HASRAT CINTA PERTAMA

HASRAT CINTA PERTAMA
BAB 84. Provokator


__ADS_3

***Kamar rawat inap VVIP Healing Hands Hospital***


Dokter memeriksa kondisi Stefan secara menyeluruh sekali lagi setelah Stefan berada di dalam kamar rawat inap VVIP.


Sebuah selang infus terpasang di samping tempat tidur pasien. Stefan masih terbaring seperti semula dalam keadaan mata terpejam rapat.


"Tuan Jackson. Kondisi pasien sudah stabil. Besok pagi pasien akan siuman," kata dokter.


"Terima kasih dokter," jawab Jackson.


Dokter pun berpamitan meninggalkan kamar pasien. Sekarang di dalam kamar pasien hanya adalah anggota keluarga Wijaya dan rombongan Sherina, sedangkan Rizky sudah pulang bersama mobil Adi karena mobilnya masih tertinggal di tempat parkir Restoran Hartono.


"Chandra. Antar Rina dan Leon pulang ke apartemen. Kelvin bantu gendong Dian ke mobil. Kita pulang ke mansion sekarang!" perintah Jackson.


"Baik, daddy!" jawab Chandra dan Kelvin dengan patuh.


"Billy. Tolong antar Tasha pulang ya!" pesan Kelvin.


"Baik kak Kelvin," jawab Billy.


Billy melirik sekilas ke arah Dian. Wajah gadis muda itu masih pucat dan menatap Stefan yang terbaring di sana. Billy berfirasat kejadian kali ini akan membuat hubungan Dian dan Stefan berubah lagi.


Sebagai sesama pria, Billy yakin Stefan juga mencintai Dian sehingga rela mengorbankan nyawanya demi Dian. Tentu saja Dian pun pasti menyadari hal itu.


Apa pun pilihan dan keputusan Dian di masa yang akan datang, Billy akan menerimanya.


Jackson memerintahkan dua orang bodyguard untuk menjaga Stefan. Dalam waktu singkat, kamar rawat inap VVIP menjadi sepi.


Felix pun sudah memilih dua suster jaga berpengalaman untuk bergantian memeriksa keadaan Stefan sehingga perawatan dan keselamatan pria muda itu terjamin.


***Mansion Wijaya***


Kelvin membaringkan tubuh Dian di atas tempat tidur dengan perlahan. Gadis muda itu sudah ketiduran ketika dalam perjalanan pulang dari Healing Hands Hospital.

__ADS_1


Terlihat jelas Dian sangat kelelahan, baik lahir maupun batin. Rossy membantu menyelimuti tubuh Dian dengan bedcover, lalu anggota keluarga Wijaya meninggalkan kamar tidur Dian.


Rossy menuju dapur mansion Wijaya untuk mempersiapkan sup herbal yang bisa membantu proses penyembuhan tubuh Stefan dengan cepat. Sup herbal harus dimasak dalam waktu yang lama.


Rossy tahu besok pagi Dian pasti akan mengunjungi Stefan di rumah sakit sehingga bisa membawa sup herbal ke sana.


Sementara Jackson dan Kelvin menuju ruang kerja Jackson. Mereka berdua menunggu kabar dari Bagaskara serta kepulangan Chandra setelah mengantar Sherina dan Leon.


***


Jackson menerima panggilan masuk di handphone dengan cepat.


"Halo Bagaskara!" kata Jackson.


"Tuan Jackson. Sopir sudah tertangkap!" lapor Bagaskara.


"Siapa dalangnya?" tanya Jackson dengan suara dingin.


"Anggi, mantan manajer pemasaran di Perusahaan Jayanata. Wanita itu membayar dua puluh juta ke seorang pemabuk untuk menabrak nona Dian!" jawab Bagaskara.


"Baik tuan Jackson!" jawab Bagaskara.


Beberapa saat kemudian, Chandra masuk ke dalam ruang kerja setelah mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Daddy!" sapa Chandra dan duduk di samping Kelvin.


"Bagaskara sudah menelepon. Orang yang ingin mencelakai Dian, namanya Anggi. Kamu tahu apa motifnya?" tanya Jackson.


Jackson yakin ketika Chandra berhasil melacak keberadaan sopir, Chandra akan melacak hingga tuntas siapa dalang dan motifnya sebelum menyerahkan semuanya ke pihak berwajib dan Bagaskara untuk melakukan proses penangkapan.


"Anggi, wanita simpanan Husin, salah satu pemegang saham Perusahaan Jayanata. Husin dan komplotannya sudah ditangkap oleh polisi. Anggi mendapatkan keringanan dari polisi karena membantu memberikan bukti suap dan kejahatan komplotan Husin," jawab Chandra panjang lebar.


"Kalau begitu, mengapa Anggi menyewa orang untuk mencelakai Dian?" tanya Kelvin.

__ADS_1


Pertanyaan Kelvin sangat masuk akal karena Anggi masih dalam pengawasan polisi dan bersedia menjadi saksi untuk kasus Husin, seharusnya wanita itu tidak akan berbuat gila kecuali ada yang memprovokasinya.


"Kamu tahu siapa yang memprovokasinya?"


"Brother tahu siapa yang memprovokasinya?"


Jackson dan Kelvin menanyakan hal yang sama bersamaan.


"Sejak hari kepulangan Kelvin, seseorang mulai menghubungi Anggi melalui telepon. Orang itu Gisel!" jawab Chandra dengan yakin.


"Dasar wanita gila!" ujar Kelvin dengan ketus.


Kehebatan hacker Chandra tidak bisa diragukan lagi. Chandra berhasil mendapatkan semua rekaman percakapan antara Gisel dan Anggi.


Setiap hari Gisel berusaha mempengaruhi Anggi bahwa Dian lah yang membuat Anggi kehilangan segala-galanya. Apa lagi saat identitas Dian terungkap, provokasi Anggi akhirnya berhasil membuat Anggi khilaf dan muncul niat bodoh untuk mencelakai Dian.


Anggi mengira rencananya sangat sempurna karena menyewa pemabuk untuk melakukannya sehingga jika pihak kepolisian mengusut masalah ini maka hanya menganggap pria itu mabuk berat dan tidak sengaja menabrak Dian.


Anggi tidak akan menyangka Bagaskara ikut membantu menangkap pria pemabuk itu sehingga rencananya gagal.


"Chandra! Hancurkan perusahaan orang tua wanita itu!" perintah Jackson sambil mengepalkan kedua tangannya dengan erat.


"Baik, daddy! Perusahaannya akan bangkrut saat ini juga!" kata Chandra dengan yakin.


Rekaman percakapan telepon antara Anggi dan Gisel belum bisa menjerat Gisel ke dalam kasus tabrak lari karena tidak ada bukti secara verbal Gisel yang menyuruh Anggi melakukannya sehingga Jackson ingin menghukum keluarga Gisel terlebih dahulu.


***


Selamat siang readers. Babang Fan Fan malam baru siuman ya. Nanti karmanya Gisel akan nyusul karena masih diperlukan sebagai pemeran pembantu di novel ini agar Stefan tahu Dian gadis kecil cinta pertamanya 😆🙏


Hebat-hebat nih tebakan readers. Ada yang tebak tepat Anggi dan Gisel 🥳🥳🥳


TERIMA KASIH

__ADS_1


SALAM SAYANG


AUTHOR : LYTIE


__ADS_2