
***Ruang praktik Felix Wilson di Healing Hands Hospital***
Rossy menemani Dian menemui Felix di ruang praktik. Michelle pun berada di ruangan yang sama.
Konseling berjalan lancar. Dian menceritakan semua kecemasan hati dan isi mimpi buruknya semalam ke Felix tanpa beban.
Saat ini Dian tidak merasa dirinya melakukan konseling dengan dokter psikiater melainkan bercerita terhadap anggota keluarga terdekat karena Felix dan Michelle termasuk orang tua yang melihat pertumbuhan Dian sejak kecil.
"Dian! Kamu gadis yang tabah dan tegar. Daya tahan psikologis mu sangat kuat. Untuk sementara aku tidak akan memberikan resep obat penenang. Kamu cukup melakukan konseling tahap lanjutan agar beban pikiranmu hilang dan menjadi lebih tenang. Om yakin kamu tidak akan mimpi buruk malam ini," kata Felix.
"Felix. Kapan Dian melakukan konseling lanjutan?" tanya Rossy.
"Dua minggu lagi. Tetapi jika dalam waktu dua minggu ini, mimpi buruk itu masih datang dan Dian selalu merasa gelisah serta panik, bisa langsung datang menemuiku. Saat itu akan akan memberikan resep obat penenang," jelas Felix.
"Baik, om Felix. Terima kasih," jawab Dian.
Dian merasa lega dan lebih tenang setelah berbincang dengan Felix. Gadis muda itu mengambil termos penghangat yang berisi sup herbal dari atas meja.
"Dian. Kamu ingin menjenguk Stefan sekarang? Tadi sekretaris pribadinya bilang Pak Adi akan datang menjenguk Stefan. Mungkin sekarang beliau sudah di kamar pasien," kata Michelle.
Walaupun Adi tahu Jackson sudah mengirim dua orang bodyguard untuk menjaga Stefan, tetapi Adi tetap memanggil Luis untuk menemani Stefan di Healing Hands Hospital sehingga sekretaris pribadi itu sudah tiba di rumah sakit sejak jam lima pagi.
Ketika Stefan siuman, Luis yang pertama kali mengetahuinya karena kedua bodyguard sudah berjaga di luar pintu kamar rawat inap VVIP sejak kedatangan sekretaris pribadi itu.
Dian mengerti maksud baik Michelle agar dirinya menghindari bertemu Adi terlebih dahulu karena bagaimana pun juga Stefan terluka demi menyelamatkannya. Mungkin saja orang tua itu akan mencari kesempatan untuk memarahinya jika bertemu saat ini.
Suara handphone Dian berdering sehingga gadis muda itu mengambilnya dari dalam tas. Dian termenung sebentar melihat deretan nomor panggilan yang muncul di layar handphone.
Dian segera menerima panggilan telepon. "Halo Luis. Ada apa?" tanya Dian.
Luis termasuk satu-satunya orang yang bersikap baik terhadapnya selama pernikahan dengan Stefan sehingga Dian tidak memblokir nomor handphone sekretaris pribadi itu.
Lagi pula setelah perceraian, Luis tidak pernah menghubungi nomor handphone baru milik Dian sehingga Dian yakin panggilan telepon dari Luis kali ini pasti berkaitan dengan Stefan.
"Selamat siang nona Dian. Apakah nona Dian juga terluka berat kemarin?" tanya Luis dengan hati-hati.
"Lukaku hanya luka lecet saja. Tidak ada luka berat," jawab Dian.
"Syukurlah! Tadi pagi saat CEO Stefan sadar, hal yang pertama kali ditanyakannya adalah luka nona Dian. Apakah nona Dian bisa datang menjenguk CEO Stefan?" tanya Luis sekali lagi.
Luis melakukan panggilan telepon ini atas inisiatif dirinya sendiri dan tanpa sepengetahuan Stefan. Luis tahu Stefan sudah menyadari rasa cintanya terhadap Dian sehingga dirinya ingin mencoba membantu Stefan untuk menghubungi Dian.
__ADS_1
"Aku sudah tiba di rumah sakit. Sebentar lagi ke sana," jawab Dian.
"Terima kasih nona Dian. CEO Stefan pasti senang melihat nona datang," ucap Luis dengan semangat.
"Kamu di kamar pasien bersama Stefan?" tanya Dian.
"Tuan besar sedang berbincang dengan CEO Stefan sehingga aku ke kantin untuk makan siang sebentar," jawab Luis jujur.
"Baiklah. Nanti kita bertemu di kamar pasien saja," kata Dian.
"Baik nona Dian," ucap Luis.
***
"Mommy, om Felix, aunty Michelle. Dian pergi menjeguk Stefan sekarang," kata Dian.
"Pergilah! Mommy mengobrol di sini saja sambil nungguin kamu selesai," ucap Rossy.
"Oke mommy. Palingan cuma satu jam an saja. Kedua bodyguard ikut Dian ke sana," lanjut Dian sebelum meninggalkan ruang praktik Felix.
***Kamar rawat inap VVIP Stefan di Healing Hands Hospital***
Sejak Adi tiba di kamar pasien, dokter spesialis yang menangani Stefan beserta dua suster yang berjaga semalaman datang menemuinya dan menjelaskan kondisi terkini tentang Stefan sehingga Adi merasa lebih lega dan tenang saat ini.
Kondisi Stefan sangat stabil dan hanya tinggal pemulihan kaki kanannya yang di gips.
"Stefan. Kamu penerus satu-satunya Keluarga Bramasta.
Seharusnya lebih menjaga nyawamu sendiri dan tidak bertindak sembarangan," ujar Adi.
"Maaf kakek," jawab Stefan dengan singkat.
Jika kejadian yang sama terulang lagi, Stefan yakin dirinya pasti akan melakukan hal yang sama.
"Kakek tahu kamu menyukai Dian sehingga rela mengorbankan nyawamu. Kamu ingin rujuk dengan Dian?" tanya Adi tanpa basa basi.
Adi tidak mau membuang kesempatan emas ini untuk menjalankan rencana terbaiknya.
Bersamaan dengan itu Dian
menghentikan langkah kakinya tepat di depan pintu kamar pasien yang tidak tertutup rapat karena mendengar perkataan Adi. Mungkin Luis tidak menutup rapat pintu kamar tadi ketika keluar sehingga Dian memutuskan mendengarkan apa maksud Adi dan Stefan terhadapnya.
__ADS_1
"Kakek jangan mencampuri urusanku dengan Dian!" tolak Stefan dengan tegas.
Adi tidak memedulikan penolakan Stefan dan melanjutkan perkataannya.
"Dalam hal latar belakang keluarga maupun bakat dan kemampuan, Dian sangatlah sepadan denganmu. Jika bukan karena Dian menyembunyikan identitasnya ketika menikah denganmu, maka putri Jackson Wijaya sudah menjadi istri Stefan Bramasta sampai saat ini!" ujar Adi dengan yakin.
Stefan menatap tajam Adi karena sudah bisa menebak maksud tersembunyi dari kakeknya.
"Aku percaya kamu bisa membuatnya jatuh cinta lagi karena Dian pernah sangat mencintaimu selama pernikahan pertama. Lagi pula untuk membalas budimu menyelamatkan nyawa Dian, keluarga Wijaya pasti akan menyetujui pernikahan bisnis di antara kalian berdua!" lanjut Adi.
Pernikahan Keluarga Wijaya dan keluarga Bramasta adalah aliansi yang kuat serta bisa membuat kedua perusahaan semakin besar dan maju pesat.
Dian mengepalkan erat kedua tangannya saat mendengar jelas semua rencana Adi terhadapnya. Perkiraan Jackson dan Chandra sangatlah tepat, hanya saja Dian tidak menyangka Adi lah yang mengusulkan pernikahan bisnis bukan Stefan.
Siapa pun yang mengusulkan pernikahan bisnis, Dian menduga Stefan akan menyetujuinya karena pria muda itu juga berambisi membuat Perusahaan Bramasta menjadi bertambah besar dan maju.
"Dian tidak akan menyetujui pernikahan bisnis!" ucap Stefan dengan tegas.
"Kita bisa…."
"Aku juga tidak menyetujui pernikahan bisnis dan tidak akan pernah mengikat Dian dalam pernikahan semacam itu!" lanjut Stefan, tanpa memberi kesempatan Adi untuk melanjutkan perkataannya.
"Dasar cucu bodoh dan keras kepala!" teriak Adi sambil berdiri memegang tongkat. Adi sangat marah dengan penolakan Stefan.
Sementara Dian yang juga terkejut dengan jawaban Stefan segera menyingkir dari depan pintu kamar karena yakin Adi akan keluar sebentar lagi.
Pak Eko yang berada di dalam kamar pasien, membantu memapah Adi dengan cepat agar pria tua itu tidak terjatuh karena kemarahannya yang memuncak.
"Urusan ini kakek yang akan berunding dengan Keluarga Wijaya. Mereka harus membalas budi untuk Keluarga Bramasta!" ujar Adi dan berjalan meninggalkan kamar rawat inap VVIP bersama Pak Eko.
***
Selamat siang readers. Hari senin waktunya vote ya 🥰🥰🥰🤗
Jangan lupa baca kelanjutan ceritanya nanti malam.
TERIMA KASIH
SALAM SAYANG
AUTHOR : LYTIE
__ADS_1