
Sebelum kembali ke Jakarta, keluarga Adhitama kembali berkumpul di sebuah resort tempat Kenan menginap. Wiliam dan Lastri pun diundang untuk datang. Acara bakar-bakar di tengah deburan ombak ini terasa hangat, walau sebenarnya udara malam sangat dingin. Tidak ada lagi pertikaian diantara keluarga ini. Semua bercengkerama dengan ceria. Namun sayang, acara kumpul-kumpul kali ini ada yang kurang karena ketidakhadiran keluarga Gunawan dan Vicky.
Rencananya besok pagi, Kenan dan Hanin akan berangkat pulang. Kevin, Ayesha dan anak kembarnya pun ikut pulang bersama Kenan dan Hanin. Hanya Rasti yang akan tetap tinggil. Wanita paruh baya itu menyukai pemandangan dan udara di sini.
“Mami benar tidak mau pulang?” tanya Kenan lagi.
Jatah cutinya sudah selesai dan lusa ia kembali menjadi pelayan publik. Begitu pun dengan Kevin, Honeymoon-nya bersama sang istri pun selesai, lusa ia pun sudah mulai kembali dengan aktifitasnya.
“Tidak.” Rasti menggeleng. “Mami betah di sini.”
“Tapi, nanti Keanu merasa keganggu, Oma,” celetuk Kevin dengan melirik ke arah sang adik dengan wajah meledek.
“Ck. Iya nih Oma ganggu aku sama Jihan saja.” Keanu malah menjawab ledekan sang kakak.
“Oma tidak akan mengganggu kalian. Kalian mau guling-gulingan setiap malam atau mendesah pun Oma sudah kebal.”
Sontak, semua pun tertawa mendengar pernyataan Rasti. Pasalnya ia sudah kenyang mendengar teriakan bercinta Kenan dan Hanin setiap malam sejak puluhan tahun lalu hingga sekarang.
Jihan yang sedang berdiri membakar daging barberque bersama Ayesha pun melirik ke arah suaminya. Urat malu Keanu memang sudah putus. Terkadang Jihan malu jika pria itu bergurau tentang ranjang.
“Hingga saat ini, Oma masih sering mendengar teriakan Hanin tengah malam,” lanjut Rasti yang kini menjadikan Hanin sebagai objek ledekan.
“Mami,” panggil Hanin malu dengan nada merengek.
Kenan justru malah merangkul istrinya dari samping sembari menatap sang ibu. “Itu artinya, aku belum tua kan, Mam? Aku masih perkasa.”
Sontak, yang lain pun ikut tertawa. Wiliam dan Lastri pun demikian. Mereka hanya menyumbang tawa, karena keluarga ini memang penuh kehangatan, hanya saja terkadanag ego mengusai mereka.
Tak lama kemudian, hasil daging barberque yang dibakar Ayesha bersama Jihan pun matang. Kedua wanita cantik itu membawa hasil olahannya menuju meja tempat para keluarga duduk. Lalu, mereka ikut duduk di samping suaminya. Kevin menyambut sang istri dan Keanu pun demikian. Kedua pria bucin yang diturunkan dari sifat sang ayah pun langsung memeluk istri mereka masing-masing dari samping. Kevin dan Ayesha cukup leluasa malam ini, karena anak kembar mereka sudah lebih dulu terlelap ditemani oleh baby sitternya.
“Oh ya, berhubung semua sedang berkumpul, ada yang ingin Keanu sampaikan.” Kali ini Keanu tampak serius, membuat yang lain pun ikut serius.
Kenan yang semula meminum air putihnya pun langsung meletakkannya kembali ke meja dan menatap putra bungsunya. Begitu pun yang lain, semua mata tertuju pada Keanu.
“Kean sudah mengambil keputusan bahwa Keanu tidak lagi meneruskan profesi ini,” kata Keanu tegas.
“Maksudnya?” tanya Kenan. Kevin pun menyipitkan mata untuk mendengar pernyataan sang adik lebih jauh.
“Kean akan berhenti menjadi pembalap, Pa.”
“Lu yakin?” kini Kevin yang bertanya.
Keanu mengangguk. “Sangat yakin.”
“Lalu, apa yang ingin kau lakukan? Menjadi pengangguran?” tanya sang ayah.
“Bukankah Papa yang memintaku untuk membantu Kevin dari dulu. Tapi, waktu itu aku belum siap.”
__ADS_1
Kenan pun tersenyum. “Lalu, sekarang kau siap?”
Keanu mengangguk cepat. “Siap. Kebetulan aku dan Kevin memang sedang merencanakan membangun wisata di kota ini.”
“Jadi bener? Lu mau pegang proyek itu?” tanya Kevin.
“Tentu,” jawab Keanu yakin.
“Wah cucu Oma sekarang benar-benar berubah,” ucap Rasti senang karena ia tidak perlu lagi khawatir dengan profesi cucunya.
Sejak awal, ia memang tidak setuju Keanu menjadi pembalap. Walau semua profesi banyak resikonya, tetapi profesi ini lebih banyak kemungkinan untuk itu.
Hanin di sana hanya tersenyum memandang sang putra. “Syukurlah, Mama senang mendengarnya.”
Wiliam dan Lastri pun ikut tersenyum. Lastir senang dengan keputusan ini, karena nantinya sang putri tidak berpindah-pindah tempat tinggal untuk mengikuti suaminya.
“Apa yang membuatmu berubah pikiran? Sebelumnya, kamu bilang akan menjadi pembalap hingga tua,” ucap Kenan.
Lalu, Keanu melirik ke arah istrinya dan merangul erat. “Semua karena dia, Pa.”
“Eum …” seru Hanin dan Ayesha mendengar pernyataan itu.
“So sweet,” kata Hanin tersenyum.
“Sepertinya, Jihan suka kota ini. Dia juga senang mengabdikan keahliannya di sini. Jadi, kami akan tetap di sini.”
“Good,” jawab Kenan tersenyum.
Keanu pun tertawa. “Bisa. Bisa gue tabok.”
Keanu dan Kevin pun tertawa, diiringi tawa yang lainnya.
Setelah puas berbincang dengan pembicaraan yang serius hingga tak serius, mereka pun hendak menikmati makan malam.
Hanin, Ayesha, dan Jihan menyiapkan makanan di sana. Sedangkan Lastri tetap duduk di samping Wiliam. Sejak pagi tadi, ia memang sedang merasa tidak enak badan. Sebenarnya Wiliam ingin membatalkan kehadirannya malam ini. Namun, Lastri memaksa untuk datang. Ia tidak enak menolak undangan Kenan, mantan majikannya.
“Bu, Ibu udah baikan?” tanya Jihan mendekati sang ibu setelah meletakkan makanan di meja.
“Sudah. Ibu sudah tidak pusing.”
“Mau JIhan periksa?” tanya putrinya lagi.
Lastri menggleng. “Ngga usah. Mungkin ini efek kecapean.”
Jihan pun mengangguk. Sang ibu memang tidak bisa menggunakan transportasi udara. Syndorme jetlag yang Lastri alami tidak hilang walau sudah berhari-hari. Itu sebabnya Wiliam dan Lastri tidak pulang buru-buru. Mereka masih akan tinggal di sini, walau Kenan dan keluarganya sudah akan kembali besok.
“Ji, coba periksa saja ibumu.” Kenan menyela saat menghampiri Wiliam dan Lastri di tempat duduknya.
__ADS_1
“Tidak, Tuan. Saya tidak apa,” jawab Lastri.
“Dia memang paling susah untuk diperiksa, Ken,” sahut Wiliam.
“Ya, sedari dulu Lastri memang seperti itu,” jawab Kenan.
“Kalau begitu, ayo makan dulu! Siapa tahu lebih baik.” Hanin mengajak besan yang dulu adalah asisten rumah tangganya untuk mengisi perut Lastri agar tubuhnya lebih baik.
“Ya, Ayo Bu makan dulu, sejak siang kata Papa, Ibu belum mau makan.”
Lastri pun mengangguk. Jihan menggandeng ibunya menuju meja makan. Di sana banyak menu yang tersedia. Hanin sengaja meminta disediakan bakso kuah untuk menghangatkan tubuhnya di sela udara malam yang cukup dingin ini.
“Bu, Jihan ambil bakso ya. Ibu suka kan?”
Lastri mengangguk setuju. Di sana semua orang mengambil makanan masing-masing sesuai selera. Para istri-istri itu pun mengambil makanan untuk suaminya terlebih dahulu.
Hanin juga sudah berdiri di tempat hidangan bakso kuah untuk Kenan.
“Ambil yang banyak, Ji. Kuahnya segar,” ucap Hanin ketika berdiri bersebelahan dengan Jihan.
“Iya, Ma.” Jihan mengambil dua mangkok, lalu diberikan untuk suami dan ibunya.
Jihan meletakkan bakso kuah itudi depan LAstri, setelah meletakkannya di depa Keanu. Namun, tiba-tiba perut Lastri terasa mual saat mencium aroma kuah bakso itu.
Hoek … Hoek …
Lastri langsung lari ke kamar mandi terdekat. Wiliam yang sudah memegang alat makan di kedua tangannya pun segera menghentikan aktifitasnya dan bangkit untuk menyusul sang istri.
“Maaf, saya temani Lastr dulu.”
Semua orang di sana tercengang. Lalu, arah mata mereka menatap Jihan.
“Ibu mu hamil?” tanya Rasti.
“Eum …” Jihan pun bingung. Ia bingung menjawab pertanyaan itu. Pasalnya Jihan memang belum memeriksa keadaan sang ibu.
Namun, gejala yang dialami Lastri jelas sangat diketahui oleh wanita-wanita yang ada di sini, mengingt mereka sudah pernah merasakannya kecuali Jihan.
“Wah, lu kalah sama mertua lu, Bro,” kata Kevin dengan tawa meledek.
“Keanu terlalu banyak gaya mungkin,” sambung sang ayah yang juga meledek putranya.
“Ck. Belum aja. Tunggu tanggal mainnya,” jawab Keanu santai saat menjadi objek bullyan ayah dan sang kakak.
“Eh, jadi bener? Ibu kamu hamil?” tanya Keanu yang baru menyadari.
Jihan menggeleng. “Ngga tahu.”
__ADS_1
“Ya salam.” Keanu menepuk keningnya.
Keanu baru sadar bahwa ternyata dirinya kalah saing dengan sang ayah mertua. Kekuatan mantan mafia itu ternyata tidak diragukan. Padahal Wiliam dan Lastri baru terhitung satu bulan menikah.