Gairah Cinta Sang Pembalap

Gairah Cinta Sang Pembalap
Sikap manis yang membuat ketergantungan


__ADS_3

Hari-hari Keanu terasa indah. Hidupnya kini terasa lengkap dengan kehadiran Jihan di sisinya. Apalagi setiap ia membuka mata, wajah wanita cantik yang dicintanya itu hadir di depan mata seperti saat ini.


Keanu tersenyum sembari mengerjapkan matanya pelan saat pagi menjelang. Ia melihat wajah teduh itu dengan mata terpejam. Jihan tampak cantik walau dalam keadaan tidur. Bulu matanya yang lentik membuat tangan Keanu terangkat untuk menyentuhnya. Lalu, ia menyentuh lembut pipi itu dan memajukan wajahnya untuk mengecup sekilas bibir tipis Jihan.


Jihan yang masih lelah pun tak terbangun. Hampir setiap malam, Keanu selalu meminta haknya. Dan ketika setelah subuh pun terkadang Keanu akan memintanya kembali. Keanu tersenyum jika mengingat hal itu. Entah mengapa ia tak pernah puas dengan tubuh sang istri. Rasanya ingin lagi, lagi, dan lagi.


Keanu membaringkan tubuh Jihan perlahan. Ia meletakkan kepala Jihan yang semula berada di dadanya, kini berada di atas bantal. Lalu, Keanu bangkit dan memakai boxernya. Ia membuka pintu balkon dan berdiri sejenak di sana sembari menyalakan satu puntung tembakau dengan merk terkenal.


Kemudian, Keanu berdiri di balkon dengan mengarahkan tubuhnya ke arah Jihan yang masih terbaring di ranjang. Sembari menyesap tembakau itu, ia terus menatap sang istri. Perlahan Keanu melihat tubuh Jihan yang bergerak. Wanita itu meraba keberadaan Keanu dengan tangannya.


Jihan langsung panik dan terbangun. Keanu pun melihat ekspresi kepanikan itu, hingga Jihan menatap lurus ke depan dan melihat ke arah Keanu yang sedang berdiri di balkon. Jihan tersenyum dengan nafas lega. Keanu pun ikut tersenyum. Ia tahu sebesar itu cinta Jihan untuknya. Ia juga tahu bahwa Jihan tidak bisa kehilangan dirinya, karena ia pun merasakan hal yang sama.


Lalu, Keanu mematikan r*k*k itu dan berjalan menghampiri istrinya yang masih terduduk di atas ranjang.


“Hei, sudah bangun?”


Jihan mengangguk. ia sedikit memejamkan mata saat tangan Keanu mengusap lembut wajahnya.


“Nyariin aku?” tanya Keanu lagi.


Jihan tertawa. “Aku kira kamu ke mana? Ga tau nya ada di depan.”


Keanu ikut tertawa. “Takut kehilanganku, Hm?”


Jihan mengangguk dan memeluk tubuh suaminya. Keanu tersenyum dan juga mengeratkan pelukan itu. “Sama, aku juga takut kehilanganmu.”


Jihan menatap wajah Keanu dan Keanu pun melakukan hal yang sama.


“Apa pun yang terjadi, percayalah padaku,” ucap Keanu dan Jihan pun mengangguk.


“Janji!” Keanu mengangkat jari kelingkingnya.


Lalu, Jihan mengaitkan jari kelingking itu “Janji,” jawabnya.


Mereka pun kembali berpelukan.


Hari ini, Jihan dan Keanu kembali akan berjalan-jalan, mengingat setelah ini mereka akan pulan sebentar dan kembali berangkat ke Lombok. Liburan musim segera berakhir, minggu depan jadwal permulaan Keanu bertanding putaran musim baru. Biasanya sebelum bertanding, Keanu akan sungkem ke kedua orang tuanya terlebih dahulu, seperti itu setiap tahun, tapi untuk tahun ini rasanya ia sulit menemui sang ayah.

__ADS_1


Jihan memandang punggung suaminya yang sedari tadi tidak terlalu ceria. Siang ini, mereka menghabiskan waktu di pantai. Setelah berjalan-jalan di pesisir berdua dengan saling berangkulan dan bercanda. Jihan memesan dua minuman dan menghampiri suaminya yang berdiri ke arah laut lepas itu.


“Ada yang kamu pikirkan?” tanya Jihan sembari memeluk Keanu dari belakang.


Keanu menempelkan tangannya pada tangan Jihan yang melingkar di perutnya. Lalu, mengajak Jihan untuk berada di sampingnya dan ia pun memeluk tubuh itu.


“Em.” Keanu mengangguk.


“Apa yang kamu pikirkan?” tanya Jihan lagi sembari menatap suaminya.


Keanu mengusap pipi itu sembari tersenyum membalas tatapan sang istri. “Banyak.”


“Tentang pernikahan kita yang belum diketahui Papa dan Oma?” tanya Jihan.


Keanu menarik tubuh Jihan dan mengajaknya duduk di atas pasir pantai. Ia memeluk Jihan dari belakang sambil memandang ke arah laut.


“Sebelum pertandingan di mulai, biasanya aku selalu meminta restu pada Mama dan Papa.”


“Kalau begitu lakukan sekarang,” ucap Jihan spontan dan langsung menoleh ke arah suaminya.


“Ah, iya. Itu tidak mungkin.” Jihan menjawab sendiri dengan gelengan kepala.


Keanu tertawa. “Mungkin saja. Rencananya aku ingin melakukan itu.”


“Apa?” tanya Jihan.


“Membawamu ke rumah Papa,” jawab Keanu yakin.


Jihan langsung menggeleng. “Belum saatnya bukan?”


“Aku pikir, ini saatnya. Terlalu lama jika harus menunggu sampai kamu hamil. Sebelum berangkat ke Lombok, kita akan temui Papa dan Oma di Jakarta.”


Deg


Jihan takut dan khawatir.


“Apa mereka mau menerimaku?” tanyanya lirih.

__ADS_1


“Harus,” jawab Keanu sembari memeluk Jihan dengan posisi duduk seperti dirinya. Keanu mengecup beberapa kali bahu sang istri dan memberi keyakinan pada Jihan bahwa nanti keadaan akan baik-baik saja.


“Apa ini tidak terlalu cepat? Papa dan Oma pasti akan sangat terkejut,” ucap Jihan.


“Aku tidak ingin menyimpan rahasia pernikahan kita terlalu lama. Semakin cepat mereka tahu, itu akan semakin baik.”


Jihan menoleh ke arah Keanu yang memandang lurus ke depan. Lalu, Keanu menoleh ke arah istrinya.


“Aku percaya padamu, Kean,” kata Jihan.


Keanu pun tersenyum dan mengangguk. Lalu, kembali mengeratkan pelukan di tubuh itu.


Di hotel, Chintya tengah menunggu kedatangan Keanu. Wanita itu sudah tiba di kota ini tepat pukul lima sore. Teman Chintya yang melihat keberadaan Keanu dan Jihan beberapa hari lalu, berhasil menguntit pasangan pengantin baru itu hingga ke hotel ini. Dan, berdasarkan informasi itu, Chintya berada di sini saat ini.


Chintya sudah mengetahui pernikahan Keanu dan Jihan. Ia marah, kesal, dan ingin melupakn kemarahan itu saat ini juga, tetapi ia cukup elegan dengan menata hati dan pikirannya serta mengatur strategi agar Keanu tetap bisa ia miliki.


Di luar hotel, Keanu dan Jihan masih berada di sekitaran pantai. Mereka menunggu malam dan menikmati makan malam di sana.


“Yeay … makanan datang!” seru Jihan saat melihat pelayan membawakan steak barberque ke hadapannya. “Aku lapar sekali, Kean.”


Keanu tersenyum melihat tingkah istrinya yang terlihat sangat kelaparan. Pelayan itu pun meletakkan piring di depan Keanu dan Jihan. Saat Jihan hendak ingin menyantap makanan itu, Keanu dengan cepat mengambil piring Jihan.


“Kean, kok piring aku di ambil?”


Keanu mengabaikan suara Jihan dan tetap memotong daging itu menjadi kecil-kecil. Lalu meletakkan kembali piring itu di depan Jihan. “Ini, kamu bisa langsung memakannya.”


“Eum … Kamu tuh …” ucap Jihan terpotong. Ia kesal dengan sikap manis Keanu yang pasti akan membuatnya ketergantungan.


“Kok malah diem? Ya udah di makan.”


Jihan menatap Keanu dan tersenyum. “Terima kasih.”


Keanu ikut tersenyum dan mengusap rambut istrinya. “Tidak perlu terima kasih. Aku suka melakukan itu untukmu.”


Jihan masih tersenyum sembari menyuapkan daging kecil itu ke dalam mulutnya. Keanu pun melakukan hal yang sama. Ia menyuapkan makanannya ke dalam mulut dengan menatap ke arah Jihan sambil tersenyum.


Mereka masih menikmati hari-hari bahagia tanpa menyadari bahwa ada seorang wanita yang menunggu kedatangan mereka di hotel tempat mereka menghabiskan malam-malam panjang dengan suasana romantis dan tanpa gangguan.

__ADS_1


__ADS_2