HASRAT CINTA PERTAMA

HASRAT CINTA PERTAMA
BAB 49. Pemilik sah


__ADS_3

***Ruangan VIP Pelelangan Amal***


Seorang pegawai pelelangan tersenyum ramah ke Dian ketika gadis muda itu menyerahkan papan nomor 77. Pegawai pelelangan itu memeriksa formulir yang ada di tangannya, lalu membuka salah satu kotak yang berisi keris antik milik Adi Bramasta.


"Nona. Silakan periksa sebentar keris antik ini," ucap pegawai pelelangan dengan sopan.


Dian menganggukkan kepalanya dan membuka sarung keris sebentar, lalu memasukkannya kembali. Keris antik itu terawat dengan baik dan mata pisaunya sangat berkilau.


"Terima kasih," kata Dian dan menyerahkan keris itu ke pegawai pelelangan.


Pegawai pelelangan menyimpan keris ke dalam kotak panjang.


"Tunggu sebentar nona. Saya akan mempersiapkan administrasi pembayaran sekarang," ucap pegawai pelelangan.


"Baiklah," jawab Dian.


Dian mengobrol ringan dengan Billy sambil menunggu pegawai pelelangan. Wajah Laura dan Anastasia memerah menahan amarah karena Dian mengacuhkan mereka sejak berada di dalam ruangan.


"Dian! Kamu sangat tidak sopan, tidak menyapa orang yang lebih tua!" ujar Laura dengan sombong.


Dian menaikkan alisnya dan memberikan tatapan heran ke Laura. "Ternyata nyonya Laura juga berada di ruangan ini. Apakah dia sedang antri mengambil barang lelang juga?" tanya Dian ke pegawai pelelangan.


Pegawai pelelangan melihat papan nomor yang dipegang Laura dan Anastasia, lalu memeriksa di formulir.


"Maaf nyonya Laura. Anda tidak membeli apa pun di pelelangan tadi," ucap pegawai pelelangan dengan sopan.


"Bukan pembeli? Kenapa bisa berada di ruangan VIP ini?" tanya Dian.


Laura dan Anastasia semakin geram mendengar pertanyaan demi pertanyaan dari mulut Dian ke pegawai pelelangan.


"Maaf nyonya dan nona! Ruangan VIP ini khusus untuk pembeli," kata pegawai pelelangan, dengan maksud mengusir mereka berdua secara halus.


"Hei Dian! Jangan kira kamu ada bekingan, bisa sombong di hadapanku! Aku ini mertuamu!" gertak Laura.


Dian dan Billy tertawa kecil bersamaan mendengar perkataan Laura.


"Nyonya Laura pasti terlalu tua sehingga lupa ingatan. Aku sudah bercerai dengan anakmu dan bukan menantumu lagi," ucap Dian.


"Benar sekali! Nyonya tua cari wanita lain untuk jadi menantu saja!" ujar Billy.


"Dian! Kamu sangat tidak sopan! Bagaimana pun ibu adalah orang tua yang harus kamu hormati!" kata Anastasia.


"Kamu mau memberi pelajaran untukku lagi?" tanya Dian ke Anastasia sambil tersenyum samar.


Wajah Anastasia menjadi pucat seketika. Hati kecilnya tahu dirinya sudah beberapa kali dipermalukan oleh Dian sehingga muncul rasa takut dan mundur beberapa langkah secara spontan.


"Nona. Ini administrasi pembayarannya," kata pegawai pelelangan.

__ADS_1


Laura dan Anastasia semakin panik mendengar perkataan pegawai pelelangan. Keris antik tidak boleh jatuh ke tangan Dian.


"Dian! Aku kasih kamu 550 juta. Keris antik ini milikku!" ucap Laura.


Masalah keris antik merupakan masalah besar sehingga Laura terpaksa menelepon Stefan dan menceritakan semuanya.


"Jika nyonya Laura mempunyai 550 juta, kenapa tidak menawar tadi? Sekarang sudah terlambat karena keris antik ini milikku," balas Dian dengan tenang.


"Aku sudah menelepon Stefan. Stefan sedang menuju ke sini," ujar Laura.


Selama pernikahan, Laura tahu Dian mencintai Stefan sehingga ingin menggunakan nama Stefan untuk membuat Dian patuh pada perintahnya seperti dulu.


"CEO Stefan datang atau tidak, keris antik ini milikku!" ucap Dian dengan tegas.


"Dian! Uang 550 juta milikmu itu uang jajan dari Stefan. Jadi keris antik ini milik keluarga Bramasta!" teriak Laura tidak sabaran.


"Benar! Itu uang keluarga Bramasta. Bukan uangmu," tukas Anastasia.


Dian menggelengkan kepala sambil memberikan tatapan menghina ke dua wanita sombong di depannya. Dian memang sengaja menawar dengan harga 550 juta karena yakin kedua wanita bodoh ini akan tidak tahu malu mengakui uang itu milik keluarga Bramasta.


"Aku memberikan tanpa pamrih 550 juta itu ke Stefan sewaktu menandatangani surat cerai. Kalian bisa meminta kepadanya," jawab Dian.


Mata Laura dan Anastasia membulat besar karena perkataan Dian. Dian tidak memedulikan mereka berdua lagi. Gadis muda itu mengambil dompet dan mengeluarkan satu kartu kredit berwarna hitam, yang merupakan versi signature dengan limit maksimal.


"Aku bayar pakai kartu kredit ini," kata Dian sambil menyerahkan kartu kredit ke pegawai pelelangan.


Laura dan Anastasia semakin gelisah. Apa lagi Stefan belum juga tiba sehingga Laura memikirkan rencana untuk menahan kepergian Dian dan merebut kembali keris antik.


"Nyonya Laura sudah tahu pentingnya keris ini, tetapi masih membawanya ke tempat lelang. Berarti kamu yang ingin kakek menderita dan mati dengan penyesalan. Tidak ada hubungannya denganku," jawab Dian.


"Ha ha ha!" Billy tertawa terbahak secara spontan membuat wajah Laura dan Anastasia semakin merah.


"Ini kartu kredit nona," kata pegawai pelelangan.


Dian membubuhkan tanda tangan di slip kartu kredit dan juga berkas kepemilikan sah atas keris antik.


"Terima kasih nona," ucap pegawai pelelangan dengan senyuman lebar.


Percakapan antara Dian dan Laura tidak mempengaruhi pegawai pelelangan melakukan tugasnya sesuai peraturan pelelangan.


Billy segera mengambil kotak yang berisi keris antik dan memegangnya dengan erat, seolah-olah takut kedua wanita gila itu akan merebutnya.


Dian tertawa kecil dengan reaksi heboh Billy, lalu melihat ke arah Laura dan Anastasia.


"Aku membeli keris antik ini melalui pelelangan amal dan sah. Semua orang di sini bisa menjadi saksi. Aku harap kalian jangan menggangguku lagi," kata Dian.


Tepat saat Billy dan Dian melangkahkan kaki beberapa langkah, pintu ruangan VIP terbuka dari luar. Sosok Stefan muncul di sana beserta seorang pria berpakaian jas rapi.

__ADS_1


"Fan!" panggil Laura dengan wajah semringah.


"Kak Fan! Dian merebut keris antik milik kakek. Kakek pasti akan marah besar," ujar Anastasia, melemparkan semua kesalahan ke Dian.


"Sia! Nyali mu sangat besar mencuri keris antik kakek!" geram Stefan.


Anastasia terdiam dan menundukkan kepala melihat kemarahan Stefan.


"Apakah proses transaksi sudah selesai?" tanya pria berpakaian jas ke pegawai pelelangan.


"Sudah tuan. Nona ini sudah membayarnya," jawab pegawai pelelangan sambil menunjuk Dian.


"Pria ini pasti tuan rumah acara pelelangan ini. Untung saja aku sudah selesai transaksi sebelum dia datang," batin Dian.


"Dian. Aku mau membeli keris ini. Kamu mau jual berapa keris antiknya?" tanya Stefan dengan suara lembut.


Berkas kepemilikan sah sudah berada di tangan Dian sehingga Stefan bermaksud membelinya. Adi Bramasta pasti akan marah besar jika keris antik hilang.


"Aku tidak butuh uang dan tidak akan menjualnya," jawab Dian dengan yakin.


"Oh iya. Tadi keluargamu meminta uang jajan 550 juta yang sudah aku kembalikan sewaktu bercerai," lanjut Dian.


Stefan berdiri mematung di tempatnya karena perkataan Dian, sedangkan Dian dan Billy berjalan santai meninggalkan ruangan VIP.


Laura dan Anastasia semakin panik dengan kepergian Dian.


"Fan! Dian tidak boleh bawa keris antik pergi!" ujar Laura.


"Ma! Kakek pasti akan marah besar dan mengusir kita dari mansion," ucap Anastasia panik sambil menangis tersedu-sedu.


"Aku akan berusaha mendapatkan keris antik kembali. Kalian berdua pulang ke mansion dan mengakui semua kesalahan ke kakek!" ujar Stefan dan berjalan meninggalkan mereka berdua.


"Fan! Fan!"


"Kak Fan! Kak Fan!"


Stefan tidak memedulikan teriakan serta panggilan dari Laura dan Anastasia. Kejadian hari ini adalah kesalahan mereka berdua sehingga Stefan ingin mereka bertanggung jawab menghadapi kakek dan menanggung segala hukuman.


Selama ini Laura dan Anastasia hidup terlalu senang dan sering membuat masalah yang pada akhirnya diselesaikan oleh Stefan, tetapi kali ini Stefan tidak akan membantu menutupi kesalahan mereka lagi.


***


Selamat malam readers tercinta. Jangan lupa baca kelanjutan ceritanya besok ya.


TERIMA KASIH


SELAMA MALAM

__ADS_1


SALAM SAYANG


AUTHOR : LYTIE


__ADS_2