HASRAT CINTA PERTAMA

HASRAT CINTA PERTAMA
BAB 100. Balerina


__ADS_3

***Mansion Tatum***


Malam ini Mansion Tatum sangat meriah karena acara ulang tahun ke-80 Iko Tatum, kakek Billy diselenggarakan di sana.


Walaupun sekarang Perusahaan Tatum tidaklah berkembang pesat seperti Perusahaan Wijaya yang memiliki banyak anak perusahaan saat ini, tetapi banyak pengusaha angkatan Jackson Wijaya segan dan menghormati Iko Tatum.


Semua perusahaan yang mendapat undangan pasti datang untuk ikut serta meramaikan acara ulang tahun Iko.


Kali ini Dian datang bersama Stefan. Sejak mereka berdua tiba di sana, senyum kecil menghias di sudut bibir Stefan sepanjang waktu karena dirinya berhasil menjadi teman pendamping Dian ke acara malam ini.


"Selamat ulang tahun, Kakek Ito! Semoga panjang umur dan sehat selalu," ucap Dian.


"Terima kasih Dian," jawab Iko sambil tersenyum ramah.


"Selamat ulang tahun Tuan Iko! Saya mewakili Perusahaan Bramasta," ucap Stefan.


"Salam kenal CEO Stefan!" balas Iko.


"Kakek Iko! Aku pamit untuk bergabung bersama Billy dan Alisa," kata Dian.


"Kamu sudah seperti cucuku sendiri. Sering-seringlah bermain ke mansion seperti dulu," ucap Iko.


"Baik kakek Iko," jawab Dian.


Stefan mengikuti Dian berjalan menghampiri Billy dan Alisa. Sherina, Natasha, dan Leon sudah bergabung bersama mereka berdua.


"Dian. Perkenalkan Alisa, istriku!" ucap Billy.


"Dian!"


"Alisa!"


Kedua gadis muda itu saling berjabat tangan sambil tersenyum satu sama lain. Sementara Billy dan Stefan saling menyapa dengan anggukan kepala.


Sejak Stefan menyelamatkan nyawa Dian dari tabrakan mobil, Billy sudah tahu Stefan sangat menyukai Dian dan rela mengorbankan nyawanya untuk gadis muda itu.


Keinginan utama Billy adalah Dian hidup bahagia. Jika Stefan bisa membuat Dian bahagia dan gadis muda itu mau menerima Stefan lagi, Billy bersedia mengundurkan diri.


Perjalanan singkatnya ke Jepang dan pertemuan dengan Alisa membuat kehidupan Billy memasuki babak baru yang berbeda. Alisa berhasil membuat Billy melupakan hasrat cinta pertamanya terhadap Dian secara perlahan dan pasti.


Dian tetap akan menjadi teman baik Billy, seperti Sherina, Natasha, Dion, dan Leon. Rasa cinta terhadap Dian sebagai lawan jenis sudah berubah menjadi rasa sayang terhadap teman.


Keinginan Billy sekarang adalah membina rumah tangga yang harmonis dengan Alisa. Billy bertekad dalam hatinya untuk belajar mencintai Alisa karena gadis muda itu yang akan menemaninya hingga akhir hayat.


"Selamat atas pernikahan kalian berdua di Jepang. Kapan resepsi di Bali?" tanya Dian.


"Dua minggu lagi," jawab Billy.


"Aku akan menyiapkan hadiah yang bagus untuk Alisa," kata Dian.


"Billy! Tidak kusangka resepsi pernikahanmu lebih cepat dibandingkan Kak Rina," ucap Leon spontan.


"Oh iya. Aku juga belum tahu kapan resepsi Kak Rina dan Kak Chandra," ucap Dian.


Chandra dan Sherina yang mengurus sendiri semua persiapan untuk pernikahan mereka berdua. Dari pemotretan pre-wedding, baju pengantin, dan lainnya.

__ADS_1


Keluarga Wijaya dan Keluarga Saputra memberikan kebebasan sepenuhnya kepada mereka berdua karena mereka lah yang akan menjadi sepasang suami istri nantinya sehingga Dian pun tidak tahu tanggal pasti pernikahan Chandra dan Sherina dilaksanakan.


"Setengah tahun lagi," jawab Sherina dengan pasti.


"Setengah tahun lagi? Mungkin pekerjaan Kak Chandra sangat banyak sehingga tidak bisa cuti sekarang," batin Dian.


Dian tidak menyadari wajah Natasha merona merah saat mendengar jawaban Sherina. Natasha melirik sekilas ke arah Kelvin yang sedang berdiri tidak jauh dari mereka dan berbincang dengan Chandra.


***


Suara alunan musik yang merdu membuat mereka semua mengalihkan perhatian ke atas panggung yang dibangun di tengah ruangan. Di sana ada beberapa musisi muda memainkan alat musik di tangan mereka masing-masing.


"Kakek mengundang musisi dan penari muda untuk memeriahkan acara ulang tahunnya," kata Billy.


"Ayo kita nikmati pertunjukkannya," ajak Sherina dengan bersemangat.


Chandra dan Kelvin sudah bergabung bersama mereka. Chandra berdiri di samping Sherina, sedangkan Kelvin berdiri di samping Natasha sambil menatap gadis muda itu dengan tatapan lembut.


"Fan! Aku baru sadar kak Kelvin dan Tasha sangat serasi," kata Dian.


"Iya," jawab Stefan.


Perhatian Dian dan para tamu undangan fokus dengan pertunjukkan di atas panggung. Mereka tidak menyadari Chandra, Kelvin, dan Stefan saling memberi isyarat mata satu sama lain.


Ketiga pria itu mengedarkan pandangannya di sekeliling mansion dengan waspada. Bahkan beberapa bodyguard, anak buah Bagaskara dan juga bodyguard yang disewa Stefan membaurkan diri ke dalam kerumunan tamu undangan.


Suara musik yang dimainkan semakin ceria. Beberapa penyanyi dan penari keluar satu demi satu untuk tampil sehingga semakin menarik perhatian semua orang.


Beberapa saat kemudian jenis musik yang dimainkan berubah menjadi alunan musik klasik. Lima orang penari berpakaian balet menari dengan indah.


Dian menoleh ke arah Stefan yang sedang menatap intens dirinya dari samping serta mengacuhkan tatapan mesra dari sang balerina yaitu Gisel.


Gisel sengaja bergabung dengan para penari yang bertugas menghibur di acara ulang tahun Iko Tatum karena Gisel yakin Stefan akan menghadiri acara ini.


Gisel ingin mempersembahkan tarian baletnya yang sempurna ke Stefan, dengan harapan pria muda itu akan mengingat kembali awal mula hubungan mereka menjadi dekat.


Pada saat itu Stefan tertarik dan tertegun serta menatap lama tarian balet Gisel. Mulai saat itulah Gisel menjadi pacar Stefan sehingga gadis muka tembok itu yakin dirinya adalah cinta pertama Stefan dan pastinya bisa merebut kembali hati pria muda itu.


Gisel tidak mau kembali ke kehidupannya saat ini menjadi istri kelima dari kakek tua hidung belang.


***


Satu tarian berakhir dan Gisel merasakan kekecewaan yang mendalam. Stefan sama sekali tidak menatap ke arahnya satu detik pun, tetapi Gisel tidak mau menyerah karena ini merupakan kesempatan terakhirnya.


Gisel mengambil mikrofon yang terpasang di depan alat musik. Para musisi dan penari lainnya menatap bingung ke Gisel.


"Aku ucapkan selamat ulang tahun untuk Tuan Iko Tatum. Semoga panjang umur dan bahagia selalu!" kata Gisel.


Suara tepuk tangan meriah dari para tamu undangan karena mereka mengira ucapan selamat dari Gisel merupakan bagian pertunjukkan.


Tentu saja rombongan Chandra tidak ikut serta bertepuk tangan. Mereka menatap tajam ke arah Gisel dan berfirasat gadis tidak tahu malu itu akan mencari masalah dengan Dian.


"Aku mengundang nona Dian Wijaya untuk mempersembahkan pertunjukkan balet bersamaku," lanjut Gisel.


Dian hanya tersenyum kecil serta mengacuhkan permintaan Gisel.

__ADS_1


"Nona Dian Wijaya memiliki status terhormat. Apakah tidak bersedia menari sebagai ucapan selamat ke Tuan Iko Tatum?" tanya Gisel sekali lagi.


Stefan menggenggam tangan Dian secara spontan. "Dian! Tidak usah pedulikan wanita gila itu! Bodyguard akan menyeretnya keluar!" ucap Stefan dengan suara keras.


Wajah Gisel menjadi pucat mendengar ancaman Stefan. Gisel tidak menyangka Stefan sangat melindungi Dian.


Stefan tidak mau Dian masuk ke dalam perangkap Gisel dan dipermalukan dalam acara ini.


Semula Stefan, Chandra, dan Kelvin sudah tahu Gisel menjadi penari di dalam acara ulang tahun malam ini.


Mereka bertiga sudah mempersiapkan bodyguard untuk melindungi Dian. Hanya saja mereka tidak menyangka Gisel bisa mengajukan permintaan bodoh agar Dian menari balet bersamanya.


Dian menepuk punggung tangan Stefam dengan tangan kirinya,lalu melepaskan tangan kanannya dari genggaman Stefan.


Dian menekuk kaki dan melepaskan sepatu high heels nya satu persatu dengan tenang. Rombongan Chandra sudah tahu apa yang akan dilakukan oleh Dian sebentar lagi. Hanya Stefan seorang saja yang masih menatap Dian dengan bingung.


Stefan berfirasat Dian akan menerima tantangan Gisel dan hati kecilnya berkata Dian pasti menang.


"Fan! Tolong jaga sepatu high heels ku!" ucap Dian sebelum berjalan ke atas panggung.


Gisel berjalan mundur ke belakang beberapa langkah saat merasakan aura intimidasi dari Dian. Dian mengambil mikrofon dari tangan Gisel dan memasangkannya kembali ke tempat semula.


"Kamu tidak pantas menari bersamaku! Turun!" perintah Dian.


Dua bodyguard anak buah Bagaskara bergegas naik ke atas panggung dan menarik paksa Gisel turun dari sana.


Dian menoleh ke arah para musisi dan tersenyum ramah. Para musisi terhipnotis dengan senyuman Dian dan memainkan musik klasik dengan alat musik masing-masing, seolah-olah mereka mengerti perintah Dian dari senyuman gadis muda itu.


Dian memulai tarian baletnya dengan indah dan percaya diri. Jari kakinya sangat lentur dan berjinjit mengikuti irama musik klasik, hingga di penghujung musik, Dian melakukan 32 putaran fouettés dengan sempurna.


##Putaran fouettés adalah suatu gerakan yang dilakukan seorang penari dengan posisi berdiri dengan satu kaki rata di atas lantai dan ditekukkan. Kaki kedua kemudian dilemparkan ke samping sehingga membuat suatu putaran. Lemparan ini mengakibatkan tubuh berputar satu kali. Kaki yang dilemparkan ini kemudian segera ditaruh di lutut (retire) sembari kaki yang lain menjinjit en pointe. Kemampuan untuk melakukan putaran ini sebanyak 32 kali dipandang sebagai indikasi akan keahlian dari seorang balerina dan menunjukkan kekuatan, keahlian teknik dan stamina##


Suara tepuk tangan meriah dari para tamu undangan menggema di dalam Mansion Tatum, sedangkan Gisel melotot dengan tatapan tidak percaya bahwa Dian bisa menari balet dengan profesional, bahkan melebihi pertunjukkan baletnya tadi.


Sementara Stefan berdiri mematung di tempatnya. Bayangan tarian balet Dian berulang terus menerus di pelupuk matanya. Tarian balet Dian mengingatkan Stefan akan gadis kecil berpakaian balerina yang ditemuinya di Restoran Hartono.


"Princess!" gumam Stefan.


Saat ini ingatan puluhan tahun yang lalu muncul kembali dengan lebih jelas. Stefan mengingat gadis kecil itu mempunyai dua kakak laki-laki kembar dan mereka selalu memanggil gadis kecil itu dengan panggilan princess.


Stefan pernah mendengar Billy dan Leon memanggil Dian dengan panggilan princess. Semua kilas balik ingatan itu muncul bersamaan di dalam pikiran Stefan hingga akhirnya pria muda itu sadar dan yakin akan pemikirannya saat ini.


"Dian dan gadis kecil itu orang yang sama," batin Stefan.


***


Selamat malam readers tercinta. Yeay...ada readers yang berhasil menebak permintaan Kelvin🥰


Bab ini sudah lebih dari satu setengah bab ya readers. Mohon maaf kelanjutannya besok ya 🙏


Bukan maksud author untuk menggantung seperti jemuran lagi 😅🙏, tetapi sudah terlalu malam gak bisa lanjut ketik lagi serta mata author sudah berkunang-kunang 😅🙏


TERIMA KASIH PENGERTIANNYA


SALAM SAYANG

__ADS_1


AUTHOR : LYTIE


__ADS_2