ada yang bening di sana.”


Sontak, Jihan mencubit pinggang pria itu.


“Aww …” pekik Keanu dengan wajah yang masih tersenyum. “Ah, sakit banget cubitan kamu.”


“Biarin. Dasar playboy. Tetep aja playboy.” Jihan hendak meninggalkan pria itu.


Namun, Keanu langsung mencekal pergelangan lengan Jihan sembari meletakkan cangkir yang diberi tadi ke marmer kitchen set dan memeluk tubuh itu.


“Walau aku playboy, tapi tetap saja punyaku hanya ingin di kamu.” Keanu menyeringai.


Jihan menatap sang suami dengan memutar bola matanya malas. “Mesum! Lepas ah.”


Pelukan itu pun terlepas. Keanu membiarkan wanita itu menjauh dan kembali mengambil cangkir tadi untuk diminum sembari menatap wanita yang membalikkan tubuhnya dan tersenyum genit padanya.


“Dasar nakal!” ucap Keanu gemas.


Keanu belum menyediakan kendaraan lain di rumahnya selain satu motor sport kesayangannya. Bukan motor yang biasa ia gunakan untuk membalap, karena motor itu adalah inventaris tim. Tapi ia memiliki motor sport yang lain untuk keseharian. Dan, kini Keanu duduk di atas motor itu sembari menunggu sang istri keluar dari rumah.


Beberapa detik kemudian, Keanu melihat Jihan menghampirinya sambil tersenyum dengan rambut panjang yang bergerak karena gerakannya dan angin yang menghembus.


Jihan berdiri di depan motor itu. Menaiki motor berdua dengan Keanu mengingatkannya lagi pada zaman putih abu-abu. Ke mana pun mereka pergi pasti berdua dengan kendaraan roda dua itu. Belum lagi saat Keanu nakal dan sengaja menggas motornya membuat tubuh Jihan terhuyung ke depan dan menempel pada tubuhnya. Keanu memang nakal dan sejak remaja saja sudah terlihat kenakalan itu.


“Ayo naik!” ucap Keanu melhat sang istri yang diam saja.


“Oh, ya.” Jihan pun memegang pundak Keanu dan menaiki motor itu.


Lalu, kedua tangan Jihan berpegangan pada pinggang Keanu dengan erat hingga tubuhnya tubuhnya menempel pada tubuh belakang pria itu.


“Sekarang ga perlu diminta buat meluk aku,” kata Keanu senang dengan sikap sang istri, karena dulu Keanu yang berinisiatis untuk menarik kedua tangan Jihan agar memeluk pinggangnya.


“Ya udah, kalau begitu ngga jadi,” sahut Jihan dengan menarik lagi kedua tangannya dari pinggang itu dan hendak memberi jarak.


“Eits, jangan dong!” Keanu kembali menarik kedua tangan Jihan untuk tetap di posisi tadi. “Aku lebih suka seperti ini.”


Jihan tersenyum. “Aku juga suka seperti ini.” Wanita itu malah meletakkan kepalanya di punggung yang menempel itu.


Keanu pun tersenyum dan mulai menjalankan motornya. Tidak perlu waktu lama, mereka tiba di rumah sakit tempat Jihan bekerja. Hanya lima belas menit jarak dari rumah mereka menuju tempat ini. Keanu memang sengaja menyewa tempat tinggal yang dekat dari tempat istinya bertugas agar ketika ia sedang sibuk dan tidak bisa mengantar atau menjemputnya, Jihan tidak perlu kejauhan untuk pulang sendiri.


Sepanjang jalan, mereka pun menjadi pusat perhatian. Orang menyangka mereka adalah turis yang sedang berlibur dan menikmati keindahan kota ini.

__ADS_1


Keanu memberhentikan motornya tepat di lobby rumah sakit. Ia membuka kacamatanya saat Jihan hendak pamit.


“Pulang jam berapa?” tanya Keanu.


“Jam empat mungkin. Nanti aku kabari.”


Keanu mengangguk.


“Kamu jadi ke tempat latihan setelah ini?” tanya Jihan.


“Ya, Mark dan Fabio juga sudah tiba. Timku juga sudah ada di sana.”


Jihan pun mengangguk. “Baiklah, have a nice day.”


Keanu menarik kepala Jihan dan mencium kening itu. “Hariku selalu nice jika bersamamu.”


“Gombal.” Jihan mendorong pelan dada itu dan Keanu tertawa.


Kemudian, Keanu kembali mendekatkan wajahnya pada Jihan. Ia melirik bibir ranum yang baru dua kali ia cium pagi ini.


“No, Kean. banyak orang,” kata Jihan yang sudah tahu bahwa Keanu ingin mencium bibirnya.


“Sebentar, hanya sekilas saja.”


Jihan menggeleng. Kepala Jihan pun menengok ke kanan dan kiri. Ia melihat ada beberapa petugas keamaan yang berdiri di depan lobby. “Ada orang, Kean. Malu. Nanti di rumah saja. kamu bisa melakukan apa pun sepuasmu.”


“Tapi aku mau sekarang. Tadi pagi kurang,” jawab Keanu manja, membuat Jihan sedikit jengkel.


Cup


Jihan menempelkan sekilas bibirnya pada bibir pria yang masih duduk di atas motor sportnya.


Keanu pun tersenyum senang. “Nah, gitu dong.”


“Ish. Dasar!” Jihan tertawa sembari mendorong lagi pelan dada itu.


Keanu pun tertawa. Jihan mulai berjalan meninggalkan suaminya. namun, beberapa detik kemudian Jihan membalikkan tubuhnya dan berlari menghampiri Keanu yang belum pergi. Keanu masih melihat sang istri hingga wanita itu masuk ke dalam gedung.


“Ada apa? Ada yang tertinggal?” tanya Keanu melihat Jihan kembali menghampiri.


Jihan mengangguk. “Aku lupa sesuatu.”


Wanita itu menarik tangan kanan Keanu dan mencium punggung tangan itu. “Aku belum salim sama kamu.”


Sudut bibir Keanu langsung menyungging lebar. Ia benar-benar seperti suami. Walau memang sdah menjadi suami Jihan.


“Dah, suamiku.” Jihan kembali pergi.


“Dah, istriku.” Keanu melambaikan tangannya sembari menatap sang istri hingga memastikan Jihan memasuki gedung itu.


Keanu tersenyum dan kembali menyalakan mesin motornya. Selalu saja ada hal yang membuatnya jatuh hati pada wanita itu. Dan sungguh, Keanu tidak menyesal memilih wanita itu sebagai istrinya.


****

__ADS_1


“Keanu,” teriak Mark.


“Mark.” Keanu menghampiri teman baiknya itu dengan antusias.


“Long time no see.”


“Yes.”


Kedua pria itu pun saling berpelukan.


“Kean,” panggil Fabio.


“Oh, Fabio.”


Keanu dan Mark melepaskan pelukan dan berganti dengan satu teman baiknya lagi.


“Hei, aku dengar kau sudah menikah?” tanya Fabio.


“Ya.” Keanu mengangguk.


“Apa, dia wanita yang kau bilang itu?” tanya Mark.


“Oh ya? Seorang intel itu?” tanya Fabio lagi.


Keanu mengangguk.


“Yang ada di club Gio?” Mark terus memastikan.


“Iya. Akhirnya, aku mendapatkannya.” Keanu mengangguk bangga.


“Wow …” teriak Mark dan Fabio.


“So, kau sudah bercinta?” tanya Fabio frontal.


“Tentu saja. ternyata sangat menyenangkan.”


Fabio dan Mark pun tertawa.


“Terlambat kau, Kean.”


“Ke mana saja kau.”


Fabio dan Mark saling bersahutan dan tertawa.


“Sudah ku bilang, aku akan bercinta hanya dengan wanita yang aku cinta. Dan itu terjadi. Eum … delizioso,” sahut Keanu sembari mengecup kedua jarinya sendiri.


Mark dan Fabio kembali tertawa dan menggelengkan kepala.


“Jadi? Kapan kita ngedate? Kau harus merayakan hari jadimu pada kami, Kean,” ucap Mark.


“Ya, itu benar. Kau harus membagikan kebahagiaanmu pada kami,” sahut Fabio.


Namun, di belakang sana ada seorang wanita yang tidak menyukai pembicaraan itu. Dia adalah Rachel, satu-satunya mekanik wanita yang cukup dekat dengan Keanu dan menaruh hati pada Keanu. Sayangnya, si playboy itu pun pernah memberi harapan pada Rachel, membuat Rachel tidak terima karena dilupakan.

__ADS_1


__ADS_2