HASRAT CINTA PERTAMA

HASRAT CINTA PERTAMA
BAB 108. Tips untuk room service


__ADS_3

***Perusahaan Jayanata***


Jam dinding di ruang kerja Dian sudah menunjukkan pukul delapan malam, tetapi gadis muda itu masih sibuk dengan pekerjaannya.


Terdengar suara ketukan pintu dari luar. "Masuk!" perintah Dian.


David berjalan menghampiri Dian. "Nona Dian! Dua kontrak kerja sama untuk besok sudah saya persiapkan!" ucap David.


Dian mengambil dua dokumen file dari tangan David, lalu memeriksanya saksama. David berdiri di hadapan Dian dan menunggu dengan sabar.


Beberapa saat kemudian, Dian meletakkan kedua dokumen file itu di atas meja. "Kontraknya sesuai keinginanku. Nice job, David!" puji Dian.


"Terima kasih nona Dian," ucap David.


Dian mengambil tas dan mengeluarkan kunci mobil porsche miliknya.


"David! Kamu boleh pulang duluan. Tolong antar mobilku ke apartemen seperti biasa ya. Nanti Stefan yang menjemputku pulang," kata Dian.


"Baik nona Dian! Selamat malam nona Dian," ucap David.


Dian pun melanjutkan pekerjaannya hingga terdengar suara dering handphone menggema di dalam ruangan, Dian mengambil handphone dan tersenyum kecil saat melihat nama Stefan muncul di layar handphone.


"Halo Stefan. Kamu sudah selesai belajar memasak sama mommy?" tanya Dian.


"Iya. Aku datang menjemputmu sekarang," jawab Stefan.


Bersamaan dengan itu, Dian mendengar suara ketukan pintu tiga kali. Pintu ruang kerjanya terbuka dan Stefan berjalan menghampirinya sambil tersenyum lebar, dengan tangan kanan yang masih memegang handphone.


"Surprise!" ucap Stefan.


Dian tertawa kecil melihat kejutan yang diberikan oleh Stefan, dengan tiba-tiba muncul di ruang kerjanya. Semula Dian mengira Stefan akan menunggunya di dalam mobil mercedes benz yang diparkir di depan pintu masuk Perusahaan Jayanata.


"Tunggu sebentar, Fan! Dua puluh menit lagi aku selesai," kata Dian.


"Oke," jawab Stefan.


***


Mobil mercedes benz hitam berhenti di depan Apartemen Regal Residence. Stefan dan Dian turun dari mobil. Stefan mengantar Dian hingga di depan lobi apartemen.


"Selamat malam Pak Stefan, Nona Dian!" sapa security yang berjaga di sana.


"Selamat malam, Pak!" jawab Dian dan Stefan bersamaan.


Dian menatap Stefan yang masih menggenggam erat tangannya. "See you tomorrow, Fan!" ucap Dian.


"See you soon, Dian!" balas Stefan.


Dian tidak merasa aneh dengan jawaban Stefan karena biasanya mereka sering melakukan panggilan video call sebelum tidur. Dian mengira maksud perkataan Stefan mengacu ke panggilan video call itu.


Stefan berjalan ke mobilnya yang masih parkir di depan lobi Apartmen Regal Residence setelah melihat lift yang dinaiki Dian sudah berhenti di lantai tempat apartemen Dian berada.


Pak sopir membuka bagasi mobil dengan cepat dan mengambil satu tenteng paper bag besar.


"Ini tuan muda Stefan," ucap pak sopir.


"Terima kasih Pak Ben. Besok pagi jemput seperti biasa," kata Stefan.


"Baik tuan muda Stefan!" jawab pak sopir.

__ADS_1


Stefan menenteng paper bag besar itu menuju lift dan menekan tombol angka yang sama dengan tombol angka yang ditekan oleh Dian tadi.


***Apartemen Dian***


Dian duduk di depan meja rias sambil mengeringkan rambutnya dengan hair dryer. Sesekali matanya melirik ke arah handphone yang berada di atas meja.


"Sudah setengah jam lebih. Seharusnya Stefan sudah tiba di rumahnya," kata hati Dian.


Sampai saat ini Dian masih belum tahu tempat tinggal baru Stefan di mana karena pria muda itu selalu bersikap misterius dan merahasiakannya. Dian hanya menebak lokasi tempat tinggal Stefan tidak jauh dari Mansion Wijaya.


Beberapa saat kemudian, terdengar suara bel pintu menggema di dalam apartemen.


"Siapa yang datang? Apa Kak Rina ya?" batin Dian.


Dian mematikan hair dryer dan berjalan keluar dari kamar menuju pintu masuk apartemen.


Dian menekan tombol pada monitor LCD yang menempel di dinding dekat pintu masuk bagian dalam apartemen. Di layar monitor terlihat sebuah tudung saji dari stainless di atas nampan berukuran persegi panjang.


Orang yang memegang nampan persegi panjang itu sengaja mengangkat tinggi kedua tangannya sehingga tudung saji stainless menutupi wajahnya.


Dian menekan tombol voice intercom. "Maaf! Aku tidak memesan makanan," kata Dian.


Dian mengira pelayan salah satu restoran yang berada di Apartemen Regal Residence mengantar pesanan ke apartemen yang salah.


"Dengan Nona Dian bukan? Ini pesanan dari Tuan Stefan," ucap pria yang berdiri di luar apartemen.


Dian merasakan suara pria itu sangat familiar. "Siapa Stefan? Aku tidak mengenalnya," kata Dian.


"Stefan itu pacar nona Dian yang paling tampan dan menawan," ujar pria itu.


Dian tertawa kecil mendengar jawaban pria itu. Gadis muda itu segera membuka pintu apartemen.


Pria itu menurunkan tangannya ke bawah sehingga terlihat jelas wajah tampan Stefan.


"Surprise!" kata Stefan dan Dian bersamaan. Stefan pun ikut tertawa karena Dian bisa membaca isi pikirannya.


"Ayo masuk, Fan!" kata Dian.


Dia melangkahkan kakinya menuju ruang makan, diikuti oleh Stefan.


***


"Ta da! Iga sapi bakar untuk princess!" ucap Stefan sambil membuka tudung saji stainless.


Dian menatap dua piring iga sapi bakar yang terlihat sangat menggoda selera. Stefan duduk di hadapan Dian dan meletakkan kedua piring iga sapi bakar di hadapan masing-masing.


"Malam ini belajar masak iga sapi bakar?" tanya Dian sambil memotong daging iga sapi bakar menjadi potongan kecil dengan pisau makan yang sudah dibawakan oleh Stefan.


"Iya. Enak?" tanya Stefan dan menatap intens Dian.


Setiap kali Stefan menghidangkan hasil masakannya, Stefan selalu merasa berdebar-debar menunggu jawaban penilaian Dian akan masakannya.


"Enak! Masih hangat lagi!" jawab Dian sambil tersenyum.


Stefan membalas senyuman Dian dan ikut mencicipi hasil masakannya dengan perasaan hati senang. Mereka berdua mengobrol ringan. Sesekali terdengar suara tertawa kecil dari mulut Dian karena gurauan Stefan.


***


Stefan merapikan piring kotor ke dalam nampan dan menutupnya dengan tudung saji stainless, tetapi Stefan tidak mengangkat nampan itu, melainkan memeluk pinggang Dian dengan saling berdiri berhadapan satu sama lain.

__ADS_1


"Princess puas dengan room service malam ini?" tanya Stefan dengan serius.


"Sangat puas! Masakan chef Stefan semakin enak," puji Dian sambil menepuk dada Stefan dengan lembut.


"Chef Stefan minta tipsnya berupa ciuman," ucap Stefan dan memajukan wajahnya dengan cepat.


Bibir Stefan mencium bibir Dian dengan penuh perasaan. Dian mengalungkan kedua tangannya di leher Stefan serta membalas ciuman pria muda itu.


Aroma segar sampo dan sabun mandi cair dari tubuh Dian membuat Stefan tidak ingin menghentikan ciuman mesra mereka, tetapi Stefan tersadar dengan cepat dan menghentikan ciumannya.


Stefan memegang wajah Dian yang sudah bersemu merah seperti warna kepiting rebus. "Aku pulang sekarang," ucap Stefan.


Dian menganggukkan kepalanya. "See you tomorrow," ucap Dian.


"See you tomorrow my sweetheart," balas Stefan.


Stefan mengambil nampan dari atas meja, lalu berjalan ke arah pintu apartemen. Dian segera membukakan pintu apartemen untuk Stefan.


Mata Dian membulat besar saat melihat Stefan menekan nomor sandi pin salah satu pintu apartemen yang berada di samping apartemen Sherina.


Dian berlari kecil menghampiri Stefan. "Fan! Kamu tinggal di sini?" tanya Dian.


Dian mengingat jelas pemilik apartemen yang ditempati oleh Stefan sekarang yaitu Chandra.


Sebelumnya Dian memilih salah satu apartemen milik Chandra sehingga masih tersisa satu apartemen kosong.


"Iya. Aku menyewa apartemen ini dari Kak Chandra," jawab Stefan jujur.


Sejak Stefan berencana melawan Adi dan meninggalkan Mansion Bramasta, Stefan sudah mencari apartemen baru yang dekat dengan apartemen Dian untuk tempat tinggalnya nanti.


Ternyata semua apartemen di lantai yang sama dengan apartemen Dian sudah penuh, kecuali apartemen milik Chandra sehingga Stefan menemui Chandra.


Chandra bersedia menyewakan apartemennya ke Stefan dengan mengajukan beberapa syarat, yang tentu saja berhubungan dengan Dian serta demi kebaikan adik kesayangannya.


Oleh karena itu, Stefan menghentikan ciumannya tadi karena berfirasat Chandra bisa melihat cctv di apartemen Dian.


Stefan tidak ingin semua kesan baik yang sudah didapatnya dari anggota keluarga Wijaya, hilang seketika.


"Ternyata ini rahasiamu," kata Dian.


Dian merasa senang Stefan tinggal di apartemen yang dekat dengannya.


"Besok pagi aku akan mengantarkan sarapan pagi untukmu. Kita berangkat kerja bersama," kata Stefan.


"Oke. Good night Fan," jawab Dian sambil melambaikan tangan.


"Good night Dian," balas Stefan.


***


Selamat siang readers. Ta da 🥳🥳 karena banyak readers tercinta tidak mau novelnya tamat cepat, author nambahin dan selipin bab sweet-sweet ini ya.


Acara pernikahan diundur besok 😅. Maaf ya 🙏🤗🤗.


Hari senin waktunya vote ini. Vote terakhir sebelum novel ini tamat. Minggu depan votenya di novel baru author ya 😁😁🙏


TERIMA KASIH


SALAM SAYANG

__ADS_1


AUTHOR : LYTIE


__ADS_2