HASRAT CINTA PERTAMA

HASRAT CINTA PERTAMA
BAB 116. Bonus chapter Dion-Vivian part II


__ADS_3

***Rumah baru Dian dan Stefan***


Dian meninggalkan ruang tamu untuk mengambil handphone sebentar, lalu kembali dan duduk di samping Stefan.


Dian menelepon Vivian di hadapan Dion karena tahu teman masa kecilnya itu ingin mengetahui segera apakah Vivian mau bertemu dengan Dian.


Sebenarnya Dian pun merasa ragu apakah Vivian bersedia keluar menemuinya sehingga Dian memikirkan alasan yang tepat agar Vivian tidak bisa menolak.


Beberapa saat kemudian, sambungan telepon diangkat oleh Vivian. Dian menekan tombol speaker di handphone.


"Halo Dian. Ada apa?" tanya Vivian dengan suara tidak bersemangat.


"Vi! Mao Mao bersikap aneh sekarang. Mungkin programnya bermasalah. Bisa gak kita bertemu di Restoran Hartono siang ini?" tanya Dian.


Mao Mao yang merasa namanya disebut, menatap Dian dengan wajah bingung. Tepat saat panda merah ingin protes, Stefan menutup mulut Mao Mao dengan kedua tangannya dan membawa Mao Mao pergi dari ruang tamu.


Suasana menjadi sepi sejenak. Dian sabar menunggu jawaban Vivian, sedangkan Dion terlihat gelisah.


"Baiklah. Kamu bawa Mao Mao. Jam satu siang kita bertemu di sana," jawab Vivian.


"See you soon, Vi!" ucap Dian.


"See you soon, Dian!" balas Vivian sebelum menutup sambungan telepon.


***


"Dion! Aku ada rencana. Kamu harus hubungi beberapa teman lab yang mau membantu untuk menunjukkan ketulusan hatimu ke Vi. Oh iya, hubungi Leon juga," usul Dian.


Dion menganggukkan kepalanya pertanda setuju dengan perkataan Dian. Dion yakin Dian sudah mempunyai rencana untuk membuat Vivian memaafkannya. Apa pun rencana Dian, Dion akan melakukannya tanpa banyak bertanya.


Stefan sudah kembali bersama Mao Mao saat Dian dan Vivian selesai bertelepon. Dian menatap wajah suami tercintanya sambil tersenyum penuh makna.


"Ada apa Sunshine?" tanya Stefan.


"Fan! Tolong beri nasihat sebagai master cinta ke Dion untuk meluluhkan hati Vi. Seperti caramu meluluhkan hatiku," pinta Dian.


"Dari pada Dion datang tiap pagi mengganggu we time ku dengan Sunshine, lebih baik aku membantunya," batin Stefan.


"Baiklah. Karena Dion sudah mengubah program Mao Mao, aku bersedia membantunya," jawab Stefan dengan wajah semringah.


***Restoran Hartono***


Suasana Restoran Hartono terlihat penuh. Setiap meja makan rata-rata terisi dua pelanggan saja.

__ADS_1


Jika diperhatikan saksama, para pelanggan terlihat berusia muda dan kebanyakan memiliki ekspresi wajah yang serius maupun berpenampilan seperti kutu buku.


Dian dan Vivian duduk berhadapan di salah satu meja makan, sedangkan Mao Mao berada di pangkuan Dian.


Dian menatap wajah intens Vivian dan menyadari mata gadis muda itu tidak bercahaya seperti biasanya serta terlihat membengkak sedikit, meskipun sudah ditutupi oleh riasan wajah.


"Kasihan Vi! Dia pasti menangis dan sedih sekali," batin Dian.


Dian bisa membayangkan bagaimana kecewa dan sedihnya Vivian saat menunggu kedatangan Dion di toko pengantin, tetapi Dian tidak bisa menyalahkan Dion sepenuhnya karena teman masa kecilnya itu memang mempunyai sikap kaku dan kurang peka.


Dion pun telah memberitahukan semuanya ke Dian bahwa dirinya berusaha menyelesaikan proyek baru di tangannya dengan cepat agar bisa meluangkan waktu bulan madu berdua dengan Vivian, tetapi kesalahan fatalnya adalah kebiasaan mematikan handphone saat konsentrasi bekerja sehingga melupakan jadwal ke toko pengantin dan juga panggilan telepon dari Vivian tidak bisa masuk ke handphone nya.


Pada saat Dion menyalakan handphone dan melihat banyak panggilan tidak terjawab dari Vivian, Dion tidak bisa menghubungi Vivian lagi karena nomor handphone nya sudah diblokir oleh Vivian. Bahkan Vivian menolak bertemu Dion saat pria muda itu datang ke rumahnya.


Seorang pelayan restoran menghampiri meja Dian. "Nona Dian mau makan bakmi legendaris?" tanya pelayan wanita sambil tersenyum ramah.


"Iya. Aku mau pesan dua bakmi ayam legendaries, satu cangkir kopi, dan satu gelas teh manis," kata Dian.


Dion yang memberitahu Dian bahwa minuman kesukaan Vivian adalah kopi sehingga Dian memesankan kopi untuk Vivian.


"Baik nona Dian. Silakan tunggu sebentar," jawab pelayan wanita.


Dian menoleh ke arah Vivian setelah pelayan restoran pergi. "Vi. Bakmi ayam legendaris kakekku sangat enak. Kamu pasti menyukainya," ucap Dian.


Vivian mengambil laptop dari tas Dan meletakkannya di meja. "Apa masalah di program Mao Mao?" tanya Vivian.


"Sekarang Mao Mao memanggil Stefan dengan Pipi lagi," jawab Dian.


"Benarkah? Hanya aku yang bisa mengubah semua program di tubuh Mao Mao. Coba aku periksa!" ucap Vivian.


Vivian mengira ada yang hacker produk AI buatannya sehingga ingin mencoba memperbaiki Mao Mao. Vivian mengetik keyboard laptop dengan serius.


Lima menit kemudian, Vivian menatap Dian dengan wajah bersalah. "Dian. Aku sudah memeriksa program Mao Mao secara menyeluruh dan semuanya normal. Aku tidak bisa menemukan kesalahannya di mana," kata Vivian.


"Begitu ya? Atau kamu coba nanya ke Dion. Dion pasti bisa mengetahui kesalahannya di mana," usul Dian.


"Dion? Aku dan Dion sudah pisah," jawab Vivian dengan wajah sendu.


"Apa yang sudah terjadi, Vi? Bukankah kamu sangat menyukai Dion?" tanya Dian sambil memegang tangan Vivian, yang berada di atas meja untuk menenangkan Vivian.


"Iya. Justru karena aku lebih mencintainya dibandingkan dia mencintaiku. Mungkin sejak awal Dion pacaran denganku karena kasihan sama aku," jawab Vivian dengan mata berkaca-kaca.


"Jangan berpikir negatif, Vi. Aku yakin Dion sangat mencintaimu. Hanya saja sikapnya memang kaku dan susah mengekspresikan perasaan cinta nya padamu," ucap Dian sambil menepuk punggung tangan Vivian.

__ADS_1


Dian sangat yakin dengan perkataannya sendiri karena sebelumnya banyak wanita muda yang menyatakan cinta ke Dion, tetapi ditolak langsung oleh Dion.


Jika Dion sama sekali tidak mencintai Vivian, pria muda itu tidak mungkin bersedia berpacaran dengan Vivian. Dion lebih memilih menghabiskan semua waktunya di lab.


"Entahlah, Dian. Aku gak percaya diri," kata Vivian.


Pelayan restoran menghidangkan segelas teh manis di hadapan Dian.


"Terima kasih," ucap Dian.


"Sama-sama Nona Dian," jawab pelayan restoran.


***


Pintu masuk Restoran Hartono terbuka dan Leon berjalan masuk ke dalam dengan wajah semringah. Leon memberi isyarat tangan OK ke Dian.


Vivian berada di posisi membelakangi pintu masuk sehingga tidak melihat Leon datang.


Dua wanita muda mengikuti Leon di belakang. Keduanya membawa keranjang penuh dengan bunga mawar putih dan membagikannya ke pelanggan di setiap meja makan.


Vivian dan Dian pun mendapat satu tangkai bunga mawar putih. Wajah Vivian lebih cerah dibandingkan sebelumnya karena gadis muda itu menyukai bunga mawar putih. Vivian tidak menyadari kedua keranjang tempat bunga mawar yang kosong, ditinggalkan oleh dua wanita muda itu di meja.


Tiba-tiba dua pria yang duduk paling dekat dengan meja Dian berdiri dari kursi mereka dan berjalan menghampiri Vivian.


"Nona Vivian!" sapa salah satu pria berpenampilan kutu buku.


"Iya!" jawab Vivian dengan wajah bingung.


"Tolong maafkan Dion!" ucap pria itu sambil memberikan bunga mawar putih ke Vivian.


Teman pria itu juga memberikan bunga mawar putih ke Vivian dan mengucapkan hal yang sama.


Mata Vivian membulat besar saat satu persatu pelanggan restoran menghampirinya dan memberikan bunga mawar putih serta mengucapkan hal yang sama.


***


Selamat sore readers tercinta. Satu bab lagi nanti malam ya 🤗


TERIMA KASIH


SALAM SAYANG


AUTHOR : LYTIE

__ADS_1


__ADS_2