
***Di dalam mobil porsche putih milik Dian***
Dian tersenyum penuh makna saat melihat Dion termenung lama karena mendengar nama Vivian. Dian ingin menjadi cupid diantara Dion dan Vivian.
Walaupun wajah Dion tampan, tetapi sikapnya yang dingin dan fokus penuh dengan pekerjaan membuat para gadis muda yang berusaha mendekati Dion, pada akhirnya menyerah.
Dian berfirasat Dion dan Vivian pasangan serasi karena hasrat dan sikap mereka berdua terhadap pekerjaan sama persis. Dian yakin Vivian pun bisa berubah menjadi pribadi yang dingin dan tenang saat konsentrasi dengan pekerjaannya.
"Dion! Vi sangat menyukaimu. Di meja kerjanya penuh dengan fotomu saat menang lomba. Vi pasti menggugah semua informasimu ke dalam program Mao Mao sehingga Mao Mao bereaksi seperti ini terhadapmu," jelas Dian panjang lebar.
Dian sengaja berhenti sebentar untuk melihat reaksi Dion. Telinga Dion yang merona merah sedikit membuat Dian tertawa kecil secara spontan.
"Dian. Kamu memang tidak pernah berubah. Suka jahil!" ucap Dion.
"Aku melakukannya demi kebaikanmu. Kamu tahu tidak, semalam di dapur aunty Michelle mengeluh bahwa kamu belum punya pacar. Aunty Michelle khawatir kamu menjadi bujang lapuk karena mengurung diri di ruang lab saja," kata Dian.
"Aku masih muda. Mommy memang suka khawatir berlebihan," jawab Dion sambil memijat keningnya spontan.
"Kata aunty Michelle, kalau kamu masih belum membawa pacar pulang tahun ini, aunty akan mencarikan cewek untukmu melalui biro jodoh," ujar Dian dengan wajah serius.
"Oh no!" keluh Dion dengan wajah cemberut.
"Vi pemimpin proyek AI. Jadi kalian bisa saling lebih mengenal selama satu bulan ini. Aku berfirasat Vi itu soulmate kamu!" ucap Dian.
Dion hanya terdiam tidak membalas perkataan Dian lagi. Gadis muda itu pun membiarkan Dion berpikir lebih serius akan perkataannya barusan. Dian yakin Dion bisa mengambil keputusan yang tepat.
Sementara David dan Tino, peneliti yang satunya lagi duduk tenang di kursi sopir dan samping sopir. Mereka berdua tidak memberikan reaksi apa pun terhadap pembicaraan antara Dian dan Dion.
Terlebih Tino yang merasakan tekanan besar karena harus bekerja sama dengan Dion, ilmuwan fisika terkenal, tetapi Tino tidak akan melepaskan kesempatan emas ini untuk belajar banyak dari Dion.
***
30 menit kemudian, mobil porsche putih berhenti di depan sebuah bangunan bertingkat tiga, tempat penelitian rahasia.
Erik sudah berdiri di depan pintu masuk dan tersenyum semringah saat melihat Dian dan rombongannya turun dari mobil.
Bersamaan dengan itu, sebuah mobil mercedes benz hitam juga berhenti di sana. Stefan beserta rombongannya berjalan menghampiri mereka setelah turun dari mobil.
"CEO Erik! CEO Dian!" sapa Stefan.
"CEO Stefan!" ucap Dian dan Erik.bersamaan.
Saat ini Dian sudah mengganggap Stefan sebagai rekan bisnis semata dan bukan mantan suaminya sehingga hubungan yang terjalin di masa yang akan datang hanyalah hubungan simbiosis mutualisme untuk perusahaan masing-masing.
Stefan tersenyum kecil karena tidak bisa menutupi kegembiraan hatinya bahwa Dian mau balas menyapanya. Perhatian Stefan jatuh ke Mao Mao yang berada di pangkuan lengan Dian.
Biasanya Mao Mao pasti berteriak girang memanggilnya Pipi, tetapi kali ini tatapan mata berbinar-binar Mao Mao ditujukan ke Dion, yang berdiri di samping Dian.
__ADS_1
"Mari kita ke ruang konferensi sekarang!" ajak Erik.
Rombongan Dian berada tepat dibelakang Erik, sedangkan rombongan Stefan berada di belakang rombongan Dian.
Mao Mao yang berada di pangkuan lengan Dian sangat anteng seolah-olah dirinya tahu meeting di ruang konferensi sangatlah penting sehingga Mao Mao tidak berulah dan hanya menatap wajah Dion dengan antusias.
Perilaku hangat dari Mao Mao tidak membuat Dion menjadi canggung karena bagi pria muda itu, Mao Mao hanyalah sebuah karya yang dibuat oleh Vivian. Mao Mao bukanlah makhluk hidup asli yang mempunyai perasaan nyata.
Dian berjalan berdampingan dengan Dion. Sesekali terdengar suara Dian memberi penjelasan ke Dion tentang bagian-bagian ruangan yang mereka lewati karena Dian sudah pernah mengunjungi tempat penelitian rahasia ini satu kali.
Erik menghentikan langkah kakinya secara tiba-tiba dan menoleh ke belakang, tepatnya menatap Dion dengan saksama.
"CEO Dian. Aku merasa sangat familiar dengan wajah peneliti yang satu ini," ucap Erik sambil menunjuk Dion tanpa ragu.
"Perkenalkan, aku Dion," jawab Dion dengan singkat.
"Dion? Dion Wilson?" tanya Erik dengan mata yang membulat besar. Pantas saja dirinya merasa familiar dengan wajah Dion karena bingkai foto Dion terpasang di atas meja kerja Vivian.
"Iya," jawab Dion singkat.
"CEO Dian pasti membayar mahal tuan Dion untuk bergabung dalam proyek AI kita," kata Erik.
"Ini hadiah untuk Dian," ucap Dion dengan wajah tanpa ekspresi.
Erik yang tidak mengerti akar permasalahan hanya bisa tertawa canggung dan melanjutkan menunjukkan jalan menuju ruang konferensi.
***Ruang konferensi***
Vivian dan beberapa ilmuwan yang bergabung dalam proyek AI sudah menunggu di dalam ruang konferensi. Senyum riang di sudut bibir Vivian semakin jelas saat melihat Dion datang, tetapi gadis muda itu bisa menguasai perasaan hatinya dengan cepat.
Erik mempersilakan rombongan Dian dan rombongan Stefan duduk di sisi yang berseberangan, sedangkan dirinya sendiri duduk di tengah dan berhadapan dengan Vivian beserta ilmuwan lainnya.
"Atas nama Perusahaan Alpha, saya secara resmi menyambut kedatangan kedua rekan bisnis. Mengenai penelitian proyek, Perusahaan Bramasta dan Jayanata akan mengirim dua peneliti untuk berpartisipasi dalam proyek AI. CEO Dian, siapa yang akan menjadi pemimpin dalam grup anda?" tanya Erik.
Pertanyaan Erik sekadar formalitas saja karena kemampuan Dion tidak perlu diragukan lagi. Bahkan Erik yakin Vivian akan menyerahkan posisi pemimpin proyek AI ke tangan Dion dengan sukarela.
"Tentu saja Dion! Tino menjadi tangan kanan Dion," jawab Dian dengan yakin.
Erik menoleh ke arah Stefan, menunggu persetujuan dari pria muda itu. Stefan menganggukkan kepalanya dengan yakin sehingga senyuman lebar mengembang di sudut wajah Erik.
"Baiklah. Kalau begitu, kita akan membahas tentang tugas masing-masing dari tim peneliti gabungan Perusahaan Alpha, Jayanata, dan Bramasta," lanjut Erik.
Meeting berlangsung hingga satu jam lebih dan menghasilkan kesepakatan bersama yang memuaskan ketiga belah pihak.
Pada saat meeting dibubarkan, para ilmuwan Perusahaan Alpha mengajak Mao Mao berbicara. Dian meletakkan Mao Mao di atas meja sehingga panda merah itu berlari ke sana ke mari sesuka hatinya, mendekati orang yang mengajaknya berbicara.
"Mao Mao. Masih ingat aku kan?"
__ADS_1
"Mao Mao rindu sama aku?"
"Aku yakin orang yang paling dirindukan Mao Mao adalah Vi!"
Berbagai macam pertanyaan diajukan kepada Mao Mao. Panda merah itu menjawab dengan riang sehingga suara gelak tawa menggema di dalam ruang konferensi.
Dian tersenyum kecil melihat perlakuan hangat para ilmuwan terhadap Mao Mao, sedangkan Vivian hanya fokus menatap Dion tanpa berkedip sedetik pun.
Erik melirik sekilas ke arah Stefan yang selalu menatap Dian sejak awal meeting. Timbul ide cemerlang dalam pikiran Erik untuk membantu Stefan.
"Mao Mao! Siapa wania tercantik yang kamu sukai?" tanya Erik.
"Mimi! Aku paling suka Mimi!" jawab Mao Mao sambil berlari ke arah Dian dan duduk manis di hadapan Dian. Bahkan Mao Mao sengaja menggerakkan ekornya meniru sikap anjing yang menyukai tuannya.
"Mao Mao! Siapa pria tertampan yang kamu sukai?" tanya Erik lagi.
Erik dan para ilmuwan lainnya spontan menatap ke arah Stefan karena Pipi di hati Mao Mao hanyalah Stefan seorang saja.
"Didi! Mao Mao paling suka Didi!" jawab Mao Mao.
"Didi? Bukan Pipi? Siapa Didi?" tanya salah satu ilmuwan penasaran.
"Didi dewa ilmuwan fisika!" jawab Mao Mao sambil menggeser tubuhnya hingga berada di hadapan Dion.
"Bagaimana dengan Pipi?" tanya Erik sambil menunjuk Stefan.
Mao Mao menatap Stefan dari atas kepala hingga ujung kaki. "Tidak kenal!" jawab Mao Mao dengan lantang.
Vivian tertawa terbahak-bahak saat melihat ekspresi terkejut dan bingung para teman seperjuangannya karena ucapan Mao Mao.
"Maaf. Aku yang mengubah programnya. Karena Mao Mao sudah menjadi milik Mimi cantik, jadi aku hilangkan program Pipi tampan," ucap Vivian.
Vivian sengaja mengaku semuanya atas kemauannya sendiri agar hubungan Dian dan Stefan tidak canggung karena mereka masih merupakan rekan bisnis Perusahaan Alpha.
***
Selamat malam readers tercinta.Bab ini sudah panjang 🤗.
Skor sementara Didi VS Pipi \=1 : 0 😆
Kasihan Fan Fan ya. Bab besok author kasih skornya seimbang deh 🤗.
Dukung terus novel ini readers tercinta.
TERIMA KASIH
SALAM SAYANG
__ADS_1
AUTHOR : LYTIE