Gairah Cinta Sang Pembalap

Gairah Cinta Sang Pembalap
Jihan bukan wanita pendiam


__ADS_3

Sementara, semua berjalan dengan normal. Kenan dan Hanin kembali ke Jakarta keesokan paginya. Lastri masih tinggal bersama Wiliam. Wanita itu terlihat canggung karena ia hanya tinggal berdua bersama Wiliam. Bertiga dengan asisten rumah tangga yang ada di rumah itu. Biasanya ketika Lastri main ke kota ini dan tinggal di rumah Wiliam, ada Jihan yang membuatnya tidak merasa kaku bersama pria yang pernah menyakiti fisik dan hatinya itu.


“Kapan Jihan dan Keanu kembali?” tanya Lastri pada Wiliam yang ikut berdiri di sampingnya saat ia memasak di dapur.


“Entahlah. Aku juga belum mendapat kabar. Terakhir, Jihan bilang mereka akan di hotel selama satu minggu.”


“Apa? Satu minggu? Lama sekali. Mengapa tidak kembali ke sini? Mereka kan hanya menghindari Tuan Adhitama. Sekarang bahkan mereka sudah kembali ke Jakarta, tapi Jihan dan Keanu malah masih di hotel.”


“Ya, namanya pengantin baru. Mungkin mereka tidak ingin ada yang mengganggu,” jawab Wiliam tersenyum.


“Lalu, bagaiman dengan kita?” tanyanya lagi membuat Lastri terbatuk.


“Ada apa dengan kita?” Lastri balik bertanya dan melirik sekilas ke arah Wiliam.


“Aku sering memintamu untuk menjadi istriku. Apa aku masih belum di terima?” tanya Wiliam.


Lastri menghindar dan segera menjauh dari tempat Wiliam berdiri. Namun, dengan cepat Wiliam menahan pergelangan tangan itu. “Jangan menghindar, Lastri. Aku serius.”


“Aku tidak tahu. Aku ke sini, hanya untuk Jihan. Aku akan tinggal bersamanya di Lombok.”


“Aku pikir kau ke sini untukku, untuk menemani masa tuaku di sini. Di Lombok, Jihan tidak perlu ditemani karena sudah ada suaminya,” ucap Wiliam, membuat Lastri terdiam.


Wiliam menarik Lastri, hingga keduanya berdiri dengan jarak yang cukup dekat. “Sejak awal, aku tertarik padamu, Lastri. Tapi waktu itu keadaan tidak memungkinkan. Dan, sekarang aku berharap kita bisa bersama.”


Lastri menarik pergelangan tangannya agar terlepas dari Wiliam. “Maaf, Pak. Saya belum bisa.”


“Kau masih belum bisa memaafkanku?” tanya Wiliam.


Lastri menggeleng. “Entahlah. Saya ngga tahu.”


Tiba-tiba Wiliam menarik tubuh Lastri dan memeluknya.


“Pak,” ucap Lastri lirih di dalam pelukan Wiliam.


“Sebentar saja, Lastri. Aku mohon,” jawab Wiliam yang juga dengan nada lirih.


Lastri pun terdiam dan menerima pelukan itu. Wiliam semakin mengeratkan pelukannya dan berkata “aku berharap kau bisa melupakan semua kesalahnku.”


Lastri masih diam.

__ADS_1


Kaki Gio yang hendak memasuki dapur pun terhenti saat melihat sang ayah dengan ibunya Jihan di sana berpelukan. Ia pun tersenyum sejenak, lalu memberi ruang untuk kedua insan itu. Gio pergi kembali ke kamarnya. Ia tahu bahwa sang ayah masih menginginkan wanita yang melahirkan adiknya itu.


“Pak, sudah,” ucap Lastri setelah merasakan pelukan yang cukup lama di dada Wiliam.


Wiliam pun melonggarkan pelukan itu. Ia tersenyum ke arah Lastri yang masih terlihat canggung. Keluguan Lastri masih sama seperti saat pertama kali ia melihat wanita itu di sebuah desa tempat kelahiran Lastri.


Wiliam menangkup kedua bahu Lastri. “Aku akan menunggumu.”


Jantung Lastri berdegup kencang. Ia tidak pernah sedekat ini dengan laki-laki. Hanya wiliam, pria pertama yang pernah menyentuhnya dan kali ini pria itu pun menyentuhnya lagi.


“Saya tidak bisa janji,” jawab Lastri menunduk.


Lalu, Wiliam mengangkat dagu wanita yang berusia empat puluh lima tahun itu. Lastri dan Wiliam memang memiliki jarak usia lebih dari sepuluh tahun. Saat Wiliam memaksakan kehendaknya pada Lastri waktu itu, Lastri baru berusia sekitar delapan belas tahunan. Usia yang sedang menunjukkan aura cantik yang luar biasa, yang membuat Wiliam jatuh hati hanya pada pandangan pertama hingga hal itu terjadi karena saat itu ia dijebak seseorang oleh obat perangsang.


“Di usiamu, kau masih tetap cantik, Lastri.”


Wajah Lastri bersemu merah. Ia pun menepis tangan Wiliam dan pindah ke tempat yang jauh dari jangkauan pria itu. Ia berharap Jihan dan Keanu segera pulang agar kecanggungan antara dirinya dan Wiliam hilang. Sedangkan Wiliam hanya tersenyu melihat ekspresi Lastri. Ia justru berharap Jihan dan Keanu tidak segera pulang agar ia dan Lastri bisa lebih dekat.


****


“Kean, aku bosan,” ucap Jihan pada suaminya yang meletakkan kepalanya di pangkuan itu.


“Kamu mau ke mana?” tanya Keanu. “Ke kebun binatang.”


“Eh jangan salah, Kebun binatang Surabaya itu terbesar loh se Asia tenggara,” ucap Keanu lagi.


Selama berada di kota ini, Jihan memang tidak pernah menginjak tempat hiburan yang disebut Keanu tadi. Berbeda dengan Keanu yang memang pernah bermain ke tempat rekreasi itu.


“Memang kamu pernah ke KBS?” tanya Jihan.


“Pernah. Hampir semua tempat wisata besar sudah aku kunjungi,” kata Keanu sombong.


Jihan kembali mencibir. “Sombong.”


“Ayo! Kita jalan-jalan ke sana!” ajak Keanu lagi.


Jihan menggeleng. “Ngga ah, paling nanti di sana ketemu buaya, macan. Sedangkan di sini aku udah menghadapi biangnya buaya dan biangnya macan. Kalau udah ngegigit, semua tubuhku digigit sampai tak tersisa.”


“Maksud kamu aku?” tanya Keanu yang langsung bangkit dan sengaja menghadapkan wajahnya tepat di depan wajah istrinya.

__ADS_1


Jihan tertawa dan menyingkirkan wajah Keanu yang berada persis di depan wajahnya.


“Hei, udah berani ngatain suaminya ya.” Keanu memeluk tubuh Jihan.


“Kean, lepas. Sesak,” rengek Jihan saat Keanu memiting tubuh itu.


“Biarin.”


“Aww …” Jihan menjerit saat Keanu mulai menggigit kecil bahunya yang terbuka.


Jihan hanya menggunakan tangtop dan celana pendek. Tangtop bertali satu dengan perut yang terlihat karena batas panjang tangtop itu hanya sampai dada.


Sejak menikah, Jihan lebih sering menggunakan pakaian sexy. Berbeda dari sebelumnya. Dan, hal itu berhasil menggoda gairah sang suami yang super mesum.


“Lepas, Kean!” ucap Jihan sembari tertawa.


“Ngga.” Keanu tetap memeluk erah tubuh itu dan memitingnya, hingga Jihan tak bisa bergerak. Bahkan kedua kaki Keanu mengungkung tubuh Jihan yang bergerak dan berusaha melepaskan diri dari Keanu.


“Kean.”


Jihan masih tertawa. Begitu pun dengan Keanu. Keduanya saling bercanda ria, menikmati kebersamaan yang entah hingga kapan. Mereka berharap akan selamanya, hingga maut memisahkan.


Sore harinya, mereka keluar dari hotel dan berjalan-jalan di seputaran alun-alun kota Surabaya. Keanu membawa kamera SLR untuk memotret istrinya juga memotret kebersamaan mereka. Pembalap berparas bule itu bak seorang pelancong dari negara luar dengan pakaian casual. Sedangkan Jihan memakai dres selutut berwarna merah muda, menambah keceriaan di wajah dan kulitnya membuat wanita itu terlihat semakin cantik.


“Bagaimana kalau aku memakai ini?” tanya Jihan yang asal membeli sebuah topi dan bergaya centil di depan Keanu.


“Cantik.”


Cekrek


Keanu langsung memoto istrinya dan Jihan pun tertawa. Keanu tersenyum melihat kecentilan istrinya saat ini. Pada dasarnya, Jihan memang bukan wanita pendiam dan Keanu semakintahu setelah mereka tinggal satu atap, bahkan satu kamar.


Sebuah mobil tiba-tiba berhenti dar kejauhan untuk melihat keceriaan pasangan pengantin baru itu. wanita yang ada di dalam mobil itu, melihat ke arah Jihan dan Keanu yang sedang asyik di sana. wanita itu pun memberi pesan kepada temannya.


“Chin, aku lihat kekasihmu bersama wanita lain.”


Wanita itu mengirim pesan lengkap dengan foto Keanu yang sedang berjalan merangkul pinggang Jihan di tengah-tengah alun alun kota itu.


Tring

__ADS_1


Ponsel Chintya berdering dan langsung melihat pesan itu.


“Si*l. Ternyata kamu sedang enak-enakan bersama dia. Padahal setengah mati, aku memikirkanmu, Kean. Terlalu!”


__ADS_2