HASRAT CINTA PERTAMA

HASRAT CINTA PERTAMA
BAB 82. Kecelakaan


__ADS_3

***Restoran Hartono***


Sherina dan Natasha duduk di sisi kiri dan kanan Dian. Mereka berdua berbisik memberitahukan Dian, Stefan melihat foto-foto polaroid yang terpasang di dinding restoran.


Mereka berdua yakin pandangan mata Stefan berhenti di foto Dian ketika masih kecil karena Sherina dan Natasha tahu letak foto itu ada di dinding bagian mana.


"Walaupun dia mengingat gadis kecil itu, tetapi dia tidak tahu akulah gadis kecil itu," kata Dian.


Sherina dan Natasha sepemikiran dengan Dian sehingga mereka melanjutkan menikmati bakmi ayam legendaris kakek Thomas.


Beberapa saat kemudian, pelayan restoran membawa kamera polaroid menghampiri meja makan rombongan Dian setelah mereka selesai makan.


"Ayo kita foto bersama," ajak Sherina dengan bersemangat.


Sherina mengeluarkan handphone dari tas tangannya dan memberikannya ke pelayan restoran.


"Mbak. Nanti tolong foto pakai handphone ini juga ya," pinta Sherina.


"Baik kak," jawab pelayan restoran dengan ramah.


Rombongan Dian berpose sesuka hati sambil tersenyum riang di depan kamera polaroid dan kamera handphone Sherina.


Thomas yang keluar dari dapur pun diajak untuk ikut berfoto bersama. Suasana riang dari meja makan Dian membuat beberapa tamu yang sedang makan di restoran ikut merasa gembira.


Stefan dan Rizky pun melihat ke arah sana. Terutama Stefan yang fokus utamanya hanya pada Dian. Keceriaan dan senyuman di wajah Dian bagaikan cahaya yang menghangatkan hati Stefan.


Stefan teringat akan wawancara salah satu majalah ke daddy Jackson mengenai arti nama Dian. Daddy Jackson menjawab dengan singkat dan tepat. Dian berarti cahaya. Cahaya yang menyinari keluarga kecil Wijaya. Saat ini Stefan pun ikut merasakan cahaya itu berhasil memukau dan menghipnotisnya.


Pelayan restoran menghampiri meja makan Stefan dan menawarkan hal yang sama yaitu memotret Stefan dan Rizky dengan kamera polaroid. Mereka berdua tidak menolak.


***


Rombongan Dian berjalan keluar dari Restoran Hartono setelah mengucapkan selamat tinggal ke Thomas. Bersamaan dengan itu, Stefan dan Rizky juga berjalan meninggalkan restoran.


Hari ini rombongan Dian menggunakan dua mobil yaitu mobil Dian dan mobil Billy sehingga mereka berdua mempercepat langkah kaki untuk mengambil mobil.


Tidak ada yang menyadari sebuah mobil yang parkir tidak jauh dari Restoran Hartono menginjak gas dengan keras sehingga mobil melaju cepat menuju Dian.


"Dian!"


Teriakan kaget dan panik serentak dari mulut Sherina, Natasha, Dion, dan Leon. Bahkan Billy yang berdiri di sisi lain menjadi pucat karena tidak sempat menolong Dian.

__ADS_1


Mereka semua menahan napas bersamaan saat tubuh Dian terdorong keras dan jatuh ke samping. Bunyi tabrakan dan rem mobil menggema keras membuat suasana menjadi mencekam. Mobil melaju cepat meninggalkan sosok tubuh yang berlumuran darah di sana.


"Dian!"


"Dian!"


Sherina dan Natasha berlari cepat menghampiri Dian untuk memeriksa keadaannya. Kedua telapak tangan, siku, dan lutut gadis muda itu berdarah karena bergesekan dengan aspal. Wajah Dian pucat. Pikirannya kosong dan hampa.


"Dian! Kamu tidak apa-apa?" tanya Sherina dan Natasha khawatir. Mereka berdua memapah Dian berdiri.


"Fan!"


"Fan!" teriak Rizky.


"Jangan sentuh dia! Ambulans akan segera datang!" kata Dion ke Rizky.


Dion mengamati keadaan Stefan dengan saksama terutama mendengarkan embusan napas dan pergerakan dada yang naik turun. Dion pernah diajari oleh Michelle, cara pertolongan pertama terhadap korban kecelakaan lalu lintas.


Korban kecelakaan mungkin bisa mengalami cedera, patah tulang, atau perdarahan yang sangat parah sehingga tidak boleh memindahkan tubuhnya. Lebih baik menunggu paramedis handal menangani secara langsung.


Itu sebabnya Dion melarang Rizky menyentuh Stefan dan segera menelepon ambulans Healing Hands Hospital.


***


Dian berjalan menghampiri tubuh Stefan dengan bantuan Sherina dan Natasha, lalu gadis muda itu terduduk di samping tubuh Stefan. Bayangan kejadian yang baru saja terjadi melintas di pikiran Dian lagi.


Saat mobil yang melaju kencang menuju ke arahnya, Dian merasakan seseorang mendorongnya dengan kuat ke samping sehingga dirinya terhindar dari tabrakan. Orang itu adalah Stefan.


Stefan mengorbankan diri sendiri ditabrak oleh mobil. Stefan lah yang menyelamatkan nyawanya.


Saat ini Dian tidak bisa mendengar jelas apa yang sedang dibicarakan oleh Sherina, Dion, Leon, Billy, Natasha, dan Rizky. Seolah-olah suara mereka semua lenyap seketika.


Dian hanya bisa mendengar hatinya yang mengulang-ngulang kata yang sama.


"Jangan mati!"


"Jangan mati, Fan!"


"Kamu tidak boleh mati!"


***

__ADS_1


Sepuluh menit kemudian ambulans dari Healing Hands Hospital tiba di sana. Dua paramedis mengangkat tandu turun dari mobil ambulans.


Mereka memeriksa keadaan Stefan, lalu memberi pertolongan pertama yang diperlukan terlebih dahulu sebelum memindahkan tubuh Stefan ke atas tandu dan membawanya masuk ke dalam mobil ambulans.


Dion memapah Dian berdiri dengan cepat dan membawanya serta masuk ke dalam mobil ambulans, sedangkan Sherina dan lainnya masuk ke dalam mobil Billy dan mengikuti mobil ambulans dari belakang.


***


Dian menatap Stefan yang berbaring tidak berdaya di atas tandu ambulans. Wajah Stefan sangat pucat dengan noda darah yang mengering di pakaiannya.


Pria yang baru saja memanggilnya dengan suara dan tatapan lembut di dalam Restoran Hartono, sekarang memejam rapat kedua matanya.


Tangan Dian gemetaran menggenggam erat tangan kanan Stefan. Air mata mengalir di pipinya saat melihat tanda lahir berbentuk hati di pergelangan tangan pria itu.


Saat ini Dian bertanya di dalam hatinya. Apakah dirinya membenci Stefan? Jawabannya Tidak. Dirinya tidak membenci Stefan, hanya merasa kecewa saja karena hasrat cinta pertamanya tidak berakhir bahagia.


Mengapa Stefan menolongnya dan bahkan bersedia mengorbankan nyawanya sendiri? Padahal selama pernikahan mereka, pria itu mengacuhkannya.


"Dian! Dian!" panggil Dion sambil menepuk lengan Dian dengan keras sehingga gadis muda itu tersadar dari lamunannya.


"I…iya, Dion!" jawab Dian.


"Stefan pasti selamat. Aku sudah menghubungi daddy dan mommy. Jangan khawatir," kata Dion.


Dian menganggukkan kepalanya. Dian percaya kemampuan dokter spesialis Healing Hands Hospital akan menyelamatkan Stefan.


***


Selamat siang readers tercinta. Adrenalin author ikut terpacu nulis bab menegangkan ini. Tenang saja, Stefan tidak akan koma ataupun amnesia 😅😅🙏


Ditunggu kelanjutannya nanti malam ya 🤗🤗


Main tebak-tebakan yuk. Siapa yang ingin membunuh Dian?


Author mau rekomendasi karya Nirwana Asri, judul Kekasihku Pria Amnesia. Novelnya ikut lomba juga. Mampir yuk 🥰🥰🥰



HAPPY WEEKEND


TERIMA KASIH

__ADS_1


SALAM SAYANG


AUTHOR : LYTIE


__ADS_2