HASRAT CINTA PERTAMA

HASRAT CINTA PERTAMA
BAB 111. My sunshine


__ADS_3

***Restoran Hotel Bellagio***


Stefan berhenti berputar, lalu menurunkan tubuh Dian secara perlahan. Wajah berseri Dian membuat hati Stefan terasa hangat.


Semula Stefan merasa gugup untuk melamar Dian karena takut lamarannya akan ditolak, tetapi Stefan tidak mau menyiakan kesempatan yang sudah ditunggunya sejak Dian memberinya kesempatan kedua.


Stefan sudah membuat rencana sempurna sejak awal untuk memberikan lamaran yang romantis ke Dian. Berbagai cara lamaran sudah dipelajari oleh Stefan, baik dari youtube maupun cuplikan video drama korea romantis.


Beberapa lokasi romantis juga sudah dipilih oleh Stefan sambil mencari saat yang tepat untuk melamar Dian.


Ketika Stefan tahu Dian akan pergi ke Amerika untuk menghadiri acara penyerahan penghargaan Natasha, Stefan yakin saatnya untuk melamar Dian sudah tiba dan tempat yang paling tepat adalah Las Vegas.


Las Vegas merupakan tempat pertemuan kedua Dian dan Stefan setelah berpisah selama lima belas tahun. Di Las Vegas jugalah Dian mengenalinya dan bertekad menjadi istrinya.


Stefan ingin mengubah kenangan tidak baik di pernikahan pertama menjadi kenangan terindah untuk Dian dan dirinya sendiri.


Stefan pun menemui Chandra dan memberitahukan keinginannya untuk melamar Dian di Las Vegas.


Chandra bisa menilai ketulusan hati Stefan terhadap Dian. Chandra pun ingin adik kesayangannya mendapatkan kebahagiaan sempurna sehingga Chandra menelepon Kelvin di Amerika.


Kebetulan Kelvin memberitahukan gaun rancangan Natasha untuk Dian dan Sherina berwarna putih, dengan desain menyerupai baju pengantin barat versi simpel dan elegan sehingga Stefan serta kedua kakak kembar Dian pun mulai menyusun rencana bersama agar acara lamaran Stefan bisa berjalan lancar di Las Vegas.


***


Stefan mengecup kening Dian dalam waktu yang lama. Sebenarnya Stefan ingin sekali mencium bibir stroberi Dian di saat bahagia ini, tetapi pria muda itu berhasil menahan diri karena ada Chandra dan Kelvin di sana.


"Ayo Dian. Kita pergi ke satu tempat lagi," ajak Stefan dan menggandeng tangan Dian.


Mereka berdua meninggalkan restoran Hotel Bellagio bersama pasangan Chandra-Sherina dan Kelvin-Natasha.


Ketiga pasangan itu berjalan kaki di sepanjang trotoar Clark County. Dian merasakan deja-vu sepanjang perjalanan karena jalan yang dilaluinya saat ini sama persis dengan jalan yang dilaluinya bersama Stefan yang mabuk satu tahun lebih yang lalu.


"Fan! Kita mau ke mana?" tanya Dian.


"Tempat yang kamu pikirkan," jawab Stefan sambil menatap Dian dengan lembut.


Hati Dian berdegup kencang karena jawaban Stefan membuatnya yakin mereka sedang menuju Marriage License Bureau untuk mendapatkan surat nikah.


Malam ini berbeda dengan pernikahan pertamanya karena saat itu Stefan dalam keadaan mabuk dan tidak menyadari mereka menikah, tetapi sekarang Stefan sangat sadar dan terlihat sangat antusias untuk menikah.


Walaupun hati kecil Dian ingin segera menikah dengan Stefan, tetapi Dian ingin memberitahu Jackson dan Rossy terlebih dahulu. Dian tidak mau mengulangi kesalahan pernikahan pertama tanpa restu kedua orang tuanya.


"Tunggu sebentar, Fan! Aku telepon daddy minta izin dulu!" kata Dian sambil membuka tas untuk mengambil handphone.


"Tidak perlu, Dian. Aku sudah meminta izin ke Om Jackson dan Aunty Rossy. Lagi pula bukan hanya kita berdua yang menikah. Kak Chandra dan Kak Kelvin juga menikah di sini," jelas Stefan panjang lebar.


"Apa?" teriak Dian spontan.


Sherina dan Natasha tertawa kecil melihat reaksi terkejut Dian. Mereka berdua memang sengaja menyembunyikannya dari Dian, untuk membuat Dian merasakan syok berat seperti mereka berdua saat mengetahui Dian sudah menikah dengan Stefan di Las Vegas waktu itu.


"Dian. Kita menikah bersama hari ini," kata Sherina.


"Atau kamu gak mau menikah dengan Stefan?" tanya Natasha sambil tersenyum usil.

__ADS_1


Rombongan Chandra pun tertawa kecil melihat wajah bersemu merah Dian, sedangkam Stefan menggosokkan tangan ke kepala Dian karena merasa gemas dengan sikap polos Dian.


***


Rombongan Chandra tiba di bangunan Marriage License Bureau. Beberapa pasangan sedang mengantri di sana.


"Kak Rina! Kak Chandra! Ayo sini!" teriak Leon.


Ternyata Leon berdiri di antrian paling depan. Rombongan Chandra pun menghampiri Leon. Leon membagi kertas di tangannya ke Chandra, Kelvin, dan Stefan.


"Aku sudah mengisi semua data kalian di sana. Kalian hanya perlu tanda tangan dan membayar di dalam," kata Leon.


"Thank you Leon," ucap Chandra, Kelvin, Stefan bersamaan.


Ketiga pria tampan itu menarik tangan pasangan masing-masing dan berjalan masuk ke dalam Marriage License Bureau.


Lima belas menit kemudian, ketiga pasangan sejoli itu keluar dengan wajah semringah.


"Ayo foto dulu sebagai bukti!" ucap Leon dengan antusias.


Leon memegang sebuah kamera polaroid dan memotret ketiga pasangan sejoli itu dalam posisi berenam, lalu gantian memotret mereka berpasangan.


Suasana malam hari penuh dengan canda tawa mereka bertujuh saat berfoto di sana. Rombongan Chandra kembali ke Hotel Bellagio dengan suasana hati yang riang dan gembira.


***


Walaupun ketiga pasangan sejoli itu sudah sah sebagai pasangan suami istri karena surat nikah yang didapatkan dari Marriage License Bureau, tetapi mereka menginap di kamar hotel seperti saat di hotel New York.


Dian, Sherina, dan Natasha bergiliran mandi serta mengganti gaun malam dengan baju tidur. Dian mendapatkan urutan pertama untuk mandi karena Sherina dan Natasha sedang menelepon keluarga masing-masing untuk mengabarkan kabar baik malam ini.


Dian tersenyum kecil melihat panggilan video call dari Stefan. Dia segera mematikan hair dryer dan berjalan menuju balkon hotel untuk menerima panggilan video call itu.


"Halo my queen!" sapa Stefan saat melihat wajah Dian muncul di layar handphone miliknya.


Stefan juga berada di balkon kamar hotelnya karena tidak ingin mengganggu Leon yang sudah tertidur pulas.


"Queen? Kenapa bisa princess jadi queen?" tanya Dian.


"Kamu sudah menjadi istriku, jadi lebih cocok aku panggil queen," jawab Stefan.


Dian tertawa kecil mendengar jawaban Stefan. "Selain queen, ada nama panggilan lain?" tanya Dian seraya bercanda.


"My sunshine," jawab Stefan dengan yakin.


"Kamu adalah cahaya yang membuat hatiku menjadi cerah sepanjang waktu," lanjut Stefan.


"Baiklah. Aku lebih suka dipanggil sunshine olehmu," ucap Dian dengan pipi merona merah.


Panggilan sunshine sangat sesuai dengan arti nama Dian, yaitu cahaya sehingga Dian sangat menyukai nama panggilan dadakan dari Stefan.


"Dian. Kamu suka cincin nikah kita?" tanya Stefan.


Dian mengangkat tangan dan menatap saksama cincin berlian di jari manisnya.

__ADS_1



Berlian utama cincin ini tampak cantik dan mengambang pada bagian tengah cincin. Sementara bagian sisinya dihiasi dengan puluhan berlian yang berukuran lebih kecil.


"Suka! Kenapa pilih cincin ini?" tanya Dian penasaran.


"Karena berlian utama cincin itu ditahan langsung oleh rangka cincin dan tampak mengambang sehingga permukaan berlian terekpos sempurna pada cahaya dan mampu memantulkan cahaya dengan maksimal. Sama seperti kamu yang memantulkan cahaya ke jiwa dan ragaku," jelas Stefan dengan wajah serius.


Wajah Dian semakin merona merah. Saat ini Dian baru menyadari ternyata Stefan sangat pintar mengucapkan kata-kata yang terasa sangat manis.


Suara ketukan kaca pembatas dari dalam kamar hotel membuat Dian menoleh ke sana.


Sherina dan Natasha berdiri disana, lengkap dengan baju tidur. Mereka berdua memberi isyarat tangan,menunjuk jam tangan di pergelangan tangan, lalu menangkupkan kedua tangan mereka dan menempelkan wajah mereka ke sana sambil mata terpejam rapat.


Dian tertawa kecil dengan bahasa isyarat dari Sherina dan Natasha, yang memintanya untuk tidur sekarang.


"Good night Fan! Kak Rina sama Tasha sudah mau tidur nih," kata Dian.


"Good night my sunshine. See you tomorrow," balas Stefan.


Dian menekan tombol end call di handphone, sebelum membuka pintu balkon hotel.


"Ayo tidur!" kata Sherina dan Natasha bersamaan. Mereka berdua menarik tangan Dian menuju tempat tidur.


Dalam waktu singkat, ketiga gadis muda itu sudah tidur berbaring dengan selimut menutup hingga leher mereka. Dian tidur di tengah dan diapit oleh Sherina serta Natasha.


"Kak Rina, Tasha!" panggil Dian.


"Ada apa Dian?" tanya Sherina dan Tasha bersamaan.


"Aku harus memanggil kalian berdua kakak ipar sekarang," jawab Dian sambil tersenyum jahil.


"Iya, adik iparku yang cantik," ucap Sherina.


"Rina! Kita beri sambutan untuk adik ipar tercinta yuk!" kata Natasha sambil memberi isyarat mata ke Sherina.


"Ayuk!" jawab Sherina.


"Sambutan apa?" tanya Dian dengan wajah bingung.


"Ah! Jangan! Geli! Ampun kakak ipar!" teriak Dian sambil terkekeh-kekeh karena Sherina dan Natasha menggelitik pinggangnya bersamaan di sisi yang berbeda.


Dian pun membalas menggelitik mereka berdua sehingga suara gelak tawa memenuhi kamar hotel tempat mereka menginap.


Ketiga gadis muda itu sangat bahagia malam ini disebabkan menikah dengan pasangan yang mereka cintai.


***


Selamat siang readers tercinta. Author senyum-senyum sendiri waktu mengetik bab ini 😂😂😂.


Sampai ketemu di bab besok, pernikahan tiga kakak adik di Bali.


TERIMA KASIH

__ADS_1


SALAM SAYANG


AUTHOR : LYTIE


__ADS_2