HASRAT CINTA PERTAMA

HASRAT CINTA PERTAMA
BAB 42. Tim khusus proyek AI


__ADS_3

***Ruang kantor Dian di Perusahaan Jayanata***


Terdengar suara ketukan pintu dari luar ruangan sehingga Dian menghentikan kegiatan membaca dokumen. Gadis muda itu melihat jam di pergelangan tangannya.


"Masuk!" perintah Dian.


David dan Erik berjalan menghampiri meja kerja Dian. Dian berdiri dari kursi dan mengulurkan tangan kanan ke Erik.


"Selamat datang CEO Erik!" sapa Dian.


"Senang bertemu wakil CEO Dian!" balas Erik sambil menjabat tangan Dian.


"Silakan duduk!" ucap Dian.


Erik duduk dihadapan Dian, sedangkan David berdiri di samping Dian.


"Wakil CEO Dian. Saya membawa proposal kerja sama untuk Proyek AI," kata Erik dan memberikan tiga dokumen file ke Dian.


Dian membuka salah satu dokumen dan membacanya dengan saksama.


"Saya sudah menambahkan poin yang diinginkan wakil CEO Dian semalam. Modal investasi Perusahaan Jayanata dan Bramasta sama besar. Keuntungan yang diperoleh di masa yang akan datang akan dibagi rata," kata Erik.


Dian mengangguk dan tersenyum puas dengan perkataan Erik. Beberapa saat kemudian Dian membubuhkan tanda tangan di dokumen file yang sudah selesai dibaca.


Dian juga membubuhkan tanda tangan di dua dokumen file lainnya. Di ketiga dokumen itu sudah ada tanda tangan Erik dan Stefan.


Dian menyerahkan ketiga dokumen itu ke Erik. Erik membuka salah satunya untuk memeriksa ulang agar tidak ada kesalahan di kemudian hari.


"Wakil CEO Dian. Selamat bergabung dengan Perusahaan Alpha," ucap Erik sambil menyerahkan salah satu dokumen itu ke Dian.


"Senang bekerja sama dengan CEO Erik," jawab Dian dan menerima dokumen itu, lalu memberikannya ke David untuk proses pelaporan ke Perusahaan Jayanata.


Erik melirik sekilas ke majalah Kiss dan Sunshine yang berada di atas meja Dian.


"Wakil CEO Dian suka membaca kedua majalah ini?" tanya Erik.


"Hot gosip di dalamnya lumayan menarik. Saya yakin CEO Erik sudah membacanya juga," jawab Dian.

__ADS_1


"Saya hanya membaca sekilas saja sewaktu berada di ruang kamtor Stefan tadi pagi. Kabarnya masih ada visual dari rekaman cctv yang menyebar di internet dan tidak bisa dihapus. Saham Perusahaan Bramasta terguncang karena hal ini," ucap Erik.


Sesuai dugaan Dian, pagi tadi Erik pasti ke Perusahaan Bramasta mencari Stefan terlebih dahulu untuk menandatangani proposal kerja sama, kemudian ke Perusahaan Jayanata menemuinya.


"Kak Chandra is the best!" batin Dian.


"Nona Sia pasti menyinggung banyak orang di luar sehingga mendapatkan pembalasan yang setimpal," ujar Dian sambil tersenyum lebar.


"Benar sekali perkataan wakil CEO Dian," ucap Erik.


Semua orang yang hadir di jamuan makan malam semalam tahu jelas Anastasia menyinggung siapa sehingga menyebabkan kesialan hari ini.


"Dua minggu ini saya akan stand by di Perusahaan Alpha. Kapan wakil CEO Dian bisa datang inspeksi?" tanya Erik dengan ramah.


"Saya akan memeriksa jadwal kerja dengan sekretaris terlebih dahulu. Nanti David yang akan menghubungi CEO Erik secara langsung," jawab Dian.


"Baiklah wakil CEO Dian. Saya pamit dulu," kata Erik dan berdiri dari kursi.


"David. Tolong antar CEO Erik!" perintah Dian.


Dian melanjutkan pekerjaannya setelah Erik pergi. Gadis muda itu memeriksa ulang dokumen yang diserahkan David beberapa waktu yang lalu.


Kecakapan kerja David tidak diragukan lagi. Tidak mengherankan David bisa menjadi sekretaris pribadi Chandra dalam waktu yang lama.


***Ruang meeting Perusahaan Jayanata***


Para pemegang saham maupun kepala departemen yang hadir di ruang meeting terlihat sangat bersemangat. Mereka sudah mengetahui Proyek AI akan dijalankan secara bersama oleh Perusahaan Jayanata dan Bramasta.


"Saya yakin kalian semua sudah mengetahui kabar baik mengenai kerja sama dengan Perusahaan Alpha dan Bramasta di masa yang akan datang mengenai proyek AI. Oleh karena itu, saya sudah membentuk tim khusus yang terlibat dalam proyek AI. Daftar nama sudah ada di dalam dokumen ini. David akan mengirim datanya ke email perusahaan secepatnya," kata Dian.


"Proyek AI termasuk proyek baru yang belum pernah dikembangkan perusahaan lain. Saya harap kalian semua mendukung Dian dalam menjalankan proyek ini," ucap Chandra, yang sedari tadi duduk tenang mendengar penjelasan Dian.


"Baik CEO Chandra," jawab serentak semua orang yang berada di ruang meeting.


"Meeting selesai! Dian ikut ke ruang kantorku," ucap Chandra.


Chandra dan Dian meninggalkan ruang meeting dengan cepat. Sementara para peserta meeting memeriksa email perusahaan untuk mencari tahu apakah mereka termasuk dalam daftar nama tim khusus proyek AI.

__ADS_1


***


Dian berjalan kembali ke ruang kerja setelah berdiskusi dengan Chandra mengenai proyek AI. Chandra memberikan beberapa masukan kepada Dian sehingga suasana hati gadis muda itu sangat gembira dan yakin proyek pertama yang dikerjakan olehnya pasti akan berhasil.


Senyuman tipis di wajah Dian menghilang seketika saat melihat Anggi duduk di hadapan meja kerja David, yang terletak di luar pintu ruang kantor Dian.


Terlihat jelas Anggi sudah menunggunya dalam waktu yang lama. Dian sengaja mengacuhkan Anggi dan berjalan masuk ke dalam ruang kantor.


Anggi dengan tidak tahu malu nya mengikuti Dian dari belakang. David pun ikut masuk karena tidak ingin Anggi membuat keributan di ruang kerja Dian.


"Kenapa manajer Anggi sesuka hati masuk tanpa persetujuan wakil CEO Dian?" tanya David dan berdiri menghadang di hadapan Anggi.


"Wakil CEO Dian sudah melihatku di luar sana dan tahu aku mencarinya," jawab Anggi dan berlari kecil melewati David hingga berhenti tepat di hadapan meja kerja Dian.


Dian melipat kedua tangan di depan dada dan bersandar santai di kursi.


"Ada apa manajer Anggi?" tanya Dian dengan wajah tanpa ekspresi.


"Wakil CEO Dian. Kenapa tidak ada namaku di dalam tim khusus proyek AI?" tanya Anggi dengan antusias.


Proyek inti dan bagus ini merupakan peluang untuk menghasilkan uang. Tentu saja Anggi ingin terlibat di dalamnya.


"Jika ratusan karyawan yang tidak ada namanya di dalam daftar datang menerobos masuk ke kantorku untuk mempertanyakan hal yang sama. Apakah saya harus memberikan jawaban kepada mereka satu persatu?" tanya Dian.


"Pengalamanku dalam memimpin tim sangat baik. Saya termasuk kandidat terbaik untuk ikut dalam proyek AI," kata Anggi.


"Daftar nama sudah disebar dan dilaporkan ke pusat. Jadi tidak bisa diganti lagi," ucap Dian.


"Pasti bisa ganti! Wakil CEO Dian tidak percaya? Tunggu saja nanti!" ujar Anggi dengan ketus dan meninggalkan ruang kantor Dian.


***


Selamat siang readers tercinta. Anggi cari masalah lagi nih 😂😂. Siap-siap kena batu deh.


Jangan lupa baca kelanjutan ceritanya nanti malam ya. Dian dan Stefan akan bertemu lagi.


TERIMA KASIH

__ADS_1


SALAM SAYANG


AUTHOR : LYTIE


__ADS_2