
Jihan masih berada di dalam kamar mandi. Tubuhnya masih terbalut handuk dan menatap pakaian yang diberikan Keanu. Ia berdiri di depan ermin sambil mengangkat pakaian itu dan menempelkan ditubuhnya.
“Ya ampun, pakaian ini sangat terbuka.” Jihan meringis membayangkan dirinya memakai pakaian ini di depan pria mesum itu.
Di dapur, Keanu masih mengkreasikan diri untuk membuat daging steak lada hitam, karena Jihan menyukai makanan yang pedas. Lagi pula makanan itu cocok untuk menghangatkan tubuh dengan suhu di luar yang cukup dingin dan menusuk hingga ke dalam ruangan.
Di dalam kamar mandi akhirnya Jihan menggunakan pakaian itu. Sebenarnya ia malas menuruti permintaan Keanu, tapi mau tidak mau ia harus melakukannya. Ia pasrah karena syarat itu.
“Oh Tuhan, mengapa aku mencintai pria mesum seperti itu,” rengek Jihan sembari menghentakkan kakinya ke lantai. “Cari cara agar keluar, Ji. Kamu punya otak yang cerdas. Ayo berpikir!”
Jihan terus bergumam hingga otaknya yang sedang bekerja pun terhenti karena sebuah ketukan.
Tok … Tok … Tok …
“Hei, kau sudah berada di dalam sana lebih dari satu setengah jam. Apa kau tidak kedinginan, hm?” tanya Keanu sembari menempelkan telinganya dari balik pintu.
“Ya. Aku keluar,” teriak Jihan.
Perlahan kaki Jihan bergerak menuju pintu dan membuka pintu perlahan. Sontak, mata Keanu membulat menatap tubuh sexy Jihan. bibirnya pun menyungging senyum. Jihan sadar akan tatapan mesum itu.
“Stop! Jangan menatapku seperti itu!” Jihan langsung menutup mata Keanu.
Keanu tertawa. “Kau sudah tumbuh menjadi wanita dewasa, Ji.”
Jihan langsung menarik kembali tangan yang menutup mata Keanu. “Aku bukan Jihan. Sudah berapa kali aku bilang kalau namaku Clara. Cla … ra …”
Keanu kembali tersenyum. “Terserah namamu Clara, Susi, atau Desi. Bagiku, kau adalah Jihan.”
Lalu, Keanu membalikkan tubuhnya dan berjalan keluar kamar. “Ayo keluar dari kamar dan kita makan malam bersama!”
JIhan menggeleng. “Aku tidak lapar.”
__ADS_1
Keanu kembali membalikkan tubuhnya dan menatap Jihan. “Aku sudah buatkan steak kesukaanmu.”
Jihan mengernyitkan dahi, terkejut mendengar jawaban itu. Ternyata Keanu masih ingat apa yang ia sukai. Seketika bibirnya pun ingin tersenyum, namun harus ia tahan.
Jihan tetap menggelang. “Aku tidak suka steak. Siapa yang bilang aku menyukai makanan itu,” katanya cuek.
“Kamu mau makan atau aku yang akan memakanmu?” tanya Keanu menyeringai membuat mata Jihan membulat kesal.
“Baiklah. Kalau kamu tidak mau makan. Berarti acara utama kita segera dimulai.” Keanu memegang gagang pintu kamar itu dan hendaknya menutupnya.
“Tidak. Tidak.” Jihan langsung menahan kemesuman pria itu.
“Aku mau makan. Ayo kita makan malam!” ucapnya sembari melangkah keluar kamar mendahului Keanu.
Keanu tersenyum. “Nah seperti itu lebih bagus. Kamu semakin cantik kalau penurut.”
Jihan menoleh ke belakang dan menjulurkan lidahnya, membuat Keanu gemas. Keanu memperhatikan lekuk tubuh itu dari belakang. Ah, rasanya sesuatu di bawah sana mulai sesak. Padahal walau Chintya tidak menggunakan sehelai benang pun di depannya, Keanu tidak tergoda. Bahkan sesuatu di bawah sana tetap biasa saja. Tapi kali ini berbeda. Jihan sangat menggoda, walau tubuh wanita itu masih berbalut kain tipis dan menutupi area pribadinya. Tapi bahu dan kaki jenjang mulus itu mampu menggugah gairah yang sempat padam delapan tahun lalu.
Plak
“Aww …” Jihan langsung menoleh ke belakang dan menatap pria itu tajam. “Keanu!”
“Berjalan biasa saja. jangan digoyangkan seperti itu! Kamu bisa benar-benar membuatku hilang akal nanti,” ucap Keanu santai sembari melewati tubuh Jihan.
“Keanu br*ngs*k!” teriak Jihan kesal.
Pria yang disebut namanya itu pun hanya tertawa dan tetap kembali dengan aktifitasnya. Keanu menata dua piring yang berisi daging steak itu di atas meja mini bar. Ia juga menuangkan air putih dan meletakkannya di samping piring itu.
Keanu melirik ke arah Jihan yang masih berdiri. “Hei, mengapa masih disitu? Ayo sini! Duduk di sampingku.”
Jihan melangkahkan kakinya malas. Jihan dan Keanu menggunakan bahasa Indonesia dalam percakapannya sejak keluar dari Club Gio, karena sedari awal meminta bantuan Keanu, Jihan sudah memeprkenalkan indentitasnya sebagai intel dari negara itu, yang bekerjasama dengan negara-negara penerima barang haram itu, termasuk kepolisian setempat di negara ini.
__ADS_1
Jihan duduk di samping Keanu. Ia melihat pria itu sedang memotong kecil-kecil daging steak yang sudah matang itu. Aroma memang menggugah selera. Jiha tidak akan menolak memakan makanan itu, terlebih saat ini perutnya memang lapar.
“Ini!” Keanu meletakkan piring dengan daging yang sudah terpotong kecil-kecil itu di depan Jihan. “Aku tahu kamu kesulitan memotong daging ini. Jadi sudah aku potong kecil-kecil.”
Hmm … sikap Keanu mengapa semanis ini? Jihan tak kuasa. Ia ingin meleleh, hingga raut wajahnya pun terlihat seperti itu.
Keanu tersenyum. “Tidak usah ge-er. Bukankah aku memang selalu memperlakukanmu seperti ini?”
Jihan langsung mengubah raut wajahnya menjadi datar.
Keanu pun melirik sembari memtotong steak miliknya dan menyuapkan makanan itu ke mulut. “Karena kamu istimewa."
Jihan melirik ke arah Keanu yang juga meliriknya. "Apa kamu selalu segombal ini dengan wanita yang baru kamu kenal?”
Keanu meletakkan alat makan itu dan menatap Jihan lekat. “Berhenti membohongiku, Ji. Karena aku tidak akan percaya kalau kamu adalah Clara. So, mengapa kamu bisa jadi intel seperti ini?”
“Tidak ada yang bisa aku ceritakan. Semua rahasia,” jawab Jihan santai sembari meyuapkan makanan itu ke mulutnya.
“Ini pekerjaan berbahaya. Aku tahu siapa Gio. Aku tidak ingin kamu kenapa-napa,” ucap Keanu. “Aku sudah mencari tahu tentangmu.”
Keanu menyodorkan ponselnya ke arah Jihan. Selama Jihan berada di dalam kamar mandi, Keanu terus mencari tahu tentang wanita itu dan mengapa ia ada di sini sekarang.
Jihan menatap mata Keanu.
“Tujuanmu ke sini menjadi dokter saraf Sir Wiliam Xander. Right?” tanya Keanu. “Nama itu adalah nama ayah dari Giorgio Xander, pemilik club GX. Kamu akan jadi menyusup? Aku tahu kamu memiliki ilmu bela diri tapi dia bukan lawanmu.”
Keanu terus mencuci otak Jihan untuk segera pulang karena misi ini terlalu berbahaya.
“Pulanglah. Atau pulang bersamaku minggu depan,” kata Keanu sambil memegang punggung tangan Jihan yang berada di atas meja.
Arah mata Jihan menatap ke punggung tangan itu. Ia sudah mengambil keputusan dan keputusannya sudah bulat. Ia akan menjalani misi ini. Misi yang sudah ia nanti sejak dulu. Ia ingin mengenal sosok sang ayah. Kehidupan Jihan yang keras mengajarkan bahwa cinta bukanlah hal utama. Sejak mengambil keputusan untuk pergi dari hidup Keanu, ia sudah mengubur dalam-dalam rasa cinta itu, walau hingga saat ini cinta itu tetap ada. Ia tak memaksa harus memiliki Keanu. Lagi pula ia tidak ingin melanggar janjinya pada Rasti untuk tidak lagi mendekati Keanu dan menganggu keluarga Adhitama, keluarga yang sudah berjasa untuk masa depannya hingga ia menjadi seperti sekarang.
__ADS_1
“Kean. Aku bukan Jihan. Aku Clara dan aku seorang intel,” kata Jihan tegas untuk meyakinkan pria itu.
Keanu menatap tajam ke kedua mata Jihan hingga kedua pasang bola mata itu bertemu dan Keanu mencari kebenarannya di sana.