
"Anak itu ke mana?" tanya Kenan pada sang istri yang tengah membantu melepaskan jas serta kemeja yang melekat seharian
Akhir-akhir ini Kenan memang sedang sibuk. Ia di sibukkan dengan program tata kota dan menangani banjir tahunan yang datang setiap musim hujan tiba. Itu janjinya pada masyarakat jika ia terpilih.
"Siapa?" tanya Hanin tak mengerti.
"Anak kesayanganmu."
"Keanu?" tanya Hanin lagi.
"Hm." Kenan mengangguk.
Lalu menatap sang istri. "Saat acara dia menghilang. Sekarang, dia tidak pulang. Ke mana dia? Aku sudah sabar menghadapi dia yang semaunya. Bahkan selama tiba di sini, dia tidak membantu Kevin mengurus perusahaan. Malah ke Bali tiga bulan."
Kenan mengomel. Selama ini, ia memang menuruti apa yang diinginkan anak bungsunya itu, agar ketika ia meminta sesuatu, Keanu tidak membantah, karena itu aturannya selama ini.
"Dia sudah besar, By. Jangan hardik dia!" ucap Hanin membela Keanu.
"Pasti dia menghilang karena menemui Jihan di belakang. Aku lihat cctv gudang kemarin." Kenan menggeleng dan duduk di tepi ranjang.
Hanin mengikuti suaminya. "Sudah lah. Sekarang sudah waktunya kita merestui Keanu dan Jihan."
Sontak, mata Kenan membulat.
"Lagi pula, perseteruan antara kami dan Wiliam sudah selesai. Mas Gun saja merestui Aldi untuk putrinya, padahal Aldi keponakan dari orang yang disuruh Wiliam waktu itu."
Kenan terdiam.
Hanin hendak berdiri dan melangkaj menuju kamar mandi. Ia hendak menyiapkan sang suami air hangat.
"Aku juga lebih menyukai Jihan dibanding model itu," ucap Hanin lagi.
"Aku juga tidak suka dengan model itu. Tapi setidaknya bukan Jihan. Masih ada pilihan lain kan?"
Kini, Hanin yang membulatkan matanya. "Sejak kapan kami mulai mengatur jodoh anakmu?"
"Sejak melihat Kevin bahagia," jawab Kenan santai.
"Itu berbeda, By. Aku setuju Kevin dijodohkan karena mereka memang saling mencintai, walau mereka belum menyadari itu. Dan saat itu tugas kita menjadi jembatan agar mereka menyadari perasaannya."
Kenan kembali terdiam. Hanin pun meninggalkan suaminya. Lalu, Kenan kembali berkata, "aku akan menjodohkan Keanu dengan anak Pak Jusung dari partai xxx, karena dia telah banyak membantuku saat pemilihan kemarin."
Hanin semakin tak percaya dengan keputusan suaminya. Ia menoleh dan menatap sang suami yang masih duduk di tepi ranjang dengan menggunakan kaos singlet tanpa lengan berwarna putih dan boxer hitam.
"Kamu egois, By. Aku tidak percaya, kamu menjual anakmu hanya untuk kedudukan."
Kenan bangkit dan mendekati Hanin. "Dia anak mafia, Sayang. Ma ...fi ... a..Aku tidak bisa terima itu."
"Jadi kalau dulu, aku anak mafia. Kamu juga tidak akan memperjuangkanku? Begitu?" tanya Hanin kesal dan meninggalkan Kenan yang masih berdiri di sana.
Brak
__ADS_1
Hanin menutup pintu kamar mandi dengan keras. Kenan pun meremas rambutnya. Pasalnya, ia sudah menyetujui perjodohan itu. Mengingat putri sulung Pak Jusung sangat mengidolakan putranya. Dan Kenan kira, Keanu akan cocok dengan putri Pak Jusung karena konon anak pertama akan cocok dengan anak terakhir, seperti diibaratkan botol dengan tutupnya.
****
Gio masih menemani adiknya di hotel itu. Keanu juga tetap berada di kamar yang sama. Ia tidak akan meninggalkan Jihan dalam kondisi seperti ini.
"Kak, sana keluar dulu!" Pinta Jihan pada sang kakak, karena Jihan ingin berganti baju dan mengelap tubuhnya yang lengket setelah meminum obat demam beberapa kali.
"Kau lebih percaya pria brengs*k ini, dibanding aku? Aku kakakmu Jihan. walau kita berbeda ibu," ucap Gio kesal karena Jihan malah memperbolehkan Keanu untuk mengelap tubuhnya dan mengganti baju sang adik. Itu terbukti karena saat ini, Keanu tengah memegang wadah kecio yang sudah berisi air dan sabun.
Keanu menaikkan alisnya dan bahunya. Ia merasa menang.
"Please, Kak." Jihan mengatup kedua tangannya dan memohon pada sang kakak.
"Baiklah. Aku akan duduk di sofa itu dan tidak menoleh ke arahmu."
Jihan pun mengangguk. Lalu, Keanu melewati Gio untuk mendekati wanitanya.
"Kau pakai ilmu apa, sehingga adikku sangat mencintaimu?" tanya Gio pada Keanu saat melewati pembalap itu.
"Rahasia. Kalau ku beritahu, nanti kau tidak membutuhkanku untuk menakkukan Fiona. Kesepatakan menarik, bukan?" Keanu menyeringai.
"Si*l." Gio pun mengumpat dan menghampiri sofa, lalu duduk di sana dengan membelakangi Jiahn dan Keanu.
"Kami dan kakakku seperti tom and jerry," ucap Jihan setelah Keanu duduk di sisinya.
"Ya, padahal dulu dia sangat friendly. Tapi setelah aku mendekati adiknya, dia berubah posesif."
Perlahan, Keanu meraih kancing piyama Jihan. "Aku izin membukanya."
Jihan mengangguk. Walau Keanu berbuat salah padanya semalam, tapi entah mengapa hanya Keanu, pria yang ia percayai.
Keanu dapat melihat memar-memar di leher dan dada bagian atas Jiha. Setelah ia menanggalkan piyama itu dan menyisakan kaos dalam Jihan. Kismark yang seperti warna memar itu bukan hanya di bagian leher dan dada Jihan, tapi perut juga kedua pahanya. Malam itu, Keanu memang bringas.
Keanu mulai mengelap kulit Jihan yang mulus. Tangannya pun menyentuh warna seperti memar yang dapat ia lihat dari balik kaos dalam yang cukup terbuka dibagian dadanya.
"Apa ini sakit?" tanyanya.
Jihan mengangguk.
"Maaf. aku tidak bermaksud berbuat seperti itu," ucap Keanu penuh penyesalan.
Jihan kembali menganggui. Ia juga mengerti posisi Keanu saat itu.
"Kamu boleh menggigitku." Pria itu menyodorkan tangannya ke wajah Jihan.
"Atau kamu boleh menggigit leher dan bahuku." Dengan suara pelan, Keanu menyodorkan bagian tubuh yang ia sebut tadi.
Jihan tertawa dan menggeleng. "Tidak mau."
"Kenapa? Agar aku bisa merasakan apa yang kamu rasakan."
__ADS_1
Jihan kembali meleleh. Pria itu memang pandai merayu. Pantas saja ia dikejat banyak wanita diluar sana.
"Gombal. Ayo cepat bersihkan tubuhku! Nanti Kak Gio mendengar percakapan kita."
"Kalian sudah selesai?"
Benar saja, mantan mafia itu buka suara.
"Belum," jawab Jihan.
"Lama sekali. Kalian tidak melakukan yang tidak tidak kan?" tanya Gio.
"Tidak," jawab Jihan dan Keanu kompak. Tapi, mereka tertawa.
Usai membersihkan tubuh Jihan. Keanu pun kembali ke kamar mandi dan membuang serta meletakkan kembali alat-alat yang digunakan.
Gio pun membalikkan tubuhnya, karena Jihan sudah mengatakan selesai. Posisi duduk Keanu digantikan dengan Gio.
Gio menatap leher dan dada Jihan yang kebiruan, karena piyama yang dibelikan orang suruhan Kevin yang ini memiliki belahan dada yang panjang sehingga terpampanglah kismark itu.
"Ini apa?" tanya Gio sembari menyentuh leher dan dada Jihan.
Jihan langsung menggeleng. "Bukan apa-apa."
"Si*l. ini pasti perbuatan si pembalap brengs*k itu. Right?" tanya Gio lagi.
Jihan hanya diam. Ia tidak mengangguk. Namun, Gio langsung menghampiri kamar mandi dan menunggu Keanu keluar dari sana.
Bugh
"Aw."
Keanu meringis. Pukulan Gio sangat keras.
"Kakak," teriak Jihan. Ia terpaksa bangkit dari tempat tidur untuk menghalang apa yang dilakukan Gio. Padahal ia masih sangat lemah.
"Kakak, Jangan!"
"Dia brengs*k. Enak saja menyentuh adikku semaunya. Mana lagi yang sakit?" tanya Gio.
Jihan menggeleng. "Tidak, tidak apa. Ini tidak sakit."
"Jihan, kenapa kamu selalu melindunginya? Bahkan dia masih memiliki pacar," ucao Gio kesal.
"Tidak. aku tidak memiliki pacar. Aku sudah memutuskan wanita itu saat di Itali. Justru aku akan menikahi adikmu. Aku akan ikut ke Surabaya bersama kalian dan menikah di sana," ujar Keanu tegas.
"Apa?" tanya Jihan dan Gio bersamaan. Mereka terkejut.
"Aku juga akan ikut Jihan ke Lombok, karena kebetulan jadwal pertandingan awal musim ini akan diadakan di sana."
Jihan terbelalak. Gio pun tersenyum remeh, agar tak terlihat bahwa pria itu cukup mengagumi ke-gentle-an pembalap itu.
__ADS_1
Keputusan Keanu sudah bulat karena semua serba kebetulan. Mulai saat ini ia akan menentang semua keluarga yang menghalangi niatnya, termasuk Chintya. Ia akan tegas dengan wanita itu.