HASRAT CINTA PERTAMA

HASRAT CINTA PERTAMA
BAB 90. Proyek tertunda


__ADS_3

Sejak makan malam bersama di restoran antara Keluarga Wijaya dan Keluarga Bramasta, Adi memutuskan untuk ikut terlibat dalam proyek kawasan vila mewah.


Walaupun Stefan merasa ada niat tersembunyi dari kakeknya, tetapi Stefan yakin Adi tidak mungkin membahayakan Perusahaan Bramasta.


Lagi pula Stefan sebagai CEO dan pemegang saham terbesar di Perusahaan Bramasta sehingga hasil keputusan terakhir ada di tangan Stefan.


Kondisi kesehatan Stefan sudah pulih sepenuhnya. Pria muda itu pun memulai kesibukan bekerjanya di Perusahaan Bramasta. Begitu pun juga dengan Dian.


Dian sibuk dengan beberapa proyek baru di Perusahaan Jayanata, sedangkan Chandra lebih fokus ke proyek Perusahaan Wijaya.


Jadwal pekerjaan yang padat membuat Dian dan Stefan tidak pernah bertemu dalam dua bulan terakhir. Akan tetapi, Stefan selalu menyempatkan diri mengirim sms untuk menanyakan keadaan Dian setiap malam.


Stefan tidak menelepon Dian karena tahu gadis muda itu mempunyai kesibukan yang sama sepertinya. Stefan mendukung sepenuhnya Dian mengejar karier. Semakin sukses gadis muda itu membuat Stefan semakin menyukai dan menghargai Dian. Bahkan Stefan ikut berusaha lebih keras agar tidak kalah jauh dari Dian.


Persaingan bisnis yang positif di antara Dian dan Stefan membuat kedua perusahaan mereka semakin berkembang pesat.


Hari ini suasana hati Dian tidak baik karena salah satu proyek Perusahaan Jayanata tertunda yaitu proyek real estate.


Perkembangan proyek real estate tidak berjalan dengan baik disebabkan pihak developer perumahan / pengembang properti menginginkan kenaikan harga 20% dari harga kesepakatan awal.


Tentu saja Dian tidak menyetujuinya sehingga proyek real estate pun tertunda dan mengalami kerugian.


"Nona Dian. Saya mendapat kabar ada pihak ketiga yang menghubungi Pak Anjas dan menjanjikan proyek baru serta komisi yang lebih tinggi sehingga Pak Anjas menggunakan kesempatan ini untuk meminta kenaikan harga," lapor David.


Dalam hal bisnis sudah sangat lumrah pengusaha mementingkan mencari keuntungan, tetapi Dian tidak akan membiarkan Perusahaan Jayanata ditekan oleh perusahaan lain.


"Siapa pihak ketiga itu?" tanya Dian.


"Identitas pihak ketiga dirahasiakan," jawab David.

__ADS_1


Dian mengerti maksud perkataan David. Kabar itu pasti sengaja dikeluarkan oleh Anjas. Adanya pihak ketiga itu membuat Anjas berani meminta kenaikan harga.


"David! Buat janji temu dengan Pak Anjas. Jika memang dia tidak punya itikad baik untuk melanjutkan kontrak, kita cari developer yang baru walaupun biaya lebih tinggi. Aku yang akan bertanggung jawab ke kak Chandra nanti," kata Dian.


"Baik nona Dian," jawab David.


Dian tidak mau membuang waktu dan hanya memberi kesempatan terakhir untuk Anjas melalui janji temu malam ini karena orang-orang dari Perusahaan Jayanata sudah dikirim beberapa kali untuk bernegosiasi dengan Anjas sebelumnya serta semuanya selalu berakhir dengan hasil yang nihil.


Dian yakin Anjas sengaja mengulur waktu dan menunggu hingga Dian turun tangan sendiri agar keuntungan yang diinginkan Anjas bisa tercapai.


Dugaan Dian sangat tepat karena David memberi laporan Anjas bersedia bertemu Dian jam tujuh malam.


"David. Carilah beberapa data developer terbaik. Aku mau list nya hari ini!" perintah Dian.


"Baik nona Dian!" jawab David.


***


Selama menunggu kedatangan Anjas, wajah Dian sangat dingin tanpa ekspresi. David bisa merasakan Dian sedang menahan amarah. Apa lagi saat melihat Anjas tiba dengan wajah semringah membuat David yakin developer itu sudah di black list dari semua proyek real estate Perusahaan Jayanata dan Perusahaan Wijaya di masa yang akan datang.


"Maaf CEO Dian. Aku terlambat karena ada sedikit keperluan mendesak," ucap Anjas.


Dian memicingkan mata menatap wajah semringah Anjas. Terlihat jelas Anjas tidak merasa bersalah dengan keterlambatan yang memang dilakukan dengan sengaja oleh pria tua itu.


"Karena Pak Anjas sangat sibuk, kita buat janji temu lain kali saja," kata Dian sambil berdiri dari tempat duduk. David pun ikut berdiri dengan cepat.


Senyum di wajah Anjas menghilang seketika dan menjadi panik saat melihat Dian ingin meninggalkan tempat itu.


"Tunggu sebentar, CEO Dian. Aku mengaku salah karena terlambat. Kita bisa bicarakan dengan baik-baik," bujuk Anjas.

__ADS_1


Dian menatap Anjas dengan dingin sehingga pria tua itu merasa terintimidasi.


"Pak Anjas. Aku terus terang saja! Perusahaan Jayanata tidak akan mengabulkan permintaan anda! Lagi pula anda mengingkari kesepakatan awal, kerja sama kita tidak perlu diteruskan!" kata Dian dengan tegas.


"Aku mohon CEO Dian bisa mempertimbangkannya lagi. Sekarang ada bos besar yang menawarkan harga 20% lebih tinggi dari harga Perusahaan Jayanata. Jika harga Perusahaan Jayanata sama dengannya, tentu saja aku lebih memilih Perusahaan Jayanata," ujar Anjas.


Anjas sangat percaya diri Dian ingin bertemu dengannya hari ini karena setuju dengan permintaannya. Hanya saja dikarenakan dirinya sengaja terlambat datang membuat Dian marah.


"Aku ucapkan selamat bekerja sama kepada Pak Anjas dan bos besar yang baru," kata Dian dan melangkahkan kaki meninggalkan Anjas tanpa ragu.


Dian tidak memberi kesempatan negosiasi untuk Anjas karena gadis muda itu yakin bos besar yang disebut oleh Anjas tidak menawarkan harga setinggi itu. Jika iya, Anjas tidak mungkin panik saat Dian menolak permintaannya.


Dian penasaran siapa bos besar yang dimaksud oleh Anjas sehingga Dian menoleh ke arah David, yang mengikutinya dari belakang.


"Ada apa nona Dian?" tanya David.


"David. Ikuti Anjas! Aku yakin dia akan menemui bos besar sekarang!" perintah Dian.


"Baik nona Dian!" jawab David dengan patuh.


***


Selamat siang readers tercinta. Siapa bos besar itu? Pasti semua bisa menebak tepat 🤭.


Konflik-konflik yang muncul bagaikan bumbu masako dalam cerita, menuju akhir cerita dalam waktu dekat. Enjoy it 🥰🥰


Masih ada satu bab lagi ya 🤗


TERIMA KASIH

__ADS_1


SALAM SAYANG


AUTHOR : LYTIE


__ADS_2