
***Mansion Tatum***
Stefan melangkahkan kakinya dengan cepat menuju ke panggung, lalu menggendong Dian secara spontan dan membawa gadis muda itu turun dari sana.
Para musisi memainkan alunan musik ceria yang baru sehingga penari lainnya melanjutkan pertunjukkan di atas panggung.
Perhatian para tamu undangan pun fokus kembali ke atas panggung. Kebanyakan dari mereka sudah mengetahui hubungan dekat Stefan dan Dian belakangan ini sehingga tidak terlalu terkejut dengan sikap Stefan menggendong Dian turun dari panggung.
Sementara Gisel menatap penuh dendam dan cemburu ke arah Dian yang berada di dalam gendongan Stefan, tetapi kedua bodyguard anak buah Bagaskara tidak memberi kesempatan Gisel untuk mendekati Dian lagi.
Kedua bodyguard mengapit Gisel di tengah dan membawa gadis tidak tahu malu itu keluar dari Mansion Tatum. Chandra dan Kelvin tidak ikut keluar karena rencana mereka bersama Stefan sebelumnya, akan dijalankan oleh kedua bodyguard tersebut.
Chandra dan Kelvin lebih memilih menemani gadis pujaan hati mereka untuk menikmati pertunjukkan di atas panggung. Walaupun begitu, mereka berdua mengawasi secara diam-diam ke arah Stefan karena penasaran apa yang akan dilakukan oleh pria muda itu terhadap adik kesayangan mereka.
***
Wajah Gisel menjadi semakin pucat saat melihat dua pria berpakaian seragam polisi berdiri di luar Mansion Tatum. Salah satu polisi mengeluarkan borgol dan memasangkannya di tangan Gisel.
"Aku tidak bersalah! Kenapa menangkapku?" teriak Gisel.
Gisel yakin kedua bodyguard yang menggiringnya adalah bodyguard Keluarga Wijaya, tetapi kenapa polisi ikut campur dalam masalah ini?
Gisel sangat percaya diri pihak berwajib tidak ada bukti kuat untuk mengaitkannya dengan kecelakaan Dian beberapa waktu yang lalu.
"Nona Gisel! Anda ditangkap atas percobaan pembunuhan terhadap Pak Yadi," kata salah satu polisi dengan tegas.
"Percobaan pembunuhan? Aku tidak melakukan apa pun! Ini pasti jebakan Keluarga Wijaya!" pekik Gisel.
"Kamu masih ingat bagaimana caramu melarikan diri dari rumah Pak Adi?" tanya pak polisi yang satunya lagi dengan sabar.
Gisel tertegun sebentar mendengar pertanyaan pak polisi. Pikirannya mengingat kembali kehidupan menyedihkannya sejak perusahaan ayahnya bangkrut.
Ayahnya menjual Gisel menjadi istri kelima dari Yadi, kakek tua hidung belang yang me*um. Sejak hari ini dunianya bagaikan berada di dalam penjara.
Di awal pernikahan, Yadi memukul Gisel setiap hari karena Gisel sering tidak mau menuruti permintaan Yadi dan berusaha melarikan diri. Bahkan Gisel dikurung di dalam kamar dan dijaga ketat oleh bodyguard bayaran Yadi.
Pada akhirnya Gisel berpura-pura menjadi penurut dan melayani semua permintaan Yadi sehingga lambat laun pria tua itu tidak terlalu mengekangnya lagi sehingga Gisel diperbolehkan keluar dan mulai menyusun rencana untuk melarikan diri lagi.
Gisel berhasil membohongi Yadi untuk menyingkirkan kedua bodyguard yang berjaga di rumah, dengan alasan ingin memberikan kejutan dan menghabiskan waktu berdua saja bersama Yadi.
Gisel menyiapkan candle light dinner romantis dan juga sebotol anggur merah untuk dinikmati. Yadi menyukai semua kejutan yang diberikan Gisel sehingga menuruti permintaan istri muda nya itu tanpa merasa curiga sedikit pun.
Ternyata anggur merah yang dipersiapkan Gisel telah dimasukkan obat tidur dosis tinggi sehingga Gisel bisa melarikan diri saat Yadi tertidur lelap.
***
"Obat tidur yang anda berikan menyebabkan Pak Yadi koma hingga sekarang," ujar pak polisi.
__ADS_1
Tubuh Gisel gemetaran mendengar perkataan polisi. Gisel menyesali tidak mencari tahu terlebih dahulu efek samping obat tidur terhadap beberapa penyakit yang sudah menggerogoti tubuh Yadi secara perlahan.
Keinginannya untuk melepaskan diri dari cengkeraman Yadi sangat kuat dan menganggap remeh obat tidur itu hanyalah obat biasa tanpa efek yang merugikan.
"Ikut kita ke kantor polisi sekarang!" ucap pak polisi yang lain sambil membuka pintu mobil belakang.
Gisel melangkahkan kakinya dengan tidak bertenaga dan masuk ke dalam mobil polisi. Wanita muda itu sadar hidupnya akan berakhir di balik jeruji besi.
Kedua bodyguard mengawasi dan memastikan mobil polisi meninggalkan Mansion Tatum terlebih dahulu, sebelum melaporkannya ke Chandra dan Kelvin.
***
Sementara di dalam ruangan, Stefan mendudukkan Dian di kursi. Malam ini Dian mengenakan jumpsuit sehingga bisa menari balet dengan bebas tadi. "Tunggu sebentar, Dian!" kata Stefan.
"Iya," jawab Dian sambil menganggukkan kepala.
Stefan berlari kecil kembali ke tempatnya semula dan mengambil sepasang sepatu high heels milik Dian, lalu kembali ke hadapan gadis muda itu.
Stefan berlutut dengan satu kaki dan membantu Dian memakai sepatu high heels satu per satu, sedangkan Dian duduk tenang dan menatap saksama wajah serius Stefan.
Dian bisa merasakan perhatian, kelembutan, dan posesif Stefan terhadapnya lebih banyak dari pada biasanya. Apakah karena Stefan takut dirinya mengingat kembali kenangan buruk pernikahan pertama mereka karena kemunculan Gisel?
Stefan berdiri dan menarik tangan Dian sehingga gadis muda itu ikut berdiri. Mereka saling berhadapan satu sama lain.
Stefan menatap intens wajah Dian. Tangannya juga menggenggam erat tangan gadis muda itu, seolah-olah takut terlepas lagi.
"Dian. Kamu gadis kecil balerina yang kutemui di Restoran Hartono kan?" tanya Stefan dengan suara bergetar.
Dian tertegun sejenak karena pertanyaan Stefan. Dian tidak menduga Stefan masih mengingat pertemuan pertama mereka di restoran kakek Thomas.
"Iya, benar!" jawab Dian.
"Kamu sudah mengenaliku sejak di bar Las Vegas?" tanya Stefan.
Dian tersenyum kecil dan menarik dengan perlahan kemeja Stefan di bagian pergelangan tangan kanan Stefan ke atas sehingga memperlihatkan tanda lahir berbentuk hati.
Stefan menundukkan kepalanya dan melihat jelas tanda lahirnya sendiri. Tanda lahir yang pernah diperlihatkannya ke Dian kecil.
Stefan yakin tanda lahir itu menyebabkan Dian mengajukan syarat satu tahun pernikahan mereka untuk memberinya kesempatan mengingat kembali pertemuan pertama mereka.
Stefan merengkuh tubuh Dian dan memeluknya dengan erat, tanpa memedulikan mereka sedang berada di acara ulang tahun Adi Tatum.
"Maafkan aku yang terlambat menyadarinya! Terima kasih sudah memberiku kesempatan kedua!" kata Stefan dengan suara serak.
Sekali lagi Dian tertegun dengan perkataan Stefan. Perasaan haru dan hangat menyelimuti hati Dian. Saat ini Dian yakin Stefan tidak pernah melupakannya dan itu sudah lebih dari cukup.
Mungkin perjalanan cinta mereka tidak mulus sejak awal, tetapi Dian yakin kesempatan kedua yang didapat oleh mereka berdua saat ini tidak akan di sia-siakan oleh Stefan dan dirinya lagi.
__ADS_1
"Jangan membuatku kecewa lagi," ucap Dian sambil tertawa kecil.
Stefan melepaskan pelukannya dan mencium puncak kepala Dian dengan lembut.
"Aku tidak akan pernah mengecewakanmu lagi!" janji Stefan.
Dian menganggukkan kepalanya sambil tersenyum bahagia. Stefan memajukan wajahnya dengan spontan dan menunduk ingin mencium bibir Dian.
"Ehem!"
"Ehem!"
Dua suara deham yang keras membuat Stefan mengurungkan niatnya. Entah sejak kapan Chandra dan Kelvin sudah berdiri di sisi kiri dan kanan mereka.
Kedua kakak kembar yang posesif itu menatap tajam Stefan. Stefan melepaskan pelukannya dari tubuh Dian dengan cepat.
"Kak Chandra! Kak Kelvin!" sapa Stefan dengan sopan sambil membungkukkan badan 90 derajat ke arah Chandra dan Kelvin bergantian.
Dian menahan tawanya melihat sikap canggung dan segan Stefan terhadap Chandra dan Kelvin.
"Dian! Acara potong kue ulang tahun kakek Iko sudah dimulai! Ayo bergabung bersama," ajak Chandra.
"Baik Kak Chandra," jawab Dian dengan patuh.
Chandra memberi tatapan tajam lagi dari atas kepala hingga ke ujung kaki Stefan sebelum meninggalkan mereka berdua. Kelvin pun mengikuti cara Chandra untuk mengintimidasi Stefan.
Stefan membalas dengan senyuman lebar di sudut bibirnya. Pria muda itu tidak tersinggung dengan sikap Chandra dan Kelvin.
Stefan tahu Chandra dan Kelvin sangat menyayangi Dian. Sikap mereka saat ini adalah balasan atas perbuatannya menyia-nyiakan Dian di pernikahan pertama.
Stefan bersedia menerima hukuman dari keluarga besar Wijaya, asalkan mereka merestui hubungannya dengan Dian saat ini.
"Ayo Fan!" ajak Dian sambil menarik tangan Stefan.
Mereka berdua bergabung dengan para tamu undangan lainnya di bawah panggung dengan suasana hati yang bahagia.
***
Selamat siang readers tercinta. Gisel sudah kena karma 😂. Stefan dan Dian semakin mesra 🥰🥰🥰.
Besok lanjut karma si aki ya. Malam ini free untuk readers dan author, ga perlu bergadang 😂😂🙏.
Author mau cari ilham untuk ending si aki 🙏. See you tomorrow 🥰🥰🥰
TERIMA KASIH
SALAM SAYANG
__ADS_1
AUTHOR : LYTIE