HASRAT CINTA PERTAMA

HASRAT CINTA PERTAMA
BAB 53. Kemarahan Adi


__ADS_3

***Ruang kerja Chandra di Perusahaan Jayanata***


Dian duduk di hadapan Chandra sambil tersenyum lebar.


"Kak Chandra is the best! Meeting tadi sangat mengesankan!" puji Dian.


Sejak kecil Dian sudah tahu apa pun masalah besar yang muncul, pasti bisa diselesaikan oleh Chandra dengan mudah.


"Dian juga hebat! Wajah dan tubuh Anggi babak belur karena isi video dan foto dari usb mu." Chandra membalas memuji tindakan cemerlang Dian menghadapi Anggi.


"Aku kan banyak belajar dari Kak Chandra," kata Dian.


"Lusa Kelvin pulang, tetapi tidak mau menginap di mansion karena daddy dan mommy masih di luar negeri," ucap Chandra.


"Kak Kelvin ingin menginap di apartemen baruku. Nanti daddy dan mommy pulang, baru kita tinggal di mansion," kata Dian.


"Dian bisa jemput Kelvin di airport? Kalau sibuk, kakak minta sopir mansion jemput saja," kata Chandra.


"Bisa, kak Chandra. Pesawatnya sore, jadi sekalian Dian bawa ke apartemen," jawab Dian.


"Baguslah. Hati-hati dengan para fans fanatik yang menunggu Kelvin di airport nanti," pesan Chandra.


"Baik kak Chandra," jawab Dian.


"Sebentar lagi aku mau ke Perusahaan Wijaya untuk meeting," ucap Chandra.


"Kasihan kak Chandra harus sibuk mengurus Perusahaan Jayanata dan Wijaya. Kak Chandra gak cari sekretaris baru lagi?" tanya Dian.


Sejak David menjadi sekretaris Dian, Chandra mengerjakan semua pekerjaannya sendiri tanpa sekretaris pribadi yang mendampinginya.


"Masih belum dapat pengganti yang cocok," jawab Chandra.


Dian tahu sebenarnya ada beberapa kandidat sekretaris yang bisa membantu Chandra, tetapi mereka semua adalah wanita sehingga Chandra menolak dengan tegas.


"Bagaimana kalau untuk sementara Kak Rina jadi sekretaris Kak Chandra saja?" usul Dian.


Kesibukan Chandra membuat pria muda itu jarang bertemu dengan Sherina. Mereka lebih sering berhubungan melalui telepon.


Dian ingin memanfaatkan kesempatan kali ini untuk membuat Chandra dan Sherina menghabiskan waktu bersama lebih lama dari biasanya.


"Baiklah. Aku akan menanyakannya ke Rina nanti," jawab Chandra.


Sewaktu kuliah, Sherina mengambil jurusan yang sama dengan Chandra sehingga gadis muda itu merupakan kandidat terbaik membantu Chandra saat ini.


Sherina tidak tertarik bekerja di Perusahaan Saputra milik ayahnya dan diserahkan sepenuhnya ke Leon untuk mengurus perusahaan itu. Sherina lebih sering berada di Butik Raisa, milik mama nya.


Ketika Chandra berangkat menuju Perusahaan Wijaya, Dian pun kembali ke ruang kerjanya.


***


David berdiri dari tempat duduknya saat melihat kedatangan Dian.


"Ada apa David?" tanya Dian.


"Nona Dian. Ketua direksi Perusahaan Bramasta datang," jawab David dengan raut wajah khawatir.


"Ketua direksi? Kakek Stefan!" batin Dian.

__ADS_1


Dian sangat yakin alasan Adi Bramasta datang menemuinya hari ini yaitu demi keris antik. Hanya saja Dian tidak menduga kakek tua itu sudah sangat tidak sabaran.


Jabatan Adi sebagai direksi Perusahaan Bramasta membuat David tidak bisa mengusirnya secara halus dan Dian memakluminya.


Chandra sedang tidak berada di Perusahaan Jayanata sehingga David khawatir Adi Bramasta akan mencari masalah dengan Dian.


"Dia berada di ruang tunggu?" tanya Dian.


David menggelengkan kepalanya pelan dan wajahnya semakin gelisah. "Tuan Adi langsung masuk ke dalam ruangan nona Dian," jawab David.


David tahu Dian tidak suka orang lain masuk ke dalam ruang kantornya sesuka hati seperti Anggi sebelumnya sehingga David bersiap menerima kemarahan Dian karena tidak berhasil mencegah Adi.


"Tidak apa-apa. Aku bisa mengatasinya," ucap Dian.


Di dalam ruang kerja ada terpasang cctv sehingga Dian tidak khawatir dengan kemungkinan Adi mencuri lihat dokumen Perusahaan Jayanata. Tujuan utama kakek tua itu adalah keris antik.


***


Dian mendorong pintu ruang kerja dan berjalan masuk ke dalam dengan tenang. Terlihat Adi Bramasta duduk di sofa bersama Anastasia.


"Apakah kamu tidak tahu cara mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk? Dasar tidak sopan!" tegur Adi sambil menatap tajam Dian.


"Mati kutu kamu sekarang!" teriak hati Anastasia kegirangan.


Dian tersenyum kecil mendengar perkataan Adi. Gadis muda itu tahu Adi mencoba mengintimidasinya dan tentu saja tidak akan berhasil.


"Tuan Adi. Aku tidak pernah mengetuk pintu ruang kerjaku sendiri!" balas Dian.


Dian berbicara tanpa melihat ke arah Adi dan berjalan menuju meja kerjanya. Kemudian duduk dan membuka laptop untuk melakukan pekerjaannya. Dian mengacuhkan dua tamu tak diundang yang berada di ruangannya saat ini.


"Dian! Tidak kusangka setelah bercerai, kamu menjadi wakil CEO Perusahaan Jayanata. CEO Chandra sangat peduli denganmu. Pantas saja kamu menjadi sombong," ujar Adi.


"Tuan Adi. Aku masih banyak kesibukan. Bisakah anda memperjelas maksud kedatanganmu secara tiba-tiba tanpa membuat janji terlebih dahulu?" tanya Dian tanpa basa-basi.


"Laura dan Sia mencuri keris antik tanpa sepengetahuanku. Pada akhirnya jatuh ke tanganmu. Kamu tahu kan keris antik itu pusaka turun temurun Keluarga Bramasta. Aku akan membelinya berapa pun harga yang kamu ajukan sekarang!" ucap Adi.


"Aku tidak berniat menjualnya," jawab Dian.


"Dian! Berapa pun uang yang kamu mau, aku pasti akan membayarnya! Jangan lepaskan kesempatan emas ini. Keris antik itu milik Keluarga Bramasta!" tukas Adi.


"Indra pendengar tuan Adi sama buruknya dengan nyonya Laura. Aku tidak akan menjualnya. Keris antik bukan milik Keluarga Bramasta lagi!" balas Dian.


Anastasia berdiri dari kursi sofa dan berlari menghampiri meja kerja Dian.


"Dian! Kamu sengaja tidak mau jual keris antik itu kan? Kamu sengaja mau membuatku dan mama dibenci oleh kakek?" tanya Anastasia.


"Iya benar," jawab Dian.


"Dian. Kakek tahu selama ini Laura dan Sia menindasmu. Kali ini Sia datang untuk meminta maaf. Kamu boleh menghukumnya sesuka hatimu," kata Adi.


Keris antik lebih penting dan sangat berharga untuk Keluarga Bramasta sehingga Adi rela mengorbankan Anastasia agar Dian mau mengembalikan keris antik.


"Kakek!" teriak Anastasia dengan panik.


"Aku tidak perlu permintaan maaf palsu. Keris antik tidak akan dijual," ucap Dian dengan tegas.


Adi mendengus kasar dan menatap tajam Dian.

__ADS_1


"Dasar tidak tahu diri! Berani menolak permintaanku! Aku akan membuatmu menyesal!" ancam Adi.


"Aku penasaran apa yang bisa membuatku menyesal!" tantang Dian.


"Kamu kira ada bekingan CEO Chandra sudah bisa bertindak sesuka hati. Aku kenal dekat Jackson. Aku akan memberitahukannya tentang putranya terjerat wanita yang sudah bercerai. Kamu pasti akan dibuang jauh," gertak Adi.


"Tua bangka ini memakai daddy untuk mengancamku," batin Dian.


Adi dan Anastasia tersenyum lebar melihat Dian terdiam karena ancaman Adi. Mereka berdua mengira Dian takut hubungannya dengan Chandra kandas.


"Aku berfirasat tuan Jackson pasti akan menyukaiku," jawab Dian.


Adi hampir saja muntah darah karena jawaban Dian. Kemarahannya sudah memuncak hingga ubun-ubun. Pria tua itu mengambil handphone dari saku celana dan mencari nomor kontak Jackson.


Anastasia mengangkat dagu dan menatap Dian dengan sombong. Adik manja itu yakin Dian akan kalah telak kali ini karena Adi turun tangan langsung menghubungi Jackson.


Adi sengaja menekan speaker agar suara Jackson juga terdengar oleh Dian. Dian melipat kedua tangan di depan dada dan bersandar di kursi dengan santai. Gadis muda itu penasaran bagaimana reaksi daddy Jackson menerima telepon dari Adi Bramasta.


Beberapa saat kemudian, bunyi sambungan telepon berhenti karena sudah diangkat oleh seseorang di sana.


"Halo Pak Adi. Ada apa meneleponku?" tanya Jackson tanpa basa-basi.


Adi termasuk pengusaha di angkatan yang sama dengan Agung Wijaya, kakek Jackson sehingga Jackson menyapanya dengan sebutan Pak.


"Jackson. Aku dengar kamu sedang liburan dengan istri ke luar negeri," ucap Adi dengan nada gembira, seolah-olah dirinya mempunyai hubungan yang dekat dengan Jackson.


"Iya benar. Aku sedang menemani istriku berbelanja. Jika tidak ada keperluan penting, aku tutup sekarang," ujar Jackson dengan tidak ramah.


Dian tertawa dalam hati mendengar suara ketus Jackson. Perlakuan buruk anggota keluarga Bramasta terhadapnya, pastilah membuat Jackson tidak mau mengobrol lama dengan Adi.


"Tunggu sebentar, Jackson. Kamu tahu tidak anakmu, Chandra berhubungan dengan wanita yang sudah bercerai," ujar Adi.


Adi tidak mengungkapkan identitas Dian sebagai mantan Stefan karena menjaga gengsinya. Tujuannya hanya untuk menakuti Dian agar keris antik bisa kembali ke tangannya.


"Kamu urus saja urusan keluargamu sendiri. Aku percaya dengan penilaian Chandra terhadap pasangannya. Istriku sudah memanggilku. Aku tutup sekarang!" ucap Jackson sambil menutup sambungan telepon tanpa nego.


Adi menggenggam erat handphone di tangannya dengan kesal, lalu menoleh ke arah Dian yang tersenyum kecil.


"Kamu kira bisa menjadi keluarga Wijaya dengan mudah? Jangan mimpi! Keluarga Bramasta terlalu berbaik hati menerimamu dan kamu tidak tahu balas budi sekarang!" ujar Adi.


"Aku bersyukur sudah meninggalkan keluarga Bramasta dan aku yakin bisa menjadi bagian dari keluarga Wijaya," jawab Dian dengan yakin.


"Kita lihat saja nanti!" kata Adi dengan ketus.


Adi meninggalkan ruang kantor Dian dengan suasana hati buruk. Anastasia mengikutinya dari belakang sambil menundukkan kepala.


Anastasia yakin kegagalan kali ini mendapatkan kembali keris antik akan mengakibatnya dirinya dan Laura terkena hukuman dari Ari lagi. Semua itu disebabkan oleh Dian.


***


Selamat malam readers tercinta. Jangan lupa baca kelanjutan ceritanya besok ya.


TERIMA KASIH


SALAM SAYANG


AUTHOR : LYTIE

__ADS_1


__ADS_2