HASRAT CINTA PERTAMA

HASRAT CINTA PERTAMA
BAB 80. Jas


__ADS_3

***Ruang konferensi di tempat penelitian rahasia Perusahaan Alpha***


Para ilmuwan lainnya mempercayai perkataan Vivian, sedangkan wajah Stefan menjadi muram dan lesu. Pria muda itu yakin Dian lah yang meminta Vivian mengganti program Mao Mao.


Dion yang duduk tenang dan diam sejak tadi sudah mengerti jelas apa yang sedang terjadi dari pembicaraan mereka semua. Ekspresi kecewa Stefan juga dilihat jelas oleh Dion.


Dua puluh menit kemudian meeting secara resmi dibubarkan. Dion, Tino, dan kedua peneliti dari Perusahaan Bramasta mulai bekerja besok pagi sehingga rombongan Dian dan rombongan Stefan ingin pulang ke perusahaan masing-masing.


Pada saat mereka tiba di depan pintu keluar, terlihat banyak kubangan air karena hujan turun sangat deras ketika mereka berada di ruang konferensi.


David dan Tino berlari kecil untuk mengambil mobil. Walaupun hujan sudah berhenti, tetapi percikan air bercampur tanah melekat di kaki celana David dan Tino. Mereka berdua tidak mempermasalahkannya.


David memundurkan mobil mendekati tempat Dian dan Dion berdiri di sana. Akan tetapi, adanya mobil lain yang parkir di sana menyebabkan mobil porsche putih tidak bisa berhenti di hadapan Dian.


Dian dan Dion harus melewati kubangan air terlebih dahulu. Dian memeluk erat Mao Mao dan tampak ragu untuk melangkahkan kakinya dikarenakam sepatu high heels yang dikenakan olehnya merupakan hadiah yang dibelikan oleh Jackson dan Rossy ketika mereka pulang dari perjalanan ke luar negeri beberapa waktu yang lalu.


Sepatu high heels Dian merek Christian Louboutin, yang merupakan salah satu merek fashion asal Perancis. Ciri khas sepatunya ialah menyertakan kilau dan pernis warna merah pada sol.


Dion mengerti keraguan Dian sehingga pria muda itu melepaskan jas kerjanya menutupi kubangan air. "Ayo Dian," ajak Dion sambil mengulurkan tangannya ke arah Dian.


Tiba-tiba Dian merasakan tubuhnya ringan dan terangkat sehingga gadis muda itu memeluk Mao Mao lebih erat serta mendongakkan kepalanya ke atas. Wajah close up Stefan muncul dihadapan Dian.


Stefan menggendong Dian dengan cepat dan berjalan di atas jas milik Dion menuju mobil porsche putih. Dion mengikuti dari belakang dengan wajah tanpa ekspresi.


"Hanya sampai mobil saja," ucap Stefan sambil menatap lembut Dian.


Sementara Erik, Vivian, dan para ilmuwan lainnya terpana melihat sikap agresif Stefan. "Aku dukung kamu, Fan!" batin Erik.


**"


Perjalanan menuju mobil yang tidak menghabiskan waktu satu menit itu, terasa lama bagi Dian dan Stefan.

__ADS_1


Ini pertama kalinya Stefan berinisiatif menggendong Dian sehingga membuat gadis muda itu bingung harus memberikan reaksi apa. Jurus paling aman menurut Dian saat ini adalah diam seribu bahasa.


Sementara Stefan merasa senang karena Dian tidak menolaknya. Mungkin ini merupakan awal yang bagus untuk menjadi dekat dengan Dian di masa yang akan datang.


"Detak jantung Mimi sangat cepat. Begitupun juga dengan detak jantung pria ini. Apakah kalian berdua terkena serangan jantung?"


Suara nyaring Mao Mao membuat wajah Dian dan Stefan merona merah bersamaan. Dion yang mendengar jelas perkataan Mao Mao memberikan ekspresi wajah datar.


"Diam, Mao Mao!" perintah Dian sambil menutup mulut Mao Mao dengan tangannya. 


***


David sudah membukakan pintu mobil belakang sejak awal sehingga Stefan mendudukkan Dian di dalam mobil.


"Terima kasih," kata Dian dengan suara kecil.


"Sama-sama," ucap Stefan dengan riang.


Dion sudah masuk ke dalam mobil dari sisi pintu yang lain, tetapi saat dirinya hendak menutup pintu, seseorang memanggilnya.


"Oke," jawab Dion singkat, lalu menutup pintu mobil. Stefan pun menutup pintu mobil dan melambaikan tangan ke arah Dian.


Kali ini Dian pura-pura tidak melihatnya dan tidak memberikan reaksi balasan apa pun. Stefan tidak merasa marah. Kedua tangannya di masukkan ke dalam saku celana serta berjalan santai menuju rombongan Erik. Luis mengikutinya dari belakang.


Ketika mobil porsche putih sudah pergi jauh, Erik mengangkat jari jempolnya ke arah Stefan.  Sudut bibir Stefan terangkat sedikit pertanda suasana hatinya senang.


"Kerja yang bagus, Luis!" puji Stefan ke sekretaris pribadinya.


"Terima kasih CEO Stefan," jawab Luis.


***

__ADS_1


David mengemudikan mobil porsche putih menuju Mansion Wilson untuk menurunkan Dion terlebih dahulu, sebelum ke Perusahaan Jayanata.


Handphone Dion berdering sehingga pria muda itu mengangkatnya.


"Halo Leon. Ada apa?" tanya Dion.


"Minggu ini kita lunch bareng di restoran kakek. Aku sudah mengajak yang lainnya. Mereka semua setuju. Tinggal kamu dan princess saja," jawab Leon.


"Dian. Leon ngajak lunch bakmi ayam di restoran kakek minggu ini. Oke?" tanya Dion.


"Oke!" jawab Dian sambil menganggukkan kepalanya dengan semangat.


"Oke, Leon. Aku dan Dian ikut!" ucap Dion.


"Baiklah. Bye-bye!" kata Leon sebelum mematikan sambungan telepon.


Kakek yang dimaksud oleh mereka adalah kakek Thomas, kakek kandung Dian dan si kembar Chandra-Kelvin.


Thomas membuka sebuah restoran dekat pantai dan menu andalannya adalah bakmi ayam legendaris. Sejak kecil mereka semua sering makan di Restoran Hartono. 


Bertepatan kali ini semua anggota sudah lengkap karena Dion juga sudah pulang, Leon mengajukan ide untuk berkumpul bersama di restoran kakek. 


***


Selamat siang readers tercinta.Skor sudah imbang nih. Satu sama 😆


Apa yang akan terjadi di Restoran Hartono? Jawabannya di bab malam ya 🤗


Maaf ya readers tercinta 🙏. Novel ini ikut lomba, jadi endingnya Dian dan Stefan akan bersatu kembali sesuai tema dari lomba dan editor 🤗🙏. Semoga readers setia membaca hingga tamat ya 🥰🥰🥰


TERIMA KASIH

__ADS_1


SALAM SAYANG


AUTHOR : LYTIE


__ADS_2