
***Ruang meeting Perusahaan Bramasta***
"Apa yang telah kalian tanda tangani tadi?" tanya Adi tanpa basa-basi ke para pemegang saham lama.
Mereka semua masih berada di ruang meeting setelah Stefan dan lainnya sudah pergi, beberapa waktu yang lalu.
"Maaf tuan Adi. Kita terpaksa menandatanganinya."
"Iya. Demi kebaikan dan kemajuan Perusahaan Bramasta, kita harus menyetujui permintaan CEO Stefan!"
"Kita sudah tua dan ingin menghabiskan mas pensiun dalam waktu dekat dengan tenang."
Para pemegang saham lama berusaha membela diri dan menyatakan alasan mereka ke Adi. Hal itu membuat Adi semakin marah dan kesal.
"Kalian mengkhianatiku?" tanya Adi dengan suara keras.
"Bukan begitu, Tuan Adi. Kita hanya menyetujui surat pengunduran diri Tuan Adi dari jabatan ketua direksi!" jawab salah satu pemegang saham lama.
"Apa?" pekik Adi sambil memegang dadanya yang terasa sakit.
"Tuan Adi tetaplah kakek kandung CEO Stefan. Kita yakin CEO Stefan hanya ingin Tuan Adi tidak ikut campur tangan lagi di Perusahaan Bramasta dan menikmati hari tua di mansion," jawab pemegang saham lainnya.
"Keterlaluan! Kalian semua keterlaluan!" teriak Adi sambil menekan-nekan tongkatnya di lantai dengan keras.
"Maaf Tuan Adi. Kita pamit dulu karena masih ada pekerjaan lain."
Para pemegang saham lama meninggalkan ruang meeting dengan cepat. Mereka tidak mau menjadi sasaran kemarahan Adi.
Sementara Laura dan Anastasia menyingkir ke pojok ruangan. Mereka tidak berani meninggalkan Adi sendirian karena takut pria tua itu akan pingsan mendadak karena emosinya yang memuncak.
***
Beberapa saat kemudian, Luis dan sopir pribadi Adi masuk ke dalam ruang meeting.
"Tuan Adi! CEO Stefan menugaskan ku untuk mengantar Tuan Adi, Nyonya Laura, dan Nona Anastasia pulang ke Mansion Bramasta!" ucap Luis dengan sopan.
"Aku mau bertemu Stefan!" kata Adi.
__ADS_1
"Baiklah," jawab Luis.
***Ruang kerja Stefan di Perusahaan Bramasta***
Adi duduk di hadapan Stefan sambil melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap tajam Stefan, sedangkan Laura dan Anastasia berdiri di sisi kiri dan kanan Adi. Mereka berdua ingin meminta maaf kepada Stefan.
Stefan duduk dengan tenang serta tidak terintimidasi oleh sikap Adi. Keadaan Adi sekarang tidak bisa menjadi ancaman lagi bagi Stefan. Pria tua di hadapannya sudah kehilangan segala kekuasaan karena ketamakan dan juga sikap arogan nya.
Adi bagaikan harimau yang sudah kehilangan gigi taring dan cakar tajamnya sehingga menjadi lemah.
"Fan! Aku ini kakek kandungmu!" ujar Adi.
Stefan mengerti maksud perkataan Adi. Adi menyalahkannya karena membuat pria tua itu kehilangan jabatan sebagai ketua direksi Perusahaan Bramasta.
"Justru karena kamu kakek kandung ku, maka aku tidak mengusirmu dari Mansion Bramasta!" jawab Stefan dengan nada datar.
"Cucu kurang ajar!" teriak Adi sambil memegang dadanya. Kali ini disertai napas yang tersengal-sengal.
"Kakek harus mengerti, semua ini terjadi karena kesalahan kakek sendiri. Kakek yang ingin melengserkan ku dari jabatan CEO Perusahaan Bramasta. Aku hanya mengikuti cara kakek saja," jelas Stefan, tanpa merasa bersalah.
"Mulai hari ini Mansion Bramasta menjadi tempat tinggal kakek hingga akhir hayat kakek. Aku akan pindah dari sana. Pak Eko dan dua pelayan akan menjaga kakek dengan baik di mansion," lanjut Stefan.
Wajah Adi, Laura, dan Anastasia menjadi pucat karena perkataan Stefan. Mereka tidak menyangka Stefan mengambil keputusan yang ekstrem. "Kamu.. kamu mau memutuskan hubungan keluarga?" tanya Adi dengan terbata-bata.
Bagaimanapun juga Stefan adalah satu-satunya penerus keturunan Bramasta yang bisa diandalkan dan Adi mengharapkan Stefan tinggal bersamanya. Keputusan Stefan untuk pindah membuat Adi syok berat.
Sementara Stefan memiliki pemikiran yang lain. Stefan tahu Dian mempunyai kenangan yang buruk di Mansion Bramasta. Selain itu Stefan tidak yakin Adi, Laura, dan Anastasia akan mengubah sifat jelek mereka dengan mudah.
Stefan lebih memilih hidup bersama Dian di tempat lain dari pada kehilangan Dian untuk kedua kalinya karena ulah keluarga Bramasta. Kali ini Stefan ingin bersikap lebih egois, demi kebahagiaannya sendiri.
"Lebih baik aku meninggalkan Mansion Bramasta agar kakek tidak merasa kesal dan marah terus menerus karena melihatku setiap hari," jawab Stefan.
"Terserah kamu saja!" kata Adi sambil menghela napas panjang. Sikap angkuh dan harga diri yang tinggi membuat Adi tidak mau memohon agar Stefan tetap tinggal di Mansion Bramasta bersamanya.
Adi berdiri dari kursi dan berjalan perlahan menggunakan tongkat, meninggalkan ruang kerja Stefan.
***
__ADS_1
"Fan! Bagaimana aku dan Sia bisa hidup tanpa uang jajan?" tanya Laura panik, setelah Adi pergi.
"Benar kata mama," ucap Anastasia dengan wajah pucat.
"Kalian bisa ikut ayah tinggal di pedalaman atau kalian berdua cari uang dengan bekerja," jawab Stefan dengan tegas.
"Ma! Aku tidak mau tinggal bersama ayah. Lihat kulitku jadi gelap dan kasar," rengek Anastasia sambil menangis.
"Berarti kalian harus mencari pekerjaan untuk mendapatkan uang. Aku akan mengirim dua bodyguard mengawasi kalian. Jika kalian menggunakan nama Bramasta untuk mendapatkan pekerjaan itu, aku akan mengirim kalian ke tempat ayah dan jangan harap kalian bisa kembali ke Bali lagi!" ancam Stefan.
Kemewahan yang dirasakan Laura dan Anastasia selama ini sudah membuat mereka berdua semakin sombong dan memandang rendah orang lain sehingga Stefan ingin memberi pelajaran kepada mereka berdua.
Apakah mereka berdua bisa sadar atau tidak, Stefan tidak peduli lagi.
"Luis! Antar mereka berdua keluar. Mulai saat ini mereka tidak boleh menginjakkan kaki di Perusahaan Bramasta!" perintah Stefan.
"Baik CEO Stefan!" jawab Luis dengan patuh.
Laura dan Anastasia berjalan keluar dari ruang kantor Stefan dengan lesu. Mereka berdua sedang memikirkan pekerjaan apa yang bisa menghasilkan uang sebesar uang jajan yang diberikan oleh Stefan setiap bulan.
Padahal mereka berdua sama sekali tidak pernah bekerja. Semua kebutuhan mereka selalu dipersiapkan oleh para pelayan mansion, tetapi sekarang pelayan mansion hanya tinggal dua dan Pak Eko. Tugas mereka bertiga melayani Adi Bramasta seorang saja.
Laura dan Anastasia tidak bisa membayangkan kehidupan sebagai pembantu yang akan menghantui mereka mulai saat ini. Mereka berdua harus memasak, menyuci, dan membersihkan kamar sendiri.
Mereka berdua tahu Stefan sengaja membalas perlakuan jahat mereka terhadap Dian. Semua hal yang pernah mereka berdua paksa Dian lakukan, sekarang menjadi bumerang yang memantul dan mengenai mereka sendiri.
Mereka tidak bisa mengubah nasib yang sudah diatur oleh Stefan. Bahkan Adi Bramasta pun telah menjadi kakek tua yang lemah dan tanpa kekuasaan lagi.
***
Selamat siang readers tercinta. Kelanjutannya besok ya, tinggal beberapa bab lagi sudah mau tamat🥰🥰.
Rencana mau nambah bonus chapter Dion-Vivian dan masa kecil Dian, setelah tamat novelnya. Semoga lancar ya 🤗
TERIMA KASIH
SAMPAI JUMPA BESOK
__ADS_1
SALAM SAYANG
AUTHOR : LYTIE