HASRAT CINTA PERTAMA

HASRAT CINTA PERTAMA
BAB 117. Bonus chapter Dion-Vivian part III (Tamat)


__ADS_3

***Restoran Hartono***


Saat ini Vivian baru menyadari wajah beberapa pria yang memberikan bunga mawar putih sangat familiar. Vivian pernah melihat mereka di kompetisi sains internasional yang pernah diikuti oleh Vivian.


Dalam waktu singkat, dua keranjang di atas meja penuh dengan bunga mawar merah putih. Entah sejak kapan, Dian pun sudah menghilang dari hadapan Vivian.


Vivian mengedarkan pandangannya ke sekeliling restoran untuk mencari sosok pria yang sangat dicintainya. Vivian yakin Dion lah yang memberikan kejutan kepadanya saat ini.


Vivian merasa kecewa karena tidak menemukan sosok Dion di antara pelanggan restoran yang memberikan bunga kepadanya.


Vivian melamun menatap dua keranjang bunga mawar putih di atas meja makan sehingga tidak menyadari seorang pria sedang berjalan menghampirinya sambil membawa nampan.


Pria itu menghidangkan satu mangkuk bakmi ayam legendaris dan satu cangkir kopi di hadapan Vivian.


"Terima kasih," jawab Vivian, tanpa mengangkat wajahnya.


Pria itu mengangkat nampan kosong dan meninggalkan meja Vivian menuju dapur, lalu kembali lagi menghampiri meja Vivian serta berdiri di samping Vivian dengan memberi sedikit jarak dan menatap Vivian dengan intens.


Pria itu adalah Dion. Dion mengikuti nasihat Stefan memasak bakmi ayam legendaris untuk Vivian, sedangkan rencana Dian adalah mengajak semua rekan kerja Dion untuk membantu meminta maaf ke Vivian.


Dion tahu Vivian sangat menyukai bunga mawar putih sehingga meminta bantuan Leon untuk membeli bunga mawar putih yang segar dan cantik.


Selain itu bunga mawar putih mempunyai makna ketulusan, kesucian, keagungan, dan kemurnian dari sebuah cinta sejati. Bunga mawar putih bisa dijadikan sebagai hadiah lamaran.


Dian mengusulkan Dion untuk


melamar Vivian sekali lagi dengan tulus dan romantis karena lamaran sebelumnya tidak ada bunga atau apa pun. Hanya ajakan menikah dari mulut Dion dan Vivian langsung menyetujuinya.😅


***


Aroma harum bakmi ayam legendaris membuat selera makan Vivian muncul. Sejak pulang dari toko pengantin, Vivian mengurung diri di dalam kamar dan hanya makan sedikit sehingga rasa laparnya sangat terasa sekarang.


Vivian mencicipi bakmi ayam legendaris di hadapannya. Sementara Dion yang berdiri di samping Vivian menatap gadis muda itu tanpa berkedip satu kali pun.


Ketika Vivian menghabiskan bakmi ayam legendaris di mangkuknya, sepasang mata gadis muda itu terpaku dengan tulisan yang timbul di dalam mangkuk.


Sebagai ilmuwan, Vivian tahu mangkuk yang dipegangnya memiliki efek khusus muncul tulisan setelah terkena air panas.


"Please Forgive me! I love you,Vi! Will you marry me?"


Dion mengucapkan tulisan yang muncul di dalam mangkuk dengan suara keras sehingga Vivian menoleh ke arah Dion.


Dion mendekati Vivian dan memegang erat tangan gadis muda itu.


"Vi! Bisakah kamu memberiku kesempatan kedua? Menikahlah denganku!" ucap Dion dengan wajah sungguh-sungguh sambil berlutut dengan satu kaki di hadapan Vivian.


Wajah Vivian bersemu merah karena bisa merasakan semua tatapan mata sedang melihat ke arahnya.


"Aku memaafkanmu!" jawab Vivian dan menarik tangan Dion agar pria muda itu berdiri.

__ADS_1


Dion duduk di samping Vivian, lalu mendekatkan wajahnya. "Bagaimana dengan lamaranku?" tanya Dion.


Dion tidak mau seperti Stefan, yang bersedia menghabiskan waktu lebih dari setengah tahun untuk bisa menikah dengan Dian setelah Dian memberinya kesempatan kedua.


Dion ingin secepatnya meresmikan hubungan suami istri dengan Vivian.


"Beri aku waktu untuk berpikir!" jawab Vivian.


Kejutan yang diberikan oleh Dion membuat Vivian terharu dan yakin Dion juga mencintainya. Hanya saja Vivian merasa malu menjawab di depan banyak orang.


"Baiklah. Setelah satu cangkir kopi ini habis, aku mau jawabannya," ucap Dion sambil menunjuk cangkir kopi yang belum diminum oleh Vivian.


"Oke," jawab Vivian.


Vivian meneguk kopi itu perlahan hingga tetes terakhir. Vivian tidak menyadari senyum samar menghias di sudut bibir Dion.


"Vi! Aku sudah tahu jawabanmu," ucap Dion secara tiba-tiba.


"Apa jawabanku?" tanya Vivian dengan wajah bingung.


"Di gelas kopi," jawab Dion dengan yakin.


Vivian melihat lebih saksama isi cangkir kopi. Tidak ada tulisan yang muncul di sana.


"Di sini!" jawab Dion sambil memegang permukaan cangkir bagian depan.


"Yes! I Do!" Vivian tidak sengaja mengucapkan tiga kata yang muncul di permukaan cangkir kopi itu dengan spontan.


"Selamat Dion!"


"Congratulations Bro!"


"Ditunggu undangannya!"


Wajah Vivian semakin merona merah seperti warna kepiting rebus. "Dion! Turunkan aku!" lirih Vivian.


Dion menurunkan Vivian dari gendongannya, lalu mencium kening Vivian dalam waktu lama hingga akhirnya terdengar suara deham dari mulut Leon.


Dian, Stefan, dan Leon sudah berdiri di samping Dion. Dian tersenyum senang melihat Dion dan Vivian bersatu kembali.


"Selamat Vi!" ucap Dian.


"Terima kasih Dian," jawab Vivian.


Vivian yakin Dian berperan besar membantu Dion hari ini.


"Kita tunggu undangan kalian," ucap Stefan.


"Iya," jawab Dion.

__ADS_1


Di dalam pikiran Dion sudah terlintas rencana untuk menikah dengan Vivian secepat mungkin agar gadis muda itu tidak berubah pikiran lagi.


"Dion! Ayo kita ke butik Raisa sekarang. Mama sudah menyiapkan beberapa gaun pengantin untuk dipilih Vivian," kata Leon.


Selain membantu menyiapkan bunga mawar putih, Leon juga membantu Dion memesan baju pengantin rancangan Raisa agar sepasang sejoli itu bisa langsung memilih baju pengantin yang cocok untuk Vivian.


"Ayo Vi!" ajak Dion. Vivian menganggukkan kepalanya. Mereka berdua bergandengan tangan meninggalkan Restoran Hartono menuju Butik Raisa bersama Leon.


***


Semua teman Dion pun meninggalkan restoran setelah pasangan Dion dan Vivian pergi. Restoran pun dibuka untuk umum lagi, setelah di booking beberapa jam oleh Dion tadi.


Stefan meminta salah satu pelayan restoran untuk memotretnya bersama Dian, dengan kamera polaroid.


Tiga foto polaroid berada di tangan Stefan sekarang. Stefan merangkul pundak Dian dan berjalan bersama menuju dinding yang penuh dengan foto polaroid di sana, sedangkan Mao Mao berada di dalam pangkuan lengan Dian.


Stefan menempel salah satu foto polaroid di dekat foto Dian kecil, yang memakai baju balerina.


"Sunshine. Setiap tahun kita akan menempel foto kenangan di sini," ucap Stefan.


Dian menganggukkan kepalanya. "Foto kenangan kita bukan hanya ada di sini, tetapi juga memenuhi rumah dan Mansion Wijaya," kata Dian.


"Iya," jawab Stefan.


Mereka berdua saling bertatapan dan tersenyum satu sama lain. "Ayo kita pulang sekarang! Aku harus menambah anggota keluarga kecil kita," ucap Stefan dengan wajah serius.


Pipi Dian merona merah. "Mao Mao anggota keluarga kecil kita." Dian berusaha mengalihkan pembicaraan.


Stefan mendekatkan wajahnya dan berbisik di telinga Dian. "Aku mau Sunshine kecil dan Fan kecil memenuhi rumah baru kita," kata Stefan.


Stefan menggenggam erat tangan Dian dan mempercepat langkah kaki meninggalkan Restoran Hartono menuju rumah baru mereka untuk memulai petualangan fantasi yang agresif agar Sunshine kecil dan Fan kecil bisa segera terwujud. 🥰


***


Selamat malam readers tercinta. Bonus chapter Dion-Vivian sudah tamat 🤗


Status novel ini akan berubah menjadi novel tamat.


Nantikan notifikasi saat bonus chapter masa kecil Dian-Stefan sudah ready author tulis ya🤗 (Mohon sabar menunggu 😂😂🙏)


Terima kasih semua dukungannya selama ini. Walaupun ada yang pro kontra dengan Dian rujuk kembali bersama Stefan sehingga memutuskan tidak melanjutkan membaca novel ini, author berterima kasih kepada semuanya dengan sepenuh hati 🤗🤗🥰🥰🙏.


Mohon maaf jika ada kekurangan ataupun kesalahan dalam penulisan dan cerita novel ini. Semoga bisa menghibur readers semua.


Jangan lupa mampir di novel SUAMI SEJATI PILIHAN NONA MUDA atau novel lain yang sudah tamat ya🤗🙏


TERIMA KASIH


SALAM SAYANG

__ADS_1


AUTHOR : LYTIE


__ADS_2