
“Ini obat apa?” tanya Keanu yang berhasil mengambil botol kecil yang berisi banyak butiran kecil berbetuk pil.
“Itu … Hm …” Jihan menjeda perkataannya. Kepalany sedang berpikir untuk merangkai kata yang pas agar Keanu tidak salah faham dengan keputusannya ini.
Keanu menatap wajah sang istri yang terlihat gugup sembari menautkan jari jemarinya. Pria itu pun melangkah mendekati Jihan.
“Ini obat apa, Ji? Apa kamu sakit?” tanya Keanu lagi.
Jihan pun langsung menggeleng cepat. “Itu … obat …”
Tenggorokan Jihan terasa tercekat karena tatapan mengintimidasi itu. Ia menatap lekat wajah Keanu yang penasaran.
“Kean. sebelumnya aku minta maaf,” ucap Jihan pelan-pelan.
“Untuk?”
“Untuk obat ini.” Jihan memegang botol yang dipegang Keanu sembari tetap melihat ke kedua bola mata itu. “Aku menundanya.”
Keanu menyipitkan mata. “Maksudmu?”
“Hm… Kau tahu, aku lahir tanpa ayah. Dari kecil, aku kerap di bully. Dan, aku tidak ingin anakku bernasib yang sama denganku nanti.”
Keanu semakin bingung dan tidak mengerti dengan apa yang diucapkan Jihan.
“Aku menunda kehamilan dengan meminum pil ini, sampai keluargamu merestui kita.” Jihan kembali menjelaskan dengan hati-hati.
Jedar
Seperti tersambar petir. Keanu menggelengkan kepala. “Apa?”
“Maaf, Kean. Aku hanya takut, saat aku hamil, kita malah berpisah. Aku tidak ingin anak kita nanti tumbuh dengan orang tua tunggal sepertiku. Itu sangat tidak enak.”
Keanu kecewa. Ia menatap bergantian botol kecil yang ia pegang itu dengan wajah Jihan. “Jadi ini pil KB?”
Jihan mengangguk.
“Jadi selama ini, usaha yang kita lakukan setiap malam tidak akan berhasil?”
Jihan menggeleng.
Keanu semakin tidak percaya dengan tindakan Jihan. “jadi selama ini, aku berharap sementara kamu mematahkan semangat itu?”
__ADS_1
“Kean, maaf.” Jihan memeluk tubuh suaminya. “Maaf.” Ia pun menangis. “Sungguh aku tidak bermaksud seperti itu. Sungguh!”
Keanu mematung. Ia berdiri tanpa suara dan tanpa pergerakan. Sementara Jihan terus memeluk erat suaminya.
“Aku tidak lagi meminum itu. Sungguh! Mulai malam ini, aku tidak akan meminumnya,” ucap Jihan agar Keanu tidak marah.
Dan, ya. Keanu memang tidak marah, tapi pria itu memilih diam.
“Kean, bicara!” Jihan mencoba menggoyangkan tubuh Keanu yang sejak tadi mematung dan tak lagi bersuara.
Sungguh, Jihan merasa sangat bersalah atas keputusannya ini.
Tok … Tok … Tok …
Tangisan Jihan terhenti saat seseorang mengetuk pintu kamar mereka. Keanu pun reflek mengarahkan wajahnya pada suara ketukan itu.
“Ji,” panggil Lastri.
Jihan mengusap air matanya dan menjawab, “iya, Bu.”
“Makan siang dulu! Kalian baru sampai dan pasti lapar. Ibu sudah menyiapkan makan siang buat kalian,” ucap Lastri lagi dari balik pintu.
“Ibu tunggu ya!” kata Lastri lagi.
“Iya, Bu.” Hanya itu jawaban Jihan sedari tadi.
JIhan menatap suaminya yang menjauh. Keanu menjauhkan dirinya dari Jihan. Ia meletakkan botol kecil yang sedari dipegangnya ke meja rias bersamaan dengan skincare milik Jihan. Lalu, langkah Keanu mendekati pintu.
Jihan berlari menghampiri suaminya dan kembali memeluk pinggang Keanu. Sungguh, ia takut. Jihan takut Keanu kecewa dan pergi. Ia tidak bisa kehilangan pria itu. walau sebenarnya Keanu memang sudah kecewa mengetahui fakta ini.
“Jangan pergi, Kean. Aku mohon! Maafkan aku.”
Keanu masih diam. Ia tidak membalas pelukan itu. Padahal biasanya justru Keanu yang kerap menempel dan memeluk istrinya lebih dulu.
“Kean,” panggil Jihan sembari menengadahkan kepalanya menatap wajah Keanu dengan tatapan menyesal.
Keanu masih diam dan belum membalas pelukan itu. Justru, ia tetap mengangkat tangannya untuk memegang handle pintu dan membuka pintu itu.
“Kamu mau ke mana?” tanya Jihan takut.
“Makan,” jawab Keanu datar. “Ibumu meminta kita untuk makan siang kan?”
__ADS_1
Jihan lega. Ia pun melepas pelukannya di pinggang Keanu dan mengikuti langkah pria itu menuju ruang makan.
****
Malam ini, tidak seperti malam-malam biasanya. Biasanya setiap malam, Keanu dan Jihan akan berperang sebelum tidur, membuat ranjang itu bergoyang dan bantal guling serta selimut berserakan. Tapi, malam ini Keanu justru tidur lebih cepat. Bahkan ia tidak memeluk Jihan dan tidak mengusap kepalanya.
Hati Jihan terasa teriris. Ia tahu bahwa Keanu kecewa berat. Ia tidak menyangka bahwa keputusannya akan berdampak begitu negatif. Jihan sadar bahwa dirinya egois, padahal Keanu sudah memperjuangkannya dengan begitu besar hingga rela meninggalkan orang-orang yang ia sayangi demi bersama dengannya.
“Kean,” panggil Jihan sembari mendekatkan tubuhnya pada tubuh Keanu yang membelakanginya. “Kita tidak bertempur malam ini?” tanyanya polos.
Keanu tidak menjawab. Pria itu pura-pura memejamkan matanya. Sungguh, Keanu masih kesal dengan keputusan Jihan yang menunda kehamilan padahal dirinya sangat ingin memiliki buah cinta dari cinta yang mereka miliki yang tersalur dalam sebuah gairah dan penyatuan.
“Kean, jangan diamkan aku!” kata Jihan lirih sembari memeluk pinggang Keanu dan menumpukan kepalanya pada bahu miring itu. “Kean.”
Sejak kejadian siang tadi, Keanu memang belum bicara pada Jihan. Pria itu memilih diam dan tidak memarahi istrinya.
“Lebih baik kamu marahin aku, daripada mendiamkanku seperti ini,” ucap Jihan lagi. Kali ini, dengan deraian air mata.
Jihan kembali menangis setelah siang tadi menangis karena ketahuan. Walau Keanu kecewa, tetapi ia tidak bisa membentak atau memarahi istrinya. Oleh karena itu, Keanu memilih diam.
Air mata Jihan menetes hingga membasahi lengan kekar Keanu karena kepala Jihan masih bertumpu pada lengan yang tertidur miring membelakaninya.
Keanu tidak bisa tidur. Ia hanya memejamkan mata. Hatinya ikut teriris ketika mendengar tangisan sang istri serta air mata yang ia rasa membasahi lengannya. Namun, ia ingin memberi sedikit pelajaran pada Jihan dengan tetap mendiamkannya dan tak mudah luluh memaafkan. Walau sebenarnya ia sudah memaafkan dan mengerti penjelasan Jihan mengambil keputusan ini. Tetapi paling tidak, seharusnya Jihan membicarakan padanya terlebih dahulu tentang ini dan tidak mengambil keputusan sendiri.
"Kean, bicara padaku. Aku tidak suka didiamkan," ucap Jihan dengan suara yang terdengar manja.
Keanu masih diam dan tak bergerak. Ia masih dengan posisinya yang terbaring miring, membelakangi Jihan.
"Sayang," panggil Jihan lagi.
Kini dengan sebutan sayang untuk pertama kali. Dan di balik itu, Keanu tersenyum tipis sambil tetap memejamkan matanya.
Jihan tetap membujuk suaminya dengan tetap tidur di atas lengan itu. Jari Jihan bergerak menelusuri perut kotak-kotak milik Keanu. Sungguh sebenarnya ini adalah siksaan untuk Keanu karena Jihan berhasil membuatnya bergairah dengan sentuhan lembut itu. Tapi, Keanu tetap menahannya demi sebuah gengsi untuk menunjukkan bahwa dia kecewa.
"Kean, aku tahu kamu belum tidur. Kamu tidak bisa tidur sebelum bercinta kan? Ayo kita bercinta! Aku akan melayanimu selama yang kami mau."
Jihan kembali membujuk suaminya, membuat Keanu kembali mengulas senyum tipis dari balik tubuh Jihan.
Hati Keanu berperang antara menerima tawaran menggiurkan itu sekarang tapi tak ada efek jera untuk Jihan, atau menahannya tapi tawaran itu sayang untuk dilewatkan.
"Hah, dasar mesum." Keanu merutuki dirinya sendiri dalam hati yang tak bisa untuk tidak tergoda oleh pesona dan tubuh Jihan.
__ADS_1