HASRAT CINTA PERTAMA

HASRAT CINTA PERTAMA
BAB 105. Cemburu


__ADS_3

***Perusahaan Jayanata***


Mobil mercedes benz hitam berhenti di depan pintu masuk Perusahaan Jayanata. Stefan yang duduk di kursi penumpang mengambil handphone dari saku jas kerja dan menelepon Dian.


"Dian! Aku sudah tiba!" kata Stefan dengan suara lembut.


"Baiklah. Tunggu sebentar ya," jawab Dian dari seberang sambungan telepon.


Stefan menyimpan kembali handphone ke dalam saku jas kerja sambil tersenyum kecil. Stefan menjemput Dian untuk dinner bersama sesuai janji mereka semalam.


Beberapa saat kemudian, Dian berjalan keluar dari Perusahaan Jayanata. Stefan segera turun dari mobil dan memeluk erat Dian sebentar, sebelum menarik Dian masuk ke dalam mobil.


Pak sopir mengemudikan mobil menuju restoran, tempat dinner romantis Stefan dan Dian malam ini.


Dian tersenyum kecil melihat sikap posesif Stefan yang menggenggam erat tangannya sejak mereka berada di dalam mobil.


"Semuanya beres dan lancar kan?" tanya Dian.


Tadi pagi Stefan sudah mengirimkan sms ke Dian memberitahukan tentang kemunculan Laura dan Anastasia di ruang meeting, tetapi Dian yakin Stefan bisa mengatasinya. Buktinya Stefan menjemputnya sekarang untuk merayakan kemenangan hari ini.


"Iya. Kakek sudah resmi pensiun dan bukan lagi ketua direksi Perusahaan Bramasta, sedangkan mama dan Sia harus mencari pekerjaan untuk membiayai hidup sendiri," jawab Stefan.


"Bagaimana denganmu? Are you okay?" tanya Dian sambil menatap intens Stefan.


Dian tahu hati kecil Stefan pasti merasa sedih karena ketiga anggota keluarga Bramasta bergabung melawannya di meeting intern tadi pagi.


"I am okay, selama kamu berada di sisiku," jawab Stefan sambil mencium punggung tangan Dian yang berada di dalam genggamannya.


"Iya," jawab Dian.


"Hari ini aku pindah dari Mansion Bramasta," kata Stefan.


Dian terkejut dengan perkataan Stefan sehingga menatap intens wajah serius Stefan. Dian yakin Stefan tidak bercanda dengannya.


Hati Dian terasa hangat karena dirinya tahu Stefan mengambil keputusan pindah dari Mansion Bramasta demi dirinya. Dian akui dirinya tidak suka tinggal di Mansion Bramasta karena ada Adi, Laura, dan Anastasia.


Dian sepemikiran dengan Stefan bahwa ketiganya tidak mungkin bisa mengubah sifat asli mereka dengan cepat.


Walaupun untuk kedepannya, mereka bertiga pasti tidak berani mencari masalah dengannya karena statusnya sebagai putri Jackson, tetapi Dian lebih memilih menjaga jarak dengan mereka.


Dengan demikian, Stefan tidak akan terjebak di tengah, meskipun Dian yakin Stefan pasti berada di pihaknya.


"Kamu tinggal di mana sekarang?" tanya Dian.


"Rahasia! Kamu akan tahu nanti," jawab Stefan sambil tersenyum misterius.


"Mungkin Stefan tinggal di dekat Mansion Wijaya," batin Dian.


***


Beberapa saat kemudian, mobil mercedes benz berhenti di depan Restoran Italia. Pak sopir membukakan pintu mobil untuk Stefan dan Dian.


Seperti biasa, Stefan menggenggam erat tangan Dian saat berjalan masuk ke dalam restoran.


"Pesanan tempat atas nama Stefan," kata Stefan ke pelayan restoran yang berdiri di dekat pintu masuk.


"Baik tuan Stefan dan nona. Mari!" jawab pelayan restoran sambil mempersilakan Stefan dan Dian mengikutinya menuju meja yang sudah dipesan oleh Luis, atas perintah Stefan sebelumnya.


Dian merasakan deja-vu dengan suasana romantis di dalam restoran. Nyala lilin di setiap meja makan dan juga alunan merdu musik klasik perpaduan piano dan biola sudah pernah dilihat dan didengar oleh Dian karena Billy pernah mengajaknya dinner bersama di sini.


"Stefan sengaja membawaku ke restoran khusus untuk pasangan," batin Dian.


Dian tidak akan tahu alasan sebenarnya Stefan mengajaknya ke Restoran Italia ini. Selain karena makanan yang enak dan khusus untuk pasangan, juga dikarenakan Stefan mengingat jelas pernah melihat Dian dan Billy berdansa dan berciuman di restoran ini.


Jika mengingat akan hal itu, Stefan merasa cemburu sehingga ingin menggantikan kenangan Dian bersama Billy di restoran ini menjadi kenangan dirinya dan Dian.


"Fan! Ossobuco di restoran ini sangat enak," kata Dian sambil tersenyum.


Dian tidak tahu kalau Stefan pernah makan ossobuco bersama Rizky di restoran ini, tetapi ossobuco itu terasa hambar di mulut Stefan karena suasana hatinya yang buruk saat itu.

__ADS_1


"Kamu pernah makan sama siapa?" tanya Stefan dengan suara yang dibuat selembut mungkin karena rasa cemburu menguasai pikirannya lagi.


Stefan tidak menyalahkan Dian pernah makan bersama Billy di sini karena Stefan tahu hubungan pertemanan mereka sejak kecil.


Lagi pula Billy sudah menikah sekarang sehingga tidak lagi menjadi saingan cintanya, tetapi sebagai manusia biasa, perasaan cemburu tidak bisa dihilangkan.


"Sama Billy," jawab Dian.


Stefan merasa lega Dian berkata jujur kepadanya. Hubungan saling terbuka satu sama lain bisa menghilangkan banyak kesalahpahaman di masa yang akan datang.


Dian dan Stefan menikmati hidangan yang disajikan oleh pelayan restoran sambil mengobrol ringan.


Pelayan restoran membawakan satu buket bunga mawar merah ke Stefan saat mereka berdua selesai menyantap semua hidangan.


"Dian. 99 tangkai bunga mawar yang harum ini untukmu," kata Stefan.


"Terima kasih Fan. Kenapa bukan 100 tangkai? Bukankah 100 melambangkan nilai sempurna?" tanya Dian seraya bercanda.


"Aku rela menjadi satu tangkai bunga mawar agar mengisi hidupmu menjadi sempurna," jawab Stefan.


Pipi Dian merona merah mendengar rayuan Stefan.


"Kita pulang sekarang?" tanya Dian, mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Sebentar lagi. Ayo kita berdansa sekarang," ajak Stefan sambil berdiri dan mengulurkan tangan kanannya ke Dian.


"Baiklah," jawab Dian dan meletakkan tangannya di atas tangan Stefan.


Stefan dan Dian bergabung bersama tamu lain yang sudah berdansa sejak tadi. Mereka berdua berdansa mengikuti alunan musik dengan gerakan tubuh yang lentur dan menawan. Senyuman tipis menghiasi sudut bibir Stefan dan Dian.


Musik klasik yang dimainkan sangat pelan sehingga mereka berdua berdansa sambil mengobrol.


"Dian! Kamu sangat pintar berdansa," puji Stefan sambil memeluk pinggang ramping Dian.


"Tentu saja. Ada banyak pasangan dansa yang mengajariku," jawab Dian.


"Daddy, Kak Chandra, Kak Kelvin," jawab Dian.


"Bagaimana dengan Dion dan Billy?" tanya Stefan.


"Dion tidak suka dansa. Kalau Billy… oh iya, aku pernah dansa sama Billy di restoran ini," jawab Dian.


"Hanya dansa saja? Tidak ada yang lain?" tanya Stefan lagi.


Dian menatap Stefan dengan wajah bingung. Gadis muda itu bisa merasakan ada maksud tersembunyi dari pertanyaan Stefan.


"Iya. Dansa saja. Sama seperti kita dansa sekarang," jawab Dian setelah berpikir dengan saksama.


Stefan mempererat pelukannya dan menatap intens wajah Dian. "Dian! Siapa yang mendapatkan ciuman pertamamu?" tanya Stefan dengan ekspresi wajah serius.


"Kamu!" jawab Dian spontan.


Wajah Stefan tersenyum semringah karena jawaban Dian, tetapi ada sedikit keraguan terbesit dan Dian melihatnya dengan jelas.


"Kamu tidak percaya?" tanya Dian.


Stefan terkejut melihat ekspresi wajah dingin Dian. Bahkan gadis muda itu terlihat ingin mengakhiri dansa mereka sehingga Stefan menjadi panik.


Stefan mendekap tubuh Dian lebih erat lagi agar gadis muda itu tidak bisa melepaskan diri.


"Maaf Dian! Aku percaya semua perkataanmu!" ucap Stefan.


"Aku kira kamu tidak ingat ciuman pertama di jamuan makan malam Perusahaan Alpha!" kata Dian.


"Jamuan makan malam Perusahaan Alpha?" batin Stefan.


Saat ini Stefan mulai mengingat ciuman singkat yang dilakukan dengan sengaja olehnya saat itu.


"Ternyata itu ciuman pertamamu," ucap Stefan sambil menatap Dian dengan lembut.

__ADS_1


"Ayo, ngaku! Kamu sengaja kan waktu itu?" tanya Dian sambil mencubit pinggang Stefan.


"Ha ha ha! Iya! Aku sengaja! Itu ciuman pertamaku juga," jawab Stefan. Cubitan Dian tidak terasa sakit, malahan Stefan merasa Dian sangat menggemaskan.


"Kenapa kamu ingin tahu siapa ciuman pertamaku?" tanya Dian dengan nada menyelidiki.


Dian bisa merasakan Stefan menyembunyikan sesuatu darinya.


"Aku akan jujur, tetapi kamu harus janji tidak akan marah," jawab Stefan.


"Iya. Aku janji!" jawab Dian.


"Aku melihatmu ciuman dengan Billy sewaktu berdansa di restoran ini," kata Stefan.


Dian mendekatkan wajahnya ke wajah Stefan secara tiba-tiba. Stefan spontan memajukan bibirnya untuk mencium bibir stroberi Dian, tetapi tidak berhasil karena gadis muda itu menghindar.


"Ini ciuman dengan Billy yang kamu maksud," ujar Dian sambil tertawa kecil.


Stefan pun ikut tertawa karena menyadari kebodohan dan kecemburuan yang salah sasaran. Satu lagi kesalahpahaman di antara mereka berdua terselesaikan dengan baik.


"Aku memang bodoh dan dibutakan oleh cemburu," ucap Stefan dengan jujur.


"Cemburu sama Billy saja? Atau cemburu sama lainnya juga?" tebak Dian.


"Aku cemburu sama semua pria yang akrab denganmu. Chandra, Kelvin, Dion, Leon, dan Billy," jawab Stefan.


Tentu saja Stefan cemburu kepada Chandra dan Kelvin saat dirinya tidak mengetahui identitas asli mereka berdua sebagai kakak kembar Dian.


"Pantas saja kamu menjadi posesif sekarang," kata Dian seraya bercanda.


"Aku tidak akan membiarkan siapa pun merebutmu dariku!" ucap Stefan dengan tegas.


"Aku juga!" kata Dian.


Hati Stefan berbunga-bunga mendengar perkataan Dian. Ada dorongan kuat di dalam hati Stefan untuk melamar Dian saat ini, tetapi berhasil ditahannya.


Stefan ingin mencurahkan lebih banyak perhatian dan cinta untuk Dian karena gadis muda itu berhak mendapatkannya. Stefan akan melamar Dian di saat yang tepat, sesuai rencananya.


***


Stefan dan Dian menghentikan dansa mereka setelah satu alunan musik selesai. Mereka berdua kembali ke tempat duduk semula sambil bergandengan tangan.


Beberapa saat kemudian, Stefan dan Dian berada di dalam mobil menuju Mansion Wijaya setelah Stefan membayar dinner mereka di Restoran Italia.


"Fan! Nanti kamu temani aku ke resepsi pernikahan Billy ya," kata Dian.


Resepsi pernikahan Billy dan Alisa akan dilaksanakan di hari sabtu malam.


"Baiklah. Minggu malam kamu temani aku ke resepsi pernikahan yang lain," kata Stefan.


"Resepsi pernikahan siapa?" tanya Dian penasaran.


"Rahasia! Kamu akan tahu nanti,' jawab Stefan.


Dian hanya bisa menggelengkan kepala melihat senyuman misterius yang sengaja Stefan tunjukkan padanya.


***


Selamat siang readers. Bab ini full sweet-sweet Dian-Stefan 🥰🥰🥰. Bab ini sudah panjang, lebih dari satu setengah bab.


Kita main tebak-tebakan lagi yuk 😁. Stefan mengajak Dian ke resepsi pernikahan siapa? Jawabannya di bab besok ya 🥰🥰🙏


Terima kasih readers tercinta yang sudah mampir dan mendukung di novel baru author : SUAMI SEJATI PILIHAN NONA MUDA. Jangan lupa klik tanda favorit ya🙏. Novel baru masih belum up rutin setiap hari karena author mau fokus tamatin cerita Dian dan Stefan 😊


TERIMA KASIH


SALAM SAYANG


AUTHOR : LYTIE

__ADS_1


__ADS_2