
Keanu berjalan modar mandir di dalam balkon apartemennya. Sejak semalam hatinya tidak tenang. Ia ingin mendatangi kediaman Xander, tapi khawatir kedatangannya malah memperkeruh keadaan. Sejak kejadian di pesta itu, Keanu mulai tidak tenang. Ia khawatir dengan keadaan Jihan di sana.
Keanu terus menggenggam ponselnya. Sejak pagi tadi, ia menyuruh orang untuk memantau kediaman Xander.
Dret … Dret … Dret …
“Halo.” Keanu mengangkat teleponnya.
“Bos, rekan wanitamu sedang dalam pengejaran orang-orang Gio. Saya lihat pasukan Gio kelaur dari markas.”
Keanu terkejut. Ia panik. “Sh*t. Tapi wanitaku di sana, bagaimana?”
Keanu mengkhawatirkan Jihan. Sedangkan Fiona, wanita itu pasti mendapat perlindungan dari tim kepolisian yang bekerja sama.
“Dia belum keluar dari rumah itu,” jawab pria yang Keanu suruh untuk berjaga di depan rumah Wiliam.
Keanu langsung menutup telepon itu. Ia tidak bisa hanya berdiam diri dan hanya menunggu Jihan meneleponnya. Ia harus melakukan sesuatu.
Di tempat berbeda, Fiona masih menyetir mobil dalam kecepatan tinggi. Ia menghindari pengejaran orang-orang Gio. Di belakang orang-orang Gio yang sedang mengejarnya pun ada mobil polisi yang ikut mengejar orang-orang Gio. Mobil itu seperti sedang konvoi, berjalan beriringan dengan kecepatan tinggi.
“Fio, kau masih mendengar aku?” tanya tim kepolisian negara itu
“Ya, aku masih mendengarmu,” jawab Fiona.
“Jangan panik! Bawa mobilmu ke utara, aku akan menjemputmu di sana dan aku antar langsung ke bandara. Pesawatmu sudah tersedia,” ujar pria itu.
“Tidak. Rekanku masih tertinggal di rumah Xander. Aku tidak bisa pulang tanpanya,” jawab Fiona panik sembari menyetir ke daerah yang disebutkan tim kepolisian yang bekerjasama memberantas bisnis Gio.
“Tidak ada waktu untuk kembali," ucap pria itu.
“Tidak. Aku ke sini bersamanya dan pulang juga bersamanya.”
“Tidak bisa, Fio. Kita harus melakukan plan B,” ujar pria di sambungan telepon itu.
__ADS_1
Fiona bingung. Harus kah ia memutar balik kendaraannya dan menjemput Jihan? Tapi ia tidak punya kekuatan menghadapi Gio seorang diri, sedangkan tim-nya memintanya untuk segera pulang karena keadaan semakin genting.
“Fio, patuh pada perintah,” ujar salah seorang pria dari Indonesia, yang suaranya daoat Fiona dengar dari alat yang masih terpasang di telinganya.
“Jihan tanggung jawab kami. Kau tidak perlu khawatir," kata pria Indonesia itu lagi.
Fiona patuh dan melajukan mobilnya menuju utara.
Di kediaman Xander, jantung Jihan semakin berdetak kencang. Arah matanya tertuju pada plastik yang berisi tumpukan ponsel yang dikumpulkan oleh Craig tadi. Di luar sana, Gio, Craig dan anak buahnya yang lain sedang berkomunikasi untuk mendapatkan Fiona.
Jihan melihat dengan jelas kegarangan wajah Gio. Pria itu semakin menyeramkan. Dia juga tidak segan-segan melemparkan peluru ke sembarang arah untuk melampiaskan kekesalannya.
Jihan menatap Nancy yang masih berada di dapur. Wiliam tampak tak terlihat. Entah kemana pria paruh baya itu.
“Nancy, kau kenapa?” tanya Jihan melihatb wajah Nancy yang sedari tadi meringis seperti menahan sakit.
“Aku tidak bisa melihat darah, Miss. Rasanya aku ingin muntah,” jawab Nancy.
“Pergilah ke kamar mandi. Biar masakanmu aku yang teruskan,” sahut Jihan. Ia melihat Nancy sedang merebus air.
Jihan mencoba berpikir untuk mengambil plastik itu, lalu melepas chip dari ponselnya dan menaruhnya di sembarang ponsel yang ada di dalam plastik itu.
Jihan pun memiliki ide. Ia sengaja membuat gaduh dengan seolah dapur itu kebakaran karena ulahnya yang tidak bisa memasak dan menggunakan kompor. Jihan membuka gas dari dua tungku yang menganggur dan menyalakan api dari satu tungku di sebelahnya. Api pun menyala ke atas. Ia mengambil kain seolah berusaha untuk mematikan api yang naik ke atas.
“Tolong … kebakaran … Tolong …” jihan berteriak meminta tolong.
Sontak, orang-orang yang berada bersama Gio pun berlari ke dalam dan menghampiri Jihan.
“Oh, ****,” umpat Craig saat melihat api hampir melahap dapur itu.
“Mengapa bisa seperti ini? Mana Nancy. Kalau kau tidak bisa memasak, tidak usah ke dapur.” Gio memarahi Jihan.
Perlahan Jihan mundur, semakin mundur mendekati plastik yang berisi banyak ponsel yang sudah di non aktifkan. Di sela-sela kehebohan semua orang yang berusaha memadamkan api. Jihan pun mengambil plastik itu dan asuk ke sebuah ruangan kecil yang dekat dari sana. Dengan cepat dan mata yang selalu berjaga ke arah riuh itu, ia melepas bagian belakang ponsel satu persatu, karena chip yang terpasang menempel di baterai ponsel. Ponsel yang sama membuat Jihan harus membuka satu-satu benda itu untuk menemukan ponsel miliknya yang berbeda karena ada tempelan benda lain di belakangnya.
__ADS_1
“Ah, ini dia.” Jihan lega karena mendapatkan ponsel miliknya.
Dengan segera ia mencabut chip itu dan menempelkannya pada ponsel yang lain. Jihan menempelkan chip itu random. Ia tidak tahu ke ponsel milik siapa, ia menempelkan chip itu karena ponsel dalam keadaan mati dan dengan tipe yang sama.
Setelah selesai dan aman, Jihan langsung keluar dari ruangan itu dan meletakkan kembali plastik itu pada tempatnya.
Jihan dapat bernafas lega, karena tak ada satu pun orang yang melihat aksinya. Mereka sibuk dengan api di dapur yang kian padam setelah Jihan selesai memindahkan chip itu ke ponsel lain.
“Dari mana saja kau?” tanya Gio. “Semua orang repot karena ulahmu.”
“Ma … af. Aku tadi ke toilet. Aku gugup. Maaf aku telah merusak dapurmu.”
Gio menatap tajam ke arah Jihan. Sedari tadi ia melupakan barang sitaannya itu. Namun saat Gio melirik ke arah plastik yang berisi banyak ponsel sitaannya tadi, ia melihat plastik itu masih dalam posisi yang sama.
Kehebohan pun selesai. Kini, dapur sudah tidak lagi berapi. Gio memarahi Nancy yang baru datang setelah insiden selesai. Nancy hanya menunduk. Jihan pun ikut menunduk. Gio benar-benar mengalami kerugian besar hari ini.
Kemudian, Gio meminta Graig mengambil plastik yang berisi ponsel milik semua yang tinggal di rumah ini. Wiliam sudah kembali terlihat. Semua orang berkumpul di taman belakang yang luas untuk menyaksikan siapa pengkhianat itu.
“Ponsel ini milik Paska,” ujar Graig yang mengenal setiap ponsel yang diberikan pada setiap orang yang tinggal di rumah ini.
Craig membuka bagian belakang ponsel itu dan tiak ada benda lain menempel di sana.
“Ponsel ini milik Clara,” kata Graig lagi, saat Gio meletakkan ponsel Paska dan mengambil ponsel lain.
Gio menatap Jihan tajam, sedangkan si pemilik ponsel tetap tenang.
“Tidak ada,” kata Craig lagi setelah membuka bagian belakang alat komunikasi yang selama ini di pegang Jihan.
“Hah.” Jihan dapat bernafas lega.
Lalu, mata Gio membelalak saat mendapatkan benda sing tertempel di sebuah ponsel setelah ponsel Jihan. “Milik siapa ini? Tanyanya pada Craig.
“Luna.”
__ADS_1
Wanita yang disebut namanya itu pun langsung panik dan menggeleng. “Tidak.”