
***Mobil Land Rover Range Rover Velar***
Dian dan Chandra berada di dalam mobil menuju Apartemen Regal Residence, sedangkan Billy diantar pulang oleh sopirnya sendiri ke Mansion Tatum.
Jackson dan Rossy masih menikmati honeymoon di luar negeri. Oleh karena itu, Dian ingin menginap di apartemennya sendiri dan tidak pulang ke Mansion Wijaya.
Chandra juga ingin bertemu dengan Sherina setelah perjalanan dinasnya yang panjang sehingga sopir mengemudikan mobilnya ke Apartemen Regal Residence.
"Dian. Kamu tidak apa-apa?" tanya Chandra.
Sejak Dian masuk ke dalam mobil, gadis muda itu termenung dengan wajah yang lesu dan tidak bersemangat.
"Aku baik-baik saja kak Chandra," jawab Dian.
Sikap tegar Dian membuat hati Chandra terenyuh. Jika saja Dian menangis saat ini, Chandra merasa lebih lega. Akan tetapi, adik kesayangannya sangat pintar menyimpan perasaan sakitnya dan tidak mau membuat anggota keluarganya khawatir.
"Kejadian di ballroom tadi, kak Chandra yang akan membalasnya," ucap Chandra.
Walaupun Dian sudah menghukum Anastasia dengan menyiram anggur merah, hukuman itu masih terlalu ringan menurut Chandra.
"Terima kasih kak Chandra. Aku yakin besok hot gosip tentang Sia akan tersebar lagi," kata Dian sambil merangkul lengan Chandra.
Dian merasa sangat bahagia karena sejak kecil dirinya selalu mendapatkan perlindungan dari Jackson, Rossy, serta kedua kakak kembarnya.
"Tidak boleh ada yang menindas putri kesayangan keluarga Wijaya," ucap Chandra dengan tegas.
"Tentu saja," jawab Dian sambil tertawa kecil.
Chandra menarik napas lega melihat suasana hati adik kesayangannya sudah membaik.
"Kamu mau ikut menemui Rina?" tanya Chandra.
"Aku rileks di tempat spa apartemen saja. Gak enak jadi obat nyamuk," jawab Dian dengan cepat.
"Dasar adik nakal," ucap Chandra menyentil hidung Dian. Gadis muda itu tertawa kecil melihat wajah merah Chandra karena gurauannya.
***Ballroom hotel jamuan makan malam***
Rizky berjalan menghampiri Anastasia dan menepuk pundak gadis manja itu dengan perlahan.
"Sia! Ini baju gantinya. Aku tunggu di mobil," ujar Rizky sambil menyerahkan satu set pakaian baru yang didapatnya dari pelayan hotel.
Anastasia menerima pakaian itu dan segera berlari menuju toilet hotel sambil menundukkan kepala. Rizky pun berjalan meninggalkan ballroom hotel dan menelepon sopir untuk menjemputnya di depan lobi hotel.
Sementara Anastasia yang sudah berada di dalam toilet, segera mengunci diri di dalam salah satu kamar toilet dan menangis sekeras-kerasnya di sana.
Harga diri dan martabat yang selama ini dijaga olehnya hancur seketika. Semua karena Dian. Anastasia tidak berani membayangkan hukuman apa yang sedang menantinya dari kakek.
Adi Bramasta, kakek Stefan dan Anastasia adalah pria tua arogan, sombong, dan mempunyai ego yang tinggi.
__ADS_1
Sejak lima tahun yang lalu Stefan menjadi CEO Perusahaan Bramasta, Adi lebih sering menghabiskan waktunya berkumpul bersama teman-temannya yang sudah pensiun.
Walaupun begitu, Adi tetap memantau perkembangan Perusahaan Bramasta dan pasti akan ikut hadir di setiap rapat penting untuk membuktikan kepada para pemegang saham bahwa dirinya masih berkuasa di Perusahaan Bramasta.
Kejadian Laura bertindak sesuka hati meminta HRD Perusahaan Bramasta menyebarkan berita Dian diceraikan karena mencuri kalung berlian dan mendapat serangan balik dari Dian sehingga harga saham Perusahaan Bramasta anjlok membuat Adi marah besar.
Laura dan Anastasia dihukum tidak boleh keluar dari mansion selama tiga hari serta uang jajan mereka dipotong.
Anastasia yakin Adi akan memotong uang jajannya lagi dan itu merupakan mimpi buruk gadis manja itu. Pakaian mahal, tas mahal, maupun aksesoris lain incarannya tidak bisa dibeli lagi untuk sementara waktu dan semua itu karena kesalahan Dian yang membuatnya malu malam ini.
Anastasia mengganti pakaiannya yang kotor dengan pakaian baru, lalu merias ulang wajahnya yang berantakan.
Wajahnya yang bengkak karena tamparan Stefan, ditutupi dengan make up.
"Wanita sialan! Kak Stefan tidak pernah menamparku! Semua gara-gara kamu!" batin Anastasia.
Entah sudah berapa banyak umpatan dan kutukan yang diucapkan Anastasia terhadap Dian malam ini.
Pakaian yang kotor dibuang ke dalam tong sampah sebelum Anastasia keluar dari toilet menuju lobi hotel.
***
Ketika Anastasia masuk ke dalam mobil, Rizky yang duduk di samping sopir menoleh ke belakang dengan wajah merah menahan amarah.
"Sia! Kamu tahu aku sudah menunggu selama satu jam di mobil," ujar Rizky dengan ketus.
"Aku kan harus merapikan make up ku yang berantakan," balas Anastasia dengan wajah yang jutek.
"Ya Tuhan! Kamu tidak pernah bersyukur! Jika bukan karena aku menahanmu tadi, kamu akan berakhir dengan lebih memalukan," ujar Rizky.
Chandra dan Billy bukan orang biasa yang bisa dihadapi oleh Anastasia. Jika mereka berdua bersatu, maka Anastasia akan mendapatkan malu yang berlipat ganda.
"Kak Rizky omong kosong doang," cibir Anastasia.
Gadis manja itu tidak mempercayai ucapan Rizky. Sebagai nona keluarga Bramasta, sikap angkuh yang sama persis dengan Adi membuatnya memandang rendah semua orang yang tidak disukai olehnya.
"Terserah kamu saja!" ujar Rizky dengan perasaan dongkol yang memuncak.
Rizky bertekad dalam hatinya untuk tidak mencampuri perselisihan Anastasia dengan Dian karena ujung-ujungnya dirinya yang keciprat kesialan nantinya.
***Ruang kantor Dian di Perusahaan Jayanata***
David berada di ruang kantor Dian sambil membawa dua majalah baru dan meletakkannya di hadapan Dian.
"Pagi nona Dian. CEO Chandra memintaku mengantarkan dua majalah ini," kata David.
"Kak Chandra?" batin Dian.
Dian membaca label nama kedua majalah itu. Majalah Kiss dan Sunshine. Senyum tipis mengembang di sudut bibir Dian karena tahu maksud Chandra.
__ADS_1
Sampul kedua majalah itu memang berbeda, tetapi menampilkan orang yang sama yaitu Anastasia. Tentu saja dalam keadaan memalukan di jamuan makan malam Perusahaan Alpha.
Dian membaca beberapa lembar isi majalah itu. Setiap foto di dalamnya sangat jelas disertai dengan caption tulisan yang menarik perhatian pembaca.
"Kali ini Sia akan bersembunyi seperti tikus dalam waktu lama," kata hati Dian.
Suasana hati Dian sangat gembira dan tersenyum puas, lalu menoleh ke arah David.
"David. Apa jadwalku pagi ini?" tanya Dian.
David membuka jurnalnya yang berisi semua jadwal Dian setiap hari dan membacakannya.
"CEO Erik akan datang jam 9 pagi untuk tanda tangan proposal kerja sama. Jam 10 pagi ada meeting mingguan Perusahaan Jayanata. CEO Chandra akan hadir juga," kata David.
"Tidak kusangka CEO Erik sangat profesional dan datang sepagi ini untuk tanda tangan proposal kerja sama," kata hati Dian.
"David. Buatlah daftar nama karyawan dari setiap departemen yang terpilih untuk mengikuti proyek AI. Aku akan mengumumkannya di meeting nanti!" perintah Dian.
"Baik nona Dian," jawab David.
Ketika David ingin meninggalkan ruangan, Dian memanggilnya.
"David. Apakah ada hal lain mengenai jamuan makan malam semalam?" tanya Dian.
"Maksud nona Dian tentang foto ci..ciuman?" tanya David terbata-bata.
"Bayar majalah yang menerbitkan berita itu untuk menghapusnya," ucap Dian.
"Foto itu hanya sempat muncul lima menit di internet dan hilang sepenuhnya," lapor David.
"Oh ya? Kak Chandra yang melakukannya?" tanya Dian.
"Bukan CEO Chandra. HRD Perusahaan Bramasta yang melakukannya," jawab David dengan jujur.
"Stefan?" batin Dian.
"Nona Dian. Apakah ada pekerjaan lain yang harus saya lakukan?" tanya David.
"Tidak ada lagi. Nanti antar CEO Erik ke ruanganku saat dia datang," jawab Dian.
"Baik nona Dian," jawab David dengan patuh.
***
Selamat malam readers tercinta.
Sampai ketemu di bab besok ya
TERIMA KASIH
__ADS_1
SALAM SAYANG
AUTHOR : LYTIE