Gairah Cinta Sang Pembalap

Gairah Cinta Sang Pembalap
Kenan sekarat


__ADS_3

“Kenan …” teriak Rasti histeris saat langkah lambatnya itu menghampiri kamar putranya.


Seluruh pekerja di rumah itu pun segera berlari ke atas setelah mendengar teriakan Neneng.


“Mengapa bisa seperti ini, Neng?” tanya Rasti pada asisten rumah tangganya.


“Tidak tahu, Nyonya Oma. Pas saya buka pintu, Tuan sudah tergeletak di lantai,” jawab Neneng dengan dahi berkeringat.


Di dalam sana para pekerja pria di rumah itu langsung sigap mengangkat tubuh Kenan dan hendak merebahkannya ke atas tempat tidur.


“Segera bawa ke rumah sakit saja,” ucap Rasti. “Udin, ayo antar kami ke rumah sakit!”


“Siap, Nyonya Oma.” Udin langsung berlari dan menuruni anak tangga untuk menyiapkan mobil.


Sesampainya di lantai satu, Rasti langsung meraih ponselnya yang ia tinggalkan di meja makan. Ia mendial nomor Kevin.


“Halo, Oma.”


“Kevin. Papa mu pingsan. Oma akan membawa Papa mu ke rumah sakit kita.”


Belum sempat Kevin menjawab atau menanggapi, Rasti langsung mematikan sambungan telepon itu dan mendial nomor Kiara. Ia juga memberi kabar pada putri dan suaminya. Kiara dan Gunawan yang terkejut pun langsung segera mengganti pakaian menuju rumah sakit milik keluarganya.


Belum ada satu pun yang memberi kabar ini pada Keanu. Semua panik, begitu pun dengan Kevin. Sedangkan di sana Keanu sendiri juga belum memberi kabar pada sang kakak bahwa dirinya sudah menemukan Hanin.


Di lorong rumah sakit, Rasti menangis sembari memegang tangan Kenan yang dingin saat langkahnya mengikuti tempat tidur yang membawa Kenan menuju ruang gawat darurat.


“Kenan, mengapa kamu seperti ini? Mengapa?” tanya Rasti yang tidak tega melihat wajah pucat sang putra.


Rasti menghentikan langkah kakinya saat tempat tidur yang membawa putrany sudah memasuki ruangan itu.


“Maaf, Nyonya. Anda hanya bisa mengantar sampai di sini,” kata petugas rumah sakit yang sangat menghargai Rasti, si pemilik tempat ini.


“Saya harus menemaninya, Sus. Saya ingin melihat keadaan putra saya.”


“Tenang, Nyonya Rasti. Kami akan memeriksa Bapak. Setelah ini, kami akan memberitahu keadaan Bapak,” ucap seorang pria paruh baya yang memakai jas putih.


Rasti pun mengalah dan mengangguk. Detak jantung Kenan lemah. Bahkan sempat tidak terdengar oleh stetoskop yang digunakan pria paruh baya berjas putih itu. sehingga, dokter mengambil tindakan untuk menggunakan alat pacu jantung agar detakan di sana kembali bersuara dan normal.


Di luar ruangan, Rasti melihat keadaan sang putra dari balik jendela transparan. Di sana Rasti dapat melihat dengan apa yangs edang terjadi. Ia masih menangis sembari menggosokkan tangannya dan menempelkan ke mulut. Udara dingin disertai perasaannya yang tak menentu, semakin membuat wanita tua itu gelisah.


“Kenan. Bertahanlah. Maafkan Mami!”


Rasti menyadari, bahwa yang terjadi pada putranya adalah kesalahannya. Ya, ia memang tidak pernah bisa menjauhkan Kenan dari Hanin. Saat egois itu muncul dan tidak ingin dikalahkan, maka seseorang harus berkorban. Dan, ia tidak ingin putranya yang menjadi korban dari keegoisan itu.


“Hah … Akhirnya.” Di dalam sana, dokter bisa bernafas lega, karena detak jantung Kenan kembali berjalan normal.


Dan, Rasti juga melihat itu. Hanya saja, Kenan masih belum sadarkan diri.


“Mami …”


“Oma …”


Teriak Kiara dan Kevin bersamaan. Kebetulan mereka tiba di rumah sakit ini bersamaan. Kiara bersama Gunawan, suaminya dan Kevin bersama Ayesha, istrinya.


“Bagaimana Papa, Oma?” tanya Kevin.


“Kakak, bagaimana Mam?” Kiara pun bertanya.

__ADS_1


Semua orang tampak panik mendengar kabar ini. Rasti tidak bisa menjawab. Untung saja dokter pun membuka pintu ruang unit gawat darurat ekslusuf itu dan memunculkan diri.


Kiara menuntun Rasti untuk mendekati dokter itu. sedangkan Gunawan langsung mendekati pria paruh baya yang mengalungkan stetoskopnya di leher. Langkah Gunawan diikuti oleh Kevin yang menggenggam tangan istrinya.


“Bagaimana kaka ipar saya, Dok?” tanya Gunawan.


“Jantungnya lemah. Sangat lemah. Sehingga kami harus memakai alat pacu jantung untuk membantu,” jawab dokter.


“Tapi apa Papa saya memiliki penyakit jantung, Dok?” tanya Kevin.


“Tidak. sepertinya belum mengarah ke sana. tapi kami akan observasi. Tapi bisa jadi karena kelelahan dan daya tahan tubuh menurun, bisa juga mengakibatkan ini.”


“Kami boleh melihat Papa, Dok?” tanya Ayesha.


“Ya, tentu aja,” jawab dokter itu lagi. “Tapi, Pak Kenan belum sadarkan diri. Mungkin beberapa menit lagi. kami sudah memberi obat di selang infusnya.”


Gunawan, Kevin, dan Ayesha mengangguk.


“Terima kasih, Dok,” ucap Ayesha yang diikuti oleh Kiara.


“Ra, Kenan tidak apa-apa kan?” tanya Rasti dengan ekspresi wajah yang masih panik pada putrinya. Apalagi ia melihat dengan jelas saat dada Kenan terpasang alat pacu jantung. Kenan terlihat seperti orang yang sedang sekarat.


“Kata Dokter tidak apa-apa, Mam,” jawab


“Mami tadi lihat Kenan dipakai alat pacu jantung, Ra. Kakakmu tidak sekarat kan?”


“Tidak, Mami. Jangan berpikir yang tidak-tidak!” kata Kiara dengan nada lembut, mencoba menenangkan sang Ibu.


“Kenan baik-baik saja, Mam. Hanya memang belum sadarkan diri,” sambung Gunawan.


Kevin dan Ayesha mendekati ayahnya.


Kenan menggerakkan jarinya. Bibinya pun hendak mengeluarkan suara.


“Hanin.”


Nama itu yang keluar dari mulut Kenan. Pria itu memang sangat merindukan istrinya.


“Kev, Hanin belum ditemukan?” tanya Kiara pada keponakannya.


Kevin menggeleng. “Belum, Tante.”


“Mas, kamu gimana sih? Kok Hanin belum ketemu juga.” Kiara mengeluh pada suaminya.


“Belum, Sayang. Mas udah kerahkan semua. Tanya saja Kevin,” jawab Gunawan dengan menatap wajah putra sulung Kenan.


“Keanu, Bagaimana? Mungkin dia sudah menemukan Hanin,” celetuk Rasti.


Ah, semua orang di sini justru lupa dengan Keanu, termasuk Kevin.


“Tadi pagi, Kevin sudah komunikasi dengan Keanu da dia juga masih mengatakan informasi yang sama,” jawab Kevin.


“Tapi, Sekarang Keanu belum diberi kabar tentang Papa nya kan?” tanya Kiara.


Kevin menggeleng. “Belum.”


“Cepat kabari Keanu, Mas!” pinta Ayesha pada suaminya.

__ADS_1


Kevin pun langsung merogoh saku celananya dan mengambil ponsel untuk menelepon sang adik sembari berjalan keluar ruangan.


“Hanin …” Kenan kembali bersuara. Ia terus memanggil nama istrinya.


Di Lombok, Keanu dan Jihan merasa senang karena Hanin sudah berada di rumah mereka. Malam ii, mereka baru saja selesai menghabiskan makanan malam super lezat karena menu kesukaan keanu langsung dibuat dari tangan sang Ibu.


“Kenapa senyum-senyum sendiri?” tanya Keanu pada istrinya.


“Seneng,’ jawab Jihan ambigu.


“Seneng kenap?”


“Ya, seneng karena Mama ada di sini sekarang. Itu berarti hukumanku yang tinggal tujuh hari tidak berlaku lagi,” jawab Jihan.


“Kok gitu?”


“Iya, dong. Ya masa, aku ga pakai baju depan Mama.”


Sontak Keanu tertawa. “Hahaha … iya juga sih.”


“Tapi kalau Mama pulang, hukuman itu kembali berlaku,” sambung Keanu.


“Ish.” Jihan memukul lengan suaminya. “Mesum banget sih kamu!”


Keanu tertawa dan menjauh dari tubuh sang istri untuk mengambil ponselnya yang berdering. “Biarin. Weeek …”


Keanu meledek Jihan yang masih berdiri di depan meja makan untuk merapikan sisa makan malam tadi dengan menjulurkan lidahnya. Biasanya yang sering melakukan ekspresi seperti ini adalah Jihan dan Keanu hanya mengikuti kebiasaan wanita itu.


“Halo.”


Keanu langsung menjawab panggilan telepon saat melihat nama sang kakak tertera di sana.


“Kean.”


“Ya,” jawab Keanu.


“Mama sudah ketemu?” tanya Kevin.


Lalu, Keanu melirik ke arah Hanin yang sedang duduk di sofa tepat di depan televisi. Hanin menggelen tanpa suara.


“Belum,” jawab Keanu bohong, sesuai dengan keinginan sang Ibu.


“Bagaimana ini?” tanya Kevin panik. “Papa sakit, Kean. Papa pingsan dan sekarang ada di IGD.”


“Apa? Papa sakit?” tanya keanu yang ikut panik.


Di sana Hanin pun langsung menegakkan posisi duduknya saat mendengar sang pujaan hati tidak sedang baik-baik saja.


Jihan yang baru selesai merapikan meja makan ikut menghampiri suaminya yang terlihat panik saat menerima telepon.


“Papa masih belum sadar, Kean. Papa memanggil Mama terus,” kata Kevin lagi.


Keanu melirik sang Ibu dengan wajah memelas. Dan, Hanin pun langsung menganggukkan kepalanya.


“Aku segera ke Jakarta, Kev. Mama bersamaku.”


“Serius?” tanya Kevin tak percaya.

__ADS_1


“Iya.”


Di seberang sana, Kevin tampak senang. Lalu, Keanu pun memutuskan sambungan telepon itu dan bergegas untuk mengantar Ibunya ke Jakarta sekaligus menjenguk sang Ayah.


__ADS_2