HASRAT CINTA PERTAMA

HASRAT CINTA PERTAMA
BAB 115. Bonus chapter Dion-Vivian part 1


__ADS_3

***Rumah baru Stefan dan Dian***


Dian membuka pintu rumah secara langsung tanpa melihat video intercom yang terpasang di dalam dinding rumah dekat pintu masuk karena terlalu gugup menghindari kejaran serigala berbulu domba di belakangnya, alias Stefan.


Dion berdiri di hadapan Dian dengan penampilan kusut. Rambut acak-acakan, kantung mata yang tebal, dan wajah lesu.


Dian menduga Dion datang dari tempat kerjanya di laboratorium karena ada tas laptop menggantung di tubuh pria muda itu. Hanya saja Dian merasa bingung dan penasaran apa yang telah terjadi karena Dion tidak pernah muncul dalam kondisi menyedihkan seperti saat ini.


"Ada apa Dion?" tanya Dian dengan nada khawatir.


"Princess! Help me!" jawab Dion dengan tidak bersemangat, lalu memeluk erat tubuh Dian.


"Stop! Stop!" Suara teriakan Stefan membuat Dion dan Dian menoleh ke arahnya, tetapi Dion masih belum melepaskan pelukannya sehingga Stefan segera memisahkan mereka berdua.


Dian tersenyum kecil melihat sikap posesif Stefan. Mata Dian membulat besar saat melihat Stefan menggantikan posisinya dan memeluk Dion.


"Sabar Dion!" kata Stefan sambil menepuk punggung Dion.


Hal itu membuat Dion melepaskan diri dengan cepat dan melompat mundur ke belakang dua langkah.


"Princess! Ada apa dengan suamimu?" Dion bertanya tanpa basa-basi.


"Eh…belum sarapan kenyang," jawab Dian dengan canggung.


Stefan tidak menyangkal perkataan Dian karena memang dirinya belum kenyang, disebabkan belum mencicipi makanan penutup yaitu Dian. Kemunculan Dion membuat harapan Stefan sirna seketika.


"Mari masuk, Dion!" ajak Dian.


Mereka bertiga menuju ruang tamu dan duduk di sana. Stefan duduk disamping Dian serta memegang erat tangan kanan istri kesayangannya, sedangkan Dion duduk di hadapan mereka.


"Sudah breakfast? Mau breakfast di sini, Dion?" tanya Dian.


Dion menggelengkan kepalanya dengan tidak bersemangat. Stefan dan Dian saling berpandangan satu sama lain dan mengangkat bahu bersamaan.


Mereka berdua tidak bisa menebak apa yang telah terjadi karena selama ini Dion selalu berpenampilan dingin dan percaya diri.


Mao Mao berlari menghampiri Dion dan melompat ke dalam pangkuan pria muda itu.


"Didi! Mao Mao rindu sekali sama Didi!" ucap Mao Mao dengan antusias.


"Mao Mao!" panggil Dion sambil membelai lembut kepala panda merah dan terlihat senyuman tipis mengembang di sudut bibirnya.


Saat ini Dian yakin penampilan kacau Dion pasti ada hubungannya dengan Vivian.


"Mao Mao. Ayo ke sini!" panggil Stefan dengan suara yang dibuat selembut mungkin.

__ADS_1


Stefan merasa kesal Mao Mao akrab dengan Dion. Padahal sejak awal Mao Mao paling menyukainya dan memanggilnya Pipi.


Dian hanya bisa menahan ketawanya karena tahu perasaan hati Stefan. Walaupun hati kecil Dian merasa bersalah sedikit disebabkan dirinya yang meminta Vivian untuk menghapus memori Mao Mao terhadap Stefan.


Pada waktu itu Dian sama sekali tidak menyangka Stefan akan menjadi pasangan hidupnya lagi setelah kegagalan pernikahan pertama.


"Aku mau sama Didi. Gak mau Fan Fan," ucap Mao Mao dengan polos.


"Ha ha ha ha ha!" Dian tidak bisa menahan diri dan tertawa terbahak-bahak sehingga Stefan memencet gemas hidung Dian secara spontan.


"Sunshine nakal! Semua karena kamu meminta Vivian mengubah program Mao Mao. Padahal aku adalah Pipi kesukaan Mao Mao selama ini," ucap Stefan.


Dian menatap wajah cemberut Stefan, lalu mengalungkan kedua tangannya ke leher suami tercintanya.


Cup💋


Cup💋


Cup💋


Dian memberikan tiga kecupan singkat di pipi Stefan sehingga wajah cemberut itu hilang seketika.


Kalau saja Dion tidak ada di sana, Stefan pasti sudah menggendong Dian ke dalam kamar tidur dan memulai petualangan fantasi yang mendebarkan hati.


"Kalau gak tampan, sunshine gak suka lagi?" tanya Stefan.


"Suka! Aku suka kamu apa adanya," jawab Dian spontan.


Stefan merangkul pundak Dian dan menatapnya lembut. Senyum tipis sudah mengembang di sudut bibirnya menandakan suasana hati Stefan sudah membaik.


"Aku juga suka kamu apa adanya, sunshine!" ucap Stefan dan memberikan satu kecupan singkat di puncak kepala Dian.


Mereka terhanyut dengan keromantisan berdua sehingga tidak menyadari apa yang sedang dikerjakan Dion saat ini.


Dion mengambil laptop dari dalam tas dan menekan keyboard laptop dua kali, sedangkan Mao Mao duduk patuh di pangkuan Dion.


"Selesai!" kata Dion dan menyimpan kembali laptop ke dalam tas.


"Selesai apa, Dion?" tanya Dian dengan wajah bingung.


"Pipi! Aku paling suka Pipi!" Mao Mao melompat turun dari pangkuan Dion dan melompat ke pangkuan Stefan.


Dian dan Stefan menatap Mao Mao dengan ekspresi wajah senang. Mereka berdua tidak menyangka Dion bisa mengubah program Mao Mao dalam waktu singkat, tetapi kehebatan Dion dalam ilmu fisika tidak diragukan lagi.


"Kamu memang yang terhebat, Dion!" puji Dian.

__ADS_1


"Katakan apa masalahmu Dion. Kita pasti akan membantumu," kata Stefan. Tangannya membelai kepala Mao Mao dengan lembut.


"Aku rasa pernikahanku batal," ucap Dion.


"Batal? Vi tidak mau menikah denganmu?" tanya Dian.


Dian mengetahui dari Leon bahwa saat dirinya pergi bulan madu bersama Stefan, Dion melamar Vivian dan gadis muda itu menerimanya.


Dian menyangka Dion dan Vivian pasti sedang sibuk mengurus semua hal mengenai pernikahan mereka belakangan ini sehingga sangat terkejut mendengar perkataan Dion.


Dion menggelengkan kepalanya, lalu menganggukkan kepala.


"Apa yang telah terjadi, Dion?" tanya Dian sekali kali dengan hati-hati.


"Aku sibuk bekerja di lab dan melupakan jadwal ke toko pengantin kemarin. Vi menunggu seharian di sana," jawab Dion dengan wajah bersalah.


"Dion! Dion! Kalau aku jadi Vi, aku pun akan membatalkan menikah denganmu," batin Dian.


Dian sangat tahu bagaimana saat Dion konsentrasi dengan pekerjaannya. Tidak akan ada orang yang bisa mengganggu atau menghubunginya karena handphone Dion dimatikan.


"Kamu masih mau menikah dengan Vi?" tanya Dian.


"Tentu saja mau," jawab Dion dengan yakin.


Walaupun Dion sangat pintar dalam bidang fisika, tetapi sikapnya kaku dalam hubungan asmara. Bahkan selama ini Vivian yang selalu berinisiatif mendekatinya sehingga mereka bisa jadian.


"Aku coba ajak Vi keluar siang ini. Kamu harus memanfaatkan kesempatan dengan baik," kata Dian.


Dian tahu Vivian pasti menolak bertemu dengan Dion sehingga pria muda itu menjadi frustasi seperti saat ini.


"Terima kasih princess," jawab Dion.


***


Selamat siang readers tercinta. Apakah Dian berhasil menjadi cupid lagi?


Sampai jumpa besok ya.


HAPPY WEEKEND ALL


TERIMA KASIH


SALAM SAYANG


AUTHOR : LYTIE

__ADS_1


__ADS_2