
***Di dalam mobil porsche putih Dian***
Dian mengemudikan mobilnya menuju Perusahaan Jayanata. Setelah meninggalkan Butik Raisa, Dian dan Sherina makan siang di restoran terdekat. Suasana hati mereka berdua tidak terganggu oleh kemunculan Anastasia dan Gisel.
Sherina tertawa kecil membaca sms yang dikirim oleh manajer Butik Raisa.
"Dian. Nona sombong itu meminta bantuan abangnya untuk membayar," kata Sherina.
"He he he. Sesuai dengan dugaanku. Sia gak punya uang sekarang karena hukuman kakeknya," ucap Dian tertawa kecil sambil fokus menyetir.
"Keris antiknya kamu mau simpan terus?" tanya Sherina.
Pertanyaan Sherina membuat Dian teringat akan perkataan Stefan di restoran waktu itu. Setelah pertemuan itu, Stefan tidak pernah mengungkit lagi masalah keris antik.
Bahkan kedatangan dadakan Stefan ke apartemennya juga tidak berhubungan dengan keris itu.
"Dua minggu lagi aku kembalikan kerisnya jika mereka tidak membuat masalah lagi," jawab Dian setelah berpikir matang.
Dian tidak ingin gara-gara keris antik, dirinya masih harus berhubungan dengan anggota keluarga Bramasta.
"Iya. Jual keris itu dengan harga dua kali lipat agar mereka mendapat pelajaran berharga," usul Sherina.
"Tentu saja, Kak Rina. Aku tidak akan melakukan transaksi rugi," jawab Dian.
Handphone Dian yang terpasang di dashboard mobil berbunyi. Mereka berdua tersenyum kecil melihat nama Tasha di layar handphone. Dian pun menekan tombol speaker agar Sherina juga bisa berbicara dengan Natasha.
"Halo Tasha. Aku sama Kak Rina nih," sapa Dian.
"Dian. Kamu dan Rina tiba di tempat acara jam lima, bisa?" tanya Natasha.
"Bisa sih. Nanti aku permisi sama Kak Chandra," jawab Dian.
"Tasha. Kenapa kita berdua jam lima ke sana? Bantu angkat-angkat kursi tamu?" tanya Sherina seraya bercanda.
"Aku sudah sediain dua gaun untuk kalian berdua. Kalian kan pemilik label busana 'Tasha' juga. Jadi harus tampil di panggung bersamaku," jawab Natasha.
"Baiklah. Kita pasti sudah berada di sana jam lima," jawab Dian dengan yakin.
"Oke. See you both soon," ucap Natasha.
"See you soon," kata Dian dan Sherina bersamaan.
Di antara semua teman dekat Dian, Natasha satu-satunya yang tidak memiliki latar belakang keluarga kaya. Gadis muda itu dibesarkan oleh ibu yang bekerja sebagai pegawai kantoran biasa.
Sejak kecil Natasha sangat mandiri dan mengejar cita-citanya sebagai desainer. Gadis muda itu berhasil dan bisa menjual hasil desainnya dalam label busana 'Tasha' lima tahun yang lalu.
__ADS_1
Sherina dan Dian ikut serta memberikan bantuan modal sebagai dukungan terhadap Natasha ketika gadis muda itu memulai usahanya.
Mereka berdua tidak menyangka niat baik itu membuat mereka menjadi pemilik label busana 'Tasha" secara tidak langsung.
Walaupun secara keseluruhan dan operasional dijalankan sepenuhnya oleh Natasha, tetapi setiap tahun Natasha akan mengirimkan keuntungan yang didapatkan ke Sherina dan Dian.
Malam ini merupakan acara yang sangat penting untuk Natasha. Tentu saja Sherina dan Dian tidak menolak permintaan Natasha.
***Perusahaan Jayanata***
"Wakil CEO Dian. Ada kiriman dari Butik Raisa untuk anda!" kata David saat melihat Dian dan Sherina melewati meja kerjanya, yang berada di luar ruang kerja Dian.
"Butik Raisa? Untuk aku?" tanya Dian dengan wajah bingung.
Sherina pun mempunyai ekspresi sama dengan Dian. Kedua gadis muda itu melihat enam paper bag logo 'Raisa' tersusun rapi di samping meja kerja David.
Sherina segera membuka salah satu paper bag untuk melihat isinya. "Dian! Ini baju yang kamu pilih tadi," kata Sherina.
"David. Siapa yang kirim?" tanya Dian untuk kepastian.
"Pegawai Butik Raisa," jawab Dian.
"Aku telepon butik saja," ujar Sherina.
***
"Dian. Sekretaris Stefan membayar semua pakaian ini dan meminta dikirim untukmu, atas perintah Stefan," kata Sherina.
"David. Tolong antar semua pakaian ini ke Perusahaan Bramasta!" perintah Dian.
"Baik, wakil CEO Dian!" jawab David.
Sherina dan Dian masuk ke ruang kerja Dian. Sherina akan menunggu Dian selesai bekerja dan berangkat bersama menuju tempat private fashion show Natasha.
***Perusahaan Bramasta***
Wajah Luis tegang melihat ke enam paper bag yang dikembalikan oleh David. Luis segera melaporkan hal itu ke Stefan.
"Pak Stefan. Nona Dian mengembalikan semua pakaian yang diantar oleh Butik Raisa," kata Luis dengan hati-hati.
Wajah Stefan muram seketika. Luis merasa terintimidasi dengan aura dingin yang memancar dari tubuh Stefan.
"Bagaimana dengan semua pakaian itu, pak Stefan?" tanya Luis.
"Kasih Sia saja," jawab Stefan singkat.
__ADS_1
"Baik pak Stefan," ucap Luis.
***Mansion Bramasta***
Luis menitipkan semua paper bag itu ke Pak Eko, kepala pelayan mansion, lalu meninggalkan Mansion Bramasta tanpa bertemu Anastasia dengan alasan Stefan membutuhkannya di kantor.
Luis tidak ingin dirinya menjadi samsak pelampiasan kemarahan nona muda yang sombong itu. Pak Eko dan dua pelayan mansion mengantarkan semua paper bag itu ke kamar Anastasia.
Gisel berada di kamar Anastasia untuk membantu adik manja itu memilih gaun yang akan dipakai nanti malam. Mereka mencoba memadukan gaun lama Anastasia dengan aksesoris yang lain agar penampilan gaun itu terkesan baru.
Mata Anastasia melotot seketika melihat semua paper bag Butik Raisa yang muncul di hadapannya saat ini. Suasana hatinya yang baru saja membaik sedikit menjadi semakin buruk.
Anastasia melempar semua paper bag itu dengan keras ke lantai kamar sambil mengumpat. "Apa maksudnya kak Stefan? Dian tidak mau baru diberikan padaku! Emangnya pemulung, pungut barang bekas Dian!" pekik Anastasia histeris.
Pak Eko dan dua pelayan mansion bergegas meninggalkan kamar Anastasia untuk menghindari amukan nona manja itu.
Gisel pun berusaha menahan kebencian dan gelombang amarah di dalam hatinya. Gisel mencoba membujuk Anastasia dengan suara lembut.
"Tenang, Sia. Dian pasti sengaja mengembalikan pakaian ini agar kamu marah dan hubunganmu dengan Stefan memburuk. Kamu tidak boleh terpancing oleh hasutannya," kata Gisel.
"Iya, benar. Aku tidak boleh masuk jebakan Dian lagi," jawab Anastasia.
"Lagi pula gaun baru ini kita pakai untuk private fashion show malam ini. Dian tidak akan tahu karena dia tidak mendapatkan kartu undangan masuk ke sana," lanjut Gisel.
Keberhasilan Natasha di New York Fashion Week, Las Vegas beberapa waktu yang lalu membuat banyak orang tertarik menghadiri private fashion show malam ini.
Walaupun begitu, Natasha membatasi jumlah tamu undangan sebanyak lima puluh orang saja dan harus menggunakan kartu undangan.
Natasha yang mengirim secara pribadi semua kartu undangan itu. Majalah Sunshine termasuk satu-satunya majalah yang diundang oleh Natasha untuk dokumentasi acara secara eksklusif.
Semua teman sosialita Anastasia tidak mendapatkan kartu undangan. Bahkan Anastasia sudah meminta bantuan Rizky untuk mencarikan kartu undangan, tetapi Rizky menolaknya.
Sejak acara jamuan makan malam Perusahaan Alpha, Rizky menjaga jarak dengan Anastasia lagi karena tidak ingin terjebak dalam masalah lagi akibat kebodohan Anastasia.
Anastasia sangat senang ketika Gisel mengajaknya ke private fashion show malam ini. Gadis manja itu akan memposting foto dirinya berada di dalam acara itu ke media sosial agar teman sosialita merasa iri terhadapnya.
Gisel pun mendapatkan dua kartu undangan itu susah payah dengan menggunakan koneksinya dan tentu saja bayaran yang tinggi. Semua dilakukan oleh Gisel untuk menyenangkan hati Anastasia agar memudahkannya menjadi bagian keluarga Bramasta nantinya.
***
Selamat siang readers. Bab malam acara private fashion show. Besok identitas Dian terungkap ya🤗
TERIMA KASIH
SALAM SAYANG
__ADS_1
AUTHOR : LYTIE