HASRAT CINTA PERTAMA

HASRAT CINTA PERTAMA
BAB 96. Rapat dadakan


__ADS_3

***Perusahaan Bramasta***


Anjas semakin kesal karena Luis mengikutinya terus dari belakang. Bahkan ketika Anjas berdiri di depan lift dan menekan tombol, Luis masih berada di dekatnya.


"Ada apa sekretaris Luis?" tanya Anjas dengan ketus.


"Ruangan Pak Adi ada di lantai ini," jawab Luis.


"Sialan!" batin Anjas.


Anjas mengingat jelas Stefan memerintahkan Luis untuk mengantarnya ke ruangan Adi Bramasta.


Bagaimana mungkin Anjas berani meminta pertanggung jawaban Adi atas perjanjian melalui verbal saja? Tadi Anjas hanya berusaha mengancam Stefan dan ternyata Stefan tidak peduli dengan ancamannya. Bahkan menyarankan Ellen menikah dengan Adi.


Tentu saja Anjas menolak keras putri satu-satunya menjadi istri Adi yang bahkan lebih tua darinya.


"Aku mau pulang!" ujar Anjas sambil menggertakkan giginya.


"Silakan Pak Anjas," jawab Luis, tanpa berniat meninggalkan tempat itu. Luis ingin mengawasi kepergian Anjas.


Anjas menekan tombol lift berkali-kali dengan tidak sabaran. Akhirnya pintu lift pun terbuka, tetapi Anjas mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam lift karena melihat ada sosok seseorang yang dikenalnya berdiri di dalam lift.


"Ellen?" gumam Anjas.


"Ayah!" panggil Ellen dengan senyum lebar. Gadis tidak tahu malu itu segera keluar dari dalam lift dan merangkul lengan Anjas.


Ellen melirik sekilas ke arah Luis yang masih berdiri di sana. Ellen mengenali Luis sebagai sekretaris pribadi Stefan sehingga mengira Stefan meminta Luis untuk mengantar Anjas ke lantai bawah.


"Ayah sudah selesai ngomong sama Stefan? Ayo kita bertemu Stefan lagi sekarang. Dia pasti akan menolongku!" ucap Ellen dengan antusias.


Luis yang mendengarkan perkataan Ellen, mengernyitkan dahinya spontan. "Ayah dan anak sifatnya sama. Sama-sama tidak tahu malu," batin Luis.


"Menolongmu? Apa yang sudah terjadi, Ellen?" tanya Anjas.


"Aku hanya meminta penerbit majalah kenalan agensi untuk menyebarkan gosip tentang Dian dan Kelvin di internet. Pengacara Perusahaan Wijaya menuntut penerbit majalah dan aku atas pencemaran nama baik," jawab Ellen dengan wajah pucat.


Sewaktu Ellen menunggu kabar baik dari Anjas, Ellen menerima telepon dari pengacara Perusahaan Wijaya mengenai tuntutan pencemaran nama baik sehingga Ellen menjadi panik dan segera menyusul Anjas ke Perusahaan Bramasta.


Ellen tidak menyangka penerbit majalah itu mengungkap identitas dirinya dan Naomi sebagai orang yang membayar untuk memfitnah Dian dan Kelvin.


"Kenapa Perusahaan Wijaya bisa ikut campur?" tanya Anjas.


Ellen pun terpaksa menceritakan semuanya dengan jujur ke Anjas, termasuk surat pernyataan tertulis dari Public Relation Perusahaan Wijaya dan juga identitas Kelvin sebagai putra kandung Jackson Wijaya.


Wajah Anjas ikut menjadi pucat seketika dan merasa tidak berdaya. Anjas tahu Ellen sudah membangunkan harimau yang tertidur pulas. Jackson Wijaya pasti tidak akan melepaskan semua orang yang berani merusak nama baik putra putrinya.

__ADS_1


"Ayo!" ajak Anjas sambil menarik tangan Ellen dan melangkahkan kakinya menuju ruang kerja Stefan.


Anjas ingin meminta bantuan Stefan, tetapi Luis mempercepat langkah kakinya dan berdiri di depan Anjas, menghalangi pria tua itu.


"Pak Anjas! Silakan tinggalkan Perusahaan Bramasta sebelum aku memanggil security! Tadi CEO Stefan sudah mengatakan semuanya dengan jelas!" ujar Luis.


"Memanggil security untuk mengusirku dan ayah?" batin Ellen.


Wajah Anjas semakin muram karena perkataan Luis. Anjas baru tersadar dan yakin Stefan tidak mungkin mau membantu Ellen.


Anjas pun menarik lagi tangan Ellen menuju lift. Hanya satu orang yang bisa membantu Ellen sekarang sehingga Anjas berinisiatif menemui orang itu.


Sementara Luis melangkahkan kakinya cepat untuk melaporkan semuanya ke Stefan.


***Ruang kerja Stefan***


Stefan mendengarkan laporan Luis dengan tenang. Pria muda itu sangat setuju dengan tindakan Jackson menuntut Ellen atas pencemaran nama baik Dian.


"Luis. Sebarkan berita Perusahaan Jayakencana meminta harga 20% lebih dari harga pasaran untuk setiap proyek kerja sama!" perintah Stefan.


"Baik CEO Stefan!" jawab Luis dengan patuh.


Stefan yakin berita itu akan membuat Perusahaan Jayakencana kehilangan banyak rekan bisnis. Itu juga merupakan cara Stefan untuk melawan Adi secara terang-terangan.


"Baik CEO Stefan!" jawab Luis.


***Ruang meeting Perusahaan Bramasta***


Para pemegang saham dan kepala departemen sudah berkumpul di dalam ruang meeting, termasuk Adi.


Mereka semua penasaran kenapa Stefan mengadakan rapat dadakan hari ini.


Stefan berjalan masuk ke dalam ruang meeting diikuti oleh Luis. Stefan duduk di kursi tengah dan mengedarkan pandangannya ke sekeling, lalu tatapan matanya berhenti lebih lama di wajah Adi.


"Kenapa Fan memandangku seperti itu?" batin Adi.


Adi merasa tidak tenang karena ini pertama kalinya Stefan menatapnya dengan acuh dan dingin, tanpa ada rasa hormat terhadap dirinya sebagai orang yang lebih tua dan juga kakek kandung Stefan.


"Rapat hari ini untuk membahas tentang proyek kawasan vila mewah." Stefan memulai meeting dengan langsung membicarakan inti masalah, tanpa basa basi. Itu sudah menjadi ciri khas Stefan selama ini.


"Aku mengusulkan menggunakan Perusahaan Jayakencana sebagai developer," ujar Adi dengan arogan.


Para pemegang saham dan kepala departemen tidak berani mengemukakan pendapat apa pun. Mereka semua menatap Stefan dan menunggu jawaban pria muda itu atas usul Adi.


Stefan tersenyum tipis melihat reaksi mereka. "Kalian semua pasti tahu tiga hektar tanah untuk kawasan vila mewah berasal dari Perusahaan Wijaya," kata Stefan.

__ADS_1


Para pemegang saham dan kepala departemen menganggukkan kepala bersamaan. Mereka semua tahu Perusahaan Wijaya memberikan tiga hektar tanah itu secara gratis, tanpa mengetahui alasan pasti Perusahaan Bramasta bisa mendapatkan keuntungan secara tiba-tiba.


Walaupun begitu, di dalam hati kecil mereka menduga ada hubungannya dengan Dian, sebagai mantan istri Stefan.


"Perusahaan Jayakencana sudah mengingkari kontrak kerja dengan Perusahaan Jayanata dan meminta kenaikan harga 20% dari harga pasaran. Perusahaan Bramasta tidak akan menggunakan developer yang bermasalah untuk proyek besar ini!" lanjut Stefan.


"Perusahaan Jayakencana bersedia mengikuti harga pasaran untuk proyek Bramasta!" sela Adi.


"Kakek sudah pensiun sehingga tidak memiliki hak untuk mengambil keputusan penting Perusahaan Bramasta. Aku yakin kalian semua sependapat denganku untuk tidak bertentangan dengan Perusahaan Wijaya bukan?" tanya Stefan dengan nada tegas.


Para pemegang saham dan kepala departemen mengerti maksud dari perkataan Stefan bahwa Perusahaan Jayakencana sudah menyinggung Perusahaan Wijaya.


Jika mereka mendukung Adi, maka bisa dipastikan Perusahaan Wijaya akan menjadi lawan dan musuh yang tangguh bagi Perusahaan Bramasta.


"Kita setuju dengan perkataan CEO Stefan!"


"Iya, benar sekali! Developer yang mempunyai reputasi buruk akan mempengaruhi harga jual proyek yang dihasilkan nantinya."


"Perusahaan Bramasta masih akan bekerja sama dengan Perusahaan Wijaya di masa yang akan datang."


Wajah Adi menjadi muram karena dukungan penuh semua peserta meeting ke Stefan. Rencananya gagal dan hancur berantakan.


Adi yakin selama Stefan menjabat sebagai CEO Bramasta, cucu kandungnya itu akan selalu bertentangan dengannya. Kecuali kekuasaan Perusahaan Bramasta kembali ke tangannya.


***


Selamat siang readers tercinta. Author LYTIE ucapkan Selamat memperingati Hari Kelahiran


NABI MUHAMMAD SAW 2022 πŸ™πŸ™


Bagi semua readers yang memperingati πŸ€—


Anjas dan Ellen akan menemui siapa untuk membantu mereka?


Author mau izin hari ini up satu bab saja ya karena mau menemani anak liburan πŸ€—πŸ™


Jangan lupa baca kelanjutan ceritanya besokπŸ€—


TERIMA KASIH


HAPPY WEEKEND


SALAM SAYANG


AUTHOR : LYTIE

__ADS_1


__ADS_2