
Wajah Naomi dan Ellen menjadi pucat seperti warna kertas. Mereka berdua membaca berulang kali pernyataan tertulis dari Public Relation Perusahaan Wijaya untuk memastikan apakah ada kesalahan dalam tulisan itu.
"Hubungan Kelvin dan Dian adalah saudara kandung. Kelvin Wijaya merupakan saudara kembar Chandra Wijaya."
Pernyataan tertulis yang sangat singkat, tetapi makna yang tersirat di dalamnya membuat semua orang terkejut.
Berbagai pertanyaan muncul di pikiran Naomi dan Ellen. Mereka menduga pernyataan itu adalah hoaks yang dikeluarkan oleh Keluarga Wijaya untuk melindungi Dian.
Bagaimana mungkin Kelvin saudara kembar dengan Chandra? Sejak awal debut, Kelvin memang memakai nama singkatnya saja dan tidak ada majalah yang berhasil menemukan background Kelvin.
"Naomi. Itu pasti berita hoaks. Gak mungkin Kelvin dan CEO Chandra kembar. Mereka berdua gak mirip sama sekali," ujar Ellen.
"Benar, Ellen. Mereka gak berani tunjukkan buktinya," jawab Naomi.
Ellen dan Naomi bersusah payah menenangkan perasaan gelisah dan panik di dalam hati mereka, tetapi ketenangan mereka menjadi goyah lagi karena dua lembar foto yang diposting oleh Perusahaan Wijaya.
Foto close up Kelvin dan Chandra. Di dalam foto Kelvin tidak memakai kacamata hitam ciri khas nya selama menjadi model. Tanpa kacamata hitam, Kelvin dan Chandra terlihat sangat mirip satu sama lain kecuali rambut Kelvin yang gondrong.
"Bagaimana nih, Ellen? Mereka benar-benar kembar," ucap Naomi dengan panik.
Naomi sadar dirinya dan Ellen telah membuat masalah besar dan menyinggung keluarga Wijaya. Karier mereka sebagai model dan artis muda pun ikut terancam.
"Aku telepon ayah dulu," kata Ellen.
Ellen mengambil handphone untuk menelepon Anjas, sedangkan Naomi mendekatkan tubuhnya ke Ellen agar bisa mendengar jelas percakapan Ellen dan ayahnya.
"Ayah!" panggil Ellen dengan semangat saat Anjas menerima panggilan telepon darinya.
"Ellen! Ayah sedang di Perusahaan Bramasta untuk bertemu Stefan. Nanti ayah telepon balik!" kata Anjas dan memutuskan sambungan telepon tanpa menunggu jawaban dari Ellen.
"Ayah bertemu Stefan?" batin Ellen.
"Ellen. Kenapa ayahmu bertemu Stefan?" tanya Naomi dengan wajah bingung.
Naomi mengingat jelas perkataan Stefan kemarin tentang pernikahan bisnis yang tidak akan mungkin terjadi, tetapi kenapa Stefan menemui ayah Ellen sekarang?
"Mungkin Stefan mengubah pemikirannya," jawab Ellen dengan wajah semringah dan penuh percaya diri.
Sementara Naomi tidak seoptimis Ellen. Naomi mempunyai firasat buruk dengan pertemuan antara Anjas dan Stefan, tetapi dirinya berharap firasatnya salah.
"Naomi. Kamu pulang saja dulu. Tunggu kabar baik dariku," ucap Ellen.
"Baiklah," jawab Naomi.
__ADS_1
***Ruang kantor Stefan di Perusahaan Bramasta***
Stefan menggelengkan kepalanya perlahan sambil tersenyum kecil melihat surat pernyataan tertulis dari Public Relation Perusahaan Wijaya dan dua foto close up Kelvin serta Chandra melalui layar laptopnya.
Kelvin yang selama ini dianggapnya sebagai saingan cinta, ternyata adalah kakak kandung Dian dan juga saudara kembar Chandra.
Kabar ini membuat Stefan terkejut serta lega karena saingan dalam memperebutkan Dian berkurang satu.
Terdengar suara ketukan pintu dari luar. "Masuk!" perintah Stefan.
Luis berjalan menghampiri Stefan. "CEO Stefan. Pak Anjas sudah tiba!" lapor Luis.
"Tiga puluh menit lagi antar dia masuk!" jawab Stefan dengan wajah tanpa ekspresi setelah mendengar nama Anjas.
"Baik, CEO Stefan!" kata Luis.
Tiga puluh menit kemudian, Luis membawa Anjas ke ruang kerja Stefan. Anjas berjalan menghampiri meja kerja Stefan dengan wajah semringah.
"Silakan duduk, Pak Anjas!" ucap Luis sambil menunjuk kursi yang berada di depan meja kerja Stefan.
"Terima kasih," jawab Anjas.
Anjas menatap Stefan dengan senyuman lebar. Wibawa dan aura kepemimpinan yang terpancar dari tubuh Stefan membuat Anjas kagum.
Saat ini Anjas menganggap dirinya sedang berhadapan dengan calon menantu idaman. Ini pertama kalinya Stefan berinisiatif mengundangnya ke Perusahaan Bramasta untuk bertemu sehingga Anjas merasa kabar baik sedang menunggunya.
Kedekatannya dengan Adi Bramasta belakangan ini membuat Anjas yakin pernikahan bisnis yang dijanjikan oleh Adi akan terlaksana dalam waktu dekat.
"Apa hal penting yang ingin CEO Stefan rundingkan?" tanya Anjas dengan wajah tidak sabaran.
"Hal yang Pak Anjas pikirkan saat ini," jawab Stefan dengan wajah tanpa ekspresi.
Stefan mengetahui laporan dari Luis bahwa Adi sering bertemu dengan Anjas secara pribadi. Adi juga merekomendasikan Perusahaan Jayakencana menjadi developer tunggal untuk proyek kawasan vila mewah.
Saat ini Stefan sengaja mengundang Anjas untuk bertemu dan ingin mencari tahu apa saja yang sudah dijanjikan oleh kakek tercintanya ke Anjas.
"Maksudmu proyek kawasan vila mewah resmi dikerjakan oleh perusahaanku?" tanya Anjas dengan antusias.
"Bukankah perusahaanmu menginginkan harga lebih 20% dari harga pasaran?" Stefan tidak menjawab pertanyaan Anjas, melainkan mengajukan pertanyaan lagi. Stefan masih ingat perkataan Dian tentang Anjas beberapa waktu yang lalu.
"Kita akan menjadi keluarga dalam waktu dekat. Tidak masalah harganya tetap sesuai pasaran saja. Anggap ini sebagai ketulusan dariku terhadap pernikahan bisnis antara kamu dan Ellen," jawab Anjas dengan tidak tahu malu.
"Kakek hanya menjanjikan proyek kawasan vila mewah dan pernikahan bisnis?" tanya Stefan dengan nada menyelidiki.
__ADS_1
"Iya, benar. Kebetulan malam ini aku akan makan malam bersama kakekmu. Stefan ikut saja. Kita bisa menetapkan tanggal pernikahanmu dengan Ellen. Atau kita tetapkan dulu tanggal pertunangannya dan hari pernikahannya tiga bulan setelah pertunangan. Bagaimana?" tanya Anjas, setelah mengutarakan keinginannya panjang lebar ke Stefan.
Luis yang berdiri di samping Stefan, mengacungkan jempolnya di dalam hati atas sikap percaya diri Anjas. Sejak awal Luis tidak mendengar Stefan mengatakan akan menikahi putri Anjas, tetapi pria paruh baya itu terlihat terjebak dalam halusinasi dirinya sendiri.
"Pak Anjas. Kamu harus tahu bahwa semua janji kakek, tidak ada hubungannya denganku!" ujar Stefan dengan tegas.
Senyuman lebar di wajah Anjas menghilang seketika. Anjas merasakan terintimidasi oleh aura dingin dari tubuh Stefan.
"A…apa maksudmu?" tanya Anjas terbata-bata.
"Kakek sudah pensiun. Semua keputusan penting berada di tanganku. Jadi proyek kawasan vila mewah tidak akan jatuh ke tanganmu!" jawab Stefan.
Mata Anjas membulat besar mendengar penolakan Stefan secara terang-terangan, tetapi dirinya tidak berani membantah keputusan Stefan. Ada hal penting lainnya yang mengganggu pikiran Anjas saat ini.
"Walaupun Stefan tidak memberiku proyek itu, aku tetap menyetujui pernikahan ….."
Stefan menyela perkataan Anjas dengan cepat. "Keluarga Bramasta tidak memerlukan pernikahan bisnis! Nyonya Stefan di masa yang akan datang, pastinya bukan putrimu!" kata Stefan.
Penolakan beruntun dari Stefan membuat mimpi indah Adi kandas seketika, tetapi pria paruh baya itu belum mau menyerah.
"Aku akan bertemu tuan Adi sekarang! Dia tidak boleh mengingkari janji pernikahan bisnis," ujar Anjas dengan ketus.
"Aku yang berhak menentukan pasanganku sendiri. Jika Pak Anjas ngotot ingin pernikahan bisnis, putrimu bisa menikah dengan kakek. Lagi pula kakek yang berjanji padamu," ucap Stefan dengan acuh.
Stefan menoleh ke arah Luis. "Luis! Antar Pak Anjas ke ruangan kakek!" perintah Stefan.
"Baik CEO Stefan!" jawab Luis dengan patuh.
"Silakan Pak Anjas!" kata Luis sambil membuka lebar pintu ruang kerja Stefan.
Anjas mendengus kasar dan berjalan meninggalkan ruang kerja Stefan. Tentu saja Anjas tidak menuju ruangan Adi, melainkan ingin meninggalkan Perusahaan Bramasta secepatnya.
***
Selamat malam readers tercinta. Setuju gak Ellen jadi pasangan si aki saja? 🤣🤣🤣
Jangan lupa baca kelanjutan ceritanya besok ya🥰
TERIMA KASIH
SALAM SAYANG
AUTHOR : LYTIE
__ADS_1