
***Lantai dua jamuan makan malam***
Suasana lantai dua sangat sepi dan tenang dibandingkan lantai satu yang penuh dengan suara perbincangan para tamu undangan.
Chandra dan Dian berjalan menghampiri seorang pria yang duduk disana. Pria itu memakai jas hitam dan kelihatan muda. Dian memperkirakan selisih umur pria itu dengannya hanya sedikit.
Pria itu segera berdiri dari tempat duduknya ketika melihat kemunculan Chandra dan Dian.
"Selamat datang CEO Chandra," sapa Erik sambil mengulurkan tangan kanan.
"Terima kasih undangannya CEO Erik," jawab Chandra dan menjabat tangan Erik.
Erik menatap ke arah Dian dengan tatapan mata kagum dan hormat sehingga tidak terkesan berlebihan.
"Perkenalkan, ini wakil CEO Dian," kata Chandra.
Dian dan Erik berjabat tangan sebentar.
"Wakil CEO Dian sangat cantik malam ini," puji Erik.
"Terima kasih CEO Erik. Aku harap Perusahaan Jayanata bisa bekerja sama dengan Perusahaan Alpha di setiap proyek yang akan datang," ucap Dian.
Dian berterus terang tentang maksud kedatangannya hari ini. Erik tersenyum kecil melihat antusias dan semangat kerja Dian.
"CEO Chandra. Bolehkah aku berbincang berdua dengan wakil CEO Dian? Untuk proyek kerja sama akan langsung berhubungan dengan wakil CEO Dian bukan?" tanya Erik.
"Tentu saja boleh," jawab Chandra.
"Dian. Aku tunggu di lantai satu," ucap Chandra sambil menepuk lembut punggung tangan Dian, sebagai tanda pemberi semangat ke adik kesayangannya.
"Silakan duduk wakil CEO Dian," kata Erik.
Dian duduk berhadapan dengan Erik. Sikap tenang dan wibawa yang memancar dari tubuh Dian membuat Erik kagum.
"Aku ingin tahu mengapa wakil CEO Dian tertarik dengan proyek AI dan sangat percaya diri bisa mendapatkannya?" tanya Erik.
"CEO Erik, proposal kerja sama yang diajukan oleh Perusahaan Jayanata sangat bagus. Walaupun di luar banyak investor yang juga mengajukan proposal kerja sama, aku yakin tidak ada yang melebihi penawaran dari Perusahaan Jayanata," jawab Dian dengan percaya diri.
Dian terdiam sebentar untuk mengamati reaksi Erik atas perkataannya. Erik menganggukkan kepalanya pertanda setuju dengan perkataan Dian.
"Perusahaan Alpha memiliki teknologi inti dan Perusahaan Jayanata memiliki modal investasi yang banyak. Selain itu tujuan Perusahaan Jayanata bukan keuntungan dalam waktu singkat melainkan kerja sama jangka panjang. Aku percaya dalam sepuluh tahun ke depan, tingkat perkembangan teknologi kecerdasan buatan di dunia akan ditentukan oleh kita," kata Dian.
Jawaban Dian sangat mengena di hati Erik. Tujuan utama Perusahaan Alpha adalah memperkenalkan hasil produk teknologinya ke seluruh dunia dan bukan mencari keuntungan semata.
Erik semakin yakin Perusahaan Jayanata adalah pilihan rekan bisnis yang tepat. Penilaian hati kecil Erik yang semula mengira Dian mendapatkan jabatan itu karena pengaruh dari Chandra berubah seratus persen. Gadis muda di hadapannya bisa menjadi pengusaha yang sangat sukses karena kecerdasan dan pandangan jauh ke masa yang akan datang.
"Aku tertarik bekerja sama dengan Perusahaan Jayanata. Apakah wakil CEO Dian keberatan pihak ketiga berpartisipasi dengan kerja sama kita?" tanya Erik dengan wajah serius.
__ADS_1
"Pihak ketiga? Siapa?" tanya Dian.
Erik melambaikan tangan memberi isyarat kepada seseorang yang berada tidak jauh dari mereka. Dian mendengarkan suara langkah kaki yang mendekat sehingga menoleh ke belakang.
Senyuman di sudut bibir Dian menghilang seketika. Gadis muda itu tertegun melihat Stefan berjalan menghampiri mereka.
"Perusahaan Bramasta juga tertarik dengan proyek ini?" batin Dian.
Stefan mengenakan jas blazer jubah panjang pria dipadu dengan kaos hitam dan celana panjang hitam. Mata Stefan tertuju kepada Dian selama beberapa detik, lalu menyapa Erik dengan tenang.
Stefan duduk di samping Dian. Gadis muda itu menatap lurus ke depan, khususnya ke Erik. Dian menunggu penjelasan dan alasan mengapa Perusahaan Bramasta harus ikut bergabung dalam kerjasama mereka.
Erik menatap Dian dan Stefan bergantian. "Aku kira tidak perlu mempekenalkan kalian satu sama lain. Kalian sudah saling mengenal baik," ucap Erik.
Dian dan Stefan menganggukkan kepala bersamaan.
"Wakil CEO Dian. Aku minta maaf karena tidak memberitahukan sejak awal. Siapa pun rekan bisnis Perusahaan Alpha, Perusahaan Bramasta akan terlibat dalam proyek itu," kata Erik dengan serius.
"Atas dasar apa?" tanya Dian dengan suara dingin.
Dian menanyakannya dengan lantang karena ingin mengetahui alasan yang pasti mengapa Perusahaan Bramasta harus ikut serta dalam proyek itu.
"Sejak Perusahaan Alpha berdiri, CEO Stefan menjadi penyandang dana dan mendanai semua proyek yang dijalankan tiga tahun ini," jawab Erik jujur.
"Ternyata begitu. Bisa dikatakan Stefan termasuk pemegang saham terbesar di Perusahaan Alpha," kata hati Dian.
Jika saja Erik tidak memberitahukan malam ini, maka Dian pun tidak akan mengetahuinya. Ini membuktikan Erik memang tertarik bekerja sama dengan Perusahaan Jayanata.
Walaupun Dian merasa canggung bekerja sama dengan Stefan dan bisa mengakibatkan banyak gosip tidak benar menerpa dirinya lagi, Dian tidak bisa melepaskan kesempatan ini demi kemajuan Perusahaan Jayanata.
Dian menoleh ke arah Stefan dan membuat pria muda itu merasa senang dalam hatinya karena ini pertama kalinya Dian bersedia menatapnya lagi sejak perceraian.
"CEO Stefan. Aku yakin dengan kemampuan Perusahaan Bramasta bisa menjalankan proyek mandiri dengan Perusahaan Alpha. Kenapa memerlukan kerja sama dengan pihak ketiga lagi?" tanya Dian dengan serius.
"Ini adalah proyek baru dan belum pernah dijalankan oleh perusahaan mana pun. Perusahaan Bramasta tidak mungkin menanggung resiko sendiri," jawab Stefan dengan jujur.
"Untuk proyek AI, Perusahaan Jayanata dan Perusahaan Bramasta mengeluarkan modal investasi yang sama sehingga pembagian keuntungan di masa yang akan datang juga harus sama," kata Dian.
"Tentu saja," jawab Stefan.
Erik tersenyum lebar mendengar kesepakatan antara Dian dan Stefan, yang menandakan Perusahaan Bramasta, Jayanata, dan Alpha akan bekerja sama dalam proyek AI.
"Pelayan," panggil Erik.
Pelayan pria berjalan menghampiri Erik. "Ada yang bisa aku bantu, tuan Erik?" tanya pelayan pria.
"Bawakan wine yang aku pesan tadi dan tiga gelas wine," jawab Erik.
__ADS_1
"Baik tuan Erik," ucap pelayan pria.
Beberapa saat kemudian Erik membuka botol anggur merah dan menuangkan ke dalam tiga gelas wine.
"Mari kita bersulang untuk kerja sama yang menyenangkan," kata Erik sambil mengangkat gelas wine.
Stefan dan Dian juga mengangkat gelas wine di hadapannya. Ketiga gelas wine bersentuhan dengan pelan.
"Cheers!" ucap mereka bertiga bersamaan dan meneguk habis anggur merah itu.
Erik tersenyum semringah, tetapi dirinya merasakan suasana yang kaku di antara Dian dan Stefan sehingga mencoba mencairkan suasana.
"Aku usulkan kalian berdua berdansa bersama sebagai pembuka acara malam ini dan juga pengumuman resmi hubungan kerja sama kita," kata Erik.
Stefan tertegun mendengar perkataan Erik, sedangkan Dian tersenyum kecil menatap Erik.
"Maaf CEO Erik! Aku tidak bisa berdansa. Aku pamit dulu!" ucap Dian dan berdiri dari kursi meninggalkan Stefan dan Erik.
***
"Fan! Perceraian kalian berlangsung tidak lancar kah? Nona Dian bahkan tidak mau berdansa denganmu," canda Erik.
Selama ini memang Stefan yang mendanai setiap proyek Alpha, tetapi Stefan tidak pernah mau ikut campur dalam hal penelitian dan menyerahkan sepenuhnya ke Erik serta ilmuan lainnya.
Erik tidak menduga Stefan menghubunginya dan meminta ikut serta apa bila rekan bisnis Perusahaan Alpha adalah Perusahaan Jayanata. Tentu saja Erik menyanggupi permintaan Stefan.
Stefan hanya terdiam mendengar candaan Erik. Sepasang mata tajamnya menatap ke arah tangga di mana sosok Dian sudah menghilang di sana.
"Tidak bisa berdansa? Bukankah di restoran Dian berdansa dengan Billy?" keluh hati Stefan.
***
Selamat siang readers. Inti cerita novel ini adalah identitas tersembunyi Dian serta hasrat cinta pertama. Dian rela menjalani pernikahan satu tahun dengan Stefan karena pria itu adalah cinta pertama, dengan menyembunyikan identitas sebenarnya dan berpura-pura menjadi gadis miskin. Begitu pun juga dengan Stefan yang masih teringat dengan hasrat cinta pertamanya ketika masih kecil sehingga menjadikan Gisel sebagai pacar.
Tentu saja gadis kecil itu adalah Dian dan akan terungkap seiring alur cerita ya.
Jadi novel ini sama sekali bukan novel balas dendam ke mantan suami karena Dian tidak ada menjalankan rencana balas dendam terhadap Stefan, sedangkan terhadap anggota keluarga Bramasta yang masih saja mengganggunya, tentu saja Dian harus membalasnya ππ€.
Mohon maaf author hanya bisa up maksimal dua bab aja perhari. Satu bab bisa menghabiskan waktu dua sampai tiga jam buatnya. Author masih ada kesibukan real life. Harap dimaklumi ya readers π€π
Sebenarnya author masih ada rencana untuk buat bonus chapter di novel Anak Genius, yang menceritakan masa kecil dan pertemuan Dian dengan Stefan, tetapi pending dulu ya π. Belum ada waktu menuangkannya ke dalam naskah karena masih sibuk untuk on going novel ini. Terima kasih untuk readers yang sudah baca dari cerita Jackson dan Rossyπ₯°π₯°
TERIMA KASIH
SALAM SAYANG
AUTHOR : LYTIE
__ADS_1