HASRAT CINTA PERTAMA

HASRAT CINTA PERTAMA
BAB 52. Rapat pemegang saham


__ADS_3

***Ballroom hotel tempat pesta koktail***


David berlari kecil menghampiri Dian setelah melakukan perintah gadis muda itu dengan sempurna.


Dian tersenyum puas dengan kejadian di tengah ballroom yang masih berlangsung pertunjukan langsung. Tamu istimewa yang dicari Dian tadi adalah istri Husin, yang kebetulan juga menghadiri pesta koktail malam ini.


Dian mengalihkan perhatiannya dan menatap tajam dua wanita yang ikut bersama Anggi memfitnahnya tadi. Kedua wanita itu menjadi takut dengan tatapan intimidasi Dian.


"Minta maaf padaku sekarang!" perintah Dian.


"Minta maaf? Emang kamu siapa? Hanya wanita simpanan saja, sombongnya minta ampun!" ujar salah satu wanita itu.


Dian mengambil handphone dan memotret kedua wanita itu.


"Apa yang kamu lakukan?" teriak wanita yang lain dengan kesal.


"Kalian bersikeras tidak mau minta maaf. Aku akan membuat orang tua kalian yang meminta maaf padaku!" ucap Dian dengan tegas.


Tubuh kedua wanita itu gemetaran. Mereka memang memandang rendah Dian, tetapi mereka juga takut terhadap bekingan Dian. Bukan hanya Chandra, masih ada Billy dan Leon. Mereka berdua saling memberi isyarat mata satu sama lain.


"Maaf!"


"Maaf!"


Kedua wanita itu meminta maaf dan menundukkan kepala menahan rasa malu.


"Jaga mulut kalian baik-baik! Jangan menjadi Anggi kedua!" ucap Dian, sebelum meninggalkan pesta koktail bersama David.


***Rapat pemegang saham Perusahaan Jayanata***


Para pemegang saham sudah duduk di tempat masing-masing menunggu kedatangan Chandra untuk memulai meeting intern pemegang saham.


Beberapa pemegang saham tersenyum kecil dan sesekali melirik ke arah Husin. Wajah Husin merah padam menahan malu dan berpura-pura tidak merasa menjadi pusat perhatian.


Pipi Husin terlihat agak bengkak dan juga matanya lebam sehingga berwarna kebiru-biruan. Semua itu merupakan hasil karya istrinya yang mengamuk seperti singa betina di rumah setelah pulang dari pesta koktail semalam.


Kabar Husin dan Anggi menjalin hubungan mesra pun sudah menyebar sehingga Anggi tidak datang bekerja hari ini. Selain karena malu dipergunjingkan, juga dikarenakan wajah dan tubuhnya yang babak belur akibat pukulan serta tamparan istri Husin.


Chandra berjalan masuk ke dalam ruang meeting bersama Dian. David mengikuti mereka dari belakang.


"CEO Chandra!" sapa Husin dan para pemegang saham.


Dian mengedarkan pandangannya menatap para pemegang saham dengan senyum ramah, lalu duduk di samping Chandra.

__ADS_1


Husin merasa jengkel dan kesal dengan kedatangan Dian. Pria tua itu tahu Dian penyebab dirinya dan Anggi mendapatkan amukan dari singa betina rumahnya.


"CEO Chandra. Ini khusus rapat antara para pemegang saham. Kenapa wakil CEO Dian ikut serta? CEO Chandra sangat tidak profesional!" ujar Husin dengan ketus.


"Wakil CEO Dian pantas hadir di rapat pemegang saham," ucap Chandra dengan wajah tanpa ekspresi.


"Apa maksudmu?CEO Chandra berani bertanggung jawab ke tuan Jackson atas tindakan gegabah ini?" tanya Husin.


Husin mengira Chandra memberikan sedikit sahamnya untuk Dian sehingga gadis muda itu bisa ikut hadir di dalam rapat intern pemegang saham. Jika Jackson mengetahuinya maka Chandra pasti berada dalam masalah.


Chandra tidak menjawab pertanyaan Husin melainkan menganggukkan kepala ke arah Dian.


"David!" panggil Dian.


David yang sedari tadi berdiri di samping Dian, menyerahkan sebuah dokumen file ke gadis muda itu.


"Ada hal penting yang ingin kusampaikan," ucap Dian, dengan senyum tipis yang masih mengembang di sudut bibirnya.


"Hal penting apa wakil CEO Dian?" tanya Susanto, salah satu pemegang saham yang setia dengan Perusahaan Jayanata.


"Aku memiliki saham Perusahaan Jayanata sebesar dua persen," jawab Dian.


"CEO Chandra! Anda gila sudah memberikan saham untuk wanita simpananmu!" teriak Husin sambil memukul meja dengan keras.


"Saya yakin semua keputusan CEO Chandra tidak pernah salah. Silakan wakil CEO Dian lanjutkan. Kita semua sabar mendengarkannya," ujar Susanto.


"Terima kasih kesabaran dan pengertiannya Pak Susanto," kata Dian.


Husin mendengus kasar dan melotot sekilas ke arah Susanto, yang terlihat jelas membela Dian. Bahkan dua pemegang saham lain yang sehati dengan Husin pun tidak berani berbicara sepatah kata pun saat ini.


"Saham CEO Chandra masih utuh sebesar 70 persen. Saya mempunyai list update terbaru jumlah saham yang dimiliki semua pemegang saham di sini. Silakan diperiksa!" kata Dian dan menyerahkan dokumen file itu ke Susanto.


Susanto membacanya dengan saksama. "Iya benar. Jumlah sahamku masih sama," ucap Susanto.


Susanto pun menyerahkan dokumen file itu ke pemegang saham di sebelahnya, yang juga melakukan hal yang sama dengan Susanto.


Setiap pemegang saham tersenyum lega melihat saham mereka masih utuh, sedangkan wajah Husin sudah berubah menjadi pucat seperti warna kertas. Keringat dingin bercucuran di keningnya.


Saat dokumen file itu berada di tangannya, matanya semakin membulat besar karena namanya sudah tidak tercantum di dalam list sesuai perkiraannya. Tubuh dan tangannya gemetaran.


"Kenapa Pak Husin pucat pasi? Apakah nama Pak Husin tidak ada di dalam list?" tanya Dian spontan.


"Benarkah? Coba saya lihat!" ucap Susanto dan merebut dokumen file itu dari tangan Husin.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, suasana di dalam ruang meeting menjadi riuh karena tidak ada nama Husin di dalam list daftar pemegang saham.


"Husin! Kenapa namamu tidak tercantum? Saham mu di mana sekarang?"


"Iya, benar. Dua persen saham mu hilang ke mana?"


"Total jumlah saham dan nama para pemegang saham tepat dan lengkap. Hanya saja ada tambahan nama wakil CEO Dian sebesar dua persen saham perusahaan," ucap Susanto.


Pernyataan Susanto membuat para pemegang saham langsung mengerti jelas apa yang sudah terjadi. Husin menjual saham Perusahaan Jayanata secara diam-diam dan kebetulan dibeli oleh Dian.


"Maaf CEO Chandra. Belakangan ini aku kesulitan keuangan sehingga menjual saham perusahaan. Aku bermaksud membelinya kembali setelah keuanganku stabil," mohon Husin.


"Benarkah?" tanya Chandra dengan wajah dingin.


"Be…benar," jawab Husin terbata-bata.


"Kamu membangun perusahaan baru di luar dan memindahkan secara diam-diam beberapa proyek kerja sama Perusahaan Jayanata ke sana. Kalian pikir bisa membohongiku?" tanya Chandra.


"Kalian?" ujar Susanto dan beberapa pemegang saham lain bersamaan.


Dua pemegang saham yang duduk di sisi kiri dan kanan Husin menundukkan kepala mereka secara spontan.


"Kalian bertiga menggunakan Anggi untuk menerima suap. Saya sudah memberikan semua bukti perbuatan kalian ke pihak berwajib. Mulai hari ini kalian bertiga dan Anggi di pecat dari Perusahaan Jayanata. Saham kalian berdua akan diambil alih kembali!" kata Chandra dengan tegas.


Husin dan kedua komplotannya terduduk lemas dan gelisah. Tidak ada lagi masa depan cerah menanti mereka di depan sana. Yang ada hanyalah interogasi dari pihak berwajib dan jeruji besi.


Para pemegang saham lainnya pun tidak merasa iba terhadap Husin dan kedua pemegang saham itu. Mereka merasa beruntung Chandra berhasil mengusut kejahatan Husin yang merugikan Perusahan Jayanata.


"Meeting selesai!" kata Chandra dan berdiri meninggalkan ruang meeting.


Dian mengambil dokumen file yang tergeletak di atas meja, lalu mengikuti Chandra. Susanto dan para pemegang saham lainnya pun meninggalkan ruang meeting.


Dalam sekejap mata, ruang meeting hanya tersisa Husin dan kedua pemegang saham lainnya. Mereka menyesal telah mengkhianati Perusahaan Jayanata. Akan tetapi, nasi sudah menjadi bubur.


Penyesalan selalu datang terlambat dan mereka harus menghadapi semua konsekuensi dari semua tindakan yang sudah mereka lakukan.


***


Selamat siang readers. Kakek Stefan di bab malam ya.


SEE YOU SOON


SALAM SAYANG

__ADS_1


AUTHOR : LYTIE


__ADS_2