
Keanu dan Jihan, tampak kelelahan. Aktiftas kenikmatan surga dunia itu, telah mereka lakukan dari siang hingga menjelang malam.
Keanu sangat puas. Bahagianya tidak bisa digambarkan oleh apa pun. Saat ini bibirnya pun menyungging senyum sembari mengelus kepala istrinya yang sedang berada di pelukan. Jari keanu menelusuri pahatan nan cantik wajah sang istri. Hidung mancung, pipi mulus,dan bibir mungil, tak luput dari sentuhan jarinya yang mengusap bagian-bagian itu.
Gerakan tangan Keanu membuat Jihan terbangun. Perlahan, Jihan membuka mata dan tersenyum manis. Keanu pun membalas senyum itu.
“Lelah ya?”
Jihan mengangguk dengan bibir sengaja dikerutkan setelah sebelumnya tersenyum saat membuka mata. Ia mash kesal dengan sikap memaksa Keanu yang memintanya melanjutkan aktifitas itu hingga ketiga kali.
Keanu tersenyum melihat ekspresi itu. “Tapi suka kan?”
Jihan mengangguk. Namun, satu detik kemudian kepalanya menggeleng.
Keanu tertawa. “Jadi suka apa ngga? Kok kepalanya mengangguk tapi menggeleng.”
“Suka, tapi kalau kebanyakan badanku remuk, Kean.”
Keanu tertawa. “Nanti aku pijitin. Yang mana yang pegal?” tanya pria mesum itu dengan meraba tubuh Jihan yang masih dalam keadaan polos.
Jihan langsung menepiskan tangan itu dan memukulnya. “Jangan nakal”
Keanu masih tertawa. Lalu, Jihan mulai bangkit dan hendak membersihkan diri.
“Ah, ssss …” Jihan merintih merasakan bagian intinya yang sakit karena ulah sang suami yang tak memberinya jeda.
Keanu dengan sigap bangkit dari tempat tidur itu dan memakai boxernya. Ia menghampiri Jihan dan berjongkok di depan wanita itu yang sudah duduk di tepi tempat tidur. Jihan berusaha menempelkan kakinya ke lantai.
“Hei, jangan sok kuat! Pasti kamu ga bisa jalan karena aku gempur habis-habisan tadi.”
Jihan langsung mendorong dada Keanu, hingga tubuh pria itu terjatuh ke lantai. “Ish, iya. Ini semua karena kamu. Aww … Kean sakit banget.”
Jihan masih berusaha untuk menggesser tubuhnya dan berdiri sendii.
“Iya, ini semua karena aku. Makanya aku bertanggung jawab. Sini! Aku gendong.”
Jihan cemberut, tetapi kedua tangannya dibentangkan untuk meminta Keanu menggendongnya.
Hap
Keanu pun tersenyum dan menggendong tubuh itu ala bridal menuju kamar mandi dan mendudukkannya di marmer wastafel yang ada di dalam sana.
“Aku siapin air hangatnya ya,” ucap Kenu sebelum meninggalkan Jihan yang duduk bagai anak kecil dengan kaki menggantung.
Tangan Jihan menarik sebuah handuk di samping kepalanya. Lalu, menutupi tubuhnya yang polos.
“Kenapa ditutupi?” tanya Keanu menoleh
“Malu sama kamu,” jawab Jihan dengan pipi merona.
Keanu mendekati sang istri dan mencubit ujung hidungnya.ia berdiri lagi di depan Jihan. “Malu? Aku udah lihat, udah sentuh, dan udah cium semuanya. Masih malu?”
Keanu mengulang dengan mengecup bahu polos itu.
“Pasti gigitanmu ada di mana-mana.”
__ADS_1
Keanu mengangguk. “Tentu saja.”
Jihan kembali merengut dan membalikkan tubuhnya untuk melihat ke cermin yang ada di belakangnya. Bibirnya semakin monyong saat mendapati banyak tanda di sana.
Keanu hanya tertawa. Lalu, mengacak\=acak rambut Jihan karena gemas. Ia kembali mengisi air hangat di bath up sambil memesan makanan pada petugas hotel. Sepertinya ia tidak akan menginap satu malam saja, ia ingin lebih lama di sini, berduaan dan hanya bercinta, tanpa penganggu.
Di tempat lain, Kenan dan Hanin sampai di rumah Wiliam bersama Lastri.
“Hai, Ken.” Wiliam menyapa Kenan.
Kenan pun bersalaman dengan Wiliam. Kebetulan hari ini Wiliam hanya seorang diri di rumah itu. ia hanya di temani si mbok yang merapihkan dan memasak untuk mereka. sedangakn Gio tampak tak ada di rumah itu. Gio sedang mengurus urusannya sendiri.
“Sepi, di mana yang lain?” tanya Lastri pada Wiliam.
“Gio ada urusan, Jihan masih di rumah sakit,” jawab Wiliam tentang Jihan itu bohong dan Lastri pun tahu.
Lastri hanya berbasa-basi di depan Kenan.
Hanin mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru rumah saat ia memasuki rumah itu. ia brharap ada putranya di sana, tapi itu tidak mungkin. Jika terlihat Keanu berada di rumah ini, pasti Kenan akan marah besar.
“Aku dan istriku juga tidak lama. Kami hanya mengantar Lastri untuk terakhir kali. Dia sudah mengundurkan diri dan tidak lagi bekerja denganku. Apa kalian akan menikah?” tanya Kenan to the point membuat Wiliam terbatuk.
“Uhuk … Uhuk … Uhuk …”
“Apa sih, Tuan? Saya dan Pak Wiliam tidak menikah,” jawab Lastri malu.
“Kalau kalian menikah juga tidak apa. Sekalian untuk teman dihari tua,” jawab Hanin.
Wiliam terus menatap Lastri yang hanya tertunduk malu. Selama ini, Lastri memang belum mau membuka diri untuk Wiliam. Padahal semua masa lalu sudah lama terjadi, sudah terkubur dalam, dan Wiliam pun sudah meminta maaf dengan sungguh-sungguh. Tapi sepertinya Lastri masih enggan menerima pria itu, walau Jihan sudah meminta kepada sang ibu untuk bersatu.
Hanin pun mengikuti Lastri untuk masuk ke dalam.
“Bi, di mana kamar mereka?” tanya Hanin berbisik pada Lastri. Sungguh, ia rindu sekali putranya.
“Di atas, Jihan bilang, Den Keanu mendesaign kamarnya menjadi kamar pengantin.” Lastri mengajak Hanin menuju ke kamar Jihan.
Hanin tampak tersenyum saat melihat kamar yang masih terasa aura pengantin baru. Ranjang itu pun masih tersisa bunga-bunga yang bertaburan.
“Sayang aku tidak bisa bertemu mereka,” ucap Hanin sembari memeluk bantal itu.
“Maaf, Bu. Saya yang meminta Wiliam untuk menyuruh mereka pergi sementara.”
Hanin mengangguk. “Ya, tidak apa-apa.”
Tak lama mengantarkan Lastri ke rumah Wiliam, Hanin dan Kenan pun kembali pulang.
“Sayang, kita mampir ke hotel terdekat saja ya. Aku lelah kalau harus kembali ke Jakarta sekarang juga,” kata Kenan di dalam mobil sambil menggenggam tangan istrinya yang duduk dekat di sampingnya.
Hanin mengangguk. Ia menatap wajah lelah sang suami. “Ya, kita pulang besok pagi saja.”
Kenan meminta supir yang disiapkan asistennya itu menuju hotel mewah terdekat yang berada di jantung kota dengan menyuguhkan pemandangan kota yang menawan.
Di dalam kamar hotel, Jihan dan Keanu baru saja menghabiskan makan malam yang diantar petugas ke kamar itu. Tak cukup dengan makan malam, Jihan meminta Keanu untuk memesan burger.
“Habis ini, kamu mau makan apa lagi?” tanya Keanu yang senang melihat Jihan makan dengan lahap.
__ADS_1
Jihan tertawa dan menggleng. “Sudah cukup! Kalau seperti ini bisa-bisa badanku melar dalam satu bulan.”
Keanu ikut tertawa sembari duduk menemani istrinya di sofa. Keanu memeluk Jihan dari sangping sambil mengelus kepala itu.
“Apa mau aku belikan es krim?” tanya Keanu lagi. “Aku akan pesankan es krim di restoran bawah.”
“Hmm … kamu baik banget,” ucap Jihan senang sembari mengeratkan pelukan itu. Padahal ada maksud Keanu dibalik kebaikannya.
Keanu ikut mengeratkan pelukan itu. “Kamu harus mengisi banyak tenaga karena nanti malam, kita akan kembali menguras tenaga.”
“Apa? Lagi?” tanya Jihan membulatkan matanya.
“Tentu saja. Kita akan di sini selama satu minggu. Dan tidak keluar kamar.”
“Mengapa lama sekali? Mama papamu hanya datang malam ini,” ucap Jihan bingung.
“Ya, tapi aku ingin bercinta denganmu tanpa gangguan,” jawab Keanu mesum.
“Ish. Dasar!” jihan pun mendorong dada pria itu hingga menjauh dan Keanu tertawa.
Pria itu pun bangkit dari sofa menuju lobby.
“By, kita menginap di sini?” tanya Hanin pada suaminya yang langsung mengangguk.
Kenan menggiring sang istri untuk memasuki hotel itu dan berdiri di depan respsionis. Kenan mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru lobby saat resepsionis itu berbicara dengan istrinya.
Mata Kenan membulat saat ia melihat sosok yang ia kenal dan sedang ia cari.
“Keanu,” ucap Kenan yang langsung berlari menghampiri sang putra dan meninggalkan istrinya.
Keanu yang baru saja sampai di lobby pun melihat ke arah sang ayah yang berdiri di sana. “Ah, ****.”
Keanu langsung berlari menuju restoran. Kenan pun berlari mengikuti sang putra yang tengah menghindarinya.
“Ah, baru saja aku mau menginap satu minggu di sini,” gerutu Keanu sembari berlari.
Keanu dan Kenan kejar-kejaran. Bahkan mereka berkejaran di dalam dapur hotel.
“Abaikan saya,” ujar Keanu saat melintasi para koki yang sedang melakukan tugasnya.
“Stop, Pak. Kenan. Ini area dapur!” Seseorang menghalau tubuh Kenan yang hendak memasuki dapur seperti Keanu tadi.
“Tapi saya ingin mengejar putra saya yang lari ke arah sana,” ujar Kenan.
“Tidak bisa, Pak. Maaf.” petugas itu tetap menahan Kenan hingga akhirnya ia mengalah.
Kenan kembali menghampiri istrinya.
“Kamu ke mana aja sih, By?” tanya Hanin yang menunggu sang suami.
“Aku melihat anak nakal itu,” jawab Kenan dengan nafas terengah karena baru saja berlari cepat mengejar putra bungsunya yang nakal itu.
“Siapa?” tanya Hanin khawatir jika yang dimaksud Kenan adalah Keanu.
"Keanu. Siapa lagi anak nakal di keluarga kita kalau bukan putra kesayanganmu itu," jawab Kenan kesal.
__ADS_1
“Apa keanu bermalam di hotel ini juga?” tanya Hanin dalam hati. “Gawat.”