Gairah Cinta Sang Pembalap

Gairah Cinta Sang Pembalap
Hari bahagia Wiliam dan Lastri


__ADS_3

Hari ini dokter membolehkan Kenan untuk pulang. Lima hari, sang penguasa kota itu dirawat di rumah sakit dan selama itu pula Hanin berada terus di sampingnya. Walau ada perawat yang mengurus Kenan, tapi tetap saja pria itu tidak memperkenankan perawat itu yang mengurusnya. Ia lebih suka diurus oleh istrinya sendiri.


“By, ayolah minum dulu obatnya! Kamu udah makan dari tadi, tapi obatnya belum diminum,” kata Hanin cerewet.


Kenan menoleh ke arah istrinya. Sedari tadi ia memang asyik dengan tablet yang ada di tangannya, hingga makan pun Hanin yang menyuapi. Kenan tetap mengerjakan pekerjaan di sela istirahatnya.


“Iya, Sayang. Sebentar. Sedikit lagi kelar,” jawab Kenan.


“Dari tadi kamu bilangnya begitu terus. Ayo minum! Aku pegal memegang obat ini.”


Kenan tersenyum. “Kalau begitu letakkan saja di sana.” Arah mata Kenan menuju pada lemari kecil di sampingnya.


Hanin menggeleng. “Ngga. Kalau aku letakkan di sini saja, yang ada ga kamu minum-minum.”


Kenan tersenyum. Ya, ia memang seperti itu. “Baiklah.”


Kenan membuka mulutnya dan meminta Hann menyuapi.


“Dasar, bayi besar!” kata Hanin jengkel. Mengurus Kenan memang melibihi mengurus Kevin atau Keanu waktu kecil.


Kenan nyengir dan menarik pinggang Hanin yang duduk di tepi ranjang pasien yang ia tempati. “Makanya jangan pernah tinggalkan aku! Sampai aku berdoa ketika saatnya tutup usia. Aku minta agar aku yang lebih dulu pergi, karena aku tidak akan bisa tanpamu.”


“Sssttt …” Hanin langsung menutup bibir Kenan dengan jari telunjuknya. “Jangan bicara begitu! Karena aku juga tidak bisa tanpamu.”


“Tapi kemarin bisa,” sahut Kenan memicingkan mata.


“Itu karena aku sangat kesal. Itu pun aku tidak bisa tidak memikirkanmu,” jawab Hanin manja.


“Benarkah?”


Hanin mengangguk. “Sungguh.”


Kenan meletakkan gadget besarnya itu dan memeluk erat tubuh sang istri. “Aku tidak bisa hidup sendiri, Han. Aku selalu butuh kamu. Maaf jika sikapku sering membuatmu keasl.”


Hanin melonggarkan pelukan dan menatap wajah suaminya. “Ya, kamu memang selalu menyebalkan dari dulu.”


“Haduh … Mama Papa … udah dong mesra-mesraannya. Ada tamu nih.” Suara Keanu mengagetkan Hanin dan Kenan.


Keduanya menoleh ke arah pintu yang baru saja dibuka oleh Keanu. Ternyata di sana Keanu membawa pasukan. Bukan hanya ada Jihan dan Rasti, tapi juga Wiliam dan Lastri.


“Lastri,” panggil Hanin tidak menyangka bahwa mantan asisten rumah tangga sekaligus besannya itu datang.


“Bu.” Lastri juga memanggil Hanin.


Kedua wanita ini saling berpelukan dan mencium pipi kanan lalu kiri. Di sana terlihat Wiliam tengah menghampiri Kenan.


“Bagaimana keadaanmu, Ken?” tanya Wiliam pada Keanu setelah berdiri tepat di samping si penguasah kota itu.


“Sangat baik,” jawab Kenan semabri menerima uluran tangan Wiliam.


“Syukurlah. Aku senang mendengarnya,” sahut Wiliam tersenyum. Kenan pun ikut tersenyum.


Sebelum sampai di rumah sakit ini, Keanu dan Jihan memang sengaja menjemput mertuanya dulu di bandara. Dan sesampainya di rumah sakit, ia berpapasan dengan Rasti di lobby. Keanu dan Jihan terlihat senang saat ekspresi Rasti tidak lagi ketus. Bahkan Rasti juga menerima Lastri sebagai besan keluarga Adhitama.


“Jihan, kenapa kamu tidak bilang kalau ayah dan ibumu ke sini?” tanya Hanin pada menantunya.


“Maaf, Ma. Soalnya Ibu juga bilangnya dadakan. Tadi pagi telepon, langsung minta jemput d bandara.”


“Oo ..” Hanin membulatkan bibirnya.

__ADS_1


“Tidak apa, Bu. Kami memang tidak ingin merepotkan,” kata Lastri.


Wiliam dan Kenan terlihat tampak berbincang dan Keanu ikut diantara kedua pria paruh baya itu. Sementara Hanin berbincang dengan Lastri ditemani oleh Rasti dan Jihan. Terlihat Rasti ikut bertanya pada Lastri tentang kegiatannya sekarang.


“Kapan kamu mulai pertandingan, Kean?” tanya Kenan pada putranya.


“Dua minggu lagi, Pa. harusnya besok Kean sudah kembali ke Lombok. Kean melewatkan tiga kali latihan.”


“Kalau begitu pulanglah. Papa sudah lebih baik,” sahut Kenan.


“Ya, persiapkan dirimu, Kean. karena pertandingan internasional ini pertama kali di tanah air.” Wiliam menambahi.


Keanu mengangguk. “Ya benar. Kean juga berharap bisa berdiri di podium.”


“Semoga, Kean.” Wiliam memberi semangat dengan menepuk bahu menantunya. Sedangkan Kenan tersenyum.


“Oh, ya. Ada sedikit berita. Entah ini berita penting atau tidak, tapi sepertinya tidak penting mengingat usia kami sudah tidak muda lagi.” Tiba-tiba Wiliam bicara dengan formal pada semua orang yang ada di ruangan itu.


Sontak para wanita yang sedang berbincang dengan sesama wanita itu pun menoleh ke arah Wiliam. Keanu dan Kenan pun demikian.


“Papa dan Bu Lastri mau nikah?” tanya Keanu yang asal menebak.


“Kok kamu tahu, Kean?” Wiliam tersenyum dan balik bertanya. “Sebenarnya saya mempersiapkan satu minggu yang lalu, tapi mendengar kabar Kenan sakit, jadi saya menunda hari besar itu.”


“Ibu?” tanya Jihan pada Ibunya yang tersenyum dan mengangguk.


Hanin langsung memeluk Lastri. “Selamat ya, Lastri. Akhirnya.”


“Terima kasih, Bu,” jawab Lastri menerima pelukan Hanin. Lalu, Lastri memegang lengan Rasti. “Terima kasih, Nyonya Oma.”


Rasti tersenyum dan mengangguk.


Kenan tersenyum dan ikut memegang tangan Wiliam. “Jihan telah membalas kebaikanku.”


Kening Wiliam berkerut. “Maksudnya?”


“Ya, dengan dia mau menjadi istri putraku, itu adalah suatu kebaikan yang tak ternilai. Tidak mudah menjadi pendamping Keanu. Bukan begitu, Ji?” tanya Kenan dengan mengarahkan wajahnya pada Jihan.


Jihan tersenyum dan mengangguk. Sedangkan Keanu tertawa dan mendekati istrinya, lalu memeluk sang istri dari samping.


“Ya, hanya dia memang yang bisa mengimbangi seorang Keanu.”


“Termasuk mengimbangimu saat mesum?” tanya Rasti yang lebih tahu kemesuman sang cucu dengan mata kepalanya sendir, membuat semua orang tertawa.


“Ah, Oma tahu saja,” jawab Keanu dengan tidak tahu malu.


Sontak yang lain pun kembali tertawa.


****


Hari ini adalah hari pernikahan Wiliam dan Lastri. Wiliam sengaja mengadakan acara pernikahan yang sederhana ini di Jakarta, tepatnya di sebuah hotel dengan tamu yang tidak banyak. Kebetulan, Gio juga ada di kota ini. Sahabat-sahabat dan kerabat jauh Wiliam juga ada di kota ini, terutama keluarga Adhitama. Oleh karena itu, Wiliam memilih Jakarta sebagai tempat untuk melakukan resepsi sederhana tapi tetap elegan.


Keanu terpaksa menunda lagi keberangkatan mereka ke Lombok. Padahal sebelumnya mereka sudah membeli tiket.


“Kak Gio …” teriak Jihan yang langsung menghampiri manta mafia itu dan memeluknya.


“Adikku sayang. Long time no see.” Gio langsung membentangkan kedua tangannya dan memeluk sang adik.


Sudah lama ia tidak bertemu ayah dan adiknya, mengingat banyak sekali masalah yang terjadi di Itali, terutama masalah yang dilakukan Gomes pada bisnis-bisnis legalnya.

__ADS_1


Gomes masih tidak terima dengan kerugian yang menimpanya waktu itu, sehingga ia selalu mencari celah untuk menjatuhkan Gio.


Gio memegang wajah Jihan dan hendak mencium kening serta pipi sang adik. Namun, seseorang menepis keinginan itu.


“Eit, jangan cium-cium istriku.” Keanu menarik lengan Jihan ke dadanya.


“Ck.” Gio menarik nafasnya kasar dan membuang pandangan. “Please, Kean. Jihan itu adikku. Aku ingin melepas rindu.”


Gio menarik lengan Jihan. Namun, Keanu kembali menarik lengan istrinya, hingga Jihan pun pusing dengan kelakuan dua pria yang selalu bertengkar jika bertemu.


“Sudah-sudah. Stop! Aku pusing ditarik ke sana ke mari,” ucap Jihan dengan menepis tangan Keanu dan Gio yang ada di kedua sisi lengannya.


“Suamimu berlebihan, Ji,” teriak Gio.


“Aku tahu, dulu kau pun pernah menyukai Jihan kan? Untung saja dia adikmu,” tuduh Keanu, membuat mata Jihan membulat dan menggelengkan kepalanya di depan sang suami.


Walau memang benar. Gio memang pernah menyukai sosok wanita yang datang ke rumah itu dengan memakai jas putih dan memperkenalkan diri sebagai dokter ayahnya. Ia terpesona dengan wajah Asia Jihan. Namun, hanya sekedar terpesona saja.


“Itu tuduhan keji,” ucap Gio dengan penuh penekanan, tepat di wajah Keanu.


Lalu, Gio pun hendak pergi meninggalkan Keanu dan Jihan. Namun, tepat setelah melewati Jihan, kaki Gio terhenti dan mencium pipi sang adik. Kemudian, ia pun berlari.


“Gio …” teriak Keanu dengan wajah kesal.


Gio menoleh ke belakang dan meledek Keanu sembari menari.


“Kelakuan kalian mirip anak TK,” kata Jihan sembari melipat tangannya di dada.


“Kakakmu yang nyari ribut duluan,” sanggah Keanu.


“Karena kamu juga cari gara-gara. Masa sama Kak Gio aja cemburu sih,” sahut Jihan.


Keanu menarik pinggang Jihan “Pokoknya, istriku hanya boleh aku yang sentuh.”


“Dasar posesive, mesum, pemaksa. Hm …” Jihan berpikir untuk mencari umpatan kata yang tepat lagi. namun, bibirnya langsung dibungkam.


“Mmpph …” Jihan mendorong dada Keanu agar terlepas dari pagutan itu. “Ini di pesta, Kean. Banyakorang. Malu!”


“Biarin. Karena sudah dua malam kamu mengabaikanku.”


Jihan tertawa. Dua malam itu, Jihan memang meninggalkan Keanu atas izin suaminya dengan menerapi kaki Rasti hingga larut malam pada malam yang pertama dan bermalam dengan sang Ibu untuk melepaskan rindu pada malam yang kedua.


Jauh dari tempat Keanu dan Jihan. Gio tengah mengambil air putih di meja yang tersedia. Rasa kesalnya pada Keanu tadi membuat tenggorokannya kering.


Tangan Gio terulur ke arah gelas yang terjejer itu dengan arah mata yang tidak tertuju pada jejeran gelas yang akan ia ambil. Namun saat tengah mengambil gelas, justru tangannya malah tersentuh sesuatu yang lembut dan membuatnya ingin memegang tangan lembut itu.


“Ups, sorry!”


Wanita yang tangannya Gio pegang pun membulatkan mata, karena walau Gio sudah mengucapkan maaf tapi tangannya tetap memegang tangan wanita itu.


“Lepas!” kata Wanita itu yang tak lain adalah Fiona.


Fiona datang ke pesta ini karena diundang oleh Jihan. Dan kebetulan, masa tugasnya pun baru saja selesai.


Gio tersenyum. Ia bukannya melepaskan tangan itu, malah merapatkan tubuhnya pada tubuh Fiona. “Hai, long time no see.”


“Gio, lepas!” kata Fiona ketus.


“Sepertinya, aku tidak akan melepasmu lagi.” Gio melepas tangan Fiona dan mengambil minuman itu, lalu mengedipkan matanya pada Fiona sesaat sebelum pergi.

__ADS_1


“Dasar gila!” umpat Fiona dengan wajah sinis saat Gio mengedipkan mata.


__ADS_2