HASRAT CINTA PERTAMA

HASRAT CINTA PERTAMA
BAB 83. Healing Hands Hospital


__ADS_3

***Di dalam ambulans Healing Hands Hospital***


Dion menarik napas lega melihat Dian tenang karena perkataannya. Dion menyentuh siku tangan dan lutut Dian dengan pelan.


Gadis muda itu meringis kesakitan. Lukanya terasa perih. Sejak awal kecelakaan, rasa sakit di tubuhnya yang terluka seolah menjadi kebal dan tidak terasa sama sekali.


Dian hampir saja lupa dirinya pun mengalami luka karena terjerembab keras di tepi jalan, tetapi lukanya tidak seberapa jika dibandingkan dengan luka Stefan saat ini.


"Dian! Stefan akan di operasi ketika tiba di rumah sakit. Kamu pun harus diobati semua lukamu dan rontgen full body," ujar Dion.


Dian menatap Dion dan ingin menyanggah perkataan teman masa kecilnya, tetapi Dion melanjutkan perkataannya terlebih dahulu.


"Om Jackson, aunty Rossy, Kak Kelvin, dan Kak Chandra sudah menuju Healing Hands Hospital. Kamu tidak mau kan mereka semua khawatir melihatmu terluka dan duduk di luar ruang operasi?" tanya Dion dengan suara lembut.


Dion sangat mengerti perasaan hati Dian sekarang. Gadis muda itu pasti akan menunggu di luar ruang operasi hingga operasi selesai dan tidak mungkin mau mengobati lukanya terlebih dahulu.


"Baiklah," jawab Dian setelah termenung beberapa saat.


Dian tahu maksud baik Dion. Selama Stefan di ruang operasi, dirinya tidak bisa membantu apa pun dan hanya bisa menunggu di luar. Bahkan keadaannya yang menyedihkan saat ini malahan akan membuat keluarga kecilnya sedih.


Dion segera menelepon Felix lagi setelah Dian setuju dengan sarannya.


***Healing Hands Hospital***


Felix dan Michelle menyambut kedatangan mobil ambulans di depan pintu masuk. Paramedis memindahkan tubuh Stefan dengan cepat ke tempat tidur pasien, lalu mendorongnya menuju ruang operasi.


Felix dan Dion mengikuti dari belakang. Di depan ruang operasi sudah menunggu beberapa dokter spesialis bedah yang khusus menangani korban kecelakaan mobil. Para dokter spesialis itu masuk ke ruang operasi bersama Stefan yang terbaring di atas tempat tidur pasien.


Sementara Michelle memapah Dian dan mendudukkannya ke kursi roda yang telah dipersiapkan oleh suster.


"Daddy! mommy!" panggil Dian saat melihat Jackson dan Rossy sudah menunggunya.


Dian mengangkat kedua tangannya secara refleks dan memeluk erat pinggang Rossy. Gadis muda itu menangis di pelukan ibunya. Rossy menepuk-nepuk punggung Dian untuk menenangkannya.


"Jangan khawatir, Dian! Daddy dan om Felix sudah mencarikan dokter spesialis bedah terbaik untuk mengobati Stefan," ucap Jackson.


Dian menganggukkan kepala sambil tetap memeluk pinggang Rossy dengan erat.


"Ayo Dian sayang. Lukamu harus diobati dulu supaya tidak infeksi," kata Rossy dengan suara lembut.


Kejadian di depan Restoran Hartono tidak diketahui oleh Thomas sehingga Rossy dan yang lainnya pun merahasiakan hal itu dari Thomas agar orang tua itu tidak terkejut dan bisa mengakibatkan kesehatannya menurun.


Suster mendorong kursi roda Dian untuk pengobatan dan rontgen. Rossy dan Michelle menemani Dian, sedangkan wajah Jackson tegang dan berjalan menghampiri rombongan Sherina.


"Leon! Chandra bilang mobil itu sengaja menabrak Dian!" ucap Jackson.

__ADS_1


"Benar, om Jackson! Kita semua melihatnya dengan jelas. Untung saja Stefan mendorong Dian ke samping, jika tidakโ€ฆ."


Leon tidak bisa melanjutkan perkataannya. Wajah mereka semua menjadi pucat lagi membayangkan Dian yang akan berada di ruang operasi sekarang.


Pada saat kecelakaan itu terjadi, Dion segera menelepon ambulans untuk pertolongan pertama, sedangkan Leon yang menghafal plat mobil itu segera menghubungi Chandra karena tahu keahlian hacker Chandra bisa melacak identitas pemilik mobil tersebut.


"Chandra sedang menyelidiki cctv di Restoran Hartono. Kita tunggu saja kabar darinya," kata Jackson.


"Baik, om Jackson!" jawab Leon patuh.


Jackson mengalihkan perhatiannya ke Rizky, yang ikut bergabung dalam rombongan Sherina. Seingat Jackson, pria muda itu bukanlah teman dekat Dian sehingga menatap tajam ke Rizky.


Ketika semua panik masuk ke dalam mobil Billy untuk menyusul mobil ambulans, Rizky pun ikut masuk ke dalam mobil dan rombongan Sherina membiarkannya karena mereka tahu Rizky teman baik Stefan.


"Tuโ€ฆ.tuan Jackson," sapa Rizky terbata-bata.


Sebenarnya Rizky ingin langsung menuju ke ruang tunggu operasi, tetapi saat melihat Jackson menghampiri rombongan Sherina, Rizky ingin tahu jelas apa yang sebenarnya sedang terjadi. Dirinya sendiri pun berfirasat mobil itu mengincar nyawa Dian dan Stefan menjadi tumbalnya.


"Siapa kamu?" tanya Jackson tanpa basa-basi.


"Aโ€ฆaku Rizky, teman Stefan," jawab Rizky.


Rombongan Sherina menganggukkan kepalanya bersamaan.


"Rizky. Tolong telepon Keluarga Bramasta dan kabarkan mengenai keadaan Stefan," ucap Jackson.


Rizky segera berjalan ke sudut ruangan yang lebih sepi untuk menghubungi Adi Bramasta, karena Kasan, Laura, dan Anastasia tidak berada di Bali saat ini.


***


Beberapa saat kemudian Chandra dan Kelvin tiba di Healing Hands Hospital bersamaan.


"Daddy. Identitas sopir sudah terlacak. Om Bagaskara bekerja sama dengan pihak kepolisian sedang mengejarnya," lapor Chandra.


"Ayo kita lihat keadaan Dian sekarang!" ajak Jackson.


***


Telapak tangan, siku, dan lutut Dian sudah diperban. Hasil rontgen pun bagus sehingga Dian meminta suster mendorongnya ke ruang tunggu operasi.


Dian tidak perlu rawat inap di Healing Hands Hospital, tetapi Michelle menyarankan Dian memakai kursi roda satu hari dan gadis muda itu menyetujuinya.


Jackson, Chandra, Kelvin, rombongan Sherina dan juga Rizky mengikuti Dian menuju ruang tunggu operasi. Mereka semua menunggu di sana dengan wajah tegang.


Adi Bramasta datang bersama Pak Eko, kepala pelayan mansion. Adi berjalan sambil memegang tongkat dan bantuan Pak Eko.

__ADS_1


Wajah pria tua itu terlihat tegang. Stefan satu-satunya ahli waris Bramasta yang bisa diandalkan olehnya saat ini.


Mata Adi melirik sekilas ke arah Dian yang duduk di kursi roda. Pria tua itu mengetahui dari telepon Rizky bahwa Stefan kecelakaan karena menolong Dian.


Adi tidak menyangka cucu satu-satunya rela mengorbankan nyawa demi Dian. Itu hal yang sangat baik. Kejadian kali ini pasti membuat Keluarga Wijaya merasa berhutang budi ke Stefan dan bisa memudahkan pernikahan bisnis di masa yang akan datang, tetapi kondisi Stefan yang kritis membuat Adi semakin syok dan mengesampingkan rencananya.


"Bagaimana keadaan tuan muda Stefan?" tanya Pak Eko ke Rizky.


"Stefan masih di ruang operasi," jawab Rizky.


Jackson berlapang dada menghampiri Adi. "Jangan khawatir, Pak Adi. Semua dokter spesialis bedah terbaik sedang mengobati Stefan. Keluarga Wijaya akan mengingat budi Stefan menyelamatkan Dian, tetapi ini bukan kecelakaan biasa. Aku akan mendapatkan pelakunya!" ujar Jackson dengan tegas.


"Bukan kecelakaan biasa?" tanya Adi.


"Iya. Aku sudah melaporkannya ke pihak berwajib. Tidak lama lagi sopir mobil akan tertangkap," jawab Jackson dengan yakin.


Bertepatan dengan itu, pintu ruang operasi terbuka. Dokter bedah senior berjalan keluar dari ruang operasi sehingga rombongan Jackson segera menghampirinya. Suster pun mendorong kursi roda Dian mendekat ke sana.


"Dokter. Bagaimana keadaan pasien?" tanya Chandra.


"Operasi sangat berhasil dan lancar. Saat ini tidak ada yang membahayakan nyawanya. Pasien mengalami gegar otak dan patah kaki sehingga perlu rawat inap di rumah sakit selama seminggu untuk dipantau kondisinya," jawab dokter bedah senior panjang lebar.


"Terima kasih dokter," ucap rombongan Jackson bersamaan.


Dokter bedah senior menganggukkan kepala ke Jackson dan Adi, lalu berjalan meninggalkan mereka. Beberapa saat kemudian suster mendorong tempat tidur pasien. Stefan terbaring di sana dengan pakaian rumah sakit.


Kepala Stefan sudah dibalut perban, sedangkan kaki kanannya di gips. Suster mendorong tempat tidur pasien menuju kamar rawat inap VVIP yang sudah dipersiapkan oleh Felix sebelumnya.


Adi menarik napas lega setelah mengetahui keadaan Stefan baik-baik saja.


"Pak Adi bisa pulang beristirahat di mansion. Aku akan mengirim bodyguard untuk menjaga Stefan di sini," kata Jackson.


"Baiklah. Terima kasih Jackson," jawab Adi.


***


Selamat malam readers tercinta. Ceritanya lanjut besok lagi ya. Ceritanya sudah panjang, gak bisa percepat lagi nanti tabrak ga bisa klaim bpjs ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚


Cerita tidak akan gantung lama koq ๐Ÿ˜…๐Ÿ™. Besok Stefan sudah siuman dan identitas pelaku akan terungkap.


He he, tebakan readers ada yang benar nih, tetapi ada satu lagi yang belum tertebak. Siapa dia?


TERIMA KASIH


HAPPY WEEKEND DAN BERKUMPUL BERSAMA KELUARGA

__ADS_1


SALAM SAYANG


AUTHOR : LYTIE


__ADS_2