HASRAT CINTA PERTAMA

HASRAT CINTA PERTAMA
BAB 73. Dua pilihan


__ADS_3

***Mansion Bramasta***


Adi Bramasta duduk di sofa ruang tamu sambil memegang tongkat. Sejak pulang dari acara perayaan ulang tahun Perusahaan Wijaya, kaki Adi terasa lemas dan tidak bertenaga.


Kemarahan, kekesalan, dan merasa dipermalukan oleh keluarga Wijaya membuat daya tahan tubuh pria tua itu menurun. Bahkan Adi harus dipapah oleh Stefan dan pak sopir untuk berjalan masuk ke dalam mansion Bramasta.


Stefan memerintahkan Pak Eko, kepala pelayan mansion untuk mengambilkan tongkat milik Adi dari kamar pria tua itu.


Adi mempunyai sebuah tongkat yang terbuat dari kayu gaharu asli, tetapi Adi jarang menggunakannya karena merasa gengsi terlihat lemah dan sudah tua jika menggunakan tongkat itu.


Tongkat gaharu itu lebih sering dijadikan pajangan di kamar Adi. Sejak awal Adi sama sekali tidak menyangka dirinya akan bergantung sepenuhnya dengan tongkat itu di kemudian hari.


Stefan duduk di sofa yang berada di seberang Adi, sedangkan Anastasia dan Laura duduk bersama di sofa 2 seater. Sofa 2 seater itu terletak diantara sofa Adi dan Stefan.


Adi sedang membaca berita di internet, terutama yang disebarkan oleh tiga majalah besar yang dibayar olehnya untuk memfitnah Dian.


Semua berita di ketiga majalah itu mengungkapkan identitas Dian sebagai putri bungsu Keluarga Wijaya dan juga mengekspos keburukan Keluarga Bramasta.


Adi yakin Jackson sudah bertindak duluan untuk memberinya tekanan lebih besar agar memenuhi permintaan Jackson di kamar VVIP lounge beberapa waktu yang lalu.


Ancaman dari Jackson bukan omong kosong belaka. Walaupun begitu, Adi masih enggan untuk mengakui kesalahannya.


Adi meletakkan handphone miliknya ke atas meja dengan sembarangan, lalu mengetuk tiga kali lantai keramik mansion dengan tongkatnya sehingga menimbulkan suara yang keras.


Tubuh Anastasia dan Laura gemetaran karena Adi menatap tajam ke arah mereka berdua.


"Dasar kalian berdua tidak punya otak! Hanya bisa membuat masalah untuk keluarga Bramasta!" geram Adi.


Selama sebelas bulan, Laura dan Anastasia lah yang sering menindas dan memperlakukan Dian seperti pembantu sehingga secara tidak langsung keluarga Bramasta sudah menyinggung Keluarga Wijaya dan sekarang keris antiknya pun menjadi korban.

__ADS_1


Laura mencoba membela diri. "Pa! Dian yang membohongi kita semua, kenapa aku dan Sia yang disalahkan? Lagi pula papa sudah meminta orang menyelidiki asal usul Dian," ucap Laura dengan suara gemetaran.


Adi semakin kesal mendengar bantahan Laura. "Apakah bukan kalian berdua yang menjual keris antikku? Kamu masih berani membantah! Dasar menantu tidak tahu diri!" hardik Adi sambil mengetuk tongkatnya berkali-kali dengan tenaga yang lebih kuat lagi.


Wajah Laura pucat seketika. Matanya berkaca-kaca menahan air mata. Bahkan Anastasia yang duduk disampingnya semakin menundukkan kepala karena sadar dirinya juga pelaku utama yang menjual keris antik Adi.


Kemarahan dan kekesalan Adi masih belum terlampiaskan semua sehingga pria tua itu menatap ke arah Stefan, yang duduk tenang dengan wajah tanpa ekspresi di hadapannya.


"Fan! Kamu yang membawa Dian pulang ke mansion karena telah menikahinya di Las Vegas, lalu kenapa kamu setuju bercerai dengannya?" tanya Adi.


Jika saja perceraian itu tidak terjadi, maka status keluarga Bramasta akan semakin tinggi karena menjadi besan keluarga Wijaya.


"Kenapa bercerai? Bukankah itu harapan kalian semua?" ujar Stefan dengan suara dingin.


Suasana ruang tamu menjadi hening seketika. Adi, Laura, dan Amastasia bisa merasakan kemarahan Stefan terhadap mereka semua yang memperlakukan Dian buruk selama ini.


Lima menit kemudian, Adi membuka suaranya lagi. Kali ini tatapan matanya sudah lebih melunak ke arah Stefan.


Bagaimanapun juga, dirinya sudah pensiun dari Perusahaan Bramasta sehingga semua keputusan penting seharusnya diserahkan ke tangan Stefan.


Adi mengharapkan Stefan mempunyai rencana yang bagus untuk memecahkan masalah yang pelik ini.


"Melakukan permintaan tuan Jackson!" jawab Stefan dengan tegas.


"Fan! Apakah kamu sadar, permintaan maaf akan menegaskan bukti bahwa Keluarga Bramasta memfitnah Dian. Saham dan nama baik perusahaan Bramasta akan tercoreng!" ujar Adi dengan ketus.


"Bukankah sejak awal aku sudah memperingatkan kakek, jangan memfitnah Dian? Semua ini terjadi karena kesalahan kakek. Sekarang hanya ada dua pilihan untuk kakek!" kata Stefan.


"Pilihan apa saja?" tanya Adi dengan wajah gelisah. Pria tua itu berfirasat kedua pilihan yang diajukan Stefan, tidak ada yang menguntungkan baginya.

__ADS_1


"Kakek ingin perusahaan Bramasta mengajukan permintaan maaf atau perusahaan Bramasta bangkrut!" jawab Stefan.


Adi duduk lemas di atas sofa. Sikap angkuh dan arogan yang selalu melekat pada Adi hilang seketika. Sekarang Adi hanyalah pria tua yang lemah dan tidak memiliki kekuasaan sama sekali.


Adi tahu Perusahaan Jayanata memiliki kerja sama beberapa proyek dengan Perusahaan Wijaya maupun Perusahaan Saputra. Pembatalan kerja sama itu akan menyebabkan Perusahaan Bramasta mengalami kerugian yang besar.


"Baiklah! Kakek serahkan semuanya ke tanganmu!" jawab Adi.


Nama perusahaan yang tercoreng masih bisa diperbaiki dan Adi yakin Stefan mampu melakukannya. Akan tetapi, jika Perusahaan Bramasta bangkrut karena masalah ini maka semua kemewahan dan kekayaan yang dinikmati olehnya akan lenyap dan Adi tidak mau hal itu terjadi.


Adi bangkit dari sofa dan berjalan meninggalkan ruang tamu dengan bantuan tongkat serta Pak Eko mengikutinya dari belakang.


Laura dan Anastasia menarik napas lega melihat sosok Adi menghilang dari hadapan mereka, tetapi kelegaan mereka hanya sementara karena Stefan masih berada di sana dan sedang menatap tajam ke arah mereka.


"Mulai sekarang aku harap mama dan Sia tidak lagi mencari masalah dengan Dian," kata Stefan.


"I..iya," jawab Laura terbata-bata, sedangkan Anastasia menampilkan wajah kesal dan tidak senang dengan teguran Stefan.


"Sia! Jika kamu masih membuat masalah di luar, jangan harap akan mendapatkan uang jajan lagi! Kamu bisa bekerja di luar untuk mendapatkan uang sendiri!" ucap Stefan sebelum meninggalkan ruang tamu mansion.


Nyali Anastasia menjadi ciut karena ancaman Stefan. Bagaimana mungkin dirinya sebagai nona muda Bramasta, bekerja di luar untuk mendapatkan uang? Bisa dipastikan semua teman sosialita akan menertawakannya.


***


Selamat siang readers tercinta..Terima semua dukungan, komentar positif pemberi semangat. Bahkan ada yang sukarela membantu memberi rating yang bagus sehingga rating novel ini mulai membaik. Love sekebon 🥰


Jangan lupa baca kelanjutan ceritanya nanti malam ya 🤗


TERIMA KASIH

__ADS_1


SALAM SAYANG


AUTHOR : LYTIE


__ADS_2