
Kenan masih penasaran. Ia meyakini bahwa pria yang tadi lari dan ia kejar adalah Keanu, putranya yang tengah dicari.
“Sayang, aku tidak salah lihat. Yang tadi aku kejar itu Keanu,” ucap Kenan pada sang istri yang masih berdiri di duduk di lobby.
“Kamu salah lihat kali, By” sanggah Hanin agar Kenan tak curiga kalau pun ia benar melihat putranya di sini, karena Keanu memang sedang menginap di hotel.
“Ngga, Sayang. Aku ga salah lihat,” jawab Kenan yakin. “Kalau pun aku salah lihat, kenapa pria itu tadi malah lari?”
“Ya, siapa tahu dia refleks lari karena kamu mengejarnya seperti buronan,” jawab Hanin, membuat Keanu terdiam.
“Kalau begitu, coba aku tanya ke resepsionis,” ucap Kenan yang dengan cepat ditahan oleh Hanin.
“By, ga usah. Kita pindah hotel aja yuk!”
“Loh, kenapa?” tanya Kenan bingung.
“Sepertinya aku ga cocok dengan hotel ini. Kita pindah ke hotel bintang lima yang lain saja ya.” Hanin merayu dan mencari cara agar mereka tidak menginap di hotel yang sama dengan pasangan pengantin baru itu.
“Ngga. Papa masih penasaran dengan Keanu,” ucap Kenan.
Namun, Hanin dengan cepat merayu suaminya dan mengalihkan Keanu untuk tidak bertanya pada resepsionis. “Sudah yuk Pak. Di sini tempatnya ngga romantis.”
“Tunggu! Papa mau tanya resepsionis dulu, apa ada nama Keanu terdaftar di sana sebagai customer.”
Hanin kembali menghalangi suaminya. “By, ayo kita pindah hotel! Nanti aku pijitin kamu supaya ga pusing. Pijit plus plus juga oke. Gimana?”
Hanin menaikturunkan alisnya, membuat Kenan tersenyum dan seketika ia melupakan kelelahannya tadi saat mengejar Keanu hingga sampai ke dapur restoran hotel ini.
“Tapi, Sayang. Aku …”
“Udah, Ayo kita cari hotel lain! Aku kurang suka dengan pemandangannya.” Hanin menarik lengan suaminya dan memotong perkataan Kenan yang belum selesai.
Ia mengajak Kenan untuk keluar dari gedung hotel, hingga mereka kembali duduk di dalam mobil dan mencari hotel lain.
“Hah.” Hanin dapat bernafas lega karena Kenan mau dibujuk untuk tidak menginap di hotel itu.
Di hotel yang baru saja ditinggalkan Hanin dan Kenan, Keanu memasuki kamarnya dengan berkeringat dan nfas tersengal. Baru kali ini ia berlari seperti dikejar setan, padahal yang mengejar adalah ayahnya sendiri.
“Kamu kenapa, Kean?” tanya Jihan pada suaminya yang baru saja masuk kamar.
“Sayang. Sepertinya kita harus pindah dari hotel ini,” ucap Keanu.
“Kenapa?” tanya Jihan bingung karena Keanu hanya memberitahu setengah-setengah.
__ADS_1
Keanu mencari ponsel dan melihat pesan yang masuk, ternyata ada pesan dari sang ibu.
“Kean, apa kamu dan Jihan menginap di hotel xxx? Karena Mam dan Papa juga akan menginap di sini.”
“Oh, ****. benar kan apa yang aku lihat tadi,” racau Keanu pada dirinya sendiri setelah membaca pesan sang ibu.
Jihan mendekati suaminya. “Kenapa sih, Kean?” tanyanya lagi.
“Sayang, tadi aku ketemu sama Papa di lobby. Ternyata Papa sama Mama bermalam di hotel ini.”
“Apa?” kini Jihan yang tidak percaya. “kok bisa?”
Keanu mengangkat bahunya. “ngga tahu.”
Tak lama kemudian, Hanin kembali mengirim pesan.
“Sayang, lanjutkan honeymoon-mu. Mama sudah berhasil membawa Papa pergi dari hotel itu.”
Tring
Pesan itu sampai ke ponsel Keanu dan Keanu pun membukanya.
“Ini pesan dari Mami,” ucap Keanu pada Jihan dan mereka membaca pesan dari Hanin bersama.
“Alhamdulillah, aku kira mereka akan menginap di sini, bisa repot semuanya,” ucap Keanu yang merasa bahwa pernikahan ini belum waktunya untuk di publish, walau ia sangat ingin.
Jihan pun menangkap guratan ketakutan di wajah keanu jika status mereka terbongkar di depan keluarganya.
Keanu tersenyum saat menemukan dua bola mata yang sedang menatapnya. Jihan tersenyum. Keanu pun memeluk tubuh itu, seraya berkata, “sebenarnya aku tidak suka menyembunyikan pernikahan kita di di depan Papa dan Oma. Tapi mau bagaimana lagi? Kamu ga apa-apa kan menunggu sebentar?”
Jihan tersenyum dan mengangguk. “Ya, tidak apa.”
Hal ini yang membuat Jihan harus menunda momongan. Diam-diam tanpa sepengetahuan Keanu saat pria itu keluar kamar, Jihan sudah menyiapkan pil penunda kehamilan. Dan, ia meminumnya sehari sebelum mereka bercinta. Malam ini, ia pun meminum pil itu. Entah apa yang dipikirkan Jihan. Tapi satu yang pasti, ia tidak ingin kelak anaknya nanti seperti dirinya yang lahir tanpa ayah.
Jihan masih khawatir kelak keluarga Adhitama kembali memisahkan dirinya dan Keanu. Ia khawatir di saat itu terjadi ia sedang berbadan dua. Dan selanjutkan akan membesarkan anak mereka sendiri, seperti ibunya. Tidak. itu tidak boleh terjadi, pikir Jihan. Oleh karena itu saat ini ia meminum pil pencegah kehamilan hingga ia benar-benar diterima di keluarga Adhitama sebagai menantu dan pernikahan mereka direstui.
Pola pikir Jihan berbanding terbalik dengan pola pikir Keanu yang justru ingin segera mendapat momongan agar restu itu didapati. Menurut Keanu, Sang Oma dan sang Papa akan luluh ketika penerus keluarga Adhitama hadir.
“Kamu kenapa?” tanya Keanu pada istrinya yang terdiam dipelukannya.
Jihan menggeleng. “Tidak. Tidak apa-apa. Aku hanya berpikir, kira-kira sampai kapan mereka akan menerima kita.”
“Sampai penerus Adhitama ada di perut kamu,” ucap Keanu sembari mengusap perut rata Jihan.
__ADS_1
Deg
Seketika jantung Jihan berdegup kencang. Ia pun menatap sang suami dan Keanu pun tersenyum.
“Oma dan Papa pasti tidak akan tega memisahkan kita, jika ada cucu dan cicitnya,” kata Keanu yakin.
Namun, Jihan tidak yakin. Ia masih trauma menjadi seorang anak yang lahir tanpa ayah. ia trauma dengan segala cacian dan bully-an yang menimpanya sejak kecil. Dan, ia tak ingin hal itu terjadi pada anaknya kelak.
“Maaf, Sayang. Pikiranku tidak sejalan denganmu,” ucap Jihan dalam hati.
“Hah.” Keanu menarik nafasnya. “Berhubung Mama dan Papa sudah tidak ada di hotel ini. Jadi rencana kita untuk menginap selama satu minggu tetap berjalan.”
Keanu menangkup wajah istrinya. “Malam ini, kita kembali membuat Keanu junior. Oke!”
Jihan mencibir dan menggeleng. “No, aku masih sakit.”
“Please, Sayang! Aku pelan-pelan.”
“Iya, pelan-pelan, tapi ga cukup sekali,” sanggah Jihan kesal dan segera menjauh dari suaminya.
Keanu tertawa. Lalu, mendekati sang istri dan memeluknya dari belakang. “Itu karena kamu benar-benar nikmat, Ji.”
“Ck.” Jihan kembali berdecak kesal.
Di tempat lain, Hanin menemukan hotel bintang lima yang jaraknya cukup jauh dari hotel Keanu dan Jihan tadi.
“Ah, di sini lebih nyaman kan, By,” ucap Hanin setelah mereka reservasi dan tiba di kamar hotel.
Grep
Kenan melingkarkan kedua tangannya di pinggang sang istri. “Kamu lebih suka di sini?”
Hanin mengangguk. Padahal pemandangan di sini dan di hotel tadi sama saja, sama-sama menyuguhkan pemandangan kota malam Surabaya.
Kenan tersenyum miring. “Kalau kamu senang, aku juga senang. Yang penting janjimu ditepati.”
“Janji? Janji apa?” tanya Hanin lupa.
“Pijat plus plus,” ucap Kenan dengan menaik turunkan alisnya.
“Ya salam, kamu inget aja, By.”
Hanin menepuk jidatnya. Ia benar-benar lupa dengan janji itu. janji yang akhirnya bisa menarik Kenan ke tempat lain dan membari aman putranya di sana.
__ADS_1